Perkembangan Pendidikan Tinggi Indonesia sejak kemerdekaan tahun 1945 hingga sekarang masih mengalami masa-masa sulit, terlebih harus bersaing dengan pendidikan di sekitar seperti negara-negara kawasan Asia Pasifik dan global. Permasalahan ini menjadi lebih sulit lagi setelah kesepakatan AFTA, APEC, ACTA, hingga MEA diberlakukan. Padahal sebenarnya pendidikan, terutama pendidikan tinggi, memiliki memiliki posisi strategis sebagai salah satu pilar kedaulatan bangsa, di samping keuangan, teknologi, dan militer.
Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah maupun stakeholder lain untuk memajukan pendidikan tetapi selalu gagal. Apabila dicermati lebih lanjut problem tersebut selalu berkisar pada masalah pengelolaan, efisiensi, daya serap, keadilan dan pemerataan, serta relevansi pendidikan sosial dan intelektual. Pada tahun 1977 dan 1999 Asia Week menyebut tidak ada satu pun universitas di Indonesia menduduki peringkat di bawah 50 Asia. Pada tingkatan global, hingga tahun 2016, tidak ada satu pun perguruan tinggi Indonesia menembus peringkat di bawah 200 besar.
Kondisi tersebut diperkelam dengan permasalahan internal bangsa, yaitu salah- satunya, tingginya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi di Indonesia. Sementara di saat yang sama sarjana asing bekerja di Indonesia terus meningkat.
Kita mengakui betapa masih lemahnya SDM bangsa ini, dan itu membuat putra- putri kita tidak mampu berkompetesi di level internasional. Tenaga kerja yang kita kirim ke luar negeri didominasi tenaga – tenaga kasar nonprofesional. Selain tidak menguntungkan, bangsa kita kecipratan stigma rendahan. Seorang sastrawan besar menyebutnya sebagai bangsa coelli.
Kerja Peradaban NU
Di tengah realitas yang tidak menguntungkan tersebut, NU memulai kerja peradaban dengan mendirikan puluhan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) di berbagai belahan Nusantara. Meskipun cukup terlambat dibanding yang lain, tetap saja UNU memiliki peran strategis di masa yang akan datang. UNU tidak dapat dilepaskan dari NU sebagai organ pergerakan dan perjuangan.
Sejarah mencatat, salah satu embrio NU adalah tashwirul afkar, institusi think-tank tempat menggodok kaum pejuang dan arena dialektika ide-ide berskala dunia: islamisme; nasionalisme; sosialisme; marxisme; komunisme; dan tentu saja jawanisme. Jika ditilik lebih jauh, intelektualisme masyarakat pesantren, basis sosial NU, sudah menjulang sebelum Portugis datang dan ikut mewarnai diskursus global melalui karya para ulama pesantren yang mendunia.
Oleh karena itu, UNU memiliki amanah besar. Secara historis, para ulama pesantren bercita-cita dan merintis mendirikan madrasah, baik dasar, menengah, atas, maupun tinggi, untuk mengabdi pada agama, rakyat, bangsa dan dunia. UNU dengan demikian didirikan dengan semangat perjuangan dan kerakyatan. Jika pada fase kolonial, NU menjadi salah satu garda depan kekuatan yang berjuang dalam kemerdekaan nasional. Maka pada pasca-merdeka hinggi kini, NU selalu berusaha berdiri pada garda depan yang mempertahankan Pancasila, NKRI, kesatuan dan persatuan bangsa, identitas kebudayaan bangsa, hingga keadilan sosial.
Dengan melihat konteks historis tersebut, maka tugas UNU tidak lain adalah melalui pengembangan pengetahuan dan teknologi yang dimanfaatkan untuk keislaman, keadaban, kemanusiaan, kesejahteraan, kebahagiaan, kesatuan bangsa, dan perdamaian serta keadilan dunia. Berangkat dari sini, maka tugas UNU adalah knowledge creationberbasis kebutuhan real bangsa untuk meningkatkan kapasitas bangsa dalam mewujudkan tujuan nasionalnya.
