Melarikan Diri

Karya: Harsa Permata

Kota itu, kota yang dipenuhi kenangan masa kecilku, ke sanalah aku melarikan diri dari kejaran gerombolan para bandit yang mempunyai ciri khas dengan semua atribut religius berwarna hitam yang dipakainya hingga membuatku menamai mereka sebagai gerombolan para setan dari neraka. Mereka ingin menangkapku dan memenjarakanku bahkan mungkin membunuhku, setelah sebelumnya melukai beberapa orang temanku, dengan dalih perbuatan maksiat yang mereka lakukan, padahal semua orang tahu kalau mereka juga tak lebih dari para bajingan yang sering mabuk-mabukan dan menguasai rumah-rumah bordil di kota tempat kuliahku. Kota itu jugalah tempat bermulanya kekecewaan yang begitu mendalam dan hilangnya kepercayaanku terhadap segala sesuatu.

Selepas turun di terminal itu aku langsung menuju ke rumah orang tua angkatku yang telah membesarkanku hingga menjadi seorang pemuda seperti sekarang ini. Setelah sekian lama berjalan maka kutemukanlah sebuah rumah yang cukup luas untuk ukuran kota ini. Kuinjakkan kaki di halaman berkerikil itu yang mengingatkanku pada sungai-sungai tempat aku dan teman-temanku sering mandi bersama semasa kecilku.

Di pintu depan aku berhenti sejenak mengamati pintu berkaca hitam yang ada di depanku, seingatku pintu ini dulu tidak begini. Kuketuk pintu hitam itu dan kemudian berdiri menunggu jawaban dari dalam rumah. Pintu terbuka dan perempuan berumur itu langsung memelukku seperti anaknya. Saat itu suatu kedamaian yang tak terhingga besarnya merasuki otak dan hatiku. Setelah basa-basi untuk beberapa saat, kemudian diajaknya aku memasuki rumahnya.

Di kursi ruang tamu tempat kami duduk, ditanyainya aku bagaimana kabarku, kujawab, “Baik saja Bu.” Ia kupanggil ibu bukan karena ia ibuku tapi karena aku menganggapnya sebagai ibuku, ia dan ayah adalah orang-orang yang membesarkan aku dari aku masih orok, mengenai ibu dan ayah kandungku sendiri aku tak tahu di mana mereka berada saat ini. Orang tua angkatku hanya bercerita sedikit, tentang ibuku, mereka bilang kalau ibuku menyerahkan aku pada mereka dengan alasan ibuku sudah tidak sanggup lagi menanggung hidupku, semenjak ayah pergi meninggalkan ibuku.

“Kamu ada masalah Mal ? Kok tampangmu gelisah seperti orang ingin buang air besar saja.” tanyanya lagi.

“Ya Bu. Aku dikejar-kejar gerombolan para bandit itu. Mereka ingin nyawaku.”

“Sudahlah, tenang-tenang jangan gelisah begitu, kau aman di sini, tidak ada yang mengetahui keberadaanmu di sini ucap perempuan itu menenangkan diriku,yang menimbulkan suasana tenteram dan kepercayaanku pada perempuan itu.”

“Kau kelihatannya lelah, katanya lagi, istirahatlah di kamar sebelah kamarku, kamar itu kosong yang menempatinya sudah tidak ada lagi disini, tapi sebelumnya mandilah dulu, baumu seperti bau kambing saja.”

Wajahku memerah karena sindirannya yang telak mengenai diriku. Kemudian aku mandi membersihkan tubuhku yang telah dirubungi debu dan kotoran sepanjang perjalananku ke kota ini.

Setelah bersalin pakaian dan duduk sebentar di pinggir ranjang di kamar itu, sebuah ketukan menyadarkan diriku dari lamunan sesaatku. Kubuka pintu untuk mencari tahu siapa yang mengetuknya, ternyata kutemui wajah ibu dengan senyumnya yang ramah di depanku.

“Kau sudah makan belum ?” tanyanya tiba-tiba.

“Belum Ibu.” jawabku.

“Ya sudah makan sana, di meja makan ada makanan yang sengaja kubuat khusus untuk menyambut kedatanganmu, biasanya aku hanya masak seadanya saja karena kau tahu ayahmu yang suka makan enak jarang pulang ia selalu sibuk dengan pekerjaannya sampai akupun dilupakannya, ia hanya menulis dan menulis tiap-tiap harinya.”

