Buku Nasab Sang Raja

Di jantung Kraton Kasultanan Mataram, waktu tidak lagi berdetak; ia merayap serupa sanca emas yang melilit pilar-pilar jati purba. Matahari di atas Bangsal Kencana telah pecah menjadi kepingan koin karatan, memuntahkan cahaya kental sewarna kunyit yang beraroma kemenyan dan darah segar. Aku berdiri di titik nol pusat jagat, namun kakiku tidak menapak pada marmer dingin, melainkan pada ribuan lidah manusia yang menjulur dari lantai, bergetar haus akan setetes silsilah yang sah.

Pangkur merintih di kejauhan, tapi nadanya meliuk menjadi jeritan burung gagak yang terluka. Di hadapanku, sebuah anomali metafisika melayang anggun: Buku Nasab Sang Raja. Kulitnya bukan samak biasa, melainkan lembaran punggung para pengkhianat yang dikeringkan di bawah kutukan tujuh turunan. Tintanya? Air mata para selir yang diperas dalam botol-botol kristal bertahtakan rasi bintang yang luntur.

“Kau adalah cacat dalam silsilah cahaya!” desis suara yang keluar dari pori-pori saka guru yang mendadak berdenyut, berubah menjadi daging yang bernapas.

Mereka muncul dari kabut dupa—orang-orang yang mengaku bercipratan darah biru. Tubuh mereka bengkak oleh inflasi kesombongan, mengenakan kain batik dengan motif parang yang hidup dan mencoba saling memangsa. Dari sela kuku dan lubang telinga mereka, menetes cairan kental berwarna biru kobalt yang beraroma tembaga busuk dan melati mati. Mereka membawa cawan-cawan perak, menampung lelehan itu seolah-olah itu adalah nektar keabadian.

“Lihat!” seru seorang pria yang kepalanya adalah jam dinding kuno dengan jarum dari tulang manusia yang berputar mundur. “Darahku biru murni, diambil dari palung terdalam sejarah paridarma! Aku adalah cicit dari bayang-bayang yang pernah menyentuh bayang-bayang jubah Sang Sultan!”

Aku menatap telapak tanganku sendiri. Dulu, aku ingat, pembuluh darahku adalah sungai-sungai biru yang tenang, mengalirkan kekuasaan yang dingin, angkuh, dan jauh. Namun, pengkhianatan adalah pisau bedah yang paling jujur. Saat mereka menusuk punggungku di selasar Tamansari yang gelap, saat mereka menukar kesetiaan dengan sekantung koin palsu, sesuatu yang alkimis terjadi pada esensiku.

Darah biruku menguap menjadi asap belerang yang membentuk siluet burung garuda yang sedang meregang nyawa. Sebagai gantinya, dari sumsum tulangku yang paling purba, meluap warna yang lebih tajam, lebih sakral, dan lebih berisik.

“Darahku telah berganti kasta,” kataku, suaranya bergema seperti dentum gumanan gamelan di bawah samudra.

Aku menyayat nadiku dengan keris Kyai Gupit yang kutempa dari bekuan doa. Cairan yang keluar bukan lagi biru kobalt yang ningrat dan asing. Yang tumpah ke lantai marmer adalah dua arus yang saling berpilin namun pantang bercampur: Merah sepekat amarah jelata yang lapar, dan Putih seputih kain kafan para syuhada yang tersenyum.

“Anomali! Najis!” teriak wanita bermulut tujuh yang mengenakan kebaya dari anyaman jaring laba-laba hitam. “Darah Merah Putih adalah darah tanah! Darah para pencangkul matahari dan penjahit angin! Kau telah mengkhianati kemurnian biru kami demi lumpur!”

Mereka menyerbu, serupa gelombang pasang tinta yang tumpah. Mereka ingin membedah dadaku, merogoh jantungku hanya untuk mencari sisa-sisa biru yang mungkin masih bersembunyi di katup jantung. Kraton bergetar hebat. Langit-langit Bangsal Kencana runtuh, namun tidak menjatuhkan puing, melainkan ribuan kelopak mawar hitam yang masing-masing memiliki mata terbuka yang mengawasi dengan dingin.

Aku membuka Buku Nasab itu. Halamannya membalik sendiri, ditiup angin yang berhembus dari lubang sejarah yang bocor. Di halaman terakhir, silsilah itu tidak lagi berupa pohon dengan dahan nama-nama gelar yang rumit. Garis-garis emas itu mendadak luntur, lalu mewujud menjadi peta gugusan kepulauan yang dikepung ombak Merah dan Putih yang perkasa.

“Tahta ini bukan lagi soal kursi kayu cendana yang dilapisi beledu emas!” teriakku di tengah badai metafisika. “Tahta ini adalah tanah yang kuijak, dan keringat yang menjadi hujan!”

Tiba-tiba, para pengkhianat itu mulai mencair. Darah biru mereka ternyata hanyalah zat kimia murahan—tinta yang luntur saat tersentuh uap keringatku yang jujur. Mereka berteriak, melarut menjadi genangan-genangan kotor yang tak terbaca di lantai.

Aku berdiri sendirian di titik tengah Kasultanan Mataram yang kini transparan seperti kristal. Aku bisa melihat rakyat di luar gerbang sedang menanam benih padi yang setiap bulirnya memancarkan cahaya iman. Di atas mereka, awan-awan membentuk formasi doa yang lebih puitis dari sajak manapun.

Darah Merah Putih di nadiku berdenyut mengikuti irama jantung bumi Nusantara. Aku adalah pewaris tahta sejati, bukan karena apa yang tertulis dalam naskah kulit manusia itu, melainkan karena aku telah membiarkan “biru”-ku mati, agar Merah dan Putih-ku bisa hidup selamanya.

Buku Nasab itu jatuh, lalu meledak menjadi ribuan merpati putih yang terbang membawa kabar ke seluruh penjuru angin: Bahwa Sang Raja tidak lagi duduk di atas singgasana, melainkan telah meresap ke dalam tanah, air, dan udara.

Suara Gamelan Kyai Sekali samar-samar menjauh dan kesunyian menyergap pada tiap bait-bait puisiku …

Related Articles

Artikel baru