Puisi yang Ditunggu

Jakarta, 25 Maret 2026. Kompleks Taman Ismail Marzuki

Malam tidak jatuh di Cikini; ia tumpah dalam larik-larik lukaku. Langit bukan lagi kanvas, melainkan samudera tinta obsidian yang mendidih, di mana bintang-bintang adalah noktah-noktah kegagalan sajak yang belum sempat ditulis. Di jantung pusaran itu, Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin berdiri bukan sebagai bangunan, melainkan sebagai sebuah silicon-cathedral yang berdenyut. Dinding-dindingnya adalah membran transparan yang mengalirkan arus bioluminesens dari jutaan mikrokosmos kata, sebuah arsip hidup yang bernapas dalam ritme cyber-mistik.

Di sinilah aku, Sang Penyair, terperangkap dalam labirin takdir. Tubuhku adalah antena yang berkarat, mencoba menangkap frekuensi gaib dari sebuah entitas yang kusebut “Puisi yang Ditunggu”. Aku adalah bejana kosong yang retak, merindukan anggur wahyu yang tak kunjung tercurah. Nafasku adalah uap yang mengandung residu majas, berat dan memabukkan.

Ruang referensi PDS malam ini bermetamorfosis menjadi altar sakral yang absurd. Udara jenuh oleh aroma kertas purba yang bersenyawa dengan ozon dari mesin pendingin kuantum. Di sudut ruangan, bayangan raksasa HB Jassin membesar, tangannya yang transparan sibuk memilah angin purba dengan gunting yang terbuat dari cahaya beku.

“Masih menunggu, Penyair?” Suara itu datar, sedingin bulan perak yang memudar di langit Jakarta yang polutif.

Aku menoleh. Di atas tumpukan antologi puisi yang melayang, duduklah Sutardji Calzoum Bachri. Ia tidak mengenakan pakaian, melainkan jubah yang ditenun dari jeritan dan mantra. Di tangannya, sebuah botol berisi cairan hitam pekat—mungkin tinta, mungkin darah, mungkin racun eksistensial. Ia menatapku dengan mata yang mengandung kedalaman sumur tanpa dasar.

Sutardji meneguk cairan itu, lalu memuntahkannya kembali, bukan sebagai cairan, melainkan sebagai sekawanan burung gagak yang terbuat dari huruf kapital. Sebelum gagak-gagak itu mencair kembali menjadi udara, Sutardji meraungkan barisnya, mengguncang fondasi silicon-cathedral ini:

“Tapi itu bukan kata/ itu lukaku!”

Gema raungannya belum usai ketika sesosok lain muncul dari balik tirai partikel hologram. Sapardi Djoko Damono. Ia tampak rapuh, seolah-olah tubuhnya tersusun dari rintik hujan sisa bulan Juni yang terperangkap dalam loop waktu. Wajahnya adalah ketenangan telaga yang menyembunyikan pusaran rindu yang mematikan.

Sapardi tidak berteriak. Ia hanya berbisik, namun bisikannya lebih tajam dari sembilu neraka, menembus lapisan pelindung jiwaku yang rapuh:

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:/ dengan kata yang tak sempat diucapkan/ kayu kepada api yang menjadikannya abu”

Aku terenyak. Di antara raungan Sutardji dan bisikan Sapardi, aku merasakan ketiadaan yang mencekik. Aku adalah tuan rumah di rumah ibadah kata, namun aku merasa seperti pencuri di rumah sendiri.

Tiba-tiba, arsitektur futuristik PDS Jassin bergetar hebat. Sensor-sensor kuantum meraung panik. Entitas itu datang. Tanpa mengetuk pintu, karena ia adalah pintu itu sendiri. Si Puisi yang Ditunggu menembus dinding laser pelindung, mewujud sebagai gumpalan cahaya lembut yang memegang seikat mawar purba. Duri-durinya telah ia cabut dengan tangan kosong, meninggalkan bekas luka berbentuk alfabet yang menyala merah jambu di telapak tangannya yang fana.

Ia melangkah maju, aromanya mengalahkan bau ozon dan kertas tua. Getarannya menubuh, menjadi detak jantung kedua di dalam dadaku. Dan dengan suara yang merupakan paduan suara dari seribu rindu yang tak tersampaikan, ia bertanya:

“Adakah keindahan dan cinta di rumah ini?”

***

Suasana di dalam PDS HB Jassin mendadak melengkung. Gravitasi literasi seolah runtuh; buku-buku di rak-rak kromium mulai melayang, membuka lembarannya seperti sayap-sayap malaikat yang terbuat dari kertas daur ulang. Di tengah badai tipografi itu, Si Puisi berdiri tegak, memegang mawar tanpa duri yang cahayanya lebih terang dari neon Jakarta di luar sana.