Modal pengetahuan dalam UNU perlu disinergikan, dikembangkan, dan diarahkan untuk kemajuan agama, organisasi, bangsa, dan dunia, seperti peningkatan income, pelestarian lingkungan, redistribusi aset ekonomi, kekuatan politik, ekonomi internasional, hingga kulturalisasi akhlak karimah. Alhasil, tugas pokok UNU ada dua: pertama, membangun agama, bangsa, dan dunia; kedua, meningkatkan kapasitas organisasi, masyarakat, dan bangsa melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat dan berkah. Tugas tersebut bukanlah pekerjaan ringan, apalagi dengan melihat kondisi bangsa dan realitas pendidikan tinggi di Tanah Air yang kian hari makin terpuruk seperti meningkatnya sarjana pengangguran.
Untuk mewujudkan misi tersebut paling tidak terdapat dua tantangan yang harus diselesaikan UNU. Pertama, bagaimana meletakkan fondasi dasar paradigma keilmuannya. Keilmuan di sini dimaksudkan semua disiplin keilmuan yang tidak mendikotomikan antara keilmuan yang mencakup keilmuan agama (dirasah islamiyyah), sosial, ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu terapan. Pondasi dasar ini penting agar UNU dapat mengambil manfaat dari ilmu tersebut. Setelah merumuskan paradigma keilmuan, UNU punya tugas bagaimana menjembatani dialog antartradisi keilmuan tersebut. Keragaman ilmu itu bertolak dari perbedaan bidang yang dikaji, bagaimana fragmen bidang itu dapat disatukan, atau dapat dijembatani.
Kedua, paradigma pengabdian UNU. Pertanyaan dasarnya adalah paradigma seperti apakah yang harus dikontribusikan oleh UNU terhadap masyarakat, bangsa, dan dunia.
UNU dan Dirasah Islamiyyah di Timur Tengah
Dirasah islamiyyah adalah sebutan aktivitas keilmuan yang mengkaji aneka disiplin keilmuan Islam. Keilmuan Islam berkembang pertama kali melalui tradisi riwayat atau transmisi. Tradisi asli ini mencari otentitas informasi sampai kepada Nabi Muhammad. Tujuannya ingin memahami isi Al-Qur’an dan mengerti praktek yang diteladankan Nabi Muhammad Saw, terutama pada masa- masa awal kenabian.
Dirasah islamiyyah pada tahapan berikutnya berkembang dan melahirkan perspektif di luar jalur transmisi, dikenal dengan dirâyat, sejenis penyelidikan yang mengandalkan isi informasi, dan bukan menfokuskan transmisi atau riwayat. Majunya disiplin dirâyat ini melahirkan banyak cabang keilmuan Islam (ushul fikih, kritik hadits, ilmu kalam, filsafat, teosofi dan lain sebagainya). Variasi keilmuan yang muncul dapat dipetakan secara garis besar dalam dua hal: ilmu- ilmu naqliyyah dan ilmu-ilmu `aqliyyah.
Tentu saja kemunculan dua jenis keilmuan tersebut bagian dari dinamika internal Islam yang kaya. Seolah keilmuan naqliyyah dan `aqliyyah berbeda, tapi sebenarnya kedua keilmuan tersebut lahir dari dari sumber yang sama (Islam). Adapun perbedaan yang mengemuka semata-mata disebabkan perbedaan spektrum atau pendekatannya saja. Ini bukan hal aneh dalam tradisi Islam jika kita mengerti latar belakang epistemologis dan sosiologis kemunculan kedua disiplin ilmu tersebut.
