Panorama Dirasah Islamiyyah di Timur Tengah:

Pola Pembelajaran di Universitas Al-Azhar Kairo dan Al-Zaituna Tunisia

Dewan Redaksi


Prolog

Tulisan Kabar Pendidikan Arab dan Timur Tengah mungkin terlalu menohok karena menilai langsung kekurangan pendidikan di Arab dan Timur Tengah. Apakah yang dapat kita ambil dari iklim pendidikan yang belum berhasil mengentaskan keterpurukan bangsanya sendiri? Sesuatu yang belum berhasil belum tentu tidak ada manfaatnya. Lagi pula roda kehidupan terus berputar dan harus diingat, Islam pernah menyinari peradaban manusia di fase keemasannya.

Perkembangan ilmu-ilmu sosio- humaniora mutakhir di Barat secara umum lebih unggul daripada di Timur, tetapi Timur (Islam) tidak kalah telak dengan Barat. Timur masih memiliki warisan keilmuan yang harus diakui keunggulannya. Barat tidak boleh jumawa karena, seperti dikatakan dalam wisdom Arab, laysakullumâyalma`udzahab-an, tidak semua yang berkilau itu emas.

Barat dan Timur memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Apa makna metodologi jika tidak ada materi yang akan dikaji? Sebaliknya, apa manfaat materi yang menumpuk jika tidak ditelaah dalam tinjauan metodologi yang relevan untuk kehidupan saat ini? Dua kutub tidak boleh jalan sendiri-sendiri, melainkan harus saling mendukung dan melengkapi.

Menjadi pertimbangan kita tidak menelan semua yang ada di Timur Tengah, karena pada dasarnya setiap tempat memiliki keunikan tersendiri. Persoalan politik di Timur Tengah memang memporak-poranda dunia Islam. Dan realitanya pendidikan di sana belum mampu mengentaskan problema tersebut. Persoalan itu disebabkan kuatnya pengajaran dogmatisme seperti sudah dikritik Mohammed Arkoun (1926-2010).

Kendatipun demikian, keilmuan memang tidak dapat lepas dari politik, tetapi tidak selamanya kegagalan negara dan politik merepresentasikan rapuhnya basis keilmuan yang berkembang di sana. Jika dilihat dari sisi kesejahteraan ekonomi dan gejolak politik, Mesir dan Maroko barangkali tertinggal jauh dari Indonesia. Tetapi dalam bidang kajian ilmu-ilmu keislaman klasik, Mesir dan Maroko jauh lebih bagus dari Indonesia.

Uni Emirat Arab yang terletak di Teluk Persia boleh berkembang pesat lewat pembangunan infrastruktur dan proyek modernisasi. Tetapi dari sisi keilmuan Islam, Uni Emirat Arab tidak bagus-bagus amat dibandingkan negara- negara Arab Maghrib seperti Maroko, Al-Jazair, Tunisia atau bahkan negara di benua Afrika Utara seperti Mesir yang banyak melahirkan ulama-ulama kredibel.

Sikap terhadap warisan masa lalu atau dikenal turâts melahirkan beragam perspektif yang banyak ditawarkan pemikir-pemikir Islam kontemporer. Ada perspektif menganggap tradisi itu perlu dipelajari sebagaimana adanya ketika tradisi tersebut dirumuskan; ada yang menganggap tradisi tersebut perlu ditinjau dalam konteks lebih meluas dengan menggunakan disiplin ilmu-ilmu sosio-humaniora modern; dan ada juga sikap ekstrem yang menganggap bahwa tradisi tersebut sudah ketinggalan dan sudah seharusnya ditanggalkan.

Secara general terdapat dua ke- cenderungan umum dirasah islamiyyah dalam menyikapi turâts klasik: pertama, kecenderungan kembali ke masa lalu ditandai dengan mengagungkan dan mengunggulkan warisan keilmuan Islam klasik, sebatas mengagumi dan minim upaya memikirkan khazanah itu dapat dimanfaatkan untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Kedua, kecen-derungan saintis mengambil warisan masa lalu dengan orientasi dan proyeksi masa depan. Kelompok ini tetap menghormati khazanah klasik tetapi tetap kritis dalam mempelajarinya.

Kecenderungan saintis ini dapat terbaca dari hasil riset atau karya tulis mahasiswa S2 atau S3 di kampus se- tempat: apakah ada minat untuk men- dorong warisan klasik itu ditinjau dan digunakan untuk kepentingan yang riil, artinya penelitian para mahasiswa S2 dan S3 itu apakah fokus pada kemaslahatan di masa lalu, tetapi minim daya guna yang lebih prospek untuk ke depan. Untuk konteks S1, semua pendidikan di Arab tidak ada spesifikasi secara mendasar meskipun sudah ada jurusan masing-masing. Hal itu dapat terlihat dari title sarjana di semua jurusan, Lc atau Licentiate.

