Bu Julia dan Kenangan yang Tersisa

Sudah hampir sepuluh tahun semenjak kepergian suaminya. Hal yang membuat Bu Julia terguncang hebat jiwanya, dan kehilangan ingatan jangka pendeknya.

Akibatnya, ia hanya bisa mengingat masa lampau beberapa belas tahun ke belakang. Sementara hal yang baru terjadi, dan orang yang baru ia kenal, akan ia lupakan.

Beberapa bulan belakangan ini, ia hanya ditemani oleh Nita, asistennya. Nita dulu pernah bekerja dengannya sekitar tahun 2002-2004, lalu berhenti karena mau menikah dan ikut suaminya yang bekerja di Malaysia.

Pada tahun 2025, setelah dua puluh satu tahun berlalu, Bambang meneleponnya untuk dipekerjakan kembali menjadi asisten ibunya. Pengganti yang sebelumnya, tidak begitu cocok dengan Bambang dan istrinya.

Suami Nita telah meninggal setahun yang lalