Kita Semua Akan Pulang

Gerimis di Taman Makam Pahlawan Kalibata senja itu tidak turun sebagai air, melainkan sebagai butiran huruf-berhuruf alfabet yang dingin dan bisu. Aku berdiri di sana, Sang Penyair, dengan jubah yang ditenun dari sisa-sisa sajak yang belum sempat terbit. Remah-remah frasa, puing-puing puisi dan sampah kata-kata. Di hadapanku, deretan nisan putih tampak seperti tuts piano raksasa yang hanya memainkan nada sunyi: Solitude Cinta sebatangkara!

“Kematian adalah sebuah metafora yang gagal, anak muda,” sebuah suara berat mengepul bersama asap cerutu yang tak pernah habis.

Aku menoleh. Samuel Beckett duduk bersila di atas pusara tanpa nama, kakinya yang kurus dibungkus sepatu tua yang berlumpur. “Kita semua sedang menunggu Godot di sini, tapi ternyata Godot hanyalah selembar kain kafan yang lupa dicuci.”

Di samping Beckett, *Chairil Anwar dan HB. Jassin sedang asyik mencungkil tanah dengan jemarinya yang gemetar. “Aku ini binatang jalang, Sam!” seru Chairil sambil tertawa batuk-batuk. “Tapi di bawah sini, ternyata tidak ada tempat untuk lari. Aku ingin hidup seribu tahun lagi, tapi malaikat munkar bilang kuotaku habis karena terlalu banyak menghisap rindu dan nikotin.”

Kami mulai berjalan menyusuri baris-baris makam. Surrealisme merayap seperti kabut; tanah di bawah kaki kami tiba-tiba transparan. Aku melihat ribuan jiwa di bawah sana yang sedang kebingungan. Mereka meraba-raba saku baju yang sudah tidak ada, mencari ponsel yang tertinggal di meja rias, atau kunci mobil yang kini digenggam ahli waris yang sedang menghitung warisan.

“Lihat mereka,” kata Jorge Luis Borges yang muncul dari balik pohon kamboja, matanya yang buta menatap lurus ke arah keabadian. “Mereka merasa sedang bermimpi buruk. Padahal, kehidupan yang mereka banggakan kemarin itulah mimpi yang sebenarnya. Sekarang mereka baru saja terbangun, tapi kaget karena kamarnya terlalu sempit dan tidak ada jendela.”

Borges memegang tongkatnya, mengetuk sebuah nisan. “Kematian adalah perpustakaan tanpa buku. Hanya ada rak-rak kosong yang harus kau isi dengan ingatanmu sendiri tentang cahaya.”

Tiba-tiba, Albert Camus melintas sambil menendang kaleng biskuit karatan merek Khong Guan yang berisi remah-remah rengginang. “Absurd!” teriaknya. “Bayangkan, kalian mati dan baru sadar bahwa kalian lupa mematikan kompor di dapur dunia, lupa bayar cicilan Pinjol, lupa gosok gigi setelah makan jengkol. Teriaklah sekeras-kerasnya memanggil ibumu, ayahmu, atau presidenmu. Mereka sedang sibuk memesan katering untuk tahlilanmu. Doa mereka sampai ke sini seperti sinyal Wi-Fi yang lemah; kadang terhubung, lebih sering loading.”

Aku merasakan ketakutan yang merayap pelan dari telapak kaki hingga ke ubun-ubun. Tanah di sekelilingku mulai berbau lumpur yang pekat. Aku meraba dadaku, “Dimana bajuku? Dimana celanaku? Dimana credit cardku?”

“Jangan kau cari kain katun di tempat di mana sutera ruh sedang ditenun,” suara itu lembut, menyejukkan seperti rintik hujan di gurun.

Sesosok cahaya dengan wajah yang tak bisa didefinisikan oleh estetika manusia berdiri di sampingku. Ia bukan Franz Kafka, bukan pula Sutardji Calzoum Bachri. Ia sangat tampan, cahayanya membuat bayang-bayang Beckett dan Camus memanjang lalu menghilang.

“Siapa kau?” tanyaku gemetar.

