Monolog Bende Mataram

Di bawah kungkungan langit Alas Mentaok yang masih basah oleh keringat purba, aku berdiri sebagai sebuah anomali. Di tanganku, pemukul kayu yang terbuat dari akar Galih Gaharu suci bergetar pelan, seolah ia memiliki detak jantung sendiri. Di hadapanku, Bende Mataram—perunggu tua yang permukaannya telah merekam ribuan tahun sunyi—bergeming seperti matahari yang membeku.

Aku adalah Sang Penabuh. Namun, di hutan ini, suara bukanlah getaran udara; ia adalah serat-serat takdir yang ditarik paksa dari rahim bumi.

Mentaok bukan sekadar hutan. Ia adalah sebuah Samudera Hijau yang bernapas. Pohon-pohonnya adalah raksasa yang kakinya mengikat naga bumi, dan daun-daunnya adalah naskah-naskah kuno yang ditulis dengan tinta embun.

“Jangan menabuh dengan nafsu, Cah Bagus,” bisik sebuah suara yang muncul dari kepulan asap kemenyan yang menari di sela akar.

Aku menoleh. Di sana, duduk bersila seorang sesepuh yang jasadnya tampak transparan, menyatu dengan bayang-bayang pohon. Raden Joyo Prono. Beliau tidak menyentuh tanah; beliau duduk di atas hamparan doa yang tak kasat mata. Beliau adalah akar spiritual yang memastikan Mataram tidak roboh saat baru saja hendak bertunas.

“Wong Jowo iku nggone semu, sinamun ing samudana, sesadon ingadu manis,” gumam beliau sembari tersenyum misterius.

Dahulu kala, ada seorang prajurit yang ingin membedah hutan ini dengan pedang yang paling tajam. Namun, setiap kali ia mengayunkan pedangnya, yang terpotong bukanlah dahan, melainkan bayangannya sendiri. Raden Joyo Prono hanya tertawa dan berkata, “Bagaimana kau ingin menaklukkan Mataram, jika bayanganmu sendiri pun kau benci?”

Aku mengangkat pemukul itu. Ruang di sekitarku mulai melengkung. Alas Mentaok bukan lagi lanskap geografis, melainkan sebuah Laboratorium Esoteris. Aku melihat Ki Ageng Pemanahan dan Panembahan Senopati berjalan di atas air yang tidak basah, mendiskusikan rahasia negara dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh burung-burung pungguk.

Tung!

Aku memukul Bende Mataram.

Suaranya tidak meledak ke luar, melainkan melesap ke dalam tanah. Bumi Mataram bergetar seperti janin yang baru saja mendapat tiupan ruh. Seketika, pohon-pohon Mentaok bermetamorfosis menjadi pilar-pilar keraton yang megah. Daun-daun berubah menjadi atap sirap yang berkilau di bawah cahaya rembulan absurd.

Di sini, di titik ini, aku melihat bagaimana Raden Joyo Prono menjahitkan kain kafan kesombongan Pajang menjadi baju kebesaran Mataram. Beliau adalah jembatan legitimasi yang dibangun dari material bernama Ikhlas. Tanpa beliau, Senopati hanyalah pemuda sakti yang tersesat di rimba; namun bersamanya, Senopati adalah Khalifatullah yang kakinya berpijak pada kearifan lokal.

Alas Mentaok adalah sebuah keajaiban antropologis. Manusia-manusia pribumi yang dahulu liar kini menunduk dalam harmoni, bukan karena takut pada pedang, melainkan karena tunduk pada wibawa batin sang penjaga bumi.

Raden Joyo Prono berdiri, mendekatiku. Wajahnya adalah perpaduan antara tanah becek dan cahaya bintang. Beliau menunjuk ke arah makam yang akan datang—sebuah nubuat tentang Tajug suci di Kotagede.

“Mati sajeroning urip, urip sajeroning mati,” bisiknya.