Persoalan sekarang, keragaman ilmu kini mulai diotonomkan melalui proyek spesialisasi. Sebenarnya proyek ini berkonsekuensi buruk. Mengapa? Spesialisasi samahalnya mendangkalkan landasan metafisis keilmuan Islam. Kesan pembelajaran spesialisasi ilmu itu menguatkan ilmu itu berdiri sendiri. Dari segi metafisisnya, otonomisasi ilmu akan terpisah dari akar pohon induknya. Ini menjadi problem besar dan sangat berpotensi menggoyahkan bangunan dasar keilmuan Islam.
Spesialisi dalam dirasah islamiyyah sejatinya bentuk kemajuan pengetahuan, di mana objek kajiannya semakin detail dan spesifik, karena –mengutip Rene Descartes– semakin pengetahuan itu dikaji secara cleardan distinct(jelas dan terpilah-pilah), semakin dekat atau layak disiplin tersebut disebut sebagai pengetahuan yang sebenarnya. Pandangan Descartes membuka kesadaran alam pikir filsafat di masanya.
Tetapi spesialisi ilmu (sekalipun clear and distinct) bukan tanpa masalah, sebab spesialisasi yang ditekankan sejak awal kuliah menghadapi ancaman yang tidak kalah besarnya, di antaranya, mahasiswa jadi tidak mengetahui landasan metafisis keilmuan Islam yang sebenarnya. Spesialisasi ibaratnya hanya mengenalkan batang, ranting, atau daun ilmu, sementara landasan holistis dan metafisis ilmu tidak terjamah.
Pendidikan di kampus-kampus Islam di Indonesia sudah mengenalkan spesialisasi ilmu Islam sejak mahasiswa masuk dalam semester pertama, seperti Ushuluddin, Tarbiyah, Syariah hingga Dakwah. Pada perkembangan mutakhir kampus-kampus tersebut banyak sekali membuka jurusan keislaman yang dikaitkan ilmu eksak atau ilmu- ilmu natural; hal ini yang justru membingungkan pemerhati keilmuan Islam. Kesannya adalah terdapat dikotomi antara islamic science dan ilmu-illmu mutakhir yang bukan lahir dari tradisi agama.
Tradisi pembelajaran Islam di Timur Tengah perlu dikaji sebagai bahan perbandingan dengan Indonesia. Universitas Al-Azhar Kairo, misalnya, yang sudah sekian lama mengabdi untuk ilmu-ilmu keislaman klasik, tidak bertele- tele memodifikasi dirasah islamiyyah dengan kombinasi ilmu-ilmu eksakta. Ada banyak hal yang dapat dipelajari soal sikap Al-Azhar yang terus lurus di bidangnya.
Dan kampus Al-Azhar bukan satu- satunya institusi Islam yang prinsipil di pembelajaran agama secara lurus, karena kampus-kampus Islam lain di Timur Tengah masih setia dengan pola yang diperjuangkan Al-Azhar. Oleh karena itu menjadi tugas kita menyelidiki panorama dirasah islamiyyah di Timur Tengah (khususnya Al-Azhar Kairo) untuk memperkaya sudut pandang pembelajaran model dirasah islamiyyah Indonesia.
Pendidikan Tinggi Berbasis Pesantren
Rektor UNU DIY, Prof. Dr. Purwo Santoso, menyatakan UNU sebagai universitas kader dan jantung pendidikan ke-NU-an. UNU diposisikan sebagai suatu terobosan dalam rangka melanjut- kan, mengembangkan, sekaligus mem- perkuat pendidikan tinggi di pesantren. Berbagai bidang keilmuan agama yang ditekuni di pesantren harus mendapatkan tautan kontekstual-metodologis dengan keilmuan umum di level universitas.
Maksud sebagai universitas kader ialah, penguatan kapasitas jamaah dan jam’iyyah NU dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Melalui UNU ini, jama’ah nahdliyyin punya sarana untuk mendayagunakan apa yang sudah dimiliki NU berikut pesantren-pesantrennya. Melalui pendidikan NU, ajaran agama diperkuat melalui reinstrumentasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui UNU pula ilmu-ilmu yang diajarkan di universitas pada umumnya didudukkan sebagai instrumen untuk mewujudkan ajaran Islam (Bangkit, April 2016).
