Puasa di Dalam Puasa

Di koridor Pesantren Al Fatimiyyah, Krapyak, waktu tidak bergerak mengikuti dentang jam dinding, melainkan mengikuti ayunan langkah sarung yang bergesekan dengan lantai ubin tua. Sore itu, udara Yogyakarta terasa seperti lelehan madu; kental, kuning, dan manis. Mustafa, seorang santri kecil dengan kopiah yang selalu miring ke kanan, sedang duduk bersila di serambi masjid.

Perutnya mulai menyanyi. Bukan nyanyian keluhan, melainkan sebuah simfoni kerontongan yang ia beri judul: “Gamelan Lambung di Bawah Langit Krapyak.”

Mustafa menatap langit-langit masjid. Di matanya yang mulai berpendar karena lapar, cicak-cicak yang merayap tampak seperti barisan tusuk sate ayam yang sedang menari. Namun, Mustafa tersenyum. Baginya, lapar sore ini bukan sekadar absennya nasi di lambung, melainkan proses “pembersihan gudang”.

“Kang,” bisik Mustafa kepada Kang Zainul, seniornya yang sedang khusyuk membaca kitab kuning namun sesekali menelan ludah. “Kenapa ya, kalau puasa, suara bedug itu rasanya lebih merdu daripada suara penyanyi di televisi?”

Kang Zainul menutup kitabnya, menatap Mustafa dengan mata yang sedikit sayu tapi bercahaya. “Itu karena telingamu tidak lagi tersumbat oleh lemak-lemak duniawi, Mus. Lapar itu sedang mencuci telingamu supaya bisa mendengar detak jantung semesta.”

Mustafa manggut-manggut. Ia merasa perutnya yang kosong adalah sebuah aula besar di Pesantren Al Fatimiyyah. Biasanya, aula itu penuh sesak dengan tumpukan keinginan: ingin es dawet, ingin bakso, ingin main bola. Tapi saat puasa, aula itu dikosongkan. Dan di dalam ruangan kosong itulah, Mustafa merasa Tuhan sedang menggelar karpet merah untuk rasa bahagia.

Di sudut lain, sekelompok santri sedang terlibat dalam perdebatan paling surealis abad ini. Subjeknya: Hakikat Es Teh.

“Bayangkan,” ujar salah satu santri dengan nada dramatis, “es teh itu adalah sebuah entitas yang sangat jujur. Ia tidak pernah berbohong tentang kedinginannya. Tapi di saat puasa, es teh bukan lagi minuman. Ia adalah tajalli dari rahmat Tuhan yang berbentuk cair.”

Mustafa tertawa kecil. Ia ingat kejadian kemarin siang, saat ia melihat seekor anjing kurus di depan gerbang pesantren sedang menjilat tetesan embun dari keran yang bocor. Mustafa tidak merasa kasihan, ia justru merasa iri.

“Anjing itu lebih ahli makrifat daripada aku,” gumam Mustafa. “Dia minum setetes air seolah-olah sedang meminum seluruh samudera kebahagiaan. Kita? Kita minum seliter es teh saat berbuka, tapi hati tetap merasa haus akan dunia.”

Muncul sebuah anekdot lucu di kalangan santri Krapyak: “Barang siapa yang mampu melihat embun di daun pisang sebagai es sirup melon, maka ia telah mencapai derajat makrifat tingkat perut.”

Saat matahari mulai tergelincir ke arah Jalan Parangtritis, Mustafa menuju dapur. Di sana, piring-piring plastik telah berjajar. Di atasnya, tersaji sebutir kurma yang tampak lebih bercahaya daripada berlian di toko perhiasan.

Tiba-tiba, ruang dapur itu seolah meluas. Mustafa melihat uap dari kuali kolak berubah menjadi tangga-tangga cahaya yang menuju ke langit. Ia melihat kawan-kawannya tidak lagi sebagai bocah-bocah bersarung yang kumal, melainkan sebagai kunang-kunang yang sedang mengitari api keimanan.

“Mus, kenapa kamu bengong?” tegur Kyai dengan suara lembut yang muncul dari balik pintu.

“Saya sedang membahagiakan puasa saya, Yai,” jawab Mustafa polos.

“Bagaimana cara membahagiakannya?”

“Dengan cara merayakan lapar ini, Yai. Selama ini saya kira kenyang itu adalah tujuan. Ternyata kenyang itu seringkali adalah akhir dari kesadaran. Saat lapar inilah, saya merasa benar-benar hidup. Saya merasa sehelai daun yang jatuh di halaman Al Fatimiyyah ini punya hubungan darah dengan kerontongan perut saya.”

Kyai tersenyum, mengelus kepala Mustafa. “Lapar itu adalah mi’raj-nya perut, Mus. Ia mengangkat derajat biologis kita menuju derajat ruhani. Jangan buru-buru membunuh laparmu dengan kerakusan saat bedug nanti. Sambutlah ia sebagai tamu agung yang sebentar lagi akan berpamitan.”

Dug… Dug… Dug…

Suara bedug Krapyak meledak seperti kembang api di dalam dada Mustafa. Tapi ia tidak lari menyergap makanan. Ia justru terdiam. Ia merasakan sebuah kebahagiaan yang aneh—kebahagiaan karena telah berhasil “menjadi asing” bagi keinginannya sendiri selama dua belas jam.

Mustafa mengambil kurma itu. Ia membelahnya pelan-pelan. Di dalam kurma itu, ia seolah melihat peta seluruh perjalanan hidupnya. Ia menyadari bahwa hakikat puasa bukan tentang menahan makan, tapi tentang menemukan “rasa asli” dari setiap nikmat yang diberikan Tuhan.

