Aku berdiri di titik nol, di mana geografi telah diringkas menjadi ketiadaan. Di Gaza, Ramadhan tahun ini, bukanlah siklus waktu, melainkan sebuah koridor sempit di antara dua ledakan. Di sini, di atas puing-puing Rumah Sakit Al-Shifa yang dulunya adalah tempat penyembuhan namun kini menjadi kuburan masif yang bisu, dan sisa-sisa Sekolah PBB yang dinding-dindingnya mengelupas seperti kulit yang terbakar, aku—Sang Pemaaf—mencoba mencari Tuhan di balik debu mesiu.
Aku tahun ini Lebaran duluan. Ikutan Arab Saudi dan Muhammadiyah di Indonesia? Bukan. Aku mengikuti hisab penderitaan. Ilmiah? Sangat, jika kalian menghitung presisi rudal yang menghancurkan atap rumahku tiga hari lalu. Aku tidak butuh sidang isbat untuk mengetahui Ramadhan telah usai; aku mengetahuinya dari ritme serangan yang sedikit melambat, menyisakan jeda bagi malaikat maut untuk mencatat nama-nama baru.
Jadi, ketika dunia Islam yang tenang—di luar tembok pengepungan ini—masih menanti hilal sambil meracik bumbu rendang, aku sudah berkeliling. Aku mendatangi puing-puing, menepuk pundak pria-pria yang matanya kering, dan membisikkan permohonan maaf kepada mereka yang bahkan belum sempat membersihkan darah dari tangan mereka. Aku memaafkan semua orang yang tidak berada di sini.
“Kenapa keningmu basah, Pemaaf?” tanya seorang anak kecil, kakinya kotor oleh kapur reruntuhan. Dia duduk di bangku sekolah yang patah, di tengah kelas yang kini terbuka ke langit biru yang menakutkan.
“Ini bukan keringat, Nak. Ini sisa air wudhu dari masjid yang sudah rata dengan tanah,” jawabku, suaraku parau, seperti gesekan batu bata.
“Dan apa yang kau bawa di kantongmu?”
Aku merogoh kantong, mengeluarkan segenggam kurma yang tertutup debu abu-abu. “Opor ayam tak ada tahun ini. Kita punya kurma sisa jatah bantuan yang tertahan di perbatasan. Ini kurma yang reflektif. Dia manis, tapi rasa tanahnya lebih kuat.”
Anak itu mengambil satu, mengunyahnya pelahan. Wajahnya tidak menunjukkan rasa senang, hanya penerimaan yang mekanis terhadap rasa lapar.
Lalu, hari ini, suara-suara dari radio bertenaga surya samar-samar terdengar: negara-negara tetangga pengumumankan Lebaran. Tembakan perayaan terdengar di kejauhan, tapi bukan dari kaliber yang sama yang biasa kami dengar.
“Negara-negara itu bilang sekarang Lebaran,” kata wanita tua yang sedang mengais pakaian dari tumpukan beton yang dulu adalah rumahnya.
“Negara memang selalu begitu,” kataku. “Selalu terlambat datang ke pemakaman. Mereka mengumumkan hari raya saat kita sudah kehabisan air mata.”
Di sinilah absurdisitas memuncak. Gaza adalah puisi modern yang tak berima, ditulis dengan darah di atas kanvas reruntuhan. Jika Lebaran Muhammadiyah itu tegas, dan Lebaran pemerintah itu dramatis seperti pantun, maka Lebaran di Gaza adalah kesunyian di antara dua dentuman.
Negara-negara luar, dengan birokrasi dan sidang isbat mereka, terdengar seperti panitia lomba yang bingung mengumumkan pemenang, padahal pesertanya sudah didiskualifikasi oleh maut. Dua-duanya sah di mata hukum fiqih, mungkin. Tapi ritmenya beda total. Yang satu ritme kedamaian yang membosankan; yang satu ritme kelangsungan hidup yang memuakkan.
Aku, Sang Pemaaf yang sudah Lebaran duluan, kini jadi bingung. Mau takbiran lagi, takut suara bom menyahut. Mau santai, tapi dunia baru saja menyuruh kami bersuka cita. Mau minta maaf lagi, takut orang berpikir dosaku bertambah karena belum mati juga.
Dan yang paling krusial: THR (Tunjangan Hari Reruntuhan) di Gaza itu tidak pernah cair. Kami hanya punya sisa-sisa kehidupan.