Misi Dakwah Pembelajaran

Ada dua kampus yang akan kita tulis standard pembelajaran ilmu-ilmu keislaman. Pertama adalah Universitas Al-Azhar Kairo Mesir sebagai kampus tertua di dunia yang didirikan pada zaman dinasti Fatimiyah di Mesir hasil sumbangan khalifah Al-Aziz (976-996) dan Al-Hakim (996-1021) sebagai suk- sesor khalifah pertama Al-Muiz (952-975).

Hodgson dalam bukunya The Venture of Islam, menyebut Al-Azhar pada mulanya digunakan sebagai pusat pembelajaran orang-orang Syi’ah sekte Isma’iliyyah yang tertarik pada filsafat dan kebatinan, kelompok ini mempelajari alegorisme dan simbol-simbol dalam Al- Qur’an (Hodgson, 1974, Vol. II: 25).

Kedua adalah Universitas Al- Zaituna Tunisia yang dalam sejarahnya pernah mencetak sosiolog Muslim besar Abdurrahman ibn Khaldun (1332-1406) penulis buku sosiologi Al-Muqaddimah dan buku sejarah yang panjang Târîkh Ibn Khaldûn atau Al-Ibar wa Dîwân al- Mubtada’ waal- Khabar fî Ayyâm al- `Arab wa al-`Ajm wa al-Barbar wa Man `Âsharahum min Dzaw al-Sulthân al- Akbar.

Al-Azhar berkembang dan me- menuhi tuntutan umat. Al-Azhar dibagi menjadi dua, Al-Azhar Adabi dan Al- Azhar Ilmi. Pada kampus Ilmimengkhus- uskan kuliah-kuliah ilmu-ilmu natural dan disiplin keilmuan modern, sedang Adabi mengkhususkan kuliah ilmu-ilmu agama dan sastra yang terbagi dalam tiga fakultas besar: Ushuluddin, Syariah dan Bahasa dan Sastra Arab (lughah).

Perpaduan dua tipe kampus itu juga bagian dari usaha menjawab kebutuh- an umat. Hal-hal berkaitan dengan ke- agamaan dan spiritual ditangani kampus Adabi, sedangkan aspek ilmu-ilmu na- tural dan keilmuan modern ditangani kampus Ilmi.

Al-Zaituna tidak memiliki kampus untuk ilmu-ilmu natural sebagaimana Al-Azhar ilmi tempat pembelajaran ilmu-ilmu natural. Secara umum kampus Al-Zaituna terbagi tiga: Ma’had Syarî’ah, Ma’had Ushûluddîn dan Hadhârah Islâmiyah. Pembagian ini mirip seperti Al-Azhar Adabi, hanya beda pada Hadhârah Islâmiyah saja. Meski demikian Hadhârah Islâmiyah di Al-Zaituna memiliki kesamaan model dengan Kuliyah Lughah di Al-Azhar Kairo, karena di dalamnya dikaji sejarah dan peradaban Islam.

Pembelajaran di Al-Zaituna tidak terfokus pada kajian diktat kuliah seperti halnya yang terjadi di Al-Azhar. Pem- belajaranya sudah menggunakan sistem SKS dan absensi yang akan mem- pengaruhi nilai akhir mahasiswa. Jadi pembelajaran di Al-Zaituna berdasarkan tema dan konsentrasi. Dalam hal ini, Al-Zaituna mengikuti perkembangan sebagaimana diterapkan di kampus- kampus lain pada umumnya. Al-Azhar sendiri memang menekankan pada diktat kuliah yang disediakan para dosen pengampu, namun bukan berarti melarang merujuk pada referensi lain.

Dua kampus ini bukan sembarang kampus, meskipun secara implisit diklaim pemikir sekelas Arkoun belum keluar dari dogmatisasi pembelajaran Islam, tetapi kedua kampus tua tersebut punya ciri khas dari sekedar perbandingan yang ditawarkan Arkoun. Apa itu? Ciri menonjol dari Al-Azhar Kairo dan Al- Zaituna Tunisia adalah pembelajaran agama yang lebih mementingkan pesan dakwah: pembelajaran yang mengingin- kan semua mahasiswa tidak terputus dengan khazanah keilmuan Islam sebagai- mana diwariskan para ulama pendahulu.