Malam itu, di bawah bayang-bayang pohon sawo Pesantren Al Fatimiyyah, Mustafa tidur dengan perut yang terisi secukupnya, tapi dengan hati yang meluap-luap. Ia bermimpi melihat anjing Al-Ma’arri dan anjing Ashabul Kahfi sedang duduk melingkar, mendiskusikan betapa lucunya manusia yang mencari kebahagiaan di dalam tumpukan makanan, padahal kebahagiaan itu justru bersembunyi di dalam celah-celah lapar yang jujur.

Mustafa terbangun saat sahur dengan senyum yang belum tanggal. Ia siap mengeja lapar sekali lagi, karena baginya, tidak ada yang lebih mewah daripada menjadi “pengemis cahaya” di halaman Pesantren Krapyak yang sunyi.


Malam kian larut di Krapyak. Embun mulai turun, membasuh dedaunan pohon sawo kecik yang berdiri kokoh seperti penjaga rahasia di halaman Al Fatimiyyah. Mustafa, yang belum juga terlelap karena hatinya masih berpendar, berjalan keluar menuju pelataran. Di sana, ia melihat sesosok lelaki tua bersarung putih kusam, duduk di atas akar pohon yang menonjol. Wajahnya tidak terlihat jelas, tertutup kabut tipis yang seolah keluar dari sela-sela zikirnya.

“Mus,” panggil lelaki itu. Suaranya seperti gesekan biola tua, retak namun merdu.

“Nggih, Mbah?” Mustafa mendekat dengan takzim. Ia merasa lelaki ini bukan orang asing, meski ia tak pernah melihatnya di daftar santri maupun pengurus.

“Kamu tahu kenapa santri Krapyak itu kuat-kuat laparnya?” tanya lelaki itu sambil menunjuk ke arah barak santri yang gelap.

Mustafa menggeleng. “Mungkin karena sudah biasa makan nasi aking, Mbah?”

Lelaki itu terkekeh, pundaknya berguncang lembut. “Bukan. Itu karena mereka punya ‘Kunci Pintu Langit’ di dalam lambungnya. Mus, dengarkan baik-baik: Perut yang kenyang adalah bumi yang becek, tak bisa ditanami benih cahaya. Tapi perut yang lapar adalah tanah yang gersang namun rindu, yang sekali disiram air wahyu, ia akan menumbuhkan pohon makrifat.”

Tiba-tiba, pemandangan berubah. Pohon sawo di depan Mustafa berubah menjadi instalasi cahaya yang memancarkan ribuan aksara Alif. Akar-akarnya menembus ubin, menjalar masuk ke dalam perut Mustafa yang kembali keroncongan. Ia tidak merasa sakit, justru merasa Iluminatif.

“Mbah,” tanya Mustafa lagi, “apa benar kalau kita lapar, Malaikat pencatat amal jadi bingung?”

Lelaki itu tersenyum misterius. “Ada sebuah cerita, Mus. Suatu hari, Malaikat Rakib dan Atid berdebat di depan pintu kamar santri. Rakib mau mencatat amal karena si santri sedang menahan lapar demi Tuhan. Tapi Atid juga bingung, karena si santri itu sedang tidur sambil bermimpi makan sate ayam sepuluh tusuk. Malaikat itu bertanya pada Tuhan: ‘Gusti, ini santri terhitung makan atau terhitung puasa?'”

“Lalu Tuhan jawab apa, Mbah?”

“Tuhan menjawab: ‘Biarkan saja dia mimpi makan sepuasnya, karena dalam mimpinya, dia tidak memakan hak orang lain dan tidak memakan daging saudaranya sendiri lewat ghibah. Itu adalah makan yang paling suci.'”

Mustafa tertawa lepas. Sesaat, ia merasa berat tubuhnya menghilang. Ia melayang beberapa senti di atas tanah Krapyak. Inilah hakikat membahagiakan puasa: ketika ego tidak lagi memiliki berat gravitasi, dan lapar menjadi sayap yang membawanya terbang melintasi batas-batas materi.

Suara denting piring di dapur umum membuyarkan lamunan surealis itu. Sosok lelaki di bawah pohon sawo perlahan memudar, menyatu dengan kabut fajar. Mustafa terbangun sepenuhnya, menyadari bahwa ia baru saja mengalami “puasa di dalam puasa”—sebuah penyingkapan bahwa lapar adalah bahasa rahasia antara hamba dan Penciptanya.

Saat santri-santri lain berebut nasi bungkus untuk sahur, Mustafa mengambil porsinya dengan tenang. Ia menatap butiran nasi itu satu per satu. Di setiap butir nasi, ia melihat wajah petani yang berkeringat, ia melihat tanah yang rida, dan ia melihat cinta Tuhan yang dikemas dalam bentuk karbohidrat.

“Mus, kok nasinya dipandangi terus? Keburu imsak!” tegur temannya.

Mustafa tersenyum. “Aku sedang menyapa nasi ini, sebelum dia menjadi energi untuk laparku esok hari. Aku ingin dia tahu, bahwa besok dia akan aku ubah menjadi cahaya di dalam aula kosong perutku.”

Subuh itu, di Masjid Al Fatimiyyah, Mustafa sujud lebih lama dari biasanya. Ia tidak lagi meminta dikenyangkan oleh dunia, ia hanya meminta agar rasa laparnya tetap terjaga—karena hanya dalam lapar yang jujur, ia bisa benar-benar merasakan betapa mewahnya menjadi manusia yang butuh kepada Allah SWT.

Related Articles

Artikel baru