Usman berdoa, membaca zikir, dan salawat Nabi berulang-ulang. Ia benar-benar ingin terlepas dari jeratan utang dan kesulitan keuangan yang datang bertubi-tubi.
Suatu sore yang dibasahi hujan gerimis, Usman berlari sekencang-kencangnya dengan sandal karet setelah membeli sebungkus nugget ayam dari sebuah minimarket. Nugget ayam ini sangat disukai oleh Fatimah, anaknya yang paling bungsu.
Uang di rekening bank miliknya tinggal kurang lebih seratus ribu rupiah. Ia sangat bingung dan frustrasi dengan kondisi keuangannya ini. Honor sebagai editor di jurnal milik Mas Yanto, kakak dari Annie, istrinya, belum juga turun. Sementara honor mengajar dari universitas tempat ia menjadi dosen honorer sudah habis beberapa hari yang lalu.
Beberapa bulan yang lalu, ia mendapatkan sebuah amalan dari seorang kiai senior yang sudah wafat, yaitu bahwa dengan membaca doa tawakal, salawat Jibril, Surah Al-Waqiah, dan Surah Yasin, rezeki akan mengalir. Persoalannya, terkadang ia sering kebingungan menghitung semua doa dan bacaan yang harus dibaca dalam jumlah tertentu tersebut.
Bahkan ia hampir menabrak seseorang ketika sedang berdoa dan berzikir sambil menghitung sambil mengendarai mobil sewaan. Untung penyeberang jalan nekat tersebut tidak sampai kehilangan nyawa karena Usman langsung membanting setir ke kiri.
Penyeberang jalan nekat itu seorang pemuda yang juga mahasiswa di salah satu kampus di pinggir Jalan Ringroad Utara. Ia kemudian meminta maaf kepada Usman dan Annie atas kenekatannya. Mereka berdua langsung turun dari mobil, meninggalkan si kecil Fatimah yang menangis di dalam mobil karena kaget bercampur syok.
Sejak peristiwa itu, Usman tidak mau lagi berdoa sambil berzikir ketika sedang menyetir mobil. Terkadang, dalam satu hari, ia tidak sempat menyelesaikan doa dan zikirnya tersebut. Rezeki, seperti biasa, kadang banyak, kadang benar-benar sulit, sehingga ia dan Annie terpaksa menahan lapar supaya kedua anak mereka bisa makan.
Suatu hari, sehabis menjemput Ali, anak sulungnya dan Annie, yang telah selesai belajar bahasa Inggris dengan seorang guru native speaker dari Amerika Serikat di rumah Janet, teman Ali, Usman kebingungan sekali karena cicilan utangnya jatuh tempo pada hari Jumat itu. Ia bingung bagaimana cara mendapatkan uang untuk membayar cicilan utang tersebut.
Kalau tidak dibayar, motor dan tablet yang menjadi jaminan utang akan dilelang besok oleh pegadaian. Akhirnya Usman nekat mengontak Gus Ramzy, seniornya, seorang kiai yang juga pengasuh salah satu pondok pesantren di Yogyakarta.
Gus Ramzy kemudian mengirimkan uang ke rekening Usman beberapa saat setelah Usman mengutarakan keinginannya untuk meminjam uang. Usman juga berjanji akan membayar utang tersebut pada akhir bulan.
Beberapa saat setelah itu, Gus Ramzy menawari Usman untuk menjadi admin sekaligus kontributor situs web pondok pesantren yang dikelolanya. Usman langsung menyatakan kesediaannya karena ia memang senang mengelola situs web dan menulis berbagai artikel.
“Nanti kukirim juknisnya (petunjuk teknis), ya, Man,” ucap Gus Ramzy melalui aplikasi WhatsApp Messenger.
“Siap, Gus,” balas Usman dengan semangat.
Sebelumnya, saat Pemilu 2024, ia juga sempat menjadi admin situs web yang dikelola oleh salah satu organisasi santri yang dipimpin oleh Gus Ramzy. Sayang sekali, pascapemilu, situs web tersebut tidak dilanjutkan lagi.
