Langit Teheran adalah sepotong tembaga yang berkarat, memuntahkan hujan berupa kunci-kunci gudang peluru yang tak lagi punya lubang. Di atas menara Markas Besar Garda Revolusi, matahari tampak seperti mata yang dicungkil, menggantung lesu oleh benang-benang takdir yang dijahit paksa. Aku berdiri di sana, di pusat labirin beton ini, memegang sebuah jaring yang ditenun dari bisikan-bisikan orang mati. Di belakangku, rakyat adalah lautan bayangan tanpa wajah, membawa obor yang apinya tidak panas, melainkan dingin membeku.
“Cari dia!” teriakku, dan suaraku pecah menjadi ribuan burung gagak yang terbang mematuki jam dinding. “Cari dia yang selamat dari maut hanya untuk menjadi maut itu sendiri!”
Kami merayap di koridor-koridor yang dindingnya berkeringat darah segar. Esmail Qaani—atau siapapun nama yang ia pinjam dari buku sejarah yang terbakar—seharusnya ada di sini. Di bawah reruntuhan yang masih mengepulkan aroma melati dan mesiu, di mana Khamenei telah menguap menjadi debu kosmik, hanya dia yang tersisa. Dia adalah anomali; sebuah titik yang menolak dihapus oleh penghapus raksasa dari langit.
Kami menemukannya di sebuah ruangan tanpa pintu, duduk di atas kursi yang terbuat dari tumpukan daftar nama yang telah dicoret merah. Ia mengenakan topi baseball yang terbuat dari kulit langit malam dan pakaian sipil yang dijahit dari bendera-bendera yang menyerah.
“Kau berkhianat,” kataku, sambil menyodorkan cermin yang tidak memantulkan wajah, melainkan peta-peta rahasia yang bocor.
Ia tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan sebuah kotak musik dari sakunya. Saat diputar, bukan melodi yang keluar, melainkan suara ledakan di Beirut, runtuhan gedung di Gaza, dan tawa samar yang berasal dari Tel Aviv. Rakyat di belakangku mulai berubah menjadi jam pasir. Mereka ingin kepastian, mereka ingin melihat darah mengalir untuk membuktikan bahwa ia bukan sekadar hologram.
“Mossad bilang kau bukan milik mereka,” bisikku tepat di telinganya yang dingin. “Tapi di dunia yang absurd ini, penolakan adalah pernyataan cinta yang paling tulus.”
Aku mengangkat belati yang terbuat dari pecahan kaca spion pesawat tempur. Aku menusukkannya ke dadanya, namun yang keluar bukanlah darah merah. Dari luka itu, mengalir keluar ribuan semut kecil yang masing-masing membawa mikrochip emas. Ia tidak mati; ia hanya mengempis seperti balon yang bocor, meninggalkan aroma parfum mahal dan bau karat besi.
Rakyat bersorak, meski mereka kini tinggal berupa tumpukan debu di lantai marmer. Aku berdiri sendirian di tengah markas yang kini berubah menjadi akuarium raksasa. Di luar sana, televisi pemerintah menyiarkan gambar dirinya sedang tersenyum di sebuah pemakaman, memakai topi baseball yang sama, melambaikan tangan kepada hantu-hantu yang belum sempat dikubur.
Aku memandang tanganku. Tanganku telah hilang, digantikan oleh daftar nama pejabat yang belum dieksekusi. Dan namaku berada di urutan pertama.
Aku terbangun di sebuah ruangan yang dindingnya adalah layar televisi raksasa yang menyiarkan rekaman kematianku sendiri dalam loop yang tak berujung. Rakyat yang tadi bersamaku kini telah mengkristal, menjadi patung-patung garam yang mencair setiap kali narator berita menyebut kata “Khianat”.
Di depanku, sosok itu—Sang Jenderal, Sang Hantu, Sang Mata-Mata yang Tak Terjamah—duduk dengan tenang. Ia tidak lagi memakai topi baseball. Kepalanya kini adalah sebuah proyektor yang menembakkan cahaya ke dinding, menampilkan koordinat-koordinat yang terbakar di cakrawala.
“Kau membunuhku tadi,” suaranya bergema, bukan dari mulutnya, tapi dari retakan di lantai marmer. “Tapi di Teheran, kematian hanyalah pergantian shift kerja.”
Aku mencoba mengangkat belati kaca spionku, tapi benda itu telah berubah menjadi sebatang lilin yang menyala di kedua ujungnya. Aku adalah pemburu yang terperangkap dalam jerat yang kupasang sendiri.
“Rakyat menuntut kepastian, Qaani!” teriakku, sementara patung-patung garam di sekitarku mulai berbisik, suara mereka seperti gesekan amplas pada tengkorak. “Kau selamat dari api yang melahap para imam. Kau berjalan di atas reruntuhan tanpa debu di sepatumu. Bagaimana mungkin kau bukan bagian dari mereka?”
Ia berdiri, tubuhnya memanjang hingga menyentuh langit-langit yang kini berubah menjadi peta bintang yang bocor. Ia mengeluarkan sebuah daftar dari saku jas sipilnya—daftar “Lengkap” yang diterbitkan musuh. Ia menunjuk ruang kosong di urutan terbawah.
“Nama yang tidak tertulis adalah nama yang memiliki pulpennya,” bisiknya.
