Di jagat sastra Indonesia, nama WS Rendra bukanlah sekadar nama seorang penulis; ia adalah sebuah kata kerja, sebuah gerakan, dan sebuah fenomena ontologis. Jika...
Membaca sastra Persia bukanlah sekadar menelusuri barisan alfabet yang menari di atas perkamen, melainkan sebuah ziarah menuju pusat Epistemologi Rindu. Di negeri di mana...
Di bawah kungkungan langit Alas Mentaok yang masih basah oleh keringat purba, aku berdiri sebagai sebuah anomali. Di tanganku, pemukul kayu yang terbuat dari...
Malam itu, Marunda bukan lagi sekadar koordinat di utara Jakarta yang pengap oleh debu pelabuhan dan amis ikan yang membusuk. Ia adalah sebuah samudera...
Langit Teheran adalah sepotong tembaga yang berkarat, memuntahkan hujan berupa kunci-kunci gudang peluru yang tak lagi punya lubang. Di atas menara Markas Besar Garda...
Di koridor Pesantren Al Fatimiyyah, Krapyak, waktu tidak bergerak mengikuti dentang jam dinding, melainkan mengikuti ayunan langkah sarung yang bergesekan dengan lantai ubin tua....
Sang Pemetik Cahaya
Langit Kufah malam itu bukan lagi hamparan hitam, melainkan samudera zamrud yang bergejolak. Aku, Sang Pencari Rahasia, berdiri di tepian waktu, membawa...
Klenteng Lasem malam itu seperti tidak berdiri di atas tanah, melainkan terapung di atas genangan teh krisan yang meluap dari cangkir-cangkir porselen dinasti yang...
Gerimis di Taman Makam Pahlawan Kalibata senja itu tidak turun sebagai air, melainkan sebagai butiran huruf-berhuruf alfabet yang dingin dan bisu. Aku berdiri di...
Di jantung Kraton Kasultanan Mataram, waktu tidak lagi berdetak; ia merayap serupa sanca emas yang melilit pilar-pilar jati purba. Matahari di atas Bangsal Kencana...