Dua kampus ini menekankan aspek materi dan ketersambungan dengan keilmuan ulama-ulama klasik Muslim. Oleh karena itu tidak heran orientasi pembelajaran khazanah klasik sangat ditekankan melebihi pertimbangan lain. Barangkali karena ini yang membuat Al-Azhar dan Al-Zaituna kurang mem- pertajam visi keilmuan jangka panjang.

Kita dapat saja memperdebatkan apakah dua kampus tersebut merepre- sentasikan sebuah lembaga pendidikan sesungguhnya atau tidak? Sebagian yang skeptis dengan pola pembelajaran yang menitikberatkan materi sebagaimana di Al-Azhar dan Al-Zaituna, lebih senang menyebutnya sebagai lembaga dakwah dan bukan sebagai lembaga pendidikan tinggi yang saintis dan ilmiah.

Orang boleh berbeda pendapat tetapi tidak semua yang ada di Timur Tengah separah yang dituduhkan: kondisi keilmuan yang kakuh, literalis, monoton, dan lain sebagainya. Al-Azhar dan Al- Zaituna mengajarkan materi-materi pe- nalaran seperti fakultas Ushuluddin yang membawahi jurusan Akidah-Filsafat.

Merespon Ketegangan Timur Tengah

Timur Tengah memang sedang ber- gejolak. Kita merasakan suhu ketegangan politik yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Rasa keamanan menurun seiring melemahnya pemerintah. Melihat situasi sosial dan politik Timur Tengah yang kisruh itu, memang jauh dari ideal untuk menjadi tempat belajar.

Namun jangan sekali-kali mem- bandingkan antara dunia Timur dan Barat tanpa melihat latar belakang me- madahi. Membandingkan Timur dan Barat dengan menutup mata, samahal- nya membandingkan antara neraka dan surga. Ibarat seorang anak yang hidup dalam kemapanan ekonomi, pendidikan, kasih sayang, lalu dibandingkan anak dari pasangan jelata yang serba kekurangan dan serba konflik.

Meski harus jujur dalam melakukan perbandingan, fakta ketertinggalan dunia Timur Islam dari Barat tidak bisa ditutup- tutupi. Sebatas ilustrasi yang digunakan Arkoun dikutip di sini: perjalanan pesawat dari Timur Tengah ke negara- negara di Eropa dan Barat memakan tidak lebih dari 5 jam, tetapi untuk menyusul peradaban Barat yang sudah mapan dan modern seperti yang kita saksikan itu, Timur Tengah butuh lebih dari 5 abad.

Ilustrasi Arkoun hendak menyampaikan tidak ada waktu untuk berleha-leha. Jika umat Islam tidak cepat menyusul Barat, mereka bakal terus tertinggal dan Barat tidak akan terkejar. Langkah menyusul Barat dimulai dengan strategi, membereskan persoalan internal atau dalam negeri. Bagaimana bisa menyusul kalau kondisi internalnya tercerai-berai?

Sumbangsih Al-Azhar dan Al- Zaituna dalam karut-marut sosio-politik Timur Tengah cukup realistis, ini terlihat dari misi dari paradigma kurikulum yang diajarkan di kedua kampus tua tersebut. Dari sisi kurikulum, misalnya, Al- Azhar Kairo mengadopsi semua mazhab fikih sebagai bahan ajar untuk fakultas Syari’ah. Perbedaan mazhab sudah dikenalkan sedari awal.

Wawasan keragaman aliran atau mazhab dapat mengikis fanatisme kemazhaban. Seringkali fanatisme itu muncul karena tidak mengenal keragaman mazhab. Sebagaimana dikatakan sastrawan besar Mesir, Anis Mansour (1925-2011), al-`aql kal-farâgh in lam tumli`u bil-ma`rifah imtala’at-hu bi al-ta`asshub. Akal manusia itu masih akan kosong, selama masih belum diisi pengetahuan sangat mudah jatuh dalam fatisme buta.

Selain mengajarkan pluralitas mazhab, Al-Azhar memperhatikan juga mazhab bawaan mahasiswa dari negara asalnya, misal bagi mahasiswa Indonesia diajarkan pendalaman fikih Syafi’ie karena mazhab itu yang berlaku di daerahnya, atau mazhab Maliki bagi mahasiswa dari Saudi.

Kemudian dari sisi teologi yang diterapkan adalah jalan tengah Asy’ariyah melalui konsep kasb. Kita tahu bahwa Asy’ariyah merupakan paham pertengah- an antara dua kubuh ekstrem antara literalis dan rasionalis. Meskipun sudah memantapkan di Asy’ariyah, Al-Azhar tetap mengajarkan keragaman sekte yang pernah muncul dalam Islam.