Ayah angkatku mempunyai profesi yang berkaitan erat dengan kegiatan tulis-menulis yaitu bidang jurnalistik. Ia bekerja di sebuah koran swasta di kota ini. Darinyalah aku belajar banyak hal tentang tulis-menulis dan ia setahuku memang gila kerja tapi tidak percaya sampai seperti ini kegilaannya pada pekerjaannya itu.

Kumakan dengan lahap sajian di meja itu terdorong rasa laparku yang teramat sangat karena dari pagi perutku belum diisi sama sekali, tadi malam pun aku hanya minum cola kaleng yang sebelum habis telah kulempar kejalan karena tiba-tiba menusuk lambungku, seperti tusukan para setan dari neraka pada perutku dalam mimpi beberapa waktu yang lalu.

Kubaringkan tubuhku di kamar yang temaram dan dipenuhi warna-warna gelap di setiap sisi ruangannya itu, perut yang kenyang membuatku semakin mengantuk, lalu semua terlihat kabur dan melayanglah aku kedalam dunia khayalku. Di hadapanku terlihat sebuah rumah berwarna hitam sementara sebuah padang ilalang berada di sekeliling tempat aku berdiri. Kudekati rumah itu, melalui celah yang kutemukan kuintip kedalam rumah itu disana kulihat para setan itu tengah kebingungan mencari diriku. Tiga Bajingan berpakaian hitam sedang merokok mengelilingi sebuah meja bundar kayu berukuran kecil. Wajah mereka tidak kelihatan dengan jelas karena tertutup kain hitam yang mereka gunakan untuk menyembunyikan wajah mereka sampai di bawah mata. Mereka rata-rata berbadan kekar dan besar.

Salah satu dari bajingan itu tiba-tiba mengumpat kesal, “Sialan! Kita harus mencari ke mana ini, dasar anak sundal bisanya hanya mengerjakan hal-hal yang mengganggu kenyamanan saja, bisa-bisanya ia membuat tulisan-tulisan sampah itu yang menjelek-jelekkan perkumpulan kita.”

Isi otaknya hanya tahi dan muntah saja!” Teriak bajingan yang lainnya.

“Tidak bisa tidak anak itu harus ditangkap kalau bisa dibunuh saja, tuan Edsa akan membayar banyak untuk kepalanya.”
Aku memang menulis tentang kebobrokan-kebobrokan dari perkumpulan mereka, seperti aktivitas mereka yang suka mengganggu kenyamanan penduduk setempat di malam hari, memukuli tukang becak yang dituduh melakukan perbuatan maksiat semua tindak kekerasan yang anti perbedaan lainnya.

Sekarang mereka ingin membunuhku karena tulisanku, tidak pernah terpikir olehku kalau suatu kejujuran berbalas dengan kematian tapi ternyata pemikiranku tidak sesuai dengan kenyataan yang ada dan berkembang.

Bahkan sebenarnya mereka telah bekerja sama dengan aparat keamanan setempat untuk menangkapku, para penegak hukum yang seharusnya menjaga keamanan ternyata adalah kaki tangan mereka semua.

Aku yang masih ingin hidup untuk mewujudkan semua impianku terpaksa harus lari cari selamat, menghindar dari kejaran para setan itu, dengan ransel di pundak kulompati jendela belakang, terjun ke sawah dan mencegat bis ke arah kota orang tua angkatku.

Suara azan yang membahana membangunkanku dari tidurku, rupanya hari sudah mulai senja, setelah menggeliat barang sebentar aku lalu duduk di tepian jendela untuk mencari dari arah manakah gerangan suara itu berasal. Tidak beberapa jauh dari rumah ini terlihat sebuah masjid berkubah putih dengan menara di depannya, dari situlah suara azan itu berasal.

Di dekat masjid itu kulihat ibu sedang bergegas menuju kearah masjid itu. Ada yang janggal dari cara berpakaiannya, biasanya ia selalu kemesjid dengan mukena putih dan kain putih sebagai bawahannya, tetapi sekarang kenapa ia berkerudung hitam dan berpakaian serba hitam ke sana. Ah sudahlah, aku terlalu cemas rupanya pikirku, tidak masuk akal kalau ibu ada hubungannya dengan para bajingan berpakaian hitam itu ibu terlalu baik untuk menjadi seorang bajingan.

Di kamar mandi kubasahi mukaku dengan air bersih untuk menghilangkan perasaan lengket yang memenuhi wajahku. Dinginnya air, menenangkan semua kecemasan yang kuderita ketika tidur tadi.