Setahun setelah pemilu, seniornya yang juga bekerja sebagai tenaga ahli di sebuah kementerian menawarinya untuk menjadi admin situs web organisasi kebudayaan yang dipimpinnya. Usman menyanggupi, walaupun belum jelas berapa honor yang akan diterimanya sebagai admin situs web.
Akhirnya, di tengah ketidakjelasan, Usman meminta bantuan seniornya tersebut untuk membayar tagihan internet di rumahnya. Untungnya, Mas Joko—begitu nama seniornya tersebut—tidak menolak. Hal itu berlangsung selama beberapa bulan.
Pada bulan Oktober tahun ini, mungkin karena aktivitas situs web organisasi kebudayaan tersebut sepi, Mas Joko belum mengirimkan lagi dana untuk membayar tagihan internet. Usman terpaksa membayarnya dengan paylater yang bunganya cukup tinggi.
Ia tidak punya pilihan lain karena tanpa internet, Fatimah pasti uring-uringan, sebab kanal YouTube yang disukainya tidak bisa diputar. Usman dan Annie juga tidak punya paket data; mereka hanya mengandalkan koneksi internet rumah untuk berkomunikasi lewat media sosial atau mencari informasi di peramban internet.
Untungnya, Gus Ramzy menawari Usman untuk mengelola situs web dengan honor lumayan, sehingga salah satu masalah yang membuatnya pusing tertanggulangi.
Tak terasa, sudah hampir tengah malam. Usman masih duduk merenung di ruang tamu. Sesekali diceknya situs web tempat ia biasa mengirim tulisan, barangkali saja ada tulisannya yang dimuat lagi.
Ia sangat membutuhkan dana tambahan untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya serta membayar cicilan utang-utang. Akan tetapi, dana tambahan itu ternyata sulit sekali didapat beberapa tahun belakangan.
Usman ingat sekali, ketika ia masih bekerja sebagai dosen tetap di sebuah universitas di Batam dengan gaji yang lumayan, persoalan keuangan seperti ini hampir tidak pernah dirasakannya. Bahkan, hampir setiap malam, ia bisa mengajak istri dan anaknya makan di beberapa restoran yang ada di Batam.
Namun, sepulang dari Inggris, Ali—yang sebelum berangkat ke sana sempat terserang pneumonia dua kali—meminta langsung kepada Usman agar bisa melanjutkan sekolah di sekolah swasta tempat ia bersekolah dulu sebelum pindah ke Batam mengikuti Usman. Usman yang sangat sayang kepada anaknya itu memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai dosen tetap di Batam dan pindah ke Jogja, tempat Annie dan Ali tinggal.
Akibatnya, kondisi keuangannya menjadi serba kekurangan awalnya. Baru setelah beberapa tahun, sebuah sekolah Islam di Jogja menawari Usman untuk memimpin sekolah tersebut, sebagai kepala sekolah, dengan gaji lumayan untuk ukuran Jogja.
Setelah tiga bulan bekerja, Usman memutuskan untuk mengundurkan diri karena jam masuk kerja di sekolah Islam tersebut adalah pukul 06.30 pagi. Sementara jika pandemi corona berakhir, ia harus mengantarkan Ali sebelum itu. Usman tidak tega untuk mengantarkan Ali ke sekolah sebelum pukul enam pagi karena pasti anaknya itu akan mengantuk sekali.
Setahun setelah itu, ia mendapat tawaran lagi dari sebuah perusahaan untuk mengelola beberapa sekolah milik perusahaan tersebut. Posisi sebagai School Manager tersebut dijalaninya selama kurang lebih delapan bulan, sampai perusahaan tersebut memberhentikannya karena kekacauan manajemen internal.