Pablo Neruda muncul dari balik pilar beton yang kini transparan seperti kristal. Ia mengenakan jubah yang terbuat dari peta laut dan rasi bintang yang hilang. Tangannya yang besar, yang terbiasa menuliskan elegi bagi laut dan tanah, terulur menyentuh kelopak mawar itu.

“In this part of the story I am the one who dies, the only one, and I will die of love because I love you, because I love you, Love, in fire and blood.”

Suara Neruda bergaung, dalam dan basah seperti ombak Isla Negra. Namun, Si Puisi tidak bergeming. Ia tidak mencari pengorbanan berdarah. Ia mencari rumah. Matanya yang merupakan galaksi kecil menatapku, menembus lapisan mikrokosmos jiwaku yang gemetar.

“Adakah rindu dan senyum penuh pesona di sini?” ulangnya. Suaranya kini terdengar seperti denting harpa di tengah pabrik baja.

Di sudut lain, Wislawa Szymborska sedang duduk santai di atas mesin pemindai naskah kuno yang mengeluarkan percikan listrik biru. Ia menyesap teh dari cangkir porselen yang retak, menatapku dengan kegetiran yang elegan.

“Kau terlalu sibuk mengarsip, wahai Penyair,” sindir Szymborska. Ia bangkit, menyebarkan aroma tembakau dan kebijaksanaan kuno.

“The onion, now that’s something else / Its entrails don’t exist / It’s nothing but pure onionhood / At the risk of being oniony.”

“Kau ingin menjadi bawang yang berlapis-lapis metafora,” lanjutnya, “tapi kau lupa inti dari sebuah tangisan.”

Aku mencoba menjawab, namun kerongkonganku tersumbat oleh debu-debu sejarah. Aku melihat Sutardji mulai menari-nari di atas meja kerja Jassin, melompati tumpukan naskah asli O, Amuk, Kapak. Ia tertawa liar, tawanya memecahkan kaca-kaca jendela futuristik TIM.

“Amuk! Amuk! Amuk!” teriak Sutardji. “Kau menunggu puisi seperti menunggu tuhan dalam botol! Pecahkan botolnya! Bebaskan kata-katanya!”

Sementara itu, Sapardi hanya berdiri diam di dekat jendela yang menampilkan siluet Jakarta tahun 2026—hutan beton dengan lampu-lampu LED yang dingin. Ia menyentuh kaca, dan di tempat sentuhannya, hujan mulai turun di dalam ruangan, membasahi arsip-arsip digital kami.

“Ssssh…” desis Sapardi lembut. “Biarkan ia bicara pada sepi. Sebab sepi adalah ibu dari segala sajak.”

Si Puisi yang Ditunggu mulai berpaling. Cahaya di tangannya meredup, berubah menjadi warna senja yang sekarat. Ia melihatku sebagai tuan rumah yang dungu, yang hanya punya kunci tapi tak punya keberanian untuk memutar lubang pintu hatinya sendiri.

Tiba-tiba, sesosok pria dengan setelan wol abu-abu yang kaku muncul dari bayang-bayang tangga spiral. T.S. Eliot. Wajahnya adalah topeng penderitaan intelektual yang sempurna. Ia memegang sebuah jam pasir yang pasirnya tidak jatuh ke bawah, melainkan melayang ke atas.

“Between the desire / And the spasm / Between the potency / And the existence / Between the essence / And the descent / Falls the Shadow.”

“Bayang-bayang telah jatuh di antara kau dan dia,” bisik Eliot pelan. “Kau telah membiarkan waktumu habis dalam ruang tunggu yang abadi.”

Si Puisi benar-benar berbalik sekarang. Langkah kakinya tidak meninggalkan jejak di lantai, melainkan meninggalkan baris-baris sajak yang langsung terhapus oleh angin kuantum. Ia kembali ke muasal kata, ke dalam keheningan putih sebelum alfabet diciptakan.

“Tunggu!” teriakku, tapi suaraku hanya menjadi gema yang memantul di antara rak-rak PDS Jassin yang kini terasa seperti makam raksasa.

Sepi sebatangkara. Tokoh-tokoh agung itu perlahan memudar menjadi debu cahaya. Jassin kembali ke mejanya, Sutardji masuk kembali ke dalam botolnya, Sapardi menyatu dengan rintik hujan, dan para peraih Nobel itu kembali menjadi nisan-nisan kertas di rak referensi.