Kunyalakan sebatang rokok untuk menenangkan semua kekalutan yang mendera otakku. Setelah bangun tidur aku biasanya selalu menghisap sebatang rokok yang akan mendatangkan perasaan rileks, pada setiap sel-sel kelabu di otakku.

Suara langkah kaki ibu yang baru pulang dari masjid terdengar jelas dari kamarku.
Tiba-tiba dibukanya pintu kamarku, perempuan itu telah berdiri di hadapanku yang sedang merokok, dengan segan kumatikan rokok yang tengah kuhisap.

Aku memang agak sungkan merokok di depannya dan ayah, karena mereka tidak merokok tapi mereka tidak marah kalau aku merokok, Cuma sesekali saja mereka memperingati tentang kebiasaan merokok yang hanya akan merusak paru-paruku.

“Kamu sudah salat ?”

“Belum Bu.” jawabku jujur.

Memang dari tadi aku belum sempat salat, aku ketiduran sehabis makan tadi.
“Ya sudah salat sana, jangan mentang-mentang sudah jadi intelektual kamu berbalik jadi kafir.”

“Iya bu, sebentar lagi aku salat.”

Setelah perempuan itu pergi kuselenggarakan shalat Maghrib tiga raka’at seadanya, tanpa bacaan surat yang panjang-panjang.

Aku berada di luar kamar, tepat di ruang TV, tempat kami sekeluarga biasa melewatkan malam. Ayahku yang sudah tidak ada di sini lagi dulunya sangat suka menonton TV di atas kursi goyangnya dan aku berada di sampingnya.

Tapi malam ini hanya aku dan ibuku serta kak Lies yang ada di ruang TV ini.

“Ayah kok sering tidak ada di rumah sih Bu?” tanyaku memecah kesunyian. “Perasaan dulu sewaktu aku belum pergi dari sini, tidak seperti ini.”

“Tidak tahu tuh, kan tadi sudah kubilang kalau ia selalu sibuk dengan tulisannya dan berlama-lama dengan teman-teman wartawannya, kalau pulang setelah berminggu-minggu menghilang, pasti langsung tidur” jawab ibuku kesal,yang membuatku enggan untuk bertanya lebih lanjut.

Esok harinya sehabis mandi, berpakaian dan setelah berpamitan pada ibu aku pergi ke pusat kota. Aku mau jalan-jalan untuk menenangkan kekalutan pikiranku dan untuk melihat-lihat kota kenangan masa kecilku ini.

Melewati masjid berkubah putih yang kulihat kemarin, aku terus berjalan menuju pusat kota. Di dekat toko Pak Cuan, orang Tionghoa yang menjadi langganan kedua orang tuaku, aku berhenti sebentar untuk melihat-lihat ke dalam toko itu. Yang menjaga toko ternyata bukan Pak Cuan lagi, seorang anak muda jerawatan telah menggantikannya. Aku jadi sungkan untuk singgah karena tidak ada orang-orang yang kukenal di sana.

Kota ini tidak banyak berubah, baunya masih bau amis ikan, bau yang akrab denganku sedari aku kecil. Aku masih ingat setelah pulang sekolah aku selalu mencium bau amis yang menyegarkan ini. Bau inilah yang sangat kurindukan semasa di perantauan untuk menuntut ilmu di kota lain.

Sesampainya di tepi laut, aku yang penat ingin beristirahat sebentar untuk melepaskan lelah, setelah perjalanan yang cukup jauh tadi. Untung rokokku selalu kubawa jadi aku tetap bisa merokok sambil bersantai di mana dan kapan saja. Kupandangi para nelayan yang sedang menjala ikan di atas sampan mereka, pemandangan yang selalu kulihat ketika aku sering main kejar-kejaran di tepi laut dengan teman-temanku, yang kini entah di mana. Aku cukup terhibur dengan semua pemandangan itu setelah semua tekanan yang datang padaku.

Malamnya sepulangku dari tepi laut, di depan pagar rumahku, kulihat sebuah jeep berwarna hitam telah berada di halaman rumahku. Hatiku yang tidak enak atas kedatangan jeep ini, mengurungkan diri untuk lewat pintu depan. Kupanjat tembok belakang rumahku untuk masuk lewat kebun yang dipenuhi pepohonan rindang di belakang rumahku. Lewat pintu belakang aku lalu masuk kedalam rumah, tiba-tiba di kamar ibu kudengar suara-suara aneh.