Pada titik itu, kita dihadapkan pada kebuntuan-kebuntuan dirasah islamiyyah baik yang berkembang di Indonesia maupun di luar negeri. Berbagai terobosan telah dilakukan, namun hasilnya belum nampak secara signifikan. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pernah menggagas paradigma integrasi-interkoneksi, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan pohon keilmuan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan Mazhab Ciputat-nya, UIN Walisongo Semarang dengan Unity of Science (UoS).
Sementara itu di luar perguruan tinggi Islam yang disebutkan di atas, sejarah juga mencatat dialektika diskursus keislaman di ranah pembangunan dan pergerakan yang menghasilkan ragam paradigma, di antaranya, tradisionalisme, modernisme, neomodernisme, kiri Islam, Islam transformatif, hingga post- tradisionalisme. Sebagai sebuah dinamika, ragam paradigma itu menggembirakan karena selalu ada terobosan atau ijtihad baru untuk menyelesaikan persoalan.
Faktanya, dinamika tersebut masih belum cukup mampu menjawab problem- problem mendasar, mulai dari dikotomi ilmu agama dan ilmu sosial dan natural, minimnya pendekatan interdisiplin bahkan antarilmu keislaman (Tarbiyyah, Syariah, Ushuluddin, dan lain-lain), tercerabutnya ilmu sosial, natural dan terapan dari keislaman, terputusnya kajian keislaman dengan instrumentasi sains-teknis-teknokratisnya hingga ber- bagai realitas ketimpangan, kerusakan lingkungan, dan lifestyle yang libidinal. Bagaimanakah pemecahannya?
Selain itu tentu saja kajian-kajian Islam di berbagai universitas di Barat juga perlu kita pelajari, sebagai perluasan cakrawala dan referensi. Bagaimana kajian Islam dikembangkan dan berkembang di Barat? Tentu banyak hal menarik yang bisa diambil dari praktek pembelajaran Islam di sana, mengingat saat ini universitas-universitas di Barat telah menjadi centre of excellent bagi kajian Islam, terutama berkaitan dengan isu-isu keislaman modern.
Orientasi pendidikan tingkat lanjut dari Indonesia juga bukan lagi semata ke Timur Tengah. Memang dulu inspirasi pendidikan pesantren, seperti pembelajaran kitab kuning, mengambil dari praktek halaqah di Arab dan Timur Tengah. Universitas Al-Azhar Kairo berjasa melahirkan ulama Indonesia dalam mengembangkan pendidikan di tingkat pesantren. Fenomena saat ini telah berubah, isu-isu modern tidak cukup diakomodir kajian keislaman Timur Tengah. Oleh karena itu pendidikan tingkat lanjut di Indonesia perlu penyegaran dari model pembelajaran Islam dari Amerika, dan negara-negara Eropa.
Perwajahan Dakwah Modern NU
Pendirian kampus Nahdlatul Ulama di berbagai kota belakangan ini, memperlihatkan NU siap bersaing dengan dunia pendidikan modern. Berlabelkan nama Universitas Nahdlatul Ulama (UNU), ormas yang memiliki masa terbesar di negeri ini siap melebarkan dakwahnya di luar area pedesaan.
Organisasi keagamaan yang ber- diri pada tahun 1926 ini sejak semula terkenal paling ramah dengan tradisi lokal, sehingga dakwah-dakwahnya pun banyak diterima masyarakat cilik. Seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, NU perlu mengem- bangkan perwajahan dakwahnya untuk transformasi perjuangan dakwah pesantren yang lebih luas, agar NU tetap aktual di era globalisasi, strateginya dengan mendirikan kampus-kampus UNU.
Sebagai metamorfosa pengem- bangan dakwah, UNU masih terkait dengan visi kepesantrenan. Menjadi pertanyaan bersama: apakah lembaga pendidikan tinggi UNU meneruskan visi pengajaran keagamaan sebagaimana di pesantren? Ataukah mengambil arah pengembangan yang lebih modern, atau katakanlah pendekatan yang lebih saintis (scientific orientation).