Bagaimana dengan Al-Zaituna? Sejak awal kemunculannya Al-Zaituna memang merupakan pusat penyebaran madzhab Maliki di benua Afrika, jadi secara tidak langsung Maliki menjadi orientasi mazhab fikih kampus, tetapi uniknya isu mazhab tidak terlalu ditonjolkan dalam kampus. Keterangan ini disampaikan oleh pelajar dan mahasiswa Indonesia yang belajar di Al-Zaituna. Fanatisme satu mazhab tidak terlalu mendominasi, justru iklim keterbukaan mendasari pola keberagamaan di lingkungan kampus.

Begitu juga nuansa pendalaman fikih klasik masih sangat ditekankan di lingkungan kampus. Di Tunisia, Al- Zaituna dikenal dengan pendekatan teks yang lebih moderat. Keilmuan dari teks- teks klasik tetap dikaji sembari menerima isu-isu kontemporer. Seperti di Al-Azhar, Al-Zaituna dalam hal teologi memilih jalan tengah rumusan Asy’ariyah. Teologi rumusan Imam Abu Hasan Al-Asy`ari ini mudah diterima karena sifatnya yang mengakomodir yang fatalis dan rasionalis.

Kedua kampus besar ini menjawab kebutuhan dunia Arab dan Timur Tengah. Paham moderasi yang dirawat adalah pilihan bijak untuk menetralisir suasana konflik. Jalan tengah mampu mengakomodir dua kubuh sekaligus tanpa harus mengorbankan satu dan mementingkan yang lain.

Moderasi paling relevan karena mengundang simpati kedua kubuh bersitegang. Moderasi dapat diandalkan sebagai garda depan yang menyatukan seluruh kepentingan yang bertikai di Timur Tengah. Impian jangka panjang dari moderasi ini adalah, Timur Tengah mampu lepas dari jerat pertikaian dan terbebas dari gerakan fundamentalisme yang destruktif.

Prinsip Moderasi Pembelajaran

Kajian keislaman di Al-Azhar menerima variasi pemikiran yang tumbuh dalam sejarah peradaban Islam. Sebagai sebuah warisan, betapapun tajamnya khazanah klasik berseberangan dengan Al-Azhar, tetap dianggap sebagai turâst penting untuk dipelajari. Di sinilah moderasi menjiwai nafas pembelajaran di Al-Azhar.

Al-Azhar punya sikap kritis terhadap persoalan-persoalan yang tidak sejalan dengan paham moderasinya, karena itu Al-Azhar selalu menyertakan catatan kritis dengan menilai dan menimbang pemikiran tersebut dengan adil. Model ini diterapkan di seluruh matakuliah yang diajarkan di kampus. Selalu ada catatan kritis terhadap khazanah Islam yang dinilai terlalu tajam dan bersebrangan.

Misalnya dalam kajian tayyârât islâmiyyah (aliran-aliran dalam Islam) atau matakuliah al-milal wa al-nihal di kuliah Ushuluddin, macam-macam sekte Syi’ah dikaji dengan teliti kemudian dikomentari dari perspektif moderasi Al- Azhar. Beberapa point yang tidak sejalan dengan pesan Ahl Sunnah dan salaf shalih diluruskan agar menjadi pelajaran yang mendidik bagi para mahasiswanya.

Selama mengomentari, tidak akan ditemui komentar keras tidak mendidik seperti mengatakan Syi’ah itu kafir atau keluar dari Islam. Karena bagi Al-Azhar moderasi itu ibaratnya menjadi penengah dan bukan penghakim. Mendidik itu bukan soal memberikan materi, tetapi yang tidak kalah penting bagaimana menyampaikan materi itu dengan santun dan bijak tanpa harus menanamkan cacian terhadap kubuh atau aliran yang berbeda.

Al-Zaituna punya prinsip sama dalam hal menghormati teks-teks klasik Islam. Warisan ulama masa lalu sebagai kekayaan dan modal kebangkitan terus dikaji dan dipelajari. Tetapi itu bukan satu-satunya cara Al-Zaituna di jalur memajukan umat, sikap menjaga tradisi klasik itu diimbangi dengan mengkaji isu-isu modern. Lagi pula warga Tunisia sering bersinggungan dengan orang- orang Perancis, karena dulu bekas jajahan Perancis.

Persinggungan itu secara otomatis memunculkan apa yang dikatakan Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831) sebagai dialektika yang akan terus menantang pemikiran berevolusi (tesis- antitesis-sintesis). Kemajuan peradaban menghasilkan tantangan-tangan baru dan sudah pasti membutuhkan ijihad-ijtihad baru. Sementara itu warisan klasik tetap penting sebagai identitas dan pengukuhan jati diri.