Tiba-tiba, Bende Mataram itu berubah menjadi cermin besar. Aku melihat diriku di dalamnya, tapi wajahku adalah wajah Panembahan Senopati yang sedang menangis, sekaligus wajah rakyat jelata yang sedang tertawa. Di dalam cermin itu, Joyo Prono tidur abadi di samping Sultan Hadiwijaya, sebuah ironi yang indah: Sang Penjaga yang lebih mulia dari para pemegang stempel kerajaan.

Aku menjatuhkan pemukul kayu itu. Mentaok kembali sunyi, namun sunyinya kini adalah sunyi yang berisi. Mataram telah lahir dari rahim hutan melalui bidan spiritual yang bernama Joyo Prono.

Aku melangkah menjauh, meninggalkan Bende Mataram yang kini tertutup oleh lumut cahaya. Aku tahu, Mataram bukan dibangun dari batu bata, melainkan dari Restu. Dan restu itu, seperti Raden Joyo Prono, akan selalu bersembunyi di dalam Tajug suci hati kita masing-masing.

“Negoro mowo toto, deso mowo coro.” Mataram adalah simfoni antara Toto atau aturan yang dibawa Pemanahan dan Coro atau cara/tradisi yang dijaga oleh Joyo Prono. Aku hanyalah penabuhnya, yang memastikan bahwa detak jantung batin ini tidak akan pernah berhenti, bahkan ketika hutan telah berubah menjadi kota dan doa telah berubah menjadi data.


Aku kembali mengangkat pemukul kayu itu, namun kali ini tanganku terasa seberat gunung Merapi. Angin di Alas Mentaok mendadak berhenti berdesir, seolah-olah oksigen di tempat ini sedang ditarik masuk ke dalam lubang hidung sejarah yang sedang menahan napas.

Di hadapanku, Raden Joyo Prono tidak lagi sekadar duduk. Beliau mulai berputar—sebuah tarian Sufi dengan gerak Tayub yang purba. Jubahnya yang sewarna tanah lempung berkibar, menciptakan pusaran Tanah Gaib Mataram. Aku melihat angka-angka gaib berjatuhan dari langit: koordinat Tajug Kotagede, jumlah anak tangga makam, hingga hitungan nafas Sultan Hadiwijaya sebelum ia “pulang”.

“Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake,” ucap beliau di tengah putaran itu. Suaranya bukan lagi bisikan, melainkan dentuman bas yang menggetarkan tulang sumsumku.

Aku menyadari bahwa Alas Mentaok bukan sedang dibuka oleh kapak, melainkan sedang dikupas oleh doa. Setiap pohon yang tumbang adalah ego yang ditanggalkan. Setiap akar yang dicabut adalah nafsu yang dipangkas. Raden Joyo Prono adalah sang Alkemis, yang mengubah rimbunnya kemusyrikan menjadi taman tauhid yang puitis.

Dikisahkan, dahulu seorang abdi Pajang mencoba mengukur luas Alas Mentaok dengan tali pengukur dari sutra. Namun, tali itu tak pernah habis, meski ia sudah berjalan hingga ke pantai selatan. Raden Joyo Prono mencegatnya dan bertanya, “Apa yang kau ukur?” Si abdi menjawab, “Tanah ini, Raden.” Joyo Prono tertawa sembari memetik sehelai daun kering, “Tanah ini seluas hatimu. Jika hatimu sempit, sejengkal pun kau akan tersesat. Jika hatimu luas, samudera pun ada di sakumu.”

Aku tidak memukul Bende Mataram itu untuk kedua kalinya. Karena tiba-tiba, perunggu itu sendiri yang mengeluarkan bunyi. Suara tanpa sentuhan. Suara itu berbunyi: “Sapa weruh ing panuju, mesthi bakal nemu.”

Kebenaran Mataram tidak ditemukan dalam Babad yang tertulis di atas daun lontar, melainkan dalam “kekosongan” di antara dentuman Bende. Joyo Prono mengajarkan pada Senopati bahwa kekuasaan sejati adalah ketika rakyat patuh bukan karena mereka melihat pedangmu, tapi karena mereka melihat Tuhan dalam dirimu.