Dalam puisi, repetisi adalah teknik. Di Gaza, pengulangan serangan adalah takdir. Di sini, dua kali Lebaran dalam satu minggu bukan masalah perbedaan keyakinan, tapi masalah perbedaan zona bertahan hidup. Kami dites: bisa nggak sih merasa “maaf” di tengah kehancuran total, tanpa menjadi gila?
Negara-negara luar yang telat masuk, yang datang dengan ucapan selamat saat kami sedang menggali puing mencari mayat, adalah tamu yang tak diundang dan salah kostum. Mereka membawa kata-kata saat kami butuh perban.
Aku sampai pada kesimpulan yang menenangkan, tapi juga menyakitkan: di Gaza, waktu bukan diukur oleh kalender, tapi oleh detak jantung yang tersisa. Kami tidak perlu menyamakan waktu Lebaran dengan dunia di luar tembok ini. Yang penting niatnya sama: bertahan hidup. Yang penting ‘opor kurma’ masih ada. Yang penting maafnya, walaupun diulang, tidak berubah jadi formalitas kosong yang ditawarkan oleh politisi di televisi.
Dan jika dunia luar bingung kenapa aku—Sang Pemaaf—tidak ikut merayakannya hari ini, aku akan jawab: “Lebaranku sudah lewat. Aku sedang sibuk mempersiapkan pemakaman untuk harapanku yang kesiangan.”
Toh di tanah terkutuk ini, yang dobel-dobel justru yang paling masuk akal: dobel trauma, dobel penderitaan, dan dobel pengampunan.
***
Kini, aku berdiri di puncak gundukan beton yang dulunya adalah laboratorium sains sekolah ini—sebuah monumen atas kecerdasan yang dipaksa menjadi debu. Aku menengadah ke langit Gaza yang tidak lagi biru, melainkan perak metalik, dipenuhi mata-mata elektronik yang berkedip dingin seolah mencatat setiap denyut nadiku sebagai angka statistik.
Inilah Lebaran Kesiangan bagi dunia, namun fajar bagi nurani yang terjaga.
Dengar! Di kejauhan, frekuensi radio internasional mulai bising dengan ucapan selamat yang steril, dikirim dari gedung-gedung kaca yang belum pernah mencium bau mesiu. Mereka merayakan kemenangan setelah sebulan lapar, sementara kami di sini merayakan kemenangan karena masih memiliki paru-paru untuk menghirup sisa oksigen di antara reruntuhan.
Negara-negara itu, dengan segala birokrasi dan satelit canggihnya, hanyalah editor tua yang telat bangun. Mereka sibuk mengoreksi titik dan koma dalam deklarasi perdamaian, sementara kita sudah menulis seluruh epik perlawanan dengan darah. Mereka datang dengan “bantuan” di saat kita sudah menjadi mandiri dalam penderitaan.
“Jangan menangis karena kita berbeda hari,” bisikku pada angin yang membawa sisa-sisa aroma antiseptik dari RS Al-Shifa. “Karena di masa depan yang sedang kita bangun dari puing ini, kalender takkan lagi ditentukan oleh penguasa yang tidur di kasur empuk. Waktu akan diukur oleh keberanian.”
Aku memejamkan mata, dan dalam kegelapan itu, aku melihat Gaza Masa Depan: sebuah kota yang bangkit bukan dari beton, melainkan dari frekuensi kebenaran yang tak bisa dibungkam. Di sana, masjid dan sekolah tidak lagi punya atap, karena Tuhan dan semesta menyatu langsung dengan kepala kami. Di sana, tak ada lagi “Maaf” yang bersifat birokratis, hanya ada pengampunan yang murni karena kita semua telah melampaui batas kemanusiaan yang biasa.
Jika dunia luar masih bertanya mengapa aku merayakannya duluan, aku akan berteriak ke arah drone yang melintas:
“Sampaikan pada tuanmu! Kami tidak menunggu hilal untuk bersaudara! Kami tidak menunggu sidang untuk memaafkan! Di sini, Idul Fitri adalah setiap detik saat bom gagal meledak. Di sini, kemenangan adalah saat kami menolak untuk menjadi benci meski seluruh dunia telah menjadi tuli!”
Biarkan mereka kesiangan. Biarkan mereka terjebak dalam seremoni kosong. Kita telah melampaui waktu. Kita adalah penyair yang menulis masa depan di atas peta yang coba mereka hapus.
Maka, selamat hari raya bagi yang masih punya nyali. Selamat hari puisi bagi yang dunianya sudah mati. Dan bagi negara-negara yang baru saja bangun:
Selamat datang di peradaban yang kalian telat memasukinya …