Paradigma moderasi itu meng- hasilkan ulama-ulama kredibel. Al-Azhar memiliki Syeikh Muhammad Abduh (1849-1905) yang di tangannya lahir tafsir Al-Manâr(ditulis dengan muridnya, Rasyid Ridla [1865-1935]) perpaduan model tafsir klasik dan perkembangan isu mutakhir. Jasa Syeikh Abduh mendorong gerakan reformasi keagamaan di Mesir sangat besar, terutama di kalangan Al- Azhar. Pengaruh itu membekas sehingga namanya terukir di qâ`ahatau aula depan kuliah Syariah Al-Azhar.

Syeikh Abduh yang pertama mengusulkan pentingnya mempelajari maqâshid syariah atau filsafat hukum Islam melalui karya Al-Muwâfaqât Imam Abu Ishaq Al-Syatibi (wafat 790 H/1388 M). Sumbangsih itu bertujuan agar agama tidak dipahami sebagai ritual dan formalitas belaka, tetapi agama yang mereformasi tatahan hidup umat. Al-Syatibi mendefinisikan maslahat agama adalah hal-hal yang menunjang terpenuhinya kehidupan dasar manusia sehingga manusia dapat hidup secara layak (Al-Syatibi, Vol. II, 1978: 25).

Syeikh Abduh juga yang mengajak umat melek kemajuan Barat. Abduh adalah penggagas salafiyah `aqliyah (salafisme rasional): konsep ini me- neguhkan bahwa umat secara akidah adalah salaf, dan secara rasio adalah Barat. Ketika berkunjung ke Perancis, beliau bersaksi: saya menumukan Islam tanpa Muslim di Eropa, dan Muslim tanpa Islam di Mesir.

Peran penting salafisme rasional yang digagas Syeikh Abduh ini me- nanamkan Al-Azhar terus memperteguh rasionalitas. Dr. Abd. Mukti Bayyumi pengajar Filsafat Islam di departemen Akidah-Filsafat Al-Azhar menyebut Syeikh Abduh mewakili tipikal ulama Al-Azhar yang sebenarnya. Artinya Muhammad Abduh bukan tipe ulama Al- Azhar kantoran (pegawai), tetapi figur ulama Al-Azhar yang sebenarnya.

Pendidikan di Al-Zaituna banyak menghasilkan ulama dengan wawasan keagamaan mendalam sekaligus melek disiplin modern. Thahir ibn Asyur (1879/1973), misalnya, menggagas pan- dangan maqâshid syariah dan gerakan reformasi keagamaan dan pendidikan.

Selain Syeikh Ibn Asyur, Al- Zaituna juga pernah melahirkan tokoh besar Muhammad Khidir Husain yang menjadi Grand Syekh di Al-Azhar Kairo. Pada tahun 1900, Al-Zaituna sudah melakukan berbagai pendekatan terhadap teks keagamaan, misal Thahir Hadad menulis buku Mar’ah fî al-Syarî’ah wa al-Mujtama’buku yang menjadi panduan dalam kajian gender saat itu.

Ulama-ulama yang disebut di atas adalah sebagian kecil dari jumlah ulama yang sudah dilahirkan Al-Azhar dan Al- Zaituna. Ulama pakar di bidang agama mudah ditemui di negara-negara Arab dan di kawasan Timur Tengah. Akan tetapi jarang ditemui perpaduan antara kepakaran agama dan melek tantangan modernitas.

Barangkali kekhasan Al-Azhar dan Al-Zaituna menyediakan kebutuhan itu, menghasilkan ulama yang mengerti tantangan modern sekaligus tahu bagaimana harus menjawabnya tanpa harus kehilangan jati dirinya.

Kombinasi antara khazanah keilmuan Islam klasik dan wawasan kontemporer melahirkan pemikiran yang menjawab persoalan umat. Syeikh Muhammad Abduh, Syeikh Thahir Ibn Asyur dan ulama-ulama lain yang disebut di atas merupakan out put paradigma moderasi yang hingga kini terus dirawat Al-Azhar dan Al-Zaituna.

Moderasi untuk Teks

Pendekatan dirasah islamiyyah di Al- Azhar masih senang mengkaji teks-teks klasik melalui metode tahqiq. Pendekatan Al-Azhar memang masih tekstual, itu karena Al-Azhar sangat menghormati ulama klasik dan warisan karya-karyanya. Perkembangan dirasah islamiyyah di sini masih mengulang capaian ulama masa lalu, dan goal studinya bukan terobsesi pada yang baru, tetapi mampu memahami warisan masa lalu dengan baik dan menghidupkannya kembali.