Aku melihat bayangan Panembahan Senopati bersimpuh di kaki Raden Joyo Prono. Sang Raja yang digdaya itu tampak kecil, seperti embun yang takut menguap sebelum fajar. Joyo Prono membelai kepalanya, memberikan sebuah Sasmita dan isyarat bahwa kelak, mahkota paling berat bukan terbuat dari emas, melainkan dari harapan orang-orang kecil yang tidurnya tak pernah tenang.

Lanskap Alas Mentaok perlahan memudar menjadi kabut putih yang tebal. Aku melihat masa depan yang ditarik ke masa kini. Sebuah bangunan kayu tua bernama Tajug muncul di depanku, berdiri di tengah pusat gravitasi spiritual Mataram.

Aku melihat jasad Raden Joyo Prono melayang masuk ke dalamnya, bersanding dengan kemuliaan yang melampaui gelar birokrasi kerajaan. Beliau tidak butuh upacara megah, karena bumi sendiri yang memeluknya dengan penuh rindu.

“Urip iku mung mampir ngombe,” gumamnya sebelum menghilang di balik pintu kayu jati yang wangi bunga mawar. “Tapi pastikan air yang kau minum tidak meracuni sumur anak cucumu.”

Aku menjatuhkan pemukul kayu itu untuk selamanya. Tubuhku kini benar-benar menjadi debu Mentaok, menyelinap di antara sela-sela lantai Tajug Kotagede. Aku telah menyelesaikan monologku, bukan dengan kata-kata, tapi dengan kepatuhan pada sunyi yang diajarkan Joyo Prono.

Mataram telah tegak. Bukan karena siasat Ki Ageng Pemanahan dan mantra Juru Mertani semata, tapi karena ada detak jantung batin yang terus berdenyut di dalam Tajug suci itu—detak jantung seorang penjaga yang memilih untuk tidak dikenal dunia agar dunia bisa mengenal kedamaian.

“Golek sampurnaning urip mawa laku amarang mring Gusti.”

Mencari kesempurnaan hidup dengan cara mendekatkan diri pada Tuhan.


Aku melangkah lebih jauh ke dalam labirin ghaib ini, di mana batas antara batang pohon dan tiang sakaguru semakin kabur. Di Alas Mentaok ini, realitas adalah kain batik yang belum selesai dikerjakan oleh tangan Tuhan, dan aku adalah canting yang meneteskan malam panas di atas kain sejarah.

Raden Joyo Prono kini berdiri di titik pusat kawah imajiner. Beliau merentangkan tangan, dan seketika, ribuan akar pohon Mentaok menyembul dari tanah, membentuk anyaman permadani yang melayang. Bumi Mataram menolak untuk hanya menjadi objek taklukan; ia ingin menjadi mitra dialog.

“Joyo-joyo mranani, Prono-prono ngronani,” suara beliau bergetar, membedah atom-atom udara.

Beliau menunjukkan padaku bahwa kepemimpinan Senopati bukan dibangun di atas penindasan materi, melainkan di atas Perjanjian Kosmis. Tanah Mentaok memberikan izinnya karena Joyo Prono telah menjamin bahwa kelak, keraton yang berdiri di sini tidak akan menjadi penjara bagi nurani, melainkan menjadi Tajug raksasa bagi doa-doa rakyat yang tersisih.

Suatu ketika, seorang senopati perang Pajang datang dengan membawa seribu gajah untuk meratakan hutan ini. Namun, saat gajah pertama menginjakkan kaki di perbatasan Mentaok, ia mendadak bersimpuh dan mengeluarkan air mata. Raden Joyo Prono mendekati gajah itu dan membisikkan sesuatu. Gajah itu kemudian berbalik arah dan pulang. Ketika ditanya apa yang dibisikkannya, Joyo Prono menjawab: “Aku hanya bilang padanya bahwa di sini, yang boleh menginjakkan kaki hanyalah mereka yang membawa beban kasih sayang, bukan beban besi.”