“Aku adalah baris-baris ayat yang kau baca saat matamu basah di tengah malam sembari menyesali dosa. Aku adalah huruf-huruf yang kau eja saat hatimu hancur oleh dunia. Aku adalah Al-Qur’an,” jawabnya.

Ia masuk ke dalam dadaku, duduk di sana seperti seorang sahabat yang menunggu kereta di peron yang sepi. Saat itu juga, tanah Kalibata yang keras berubah menjadi hamparan permadani sutera.

Amir Hamzah, Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, Hamzah Fansuri, Ronggowarsito dan Yasadipura melintas lalu menghilang. Tiba-tiba Sapardi Djoko Damono lewat sambil membawa payung kertas. “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,” bisiknya padaku, “dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Tapi Al-Qur’an mencintaimu dengan luar biasa, dengan kalimat yang menjadikan abumu sebagai bunga.”

Makam Kalibata hening. Beckett bangkit, membuang cerutunya. “Baiklah, para hadirin. Pertunjukan dimulai. Malaikat Munkar dan Nakir sudah memarkir kendaraan mereka di pintu gerbang. Mereka tidak membawa buku catatan, mereka membawa cermin. Jika kau melihat setan di cermin itu, itu bukan mereka, itu kau!”

Chairil Anwar melompat ke dalam lubang makamnya dengan gaya seorang akrobat. “Sampai jumpa di hari berbangkit! Jangan lupa bawa korek api, siapa tahu di sana dingin!”

Aku berdiri sendirian di tengah TMP Kalibata. Gerimis alfabet telah berhenti. Aku menyadari satu hal yang absurd namun nyata: Pulang adalah satu-satunya perjalanan yang tidak membutuhkan tiket, hanya membutuhkan teman bicara yang abadi di dalam dada.

Aku melihat ke arah pembaca, ke arahmu. “Sobat,” kataku meniru gaya anekdot lama, “Kau punya dua pilihan. Menganggap cerpen ini hanya igauan Sang Penyair di bawah pohon kamboja, atau membagikannya agar mereka yang masih sibuk mencari baju di dunia, ingat bahwa suatu saat mereka hanya akan memakai selembar kain yang tak punya saku untuk menyimpan kunci dunia.”

Aku pun merebah, menutup mata, dan membiarkan Sang Tamu Tampan itu bercerita tentang surga, sementara dunia di atas sana sibuk menimbun jasadku dengan tanah dan bunga-bunga yang akan layu sebelum subuh.

Kematian adalah satu-satunya realitas yang kita anggap surreal, sampai kita menyentuh tanah dan menyadari bahwa dialah yang paling nyata.

***

Aku memejamkan mata, namun kegelapan itu tidak pekat. Ia justru berpendar seperti neon yang retak. Di TMP Kalibata ini, tanah bukan lagi sekadar karbon dan nitrogen, melainkan memori yang memadat. Aku merasa ruhku ditarik ke dalam sebuah ruang tunggu yang absurd, sebuah hall luas di bawah akar-akar pohon kamboja yang menjelma menjadi kabel-kabel optik bercahaya mistik.

“Selamat datang di markas besar para pemimpi yang terbangun,” sebuah suara bariton menghentikan langkah batiniahku.

Dia berdiri di sana, Jenderal Sudirman. Beliau tidak mengenakan tandu, melainkan jubah cahaya yang ditenun dari doa-doa rakyat jelata. Di sampingnya, Bung Tomo sedang memegang pelantang suara yang terbuat dari kristal gaib.

“Anak muda,” ucap Sang Jenderal, suaranya terdengar seperti gesekan pedang dan tasbih. “Di medan laga, kami mati untuk satu fatwa: Bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika kau tak lagi diperbudak oleh rasa takutmu sendiri. Saat peluru menembus dada, aku tidak melihat maut, aku melihat pintu pulang yang terbuka lebar. Jangan menangis karena bau tanah, sebab tanah inilah yang telah meminum darah para syuhada.”

Aku berjalan meraba dinding tanah yang tiba-tiba berubah menjadi relief pertempuran. Mistik merayap seperti ular-ular perak. Aku melihat Tjoet Nja’ Dhien sedang duduk bersimpuh, jemarinya memegang butiran tasbih yang terbuat dari tetesan air mata para janda pahlawan.