Pemilik perusahaan memilih untuk menyebar investasinya ke berbagai jenis usaha. Karena itulah, dana perusahaan terkuras habis. Ia lalu ambil jalan pintas dengan memberhentikan karyawan yang berpengalaman dan ber-skill tinggi seperti Usman. Tujuannya supaya pengeluaran untuk membayar gaji Usman bisa dipotong begitu saja, walaupun kontrak kerja Usman di perusahaan itu masih sisa sembilan bulan.
Usman melawan secara hukum dengan bantuan seniornya, Pak Sukirman, yang juga seorang pengacara. Pengadilan Hubungan Industrial akhirnya memutuskan bahwa perusahaan tersebut harus membayar secara penuh sisa gaji Usman yang sembilan bulan itu.
Setelah dana yang dibayarkan perusahaan itu habis, kondisi kesulitan keuangan kembali melanda Usman dan keluarganya. Sebagai seorang dosen honorer, gaji Usman sangat jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan bulanan keluarganya.
Kadang ia menyesal, mengapa ia dulu tidak masuk jurusan teknik, ilmu yang kata filsuf Yunani Kuno, Plato, lebih rendah dari filsafat. Seandainya ia dulu masuk jurusan teknik mesin, tentulah ia sudah bisa bekerja di perusahaan otomotif besar, seperti temannya, Yusuf Al Masih, alumni teknik mesin UGM (Universitas Gadjah Mada).
“Ah sudahlah, tak usah menyesali pilihan,” gumamnya lirih.
Ia teringat kata-kata almarhum ayahnya, “Yang paling enak memang mendapatkan apa yang disenangi, yang paling sulit adalah menyenangi apa yang didapat.”
“Aduh, Yah, mengapa begitu cepat Ayah pergi? Aku masih butuh petunjuk dan nasihat Ayah. Entah bagaimana caranya aku bisa mendengar kata-kata Ayah lagi,” ucap Usman lirih, dengan air mata berlinang.
Sudah lewat tengah malam, Usman masih belum mengantuk. Sudah tiga gelas kopi dihabiskannya dari kemarin pagi. Ia masih sibuk berpikir dan menimbang bagaimana bisa menjalani hidup beberapa hari dengan uang seratus ribu rupiah di rekening.
Ia ingat sebuah ajaran agama yang menyebutkan bahwa “Allah sudah menjamin rezekimu, tapi bukan ibadahmu.” Akan tetapi, apakah ia harus berhenti stres dan menyerahkan semua kepada Tuhan, sementara ia masih belum bisa menemukan titik terang dari semua masalah kehidupan yang menimpa dirinya dan keluarganya ini? Semua terasa masih gelap, dan ia ibarat seorang tunanetra yang sama sekali tak mampu melihat apa pun.
Sebuah pesan di WhatsApp Messenger dari Mas Joko, seniornya, yang hanya memberikan emotikon dua telapak tangan bersatu terhadap pertanyaan dari Usman, apakah sudah ada dana untuk membayar paylater tagihan internetnya, membuat Usman semakin tidak bisa tidur. Ia sadar bahwa ia tidak bisa menuntut terlalu banyak pada Mas Joko karena praktis sudah sebulan lebih tidak ada satu pun berita atau artikel yang diunggahnya ke situs organisasi kebudayaan pimpinan seniornya tersebut.
Walaupun demikian, Usman paham bahwa ia harus tidur. Besok pagi, ia harus mengantarkan Ali dan dua orang anak Sulis ke sekolah mereka masing-masing. Akan sangat berbahaya jika ia menyetir dalam keadaan mengantuk berat. Soalnya, ia pernah tiba-tiba tertidur ketika sedang mengendarai motor dalam kondisi seperti itu.
Akhirnya, Usman memutuskan untuk berserah diri kepada Tuhan saja. Ia lalu mengambil handuk untuk mandi dan berwudhu, dengan harapan bahwa sebuah ketenangan bisa hadir di pikirannya yang sangat penuh ini. Istri dan kedua anaknya sudah terlelap beberapa jam sebelumnya di kamar mereka masing-masing.

