Malam ini, di sebuah gubuk kayu yang nyaris roboh di atas perbukitan karst Geopark Gunung Sewu, Gunungkidul, tubuh Mbah Wiryo melengkung seperti huruf nun yang gemetar. Kekeringan telah lama berhenti menjadi sekadar bencana musiman; ia telah bermutasi menjadi sejenis kekosongan eksistensial yang puitis. Di hadapannya, hamparan tanah berbatu yang retak-retak menganga ke langit, berbisik tentang jeritan ekologis bumi Nusantara yang merana akibat eksploitasi tekno-kapitalisme. Mbah Wiryo tidak memiliki tabungan, tidak memiliki sertifikat tanah subur untuk diagunkan kepada bank korporasi, dan namanya mustahil terselip di antara ribuan manifes kuota haji reguler yang dikontrol ketat oleh birokrasi negara yang tiran.
Namun, beberapa jam lalu, saat matanya terpejam di antara kantuk dan jernihnya batin di kedalaman goa karst yang sunyi, sebuah gelombang suara meretakkan batok kepalanya. Suara itu tidak datang dari udara, melainkan runtuh dari langit-langit batin yang paling rahasia.
“Wahai Wiryo, penuhilah panggilan-Ku. Berjalanlah ke Tugu Cinta di Jabal Rahmah, temui kekasih-Ku, Ibrahim, yang sedang menunggumu dengan rindu yang paling purba.”
Itu adalah undangan makrokosmos. Undangan dari Sang Arsitek Tauhid yang melompati seluruh hukum fisika, jarak spasial, dan birokrasi profan dunia.
Mbah Wiryo terbangun dengan air mata yang telah mengkristal di pipinya yang keriput. Ia tidak memiliki paspor, tidak memiliki visa, pun tidak menggenggam sepeser riyal pun. Ia hanya memiliki tiga bekal yang ia simpan di bawah lidahnya: istighfar yang merontokkan ego antroposentrisnya, sholawat yang menyalakan mesin kerinduan profetisnya, dan tahlil yang menegaskan ketiadaan ontologis seluruh berhala materi.
Tepat sehari menjelang Wukuf di Arafah, Mbah Wiryo berjalan keluar gubuknya, melintasi formasi batu-batu purba Gunung Sewu yang membisu. Langit Gunungkidul tiba-tiba melipat dirinya sendiri. Waktu melambat hingga ke titik nol. Angin berhenti berembus, dan udara mendadak beraroma kesturi yang membakar indra.
Dari arah ufuk timur, di atas bukit-bukit kapur yang gersang, sebuah cahaya emerald membelah kegelapan malam. Cahaya itu bergetar, lalu mengepakkan struktur geometri yang tak terperi indahnya. Itu adalah Sayap-sayap Jibril—enam ratus sayap yang terbuat dari mutiara dan yaqut, memancarkan glosolalia surgawi yang menggetarkan atom-atom di udara. Setiap kepakan sayap tersebut meruntuhkan ruang dan waktu Cartesian, menghancurkan sekat antara bentang alam Jawa dan tanah suci.
Tanpa suara, sepasang sayap raksasa yang lembut namun perkasa membungkus tubuh ringkih Mbah Wiryo. Ketika kalimat “La ilaha illallah” terakhir meluncur dari bibirnya, bumi Gunungkidul di bawah kakinya lenyap. Mbah Wiryo tidak lagi berada di Nusantara; ia telah ditarik masuk ke dalam pusaran ruang multidimensi, melesat melintasi galaksi-galaksi semantik, menerobos lapisan atmosfer yang menjerit, menuju jantung kosmis bumi.
Saat sepasang sayap itu membuka kembali ikatannya, Mbah Wiryo terjerembap di atas hamparan pasir yang membara. Udara begitu padat oleh aroma ketakutan dan harapan dari jutaan jiwa. Ia mendongak. Di hadapannya, tegak berdiri sebuah bukit batu yang legendaris: Jabal Rahmah. Di puncaknya, Tugu Cinta—sebuah pilar beton putih yang kerap dikotori oleh coretan spidol jemaah borjuis—kini tampak memancarkan aura batiniah yang menggetarkan.