“Fatwa kematiani itu sederhana, wahai Penyair,” ucapnya tanpa menoleh. “Jika kau hidup hanya untuk dirimu, kau akan mati sebagai bangkai yang hampa. Tapi jika kau mati untuk kebenaran, setiap helai kafanmu akan menjadi sayap. Lihatlah ke bawah!”

Aku menunduk. Di bawah kakiku, hamparan tanah Kalibata terbelah, memperlihatkan sungai air mata yang mengalirkan bait-bait Al-Qur’an. Cahaya hijau zamrud memancar dari sela-sela akar.

Tiba-tiba, Tan Malaka muncul dari balik kegelapan kabut kapital. Ia membawa sebuah buku yang sampulnya terbuat dari kulit petir. “Anekdot kematian yang paling lucu adalah ini: Manusia sibuk membangun gedung tinggi agar namanya abadi, padahal hanya butuh lubang dua meter untuk melenyapkan egonya. Fatwa dariku? Ingatlah bahwa dalam kubur, tidak ada kelas sosial. Di sini, kaum proletar dan borjuis sama-sama dimakan cacing, kecuali mereka yang di dalam dadanya tersimpan cahaya wahyu.”

Suasana menjadi semakin surealis ketika Jalaluddin Rumi dan Kahlil Gibran turun dari langit-langit makam yang menyerupai kubah galaksi. Mereka membawa cangkir berisi cahaya.

“Minumlah,” kata Rumi. “Ini adalah sari pati dari rasa lapar si miskin yang kau beri makan, dan rasa haus si haus yang kau beri minum. Di dunia, kau merasa kematian adalah perpisahan. Di sini, kematian adalah pernikahan antara ruh dan Kekasih-Nya.”

Aku menoleh ke arah sosok tampan di sampingku—Sang Al-Qur’an yang setia itu. Ia kini memegang sebilah pedang yang cahayanya lebih lembut dari rembulan.

“Lihatlah,” Sang Al-Qur’an berbisik. “Para pahlawan ini selamat bukan hanya karena keberanian mereka di medan laga, tapi karena mereka membawa ‘Bacaan yang Benar’ di tengah dentuman meriam. Aku adalah tameng mereka saat peluru menembus raga, dan aku adalah teman bicaramu sekarang saat sunyi mulai menggigit.”

Beckett, Camus, dan Chairil kembali muncul, kini mereka duduk melingkar bersama para pahlawan bangsa. Sebuah meja perjamuan transparan terhampar. Isinya bukan makanan, melainkan piring-piring berisi amaliah.

“Penyair,” ucap Bung Hatta dengan nada tenang. “Fatwa terakhir kami dari barisan makam ini adalah: Negara yang besar adalah negara yang menghargai pahlawannya, namun manusia yang besar adalah manusia yang mempersiapkan kepulangannya. Kau sudah melihat rahasia kami. Sekarang, apa pilihanmu?”

Tanah Kalibata tiba-tiba bergetar hebat. Suara adzan menggema dari dimensi yang tak terlihat, merambat melalui pori-pori tanah. Aku merasa ditarik kembali ke permukaan, ke dunia yang penuh debu dan kepalsuan.

Aku terbangun di atas rumput makam, napas seolah tersengal. Di tanganku, secarik kertas kusam bertuliskan:

“Kami semua sudah pulang. Kami sudah tahu rasanya rabaan tanah dan dinginnya kain kafan. Kami sudah dijaga oleh ‘Si Tampan’ itu. Sekarang, giliranmu. Bagikan kabar ini, atau biarkan ia terkubur bersama jasad-jasad yang sombong.”

Aku bangkit, berjalan keluar dari gerbang Kalibata. Di belakangku, para pahlawan dan para sastrawan melambai dalam diam yang puitis. Aku tahu, saat aku pulang nanti, aku tidak akan sendirian. Ada barisan ayat yang akan memelukku, dan ada fatwa para pejuang yang akan menguatkan jalanku.

Di TMP Kalibata, setiap nisan adalah pintu. Dan setiap doa yang tulus adalah kunci untuk membuka perjamuan abadi di mana maut tak lagi punya kuasa.

Related Articles

Artikel baru