Aku yang penasaran mencoba mencari tahu apa gerangan yang terjadi di dalam kamar ibuku, aku khawatir kalau terjadi apa-apa dengan ibuku. Kurapatkan telingaku ke pintu kamar ibuku, di dalamnya ternyata terdengar suara orang yang bercakap-cakap. Itu suara ibu ucapku dalam hati, saat suara perempuan terdengar dari sana tapi siapa laki-laki yang lainnya itu? Pikirku heran. Ayahku jelas suaranya tidak seperti itu, aku tahu suara ayah.

“Dimana anak itu Lasmi ?” tanya laki-laki itu pada ibuku.

“Dari tadi belum pulang Lim, mungkin sedang jalan-jalan tunggu saja sebentar lagi pasti pulang, tapi Lim kumohon biarkanlah anak itu bersamaku untuk beberapa hari saja aku masih kangen dengannya.”

“Tapi Lasmi, Edsa ingin anak itu, lagipula ia sangat membahayakan perkumpulan kita, tenanglah ia akan baik-baik saja, tidak ada yang akan berbuat sesuatu hal yang kejam padanya, paling ia hanya diamankan agar tidak berpikir dan menulis macam-macam lagi.”

Sialan! Umpatku dalam hati ibuku ternyata adalah salah satu anggota gerombolan itu. Ternyata semua kecurigaanku benar, tapi aku tetap tidak habis pikir, kenapa ibu mau bergabung dengan para anjing itu.

Kupanjat tembok belakang lagi untuk segera keluar, setiba di jalan aku segera pergi menuju ke arah laut. Perasaan marah, sedih, kecewa memenuhi rongga dadaku. Aku tidak terima dengan segala pengkhianatan ini. Ibu, yang sangat kupercayai dan kusayangi ternyata adalah salah seorang dari gerombolan para setan itu.

Pinggir laut, pada malam hari, aku berdiri sendirian di tepi laut dekat pohon kelapa, memikirkan apa yang harus kulakukan selanjutnya. Setelah menimbang-nimbang untuk beberapa saat akhirnya kuputuskan untuk merenangi laut ini, kalaupun nanti mati kupikir aku tidak akan menyesalinya. Apa gunanya hidup kalau tidak ada lagi yang bisa kupercaya. Inilah jalan terbaik pikirku. Dinginnya air laut sudah tak kupedulikan lagi, aku terus berenang, berenang dan berenang mengarungi laut yang luas ditengah gelapnya malam hari ini.

Di tengah laut, setelah berada cukup jauh dari daratan, aku yang kelelahan setelah berenang begitu cepat, berhenti sejenak mengapungkan diriku untuk beberapa saat, sembari mencari-cari bagaimana caranya selamat dari resiko tenggelam karena kelelahan di tengah laut yang luas ini. Kalau untuk berenang terus aku terus terang sudah tidak sanggup lagi. Ya sudah mungkin sudah takdir kalau aku mati disini pikirku, mudah-mudahan ada hiu kesasar yang mau memangsa diriku yang tidak berarti ini.

Apa itu? Aku tidak percaya pada penglihatanku. Tiba-tiba terlihat sosok bersampan mendekatiku, seorang nelayan rupanya sedang mencari ikan pada malam hari ini. Dengan berteriak kucoba untuk menarik perhatiannya. “Pak ! tolong Pak!” teriakku memanggil lelaki bersampan itu. Ia mendekat dan wajah yang kukenal ternyata telah berada di hadapanku. Ia adalah ayahku, laki-laki bersampan itu adalah ayahku. Apa yang ia lakukan ditengah laut malam-malam begini.

“Ayah ya?” tanyaku.

Hanya senyum di balik caping yang membalas pertanyaanku. Ditolongnya aku naik ke atas sampan itu.

“Kamal, kamu kok nekat berenang malam-malam begini, aku dari pinggir laut tadi sudah melihatmu, tapi aku tidak tahu kalau itu kamu, kupikir mungkin orang iseng yang mau berenang malam-malam di laut, tapi tetap kuikuti, kalau-kalau ada apa-apa nantinya kan aku bisa menolong, eh ternyata kamu, kapan pulang ? Kok tiba-tiba berenang di tengah laut malam-malam begini?”