Lanskap di sekitarnya melarut dalam suasana iluminatif yang surealis. Tenda-tenda maktab premium yang angkuh di dataran Arafah tampak menyusut, kehilangan substansi materialnya, menjelma menjadi tumpukan gelembung sabun yang siap pecah oleh kebenaran absolut langit. Manusia-manusia di sekelilingnya bergerak lambat bagai bayang-bayang di dalam bioskop melankolis.
Mbah Wiryo merangkak naik, mendaki batuan Jabal Rahmah yang tajam tanpa alas kaki, persis seperti kebiasaannya menginjak batu-batu tajam Gunungkidul saat mencari sisa air. Setiap langkahnya adalah ejaan istighfar. Kulit kakinya yang pecah-pecah tidak mengeluarkan darah, melainkan mengalirkan cahaya pualam yang mendinginkan batu-batu gurun.
Sesampainya di puncak, tepat di bawah kaki Tugu Cinta, pemandangan surealis itu mencapai puncaknya. Di sana, berdiri seorang lelaki tua dengan jubah yang ditenun dari benang-benang cahaya matahari. Wajahnya adalah muara dari segala ketenangan eksistensial yang pernah ada di alam semesta. Dialah Nabi Ibrahim, Sang Khalilullah.
Tidak ada kata yang terucap di antara mereka. Di dunia makrifat, bahasa lisan telah dipensiunkan; digantikan oleh tatapan semiotik yang langsung menghujam ke kedalaman ruh. Ibrahim tersenyum, sebuah senyuman yang menyembuhkan seluruh luka sejarah peradaban manusia yang merana.
Lelaki tua itu mengulurkan tangannya yang agung. Di atas telapak tangan itu, tergeletak sebuah amplop bersampul biru pekat—warna biru yang merepresentasikan kedalaman samudera esoteris sekaligus luasnya langit spiritual yang tak terreach oleh nalar positivistik.
Mbah Wiryo menerima amplop itu dengan kedua tangannya yang gemetar dan kasar oleh kerja keras tanah karst. Begitu jemarinya menyentuh sampul biru tersebut, Nabi Ibrahim lenyap bagai kabut yang disapu angin fajar, meninggalkan keheningan yang megah di puncak Jabal Rahmah.
Dengan dada yang berdegup kencang bagai tabuhan rebana kosmis, Mbah Wiryo merobek segel bersampul biru itu. Di dalamnya, tidak ada lembaran uang riyal, tidak ada sertifikat emas, pun tidak ada jaminan kemewahan duniawi.
Di dalam amplop itu hanya ada selembar kertas yang sangat lusuh, robek di beberapa sudutnya, dan berbau tanah merah Gunungkidul setelah diguyur hujan pertama. Di atas kertas lusuh yang tampak kontras dengan kemegahan spiritual di sekelilingnya, tertera sebuah tulisan tangan yang tebal, ditulis dengan tinta hitam yang pekat dan bergetar:
Mabrur!
Mbah Wiryo jatuh tersungkur. Kepalanya menempel pada dasar Tugu Cinta. Lembaran kertas lusuh berbau tanah karst itu ia dekap di dadanya dengan air mata yang tumpah tak terbendung. Kata tunggal itu—Mabrur—bukan sekadar sebuah predikat keagamaan yang mandul; ia adalah sebuah maklumat kosmologis bahwa pemberontakan batin seorang petani miskin dari sela-sela batu purba Gunung Sewu telah diterima di Arsy Tuhan.
Saat fajar Arafah perlahan menyingsing dan jutaan manusia mulai bergerak memenuhi padang pasir, Mbah Wiryo masih bersujud di sana. Ia telah menyelesaikan hajinya sebelum ritus itu dimulai secara formal oleh manusia. Ia telah pulang ke rahim kesejatian alam semesta, membawa berkah air makrifat untuk membasuh tanah suci dan tanah kelahirannya yang merana, tepat di bawah bayang-bayang sayap Jibril yang perlahan memudar menjadi biru langit yang mahaluas.
Labbaik Allahumma Labbaik