Kondisi sama dialami oleh Al- Zaituna, meski perkembangan terakhir mulai memberi warna pada ilmu-ilmu sosial. Sebagai contoh, Al-Zaituna selalu mendorong mahasiswa asing mengkaji kearifan lokal di negara asalnya. Kebijakan ini secara tidak langsung mengarahkan dirasah islamiyyah di Al- Zaituna menyertakan pendekatan sosio- humaniora. Kajian keislaman di Al- Zaituna sudah dikembangkan agar tidak hanya fokus di turâts oriented saja.

Meskipun mulai akrab dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial, Al-Azhar dan Al-Zaituna tidak melampaui kodrat- nya sebagai lembaga keagamaan. Orientasi kampus sebatas menghidupkan warisan turâtsklasik. Memang benar ada pola memasukkan isu baru seperti kajian gender di Al-Zaituna. Misalnya, menerima dosen dan mahasiswa yang tidak memakai jilbab. Kedengarannya itu prestasi besar, namun hal itu belum dikatakan menyentuh pokok persoalan kajian gender.

Baik di Al-Azhar maupun Al- Zaituna, penghormatan warisan keilmuan klasik itu sangat besar. Wajar saja para pelajarnya enggan mengkaji kritik keilmuan Islam. Padahal dekonstruksi turâts itu penting untuk memilah antara unsur epistemologis dan ideologis. Sampai di sini cukup beralasan Arkoun menilai warisan khazanah keilmuan Islam yang kita terima (berikut pengajarannya) masih diselimuti “dogmatisme”.

Orientasi teks dalam dirasah islamiyyah sebenarnya pokok kritikan sejumlah pemikir muslim modern. Pemikir Maroko Abied Al-Jabiri (1936-2010) dalam buku al-Turâtswa al-Hadâtsah (1999: 26) menyebut terang-terangan Universitas Al-Azhar Kairo, Al-Zaituna Tunisia, bahkan juga Qarawiyin di Maroko, masih menerapkan pemahaman teks klasik untuk teks klasik (fahm al-turâts li al-turâts). Pendekatan ini bentuk kemunduran teks yang tidak dapat berkontribusi di ranah praksis.

Kajian Islam akan tetap relevan sepanjang tersedia penghubung antara masa lalu dan masa sekarang. Al-Jabiri mengusulkan pendekatan dalam dua perspektif sekaligus: menjadikan turâts modern di zaman kita (mu`âshir-anlanâ), di satu sisi, dan modern di zamanya sendiri (wa mu`âshir-an li-nafsihi) (ja’l al-turâts mu’âshir-an lanâ wa li-nafsihi), di sisi lain. Pendekatan ini dipakai Al- Jabiri secara khusus dalam memahami Al-Qur’an (Al-Jabiri, Madkhal Ilâ Al- Qur’an, 2006).

Modern di zaman kita artinya unsur epistemologis turâtsklasik Islam itu tetap dipertahankan untuk zaman kita sekarang. Sementara modern di zaman ketika turâts dibentuk artinya unsur temporalitas ideologi turâtsdidudukan untuk semangat zamannya. Sementara yang berlaku sekarang adalah pembacaan turâts yang ideologis: kajian turâst masa lalu untuk turâts masa lalu, atau keilmuan Islam untuk konteks zaman ketika keilmuan itu dirumuskan.

Pandangan Al-Jabiri tersebut berangkat dari pemahaman filsafat. Tugas dari filsafat sendiri sejak awal adalah memisahkan antara logos dan mitos. Artinya memisahkan antara mana keilmuan hakiki dan mana angan-angan kosong seperti ideologi. Sampai di sini kita mengerti bahwa dirasah islamiyyah tidak berkembang jika tidak ada pengetahuan filsafat memadahi.

Apakah dosen-dosen Al-Azhar dan Al-Zaituna memiliki pendidikan filsafat?

Pertanyaan ini susah dijawab lantaran minimnya perhatian filsafat di dunia Arab dan Timur Tengah. Kuliah Ushuluddin seperti di Al-Azhar memang mengajarkan filsafat, dan di fakultas- fakultas lain diajarkan matakuliah dasar- dasar filsafat yang sama, hanya saja tidak sepenuhnya membekas karena porsinya sedikit. Dan yang terpenting, wawasan filsafat itu kalah dengan penghormatan teks keagamaan dari ulama klasik yang tidak dapat dibendung.