Pendidikan tinggi Islam pada dasarnya mengajarkan disiplin keilmuan Islam. Tantangan bagi UNU adalah harus mempertahanan tradisi NU dan kepesantrenannya, di satu sisi, sekaligus tetap konsisten dalam orientasi keilmuannya (saintis), di sisi lain. Dua sisi itu menentukan masa depan UNU dalam perjalanannya nanti.
Di antara kampus-kampus Islam di Indonesia, persoalan orientasi keilmuan masih terus diperbincangkan dan dirumuskan. Tiap kampus bisa berlainan soal orientasi keilmuan yang ditekankan: satu contoh adalah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menekankan jejaring pengetahuan antara ilmu agama dan ilmu- ilmu modern lain, gagasan ini dikenalkan
Amin Abdullah dengan jargon keilmuan integratif dan interkonektif. Dalam upaya mencari rumusan orientasi keilmuan Islam yang sesuai dengan visi NU, penting kiranya melihat potret pendidikan tinggi di Timur Tengah. Sebenarnya ini bukan hal baru dalam dunia pesantren, sebab hal yang sama telah dilakukan ulama NU yang menimbah ilmu di negeri Arab. Sepulang dari belajar mereka mentradisikan orientasi keilmuan yang pernah dipelajari.
Satu contoh sederhana adalah metode pengajian kitab kuning yang sebenarnya adalah model yang begitu familiar diperaktekkan di masjid Al- Azhar Kairo, Masjidil Haram, dan masjid- masjid lain. Dalam dunia pesantren kegiatan itu bernama ngaji sorogan sedang di Arab sana disebut talaqqi.
Ulama NU berhasil mewariskan wawasan keagamaan yang sesuai dengan visi kebhinekaan bangsa. Keberhasilan itu bagian dari ikhtiar para ulama Nusantara yang sebetulnya meneruskan tradisi keilmuan dari Timur Tengah. Tidak sembarang aliran yang diambil dari Timur Tengah, hanya fokus mazhab ahl al-sunahwaal-jamâ`ah(Aswaja). Ulama yang dirujuk berasal dari Al-Azhar Kairo, dan ulama Saudi yang berpaham moderat.
Bagaimanapun pengajaran Islam meski dilihat dari sudut pandang modern, tetap saja materi keislaman yang dipelajari bersumber di khazanah kekayaan ulama Timur tengah. Kekayaan khazanah keilmuan Islam kini terus dikaji dan menjadi bahan ajar di kampus-kampus besar seperti di antaranya, Al-Azhar Kairo, Al-Zaituna Tunisia, Muhammad Khamis, Ummul Qura Mekkah, dan lain sebagainya.
Menjadi pertimbangan bagi kita untuk tidak menelan semua yang di Timur Tengah, karena pada dasarnya setiap tempat memiliki keunikan yang tidak dapat ditiru. Persoalan politik di Timur Tengah membuat porak-poranda dunia Islam. Keilmuan memang tidak dapat lepas dari politik tetapi juga tidak selamanya kegagalan politik merepresentasikan rapuhnya basis keilmuan yang berkembang di sana.
Tinjauan yang terakhir adalah UNU perlu rumusan paradigma dirasah islamiyyah yang mencerminkan kekhasannya sendiri. Keilmuan yang diharapkan kelak tidak sebatas meniru paradigma yang sudah ada di kampus- kampus UIN di Indonesia, juga tidak seperti paradigma pendidikan agama di kampus-kampus umum. Meninjau dirasah islamiyyah di kampus Timur Tengah adalah upaya untuk mengetahui bagaimana idealnya khazanah keislaman itu dipelajari, sekaligus untuk merumuskan orientasi keilmuan bagi masa depan pembelajaran di UNU.[]
Sumber : JURNAL MLANGI Volume. IV No.4 Juli – November 2017