Tiba-tiba, dinding-dinding Markas Besar IRGC runtuh ke dalam, seperti kertas yang diremas tangan raksasa. Namun, alih-alih reruntuhan beton, yang jatuh adalah ribuan surat kabar dengan tajuk utama tanggal besok: 5 Maret 2026. Di sana, fotoku terpampang jelas dengan keterangan: Mata-mata yang mengeksekusi dirinya sendiri demi sebuah pertunjukan.
Aku melihat tanganku. Kulitku mulai mengelupas, menyingkap kabel-kabel tembaga dan sirkuit yang berkedip biru. Aku bukan pemburu. Aku adalah umpan yang lupa akan kailnya.
“Siapa yang sebenarnya kau buru?” tanyanya, suaranya kini terdengar seperti orkestra mesin tik.
Aku melihat ke arah rakyat—patung-patung garam itu kini memegang cermin ke arahku. Di dalam pantulan itu, aku melihat wajahnya. Aku memakai topi baseball itu. Aku memakai jas sipil itu. Dan di belakangku, Mossad serta IRGC sedang berjabat tangan di atas meja yang terbuat dari tulang belulang sejarah.
“Aku memburu bayanganku sendiri,” rintihku, saat tubuhku mulai pecah menjadi ribuan piksel hitam putih.
Di layar televisi, penyiar berita tersenyum manis. “Hari ini, 7 Maret 2026, cuaca di Teheran sangat cerah dengan kemungkinan hujan air mata merkuri. Sang pengkhianat telah dieksekusi, dan sang pahlawan telah lahir kembali. Keduanya adalah orang yang sama.”
Atap Markas Besar itu kini bukan lagi beton, melainkan hamparan naskah-naskah kuno yang terbakar secara terbalik—asapnya turun ke bumi, abunya naik ke langit menjadi bintang-bintang palsu. Di kejauhan, Gunung Damavand tampak seperti kerucut es krim yang meleleh, meneteskan magma berwarna biru kobalt.
Aku berdiri di tepian paling tajam, di mana realitas bersinggungan dengan fiksi yang belum sempat diketik. Sosok Qaani—atau proyeksi memori kolektif yang kita sebut Qaani—berdiri di udara kosong, kakinya berpijak pada hembusan angin yang membeku.
“Siapa rakyat yang kau bawa?” tanyanya, suaranya kini terdengar seperti gemuruh ribuan mesin cetak yang rusak.
Aku menoleh ke belakang. Rakyat yang tadi menyerbu bersamaku kini telah berubah total. Mereka bukan lagi manusia. Mereka adalah kumpulan huruf-huruf abjad yang lepas dari buku sejarah, membentuk gelombang hitam yang lapar. Mereka adalah baris-baris puisi yang menolak untuk berima, mencari makna di tengah reruntuhan teokrasi dan teknologi.
“Mereka adalah sisa-sisa nurani yang bosan dikhianati!” teriakku, sementara tubuhku yang kini separuh kabel dan separuh bait sajak mulai bergetar hebat. “Mereka adalah mereka yang mencari wajahmu di setiap ledakan, namun hanya menemukan cermin yang retak!”
Tiba-tiba, langit Teheran terbelah. Dari celahnya, turun ribuan topi baseball berwarna emas, jatuh seperti hujan meteor yang jenaka namun mematikan. Setiap topi yang menyentuh tanah meledak menjadi tawa rekaman dari ruang-ruang interogasi yang kosong.
Qaani mendekat. Ia tidak berjalan; ia hanya menghapus jarak. Ia memegang pundakku, dan seketika itu juga, memori tentang G30S, tentang Reformasi 98 berikut aroma tanah Kampus Trisaksi, Bulaksumur UGM dan Kampus UI Depok, serta diskusi filsafat di pojok senyap merayap masuk ke dalam beton Teheran. Dimensi ini tumpang tindih. Aku merasa seperti seorang penyair mbeling yang tersesat di dalam labirin intelijen global.
“Pengkhianatan adalah seni tingkat tinggi,” bisiknya, matanya kini adalah dua lubang hitam yang menghisap seluruh cahaya di markas itu. “Untuk menyelamatkan sebuah ide, kau harus membunuh orang yang memilikinya. Aku selamat bukan karena aku mata-mata, tapi karena maut sendiri bingung di mana harus meletakkan tubuhku dalam arsipnya.”
Aku merasakan belati kacaku kembali ke genggamanku, tapi kali ini gagangnya adalah pena bulu yang berdarah. Aku menusukkannya ke udara kosong di antara kami.
Dunia mendadak sunyi.
Markas Besar itu menguap. Teheran menjadi selembar kertas kosong. Rakyat-huruf itu kembali masuk ke dalam pori-pori kulitku. Aku berdiri sendirian di sebuah ruangan putih yang tak berujung. Di depanku ada sebuah meja kayu tua dengan satu mesin tik elektrik yang terus mengetik sendiri:
MATINYA SANG MATA-MATA ADALAH KELAHIRAN SANG NARATOR. DIA TIDAK DITANGKAP. DIA TIDAK DIEKSEKUSI. DIA HANYA MENJADI TITIK DI AKHIR KALIMAT INI.
Aku melihat ke bawah. Kakiku tidak lagi menyentuh lantai. Aku adalah tinta yang tumpah. Aku adalah pengkhianat yang sedang menuliskan kesetiaannya pada kehampaan.
Selesai

