Mata kau adalah duri di jantungku
Menorehkan perih, namun duri itu kucintai
Dan kulindungi dari tiupan angin.
Kusematkan ia dalam dagingku, kusematkan, menjaganya dari malam dan derita,
Dan lukanya menyalakan pelita,
Hari esoknya menjadikan masa kiniku
Lebih berharga bagiku daripada jiwaku sendiri.
Dan segera aku lupa, saat tatapan kita bertemu,
Bahwa dahulu, di balik pintu itu, kita pernah berdua.
Kata-kata kau adalah sebuah lagu
Dan aku pun mencoba turut bernyanyi,
Namun derita membelenggu bibir musim semi.
Dan bagaikan burung layang-layang, kata-kata kau pun terbang,
Pintu rumah kita dan ambang pintu musim gugur turut berpindah,
Mengikutimu ke mana pun rindu menuntun langkah
Cermin-cermin kita pun hancur berkeping,
Dan duka berlipat ganda hingga seribu kali.
Lalu kita kumpulkan serpihan-serpihan suara itu,
Hanya untuk menguasai elegi tentang tanah air kita!
Bersama-sama akan kita tanam ia di jantung sebuah lira,
Dan di puncak atap tragedi kita, akan kita mainkan lagu itu
Bagi rembulan yang terkoyak dan bagi bebatuan.
Namun aku telah lupa, wahai pemilik suara yang tak kukenal:
Apakah kepergian kau lah yang memacu lira itu, ataukah heningku?
Kemarin kulihat kau di pelabuhan,
Pengelana jauh tanpa perbekalan,
Bak anak yatim aku berlari menghampiri kau,
Meminta kebijaksanaan leluhur kita:
Bagaimana mungkin kebun jeruk yang senantiasa hijau itu diseret
Ke penjara, ke pengasingan, ke pelabuhan,
Dan meski telah menempuh segala perjalanan,
Meski dilingkupi aroma garam dan kerinduan,
Tetap saja hijau abadi?
Aku menulis di buku harian:
Aku mencintai jeruk dan membenci pelabuhan
Dan kutulis pula:
Di dermaga
Aku berdiri, memandang dunia lewat mata Witter (1)
Hanya kulit jeruk yang menjadi milik kita, sementara di belakangku terbentang gurun.
Di pegunungan yang dipenuhi semak berduri kulihat kau,
Seorang penggembala perempuan tanpa kawanan domba,
Diburu di antara reruntuhan.
Kau adalah tamanku, dan aku orang asing,
Mengetuk pintu—hatiku sendiri—
Sebab di atas hatikulah berdiri kukuh
Pintu dan jendela, semen dan bebatuan.
Aku melihat kau dalam tong-tong air, di lumbung-lumbung gandum,
Dalam kehancuran, kulihat kau menjadi pelayan di kelab malam,
Kulihat kau dalam kilau air mata dan dalam luka-luka.
Kau adalah paru-paru lain di dadaku;
Kau adalah suara di bibirku;
Kau adalah air; kau adalah api.
Aku melihatmu di mulut gua, di dalam gua,
Menggantung kain lusuh anak yatim kau di tali jemuran.
Di tungku, di jalanan, aku telah melihat kau.
Di lumbung dan dalam darah matahari.
Dalam nyanyian anak yatim dan orang-orang malang, aku telah melihat kau.
Aku telah melihatmu dalam garam laut dan di pasir.
Kecantikan kau adalah keindahan bumi, anak-anak, dan melati Arab.
Dan aku telah bersumpah
Untuk membuat saputangan dari bulu mataku,
Dan di atasnya akan menyulam syair untuk mata kau,
Dan sebuah nama, ketika disirami oleh hati yang larut dalam nyanyian,
Akan membuat gazebo hutan tumbuh.
Aku akan menulis sebuah kalimat yang lebih berharga daripada madu dan ciuman:
“Dia orang Palestina dulu dan masih tetap orang Palestina”.
Pada malam badai, aku membuka pintu dan jendela
Untuk melihat bulan yang mengeras di malam-malam kita.
Aku berkata pada malam: Larilah,
Melampaui kegelapan dan tembok;
Aku punya janji yang harus kutepati dengan kata-kata dan cahaya.
Engkau adalah taman perawanku
Selama lagu-lagu kita
Adalah pedang saat kita menghunusnya.
Dan engkau setia seperti biji-bijian
Selama lagu-lagu kita
Menjaga kesuburan tanah saat kita menanamnya.
Engkau seperti pohon palem dalam pikiran:
Baik badai maupun kapak penebang kayu tak dapat menebangnya.
Jalinannya tak terpotong
Oleh binatang-binatang gurun dan hutan
Tetapi akulah yang diasingkan di balik tembok dan pintu,
Lindungilah aku dalam kehangatan tatapan kau.
Bawalah aku, di mana pun kau berada,
Bawalah aku, dalam keadaan apa pun diri kau.
Untuk dipulihkan dalam kehangatan wajah dan raga,
Menuju cahaya hati dan pandangan,
Menuju cita rasa roti dan nyanyian,
Menuju aroma tanah dan kampung halaman.
Naungilah aku dalam hangat tatapanmu,
Bawalah aku—sebilah kayu badam di pondok duka,
Bawalah aku—sebaris bait dari buku tragediku,
Bawalah aku—mainan atau sebongkah batu dari rumah itu,
Agar kelak generasi penerus kita dapat mengenang
Jalan untuk kembali ke rumah kita.
Mata dan tato di tangannya adalah Palestina,
Namanya, Palestina,
Mimpi dan dukanya, Palestina,
Kerudung, kaki, dan raganya, Palestina,
Kata-kata dan heningnya, Palestina,
Suaranya, Palestina,
Kelahiran dan kematiannya, Palestina,
Telah kubawa kau dalam buku-buku catatanku yang usang
Sebagai bara bagi bait-bait puisiku,
Sebagai bekal bagi perjalanan-perjalananku.
Atas nama kau, suaraku menggema di lembah-lembah:
Aku telah melihat kuda-kuda Bizantium
Meski medan pertempurannya berbeda.
Waspadalah, oh waspadalah
Terhadap kilat yang dipantik nyanyianku pada batu granit.
Akulah bunga masa muda dan ksatria di antara para ksatria!
Akulah penghancur berhala.
Kutanamkan di perbatasan Levant (2)
Puisi-puisi yang membebaskan burung rajawali.
Dan atas nama kau, aku berteriak pada musuh:
Wahai cacing, santaplah dagingku jika aku sampai terlelap,
Sebab telur semut takkan mungkin menetaskan rajawali,
Dan cangkang telur ular berbisa
Hanya menyimpan seekor ular!
Aku telah melihat kuda-kuda Bizantium,
Dan di atas segalanya, aku tahu
Bahwa akulah bunga masa muda dan ksatria di antara para ksatria!
— Mahmoud Darwish
Catatan:
(1) Witter Palestina merujuk pada produk pakaian, seperti hoodie atau jaket anak-anak yang menggunakan desain bertema Palestina. Selain sebagai pakaian sehari-hari untuk anak-anak, barang ini sering dibeli masyarakat sebagai bentuk dukungan moral atau simbol kemanusiaan.
(2) Levant (juga dikenal sebagai Syam) adalah istilah geografi dan budaya yang merujuk pada wilayah di pesisir Mediterania Timur, Asia Barat. Kawasan bersejarah ini meliputi negara-negara modern seperti Suriah, Lebanon, Yordania, Israel, dan Palestina.
Sumber: Facebook Danial Indrakusuma