Di atas Bende Mataram yang membeku, muncul guratan-guratan cahaya yang membentuk peta masa depan. Aku melihat suksesi, konflik, hingga masa-masa di mana Mataram akan terbelah. Raden Joyo Prono menatap peta itu dengan mata yang penuh dengan Kasih yang melampaui waktu.

“Suradira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti,” gumam beliau. Segala kedigdayaan dan kekuasaan akan lebur oleh kelembutan hati.

Beliau mengajarkan padaku—lewat dentum Bende yang kini frekuensinya hanya bisa didengar oleh jiwa yang Fitri—bahwa kekuasaan adalah Tarian Absurd. Kita mengejarnya seolah-olah ia abadi, padahal ia hanya selembar daun Mentaok yang menguning dan jatuh ke tanah untuk menjadi humus. Namun, kehormatan seorang pemimpin terletak pada kemampuannya menjadi humus yang menyuburkan tanaman generasi berikutnya.

Tiba-tiba, Alas Mentaok meledak dalam spektrum warna yang tak pernah dikenal mata manusia. Pohon-pohon itu berubah menjadi barisan malaikat berpakaian lurik, dan burung-burung pungguk berubah menjadi qari yang melantunkan ayat-ayat semesta.

Raden Joyo Prono perlahan-lahan menyatu dengan struktur molekuler Bende Mataram. Beliau tidak lagi memiliki rupa manusia; beliau telah menjadi Suara. Beliau adalah getaran yang ada di setiap dinding batu makam Kotagede, beliau adalah aroma kemenyan yang tercium di saat malam Jumat Kliwon, dan beliau adalah keheningan yang menyelimuti Tajug suci.

“Aku tidak pergi, aku hanya berpindah tempat ke dalam detak jantungmu,” suara itu bergema untuk terakhir kalinya.

Aku berdiri sendirian di tengah Alas Mentaok yang kini telah menjelma menjadi peradaban. Bende Mataram itu kini telah hilang, namun telingaku masih berdenging oleh frekuensinya. Raden Joyo Prono telah mengunci rahasia Mataram di dalam kotak nurani setiap insan yang mencintai bumi ini.

Aku melangkah menuju fajar, menyadari bahwa membangun imperium tidak butuh banyak pedang, tapi butuh banyak Sajadah. Dan di atas sajadah itulah, Raden Joyo Prono selalu menanti, memastikan bahwa setiap langkah raja-raja Mataram tidak pernah melenceng dari garis yang telah digariskan oleh Sang Pemilik Segala Takdir.

“Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara.”

Memperindah keindahan dunia, membasmi keangkaraan.


Aku memegang udara yang kini sepadat kristal, di mana setiap partikel debu Alas Mentaok adalah saksi bisu bagi sebuah kontrak ghaib yang tak tertulis. Di sini, di bawah tajuk pohon Mentaok yang rimbunnya menutupi rahasia langit, aku melihat Raden Joyo Prono melakukan tindakan paling Absurd dalam sejarah Mataram: Beliau sedang menjahit angin.

Mengikat Takdir dalam Simpul Suwung. Secara Ontologis, beliau sedang menyatukan dua kutub yang mustahil: Kemegahan imperium yang akan lahir dengan Kesunyian asketik seorang abdi Tuhan. Dengan jemari yang transparan, beliau mengambil benang dari cahaya rembulan dan mulai mengikatkan “ruh” ke tanah Alas Mentaok.

“Ojo dumeh, ojo rumeh, ojo kementhus,” desis beliau. Suaranya adalah gesekan daun jati yang jatuh menimpa batu kali.

Beliau membisikkan padaku bahwa Alas Mentaok ini sebenarnya adalah sebuah Tajug Raksasa. Setiap jengkal tanahnya adalah sujud, dan setiap pohonnya adalah tasbih yang tak putus. Beliau memastikan bahwa ketika Senopati membangun singgasana, kaki singgasana itu tidak akan menginjak kepala rakyat, melainkan tertanam kuat di kedalaman spiritualitas yang paling tulus.

