Yogyakarta

Malam hari, setelah seluruh keluarganya terlelap, Usman menuju gudang rumah. Ia mencari sesuatu untuk dibaca, lalu menemukan sebuah buku catatan lama saat bekerja di sebuah universitas di Jakarta. Dibukanya perlahan, dan inilah isinya:

Rasanya seperti mimpi bisa berkuliah di Yogyakarta, di Universitas Gadjah Mada — kampus yang dulu hanya berani kupandangi dari jauh. Aku masih ingat betul, tahun 1999, ketika namaku tercantum dalam daftar kelulusan UMPTN di koran. Dua tahun sebelumnya aku hanya seorang pengangguran lulusan SMA dari kota kecil di Sumatera Barat.

Pernah aku ke Yogya bersama dua kawan sebaya, menumpang kereta ekonomi yang penuh sesak. Harga tiketnya sekitar tujuh belas ribu rupiah. Karena tak semua dari kami punya tiket, satu di antara kami bersembunyi di toilet gerbong ketika ada pemeriksaan. Begitulah nasib kami kala itu—mengejar kota yang katanya ramah untuk siapa pun yang mau belajar.

Waktu itu masih zaman Orde Baru. Di dinding-dinding Yogya banyak coretan protes pada penguasa. Aku sempat nyeletuk mengkritik rezim, tapi kawan-kawanku buru-buru menegur, “Beko waang dijapuik malam,” (Bahasa Minang: nanti kamu dijemput malam). Aku terdiam. Siapa aku, anak muda yang bahkan gagal UMPTN, mau melawan siapa?

Tak kusangka dua tahun kemudian aku justru benar-benar ke Yogya lagi, kali ini dengan pesawat. Ibuk, nenekku, mengantarku sampai ke depan rumah di Kampuang, matanya sembab menahan tangis. “Hati-hati di rantau, Nak,” pesannya.
Di pesawat aku duduk di sebelah dua perempuan Jawa. Kalau tidak salah, sepertinya, salah satu dari mereka adalah mantan istri petinggi militer pada Era Orde Baru. Salah satunya, tiba-tiba bertanya,
“Mau ke Yogya ya, Mas?”
“Iya, Mbak, mau kuliah di UGM.”
“Jurusan apa?”
“Filsafat.”
Ia tertawa kecil. “Hati-hati, Mas, mahasiswa filsafat itu kadang agak… kurang waras.”

Kami tertawa bersama. Aku hanya tersenyum malu, tak tahu bahwa kata “kurang waras” itu akan menemaniku sepanjang perkuliahan—sebuah candaan yang lama-lama terasa benar adanya.

Di kampus, aku bertemu teman-teman yang hobi berdiskusi sampai larut malam. Mereka membicarakan Marx, Gramsci, Tan Malaka, dan Pramoedya Ananta Toer. Kami sering ikut aksi demonstrasi.

Aku kemudian bergabung dengan sebuah kelompok diskusi Ideologila, yang anggotanya kebanyakan dari mahasiswa angkatan baru, atau angkatan 1999. Ada seorang mahasiswa senior, Franz namanya, yang seringkali mengeluarkan konsep-konsep Marxisme. Pernah suatu kali aku bertanya padanya, “Kalau diktator proletariat berarti tidak demokratis ya, Franz?”

Ia tak langsung menjawab. Kelihatannya ia sendiri masih ragu dengan Marxisme, entah kenapa, dugaanku dia belum begitu paham. Hal itu baru terbukti pada tahun-tahun berikutnya.

Tahun 2000 aku pertama kali ikut aksi buruh di Semarang. Aksi itu dibubarkan aparat, dan aku baru tahu bagaimana rasanya berlari sampai dada serasa mau pecah, karena dikejar segerombolan aparat berpakaian preman.

Namun masa-masa itu membuatku jatuh cinta pada Yogyakarta — kota yang memberiku ruang untuk berpikir, membaca, dan bermimpi.
Tahun-tahun berlalu. Aku lulus, menikah dengan Annie, gadis Yogya yang lembut, lalu bekerja sebagai guru di Jakarta. Tiap akhir pekan aku pulang ke Yogya dengan tiket promo pesawat atau kereta ekonomi. Kami sarapan di burjo, makan malam di warung bakmi Kolombo, berjalan di trotoar Kaliurang yang sejuk.

Pada 2011 aku memutuskan pindah dan menetap di Yogyakarta, untuk melanjutkan studi pascasarjana. Tapi hidup tak selalu seindah harapan. Harapannya, awalnya ingin menjadi dosen di almamaterku, akan tetapi hal teknis menjadi penghalang. Ketika aku sudah lulus, sementara ijazah S2 belum keluar, lowongan dosen dibuka, dan akan ditutup sebelum aku wisuda.

Aku bahkan sudah berjuang melobi bagian humas dan administrasi di Gedung Pusat UGM. Akan tetapi, aku tetap gagal. Mereka hanya mau menerima ijazah, bukan surat keterangan lulus. Akhirnya aku pulang ke rumah dengan hati remuk redam.

Tak lama setelah itu, aku harus kembali ke Jakarta karena pekerjaan, sementara istriku dan anak kami tetap di Yogya. Aku diterima menjadi dosen di sebuah kampus di Jakarta. Setiap Jumat sore aku pulang dengan kereta, dan Minggu malam kembali lagi ke ibu kota.
Sering kali, saat sendiri di kamar kos Jakarta, aku memejamkan mata dan membayangkan udara dingin Yogya, aroma nasi goreng dan bakmi Jawa pada malam hari di pinggir jalan, serta suara gamelan samar dari kejauhan.Yogyakarta tak sekadar kota bagiku. Ia rumah yang selalu kupanggil pulang, meski jarak dan waktu bersekongkol untuk menjauhkan.

Di tahun 2025, Usman ingat sekali bahwa catatan ini ia buat sebelas tahun yang lalu, sepulang mengajar kelas malam di sebuah kampus di Sunter, Jakarta Utara. Saat itu, ia tidak yakin bisa kembali tinggal dan menetap di Yogyakarta. Terlebih karena faktor gaji dan sulitnya mendapat pekerjaan di sana.

Ia ingat kata-kata ayahnya yang sudah tiada, “Di Jogja itu yang pintar banyak, dan lowongan sedikit. Makanya lebih sulit mendapat pekerjaan di sana dibanding di Jakarta.”

Tahun 2018, setelah melanglang buana ke Batam, lalu ke tanah Inggris, ia mendapat tawaran mengajar di sebuah universitas di Yogyakarta. Sejak itulah, Usman dan keluarganya menjadi orang Jogja kembali.

Mungkin Yogyakarta memang bukan sekadar tempat kembali, tapi ruang di mana waktu dan rindu bertemu tanpa pernah habis.

Yogyakarta, 9 November 2025

Harsa Permata
Harsa Permata
Alumni Filsafat UGM, Dosen di berbagai universitas di Yogyakarta.

Related Articles

Artikel baru