Tunisia dalam perkembangannya lebih banyak menganut sistem pendidikan Perancis. Bahkan di awal tahun 1900 sudah berdiri Madrasah Shadiqiyah. Sehingga dosen-dosen Al-Zaituna yang berada di lingkungan tersebut secara tidak langsung bersentuhan dengan kajian filsafat. Dan AqidahFilsafatjuga menjadi salah satu jurusan yang ada di kampus Al- Zaituna dan kajian filsafat menjadi salah satu kajian wajib bagi para mahasiswa Al- Zaituna. Namun dalam prakteknya, ke- cenderungan kritis sebagai buah berpikir filsafat masih belum cukup menguat, sehingga nasib Al-Zaituna tidak jauh berbeda dengan Al-Azhar.

Epilog

Dirasah islamiyyah di Al-Azhar masih menawarkan wajah keislaman moderat dan toleran. Hal itu dibuktikan melalui kerja keras Al-Azhar menjaga persatuan umat. Paradigma moderasi Al-Azhar sejauh ini dapat merangkul semua friksi kelompok Islam. Moderasi menjadi titik temu semua golongan yang berbeda.

Dalam melihat hubungan Islam dan agama lain, Al-Azhar masih mengedepankan paradigma moderasi yang sama. Al-Azhar kerap mensponsori dialog antaragama terutama dialog Islam- Kristen. Al-Azhar juga rajin menyeru pentingnya hidup rukun dalam bingkai keragaman agama. Selain itu, Al-Azhar terus menampilkan teladan toleransi untuk negara-negara Arab Islam.

Di tengah keributan politik di Timur Tengah, Al-Azhar menyeruh setiap kelompok berkenan meninggalkan aksi kekerasan. Untuk kasus Palestina sendiri, sikap Al-Azhar masih sama moderatnya, Al-Azhar sampai kini tidak menyetujuhi fatwa dan aksi bom bunuh diri. Bom bunuh diri di Palestina bukan termasuk syahid atau mati di jalan Allah, karena itu menistakan hak hidup manusia.

Ketegangan yang melanda Mesir pasca Revolusi Januari 2011 lalu sempat mengkawatirkan pelbagai pihak: jangan-jangan Mesir berubah nasibnya menjadi Iraq, Libya, Afghanistan yang porak-poranda. Untung ulama Al-Azhar berperan menurunkan tensi ketegangan. Hal itu dilakukan dengan cara menghimbau persatuan umat harus tetap diutamakan. Lagi-lagi, Al-Azhar dengan paham moderasinya menjadi penyejuk gejolak yang sempat memanas saat itu.

Hal yang sama ditampilkan oleh peran ulama Al-Zaituna. Tunisia adalah negara yang memulai terjadinya Arab Spring (al-rabî’ al-‘arabî) dan dianggap salah satu negara yang berhasil membangun demokrasi setelah pengulingan pemimpin otoriter. Keberhasilan Tunisia juga tidak dapat dilepaskan dari pandangan moderasi ulama Al-Zaituna. Persatuan umat tetap harus ditegakkan kendati dalam suasana revolusi.

Meski sempat mengalami api revolusi, Tunisia tidak tersulut anarkhisme. Bentuk negara republik dan Islam sebagai agama tidak harus dipertentangkan. Al-Zaituna berulang kali menghimbau agar gerakan perpecahan dijauhkan dari isu agama. Walhasil, gerakan subversif tidak dapat berkembang dengan subur di negara yang masuk wilayah Arab Barat (Maghrib) tersebut.

Dirasah islamiyyah di Al-Azhar dan Al-Zaituna berkepentingan menjaga kesatuan umat. Moderasi merangkul semua kalangan karena selalu ada titik temu di antara dua kubuh ekstrem.

Kita tahu kubuh politik di Timur Tengah dikuasai ekstremis Islam yang sangat menekan. Kelompok ini tidak mudah bersimpati dengan kelompok yang berafiliasi dengan nalar pendidikan modern, terlebih ilmu-ilmu dari Barat. Paradigma pembelajaran Al-Azhar dan Al-Zaituna membantu melebur (merekonsiliasi) dua kecenderungan ekstrem di Timur Tengah tersebut.

Hegemoni teks klasik memang tidak dapat dihindarkan dari model pembelajaran di kampus Al-Azhar dan Al-Zaituna. Sejauh ini moderasi dengan memberi porsi imbang antara teks dan sinaran ilmu-ilmu sosio-humaniora modern masih tetap diupayakan, tetapi hal itu harus kita akui belum sampai menggeser kecenderungan umum Al- Azhar dan Al-Zaituna sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang teks oriented.[]

Referensi

Al-Jabiri, Abied, 1999, Al-Turâts wa al- Hadâtsah, Markaz Dirasah Wihdah Arabiya, Beirut, Lebanon.