Aku berdiri sendirian di tengah Pusat Dokumentasi Sastra yang megah dan futuristik ini. Di tanganku, tak ada lagi pena, tak ada lagi mawar. Hanya ada sisa bau wangi yang menyakitkan, dan kesadaran bahwa aku telah melewatkan tamu paling agung dalam sejarah hidupku.

***

Malam di Taman Ismail Marzuki bukan lagi sekadar gelap, melainkan tumpahan tinta yang gagal mengering. Aku berdiri di lorong Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, di mana aroma kertas tua berubah menjadi oksigen yang memabukkan. Di sini, ribuan kata-kata mati sedang menunggu giliran untuk hidup kembali.

Aku adalah Sang Penyair yang sedang hamil tua oleh sebuah rima, namun sang jabang bayi—si Puisi yang Ditunggu—tak kunjung lahir.

Di meja panjang ruang referensi, kulihat HB Jassin sedang sibuk memilah angin dengan gunting klipingnya. Di sampingnya, duduk Wislawa Szymborska yang sedang menghitung butiran debu.

“Kau menunggunya?” tanya Szymborska padaku. Matanya jenaka namun tajam. Ia membisikkan barisnya yang terkenal seolah itu adalah mantra pengusir kantuk:

“Nothing can ever happen twice. In consequence, the sorry fact is that we arrive here improvised and leave without the chance to practice.”

Aku mengangguk lesu. “Ia janji akan datang malam ini, Wislawa. Tanpa mengetuk pintu.”

Tiba-tiba, pintu besar PDS itu bergetar hebat. Bukan karena angin, tapi karena sebuah kehadiran yang metafisik. Sesosok entitas masuk tanpa suara. Itulah dia—Si Puisi. Ia tidak memiliki wajah, hanya gumpalan cahaya yang memegang seikat mawar. Duri-durinya telah ia cabut dengan tangan kosong, meninggalkan bekas luka berbentuk alfabet di telapak tangannya.

“Adakah keindahan dan cinta di rumah ini?” suara Si Puisi menggema, memantul di antara rak-rak buku Chairil Anwar dan Rendra.

Aku ingin menjawab, tapi lidahku berubah menjadi gulungan pita mesin ketik yang kusut. Di sudut ruangan, Pablo Neruda bangkit dari bayang-bayang rak puisi Spanyol. Ia mengenakan topi kaptennya dan menunjuk ke arah dadaku yang kosong.

“I want to do with you what spring does with the cherry trees,” gumam Neruda, mencoba memancing Si Puisi agar mendekat.

Namun, ruangan ini mendadak menjadi absurd. Rak-rak buku mulai mencair menjadi aliran sungai kata-kata. Aku melihat Samuel Beckett duduk di atas tumpukan kamus, menatap pintu yang terbuka lebar tapi tak ada siapa-siapa yang lewat.

“Ia bertanya padamu, Penyair!” teriak Beckett. “Tapi kau hanya diam seperti Godot yang tak pernah datang!”

Si Puisi melangkah maju, getarannya menubuh dalam jiwaku. Aku merasakan panas mawar tanpa duri itu di depan hidungku. Ia bertanya lagi dengan nada yang lebih perih:

“Adakah rindu dan senyum penuh pesona di sini?”

Aku terpaku. Aku terlalu sibuk menjadi “Tuan Rumah” yang menjaga arsip, hingga lupa menjadi “Manusia” yang memiliki rasa. Aku lalai membukakan pintu batin, padahal pintu fisik PDS sudah lama hancur oleh imajinasi.

Sepi menyergap. Sepi yang sebatangkara, lebih sunyi dari titik di akhir kalimat terakhir seorang terpidana mati.

T.S. Eliot muncul dari balik meja katalog, memegang jam saku yang jarumnya berputar terbalik. Ia menatapku iba lalu merapal:

“This is the way the world ends. Not with a bang but a whimper.“

Si Puisi mendesah. Mawar di tangannya layu seketika, berubah menjadi debu kertas yang beterbangan memenuhi ruangan. Karena aku tak menjawab, karena aku gagal menemukan senyum di balik tumpukan naskah kuno ini, ia pun berpaling.

“Aku kembali ke muasal kata,” bisik Si Puisi.

Ia berjalan menembus dinding beton PDS HB Jassin. Sosoknya menyatu kembali dengan keheningan jagat raya. Aku berlari mengejarnya, tapi kakiku tertanam di lantai yang kini berubah menjadi rawa tinta hitam.

Di Jakarta, 25 Maret 2026, aku hanya menemukan diriku sendiri, memegang sehelai kertas kosong di tengah perpustakaan yang meledak oleh sunyi. Puisi itu telah pergi, meninggalkan bau mawar dan luka yang tak kunjung menjadi rima.

Selesai

Related Articles

Artikel baru