“Anu, yah aku kan habis dari rumah dan di sana ternyata sudah ada gerombolan para bajingan yang mengejarku dan ibu kulihat bersama para bajingan itu, aku yang kecewa pada ibu dan takut tertangkap lalu pergi melarikan diri ke laut dan sampailah aku di tengah laut ini. Ayah, kok tidak ada dirumah waktu aku pulang ? kata ibu ayah sering tugas diluar ya?”

Lelaki tua itu membisu untuk beberapa saat untuk setelah rentetan pertanyaan yang kutanyakan padanya.

“Ceritanya panjang nak, nantilah ku ceritakan setelah di daratan.”

“Tapi yah, aku tidak mau ke daratan, nanti diketahui para bajingan itu lagi.”

“Kita tidak ke daratan tempat ibumu, tapi kita ke pulau tempat aku tinggal dan ibumu tidak tahu tempatnya, jadi kamu jangan khawatir.”

Ya sudah aku manut sajalah, kubiarkan lelaki itu membawaku ke pulau tempat tinggalnya.
Ia bercaping dan kelihatan kurus, tidak segemuk dirinya yang dulu, mungkin ia terlalu lelah bekerja pikirku.

Di pulau itu, dibawanyalah aku ke sebuah rumah yang kecil dan sederhana dengan kaki-kaki di setiap sudut ruangannya. “Ayo masuk nak, jangan sungkan ini rumahmu juga.”

Aku duduk berhadap-hadapan dengan ayah di lantai yang dilapisi tikar anyaman itu. Kupandangi laki-laki tua itu, setelah capingnya dibuka terlihat jelaslah wajahnya yang sudah menua itu. Kami terdiam untuk beberapa saat, setelah satu pertanyaan yang kulontarkan membuka komunikasi antara kami berdua.

“Ayah katanya tadi mau cerita ?”

“Iya itu, jadi begini Mal, Ayah sudah tidak tinggal dengan Ibumu lagi. Kami sudah cerai, kami cerai karena ibumu ternyata lebih memilih menuruti kehendak ayahnya daripada tetap bersamaku. Ayahnya ingin Ibumu kawin dengan pria lain yang bisa memberikannya keturunan. Aku sendiri, kau sudah besar kan jadi tidak apa-apa kuceritakan. Aku sendiri tidak bisa memberinya anak dan kasih sayang pada ibumu. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku dan sering meninggalkannya sendirian. Aku sangat menyesali hal itu.” ucap laki-laki itu dengan penuh penyesalan. “Laki-laki itu ternyata bisa memikat dan mengobati kesepian ibumu, ia adalah salah satu dari gerombolan para bandit itu.

Semenjak itu kami sering bertengkar karena hubungan ibumu dengan laki-laki dan aktivitasnya pada gerombolan para bandit itu, aku sudah mencoba menyadarkannya kalau laki-laki itu adalah bajingan, tapi ibumu tidak mau mendengar, aku paham kalau ia kesepian, aku yang salah sih terlalu terkotak pada duniaku. Ibumu lalu meminta cerai. Pernah suatu kali aku dan teman-temanku protes karena kerja gerombolan itu sudah begitu meresahkan penduduk.

Setelah itu lah aku diburu mereka untuk dibungkam. Lalu aku lari ke pulau ini bersama dengan teman-temanku dan penduduk lainnya yang juga diburu dan tidak setuju dengan aktivitas menindas para bajingan itu. Di sini kami tinggal bersama-sama menyembunyikan diri dari kejaran mereka. Kami mencari makan bersama-sama di sini, apa saja yang bisa di makan. Para nelayan banyak yang ikut dengan kami, merekalah yang membuat sampan-sampan dan jala-jala untuk mencari ikan. Mereka semua sedang berada di tengah laut saat ini. Aku mungkin sebentar lagi juga mau ke sana.

“Kau tinggal saja di rumah, sambil menunggu aku pulang ya.”

Aku mengangguk pelan mengiyakan perkataannya. Setelah melepas rindu untuk beberapa saat, lalu pergilah ia menyusul teman-temannya yang lain di tengah laut. Aku ditinggal sendirian di rumah kecil di tengah pulau terpencil ini. Setelah semua kejadian mengejutkan ini, aku ingin beristirahat untuk melepaskan lelah dan mengendorkan syaraf-syarafku yang tegang. Aku lalu tertidur di atas tikar anyaman itu.

Harsa Permata
Harsa Permata
Alumni Filsafat UGM, Dosen di berbagai universitas di Yogyakarta.

Related Articles

Artikel baru