, 2006, MadkhalIlâ Al-Qur’an: Fî al-Ta`rîf bi Al- Qur’an, Markaz Dirasah Wihdah Arabiya, Beirut, Lebanon.

Al-Syatibi, Abu Ishaq, 1978, Al-Muwâfaqât fî Ushûl al-Syarî`ah, vol. II, Darul Ma’arif, Beirut, Lebanon.

Anwari WMK, 2006, UGM Menuju Universitas Penelitian, Khanata, LP3ES, Jakarta.

Arkoun, Mohammed, 1997, Naz`ah al- Ansanah fî al-Fikr al-`Arabî: Jayl Miskawayh wa al-Tawhîdî, terj. Hasyiem Shaleh, Dar Shaqi, Beirut.

Baylis, John, dan Smith, Steve (ed.), 1998, The Globalization of World Politics: An Introduction to International Relations, Oxford University Press, Oxford.

Beaud, Michel, 2001, A History of Capitalism 1500-2000, Monthly Review Press.

Bornchier, Volker, Dunn Christopher, 1999, The Future of Global Conflict, Sage Publication.

Copleston, Frederick, 1962, AHistory of Philosophy Vol. I (Greece and Rome: From The Pre Socratics to Plotinus), Image Books Doubleday, New York London Toronto Sydney Auckland.

Danandjaya, Utomo (dkk.), Oppressed, LP3ES, Jakarta.

Dikti, Ditjen, 2003, Higher Education Long Term Strategy 2003-2010.

Eko, Sutoro, dkk. 2014. DesaMembangun Indonesia, Forum Pengembangan Pembaharuan Desa, Yogyakarta.

Eko, Sutoro, 2015, Regulasi Baru, Desa Baru:Ide,Misi,danSemangatUU Desa, Kementerian Desa PDTT, Jakarta.

Freire, Paulo, 1985, Pendidikan Kaum Tertindas—alih bahasa dari Pedagogy of the Oppressed oleh Utomo Danandjaya, LP3ES, Jakarta.

Gellner, Ernest, 1992, Postmodernism, Reason and Religion, Routledge, London and New York.

Held, David, 1995, Democracy and the Global Order: from the Modern StatetoCosmopolitanGovernance, Polity Press, Cambridge.

Held, David, McGrew, Anthony, Goldblatt, David, and Perraton, Jonathan, 1999, Global Transformations:Politics, EconomicsandCulture, University Stanford Press, Stanford.

Hodgson, Marshall G. S., 1974, The Venture of Islam: The Expansionof Islam in the Middle Periods,Vol. II, The University of Chicago Press, Chicago and London.

Kleden, Ignas, 1987, Sikap Ilmiah dan KritikKebudayaan, LP3ES, Jakarta.

Koran Tempo, 15/5/2017

Kuhn, Thomas, 1996, The Structure of Scientific Revolution, 3rd Edtion, Chicago University Press, Chicago.

Leman, Oliver, 1993, Moses Maimonides, The American University in Cairo Press, Cairo Egypt.

Lyotard, Jean Francois, 1984, The Postmodern Condition: A Report on Knowledge, Manchester University Press, Manchester.

Ohmae, Kenichi, 1995, TheEndof the Nation State: The Rise of Regional Economies. How Capital, Corporation, Consumer, and Com- munication Are Reshaping Global Market, Free Press Paperback.

Smith, Linda Tuhiwai, 2005, Dekolonisasi Metodologi—alih bahasa dari DecolonizingMethodologies, Research and Indigenious Peoples, terj. Faiz Ahsoul, INSIST Press, Yogyakarta.

Sudjatmiko, Budiman dan Yando, Zakaria, 2014, Desa Kuat, Indonesia Hebat, Pustaka Yustisia, Yogyakarta.

van Bruinessen, Martin, 2012, KitabKuningdanTarekat, terj. Farid Wajdi dan Rika Iffati, Gading Publishing, Yogyakarta.

van Peursen, C.A., 1990, Fakta, Nilai, Peristiwa:tentangHubunganantara Ilmu Pengetahuan dan Etika, terj. Drs. A. Sonny Keraf, Gramedia, Jakarta.

Wahyuddin, Imam, 2009, Jejak-jejakKajian Orientalis, dalam Jurnal Himmah PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia), Kairo Mesir.

Artikel: www.vivanews.com

www.tehcenter.ufi.edu.

Sumber : JURNAL MLANGI Volume. IV No.4 Juli – November 2017 https://aswajanusantara.com/wp-content/uploads/2025/08/Jurnal-Mlangi-2017_compressed.pdf

Related Articles

Artikel baru