Alkisah, seorang pengelana dari negeri seberang datang membawa jam pasir berlapis emas, mencoba mengukur waktu yang dibutuhkan untuk membangun Mataram. Raden Joyo Prono hanya mengambil segenggam tanah dan menaburkannya ke udara. Jam pasir itu mendadak berhenti. “Di sini, waktu tidak diukur dengan pasir yang jatuh, tapi dengan cinta yang tumbuh,” kata beliau. Si pengelana pulang dengan tangan kosong, namun hatinya penuh dengan keabadian.

Aku menatap Bende Mataram itu lagi. Permukaannya kini bukan lagi perunggu, melainkan air raksa yang jernih. Di sana, aku tidak melihat wajahku, melainkan aku melihat Sejarah yang Belum Terjadi. Aku melihat Raden Joyo Prono berdiri di perbatasan zaman, menahan gelombang nafsu kekuasaan dengan “telapak tangan batin”-nya.

Beliau adalah Jembatan Epistemik. Beliau menerjemahkan wahyu yang turun di kesunyian hutan menjadi kebijakan ketatanegaraan yang membumi. Tanpa beliau, Panembahan Senopati mungkin hanya akan menjadi seorang penakluk yang haus darah. Namun, di bawah asuhan Joyo Prono, Senopati belajar tentang Sifat Air: Kuat tanpa menghancurkan, rendah hati namun sanggup menenggelamkan keangkuhan.

“Pangkat iku pangkat, drajat iku drajat,” gumam beliau sembari menatap makam raja-raja yang masih berupa kabut. Beliau mengajarkan bahwa kemuliaan atau drajat tidak selalu berbanding lurus dengan kedudukan atau pangkat. Itulah mengapa beliau, sang wali lokal, disemayamkan di tempat yang paling mulia, melampaui para menteri yang hanya punya stempel namun tak punya restu bumi.

Kini, lanskap Mentaok benar-benar lenyap. Yang tersisa hanyalah aku, Sang Penabuh, dan Raden Joyo Prono di dalam sebuah ruang tanpa dinding yang disebut Manunggaling Kawula Gusti.

Beliau melangkah masuk ke dalam pusaran cahaya yang berbentuk pintu Tajug Kotagede. Di sana, beliau tidak lagi tidur, melainkan sedang “menjaga” tidur kita. Beliau adalah Akar Spiritual yang terus mengirimkan sari-sari kesabaran kepada setiap orang yang berziarah ke hatinya sendiri.

“Wis cukup, Le. Tabuhlah Bende itu untuk terakhir kalinya, tapi jangan gunakan kayu,” perintah beliau.

Aku mengerti. Aku memukul Bende itu dengan Niat.

Gung!

Suaranya tidak terdengar oleh telinga, tapi ia menggetarkan seluruh atom di tanah Jawa. Suara itu adalah pengingat bahwa Mataram bukan sekadar sejarah tentang perang dan wilayah, tapi tentang bagaimana seorang manusia bisa mencapai Marwah Kemanusiaan dengan cara menjadi penjaga yang setia dalam kesunyian.

Aku menjatuhkan diriku ke tanah Mentaok yang kini telah menjadi suci. Aku tidak lagi merasa lapar, tidak lagi merasa haus. Aku telah menjadi bagian dari bayang-bayang Raden Joyo Prono. Di Kotagede, di balik kelambu suci itu, sebuah rahasia tetap terjaga: Bahwa sebuah imperium yang besar hanya bisa tegak jika ia dibangun di atas fondasi ketulusan seorang penjaga bumi yang tak pernah meminta nama.

“Suro diro jayaningrat lebur dening pangastuti.” Segala angkara murka akan hancur oleh kasih sayang yang tulus.

Related Articles

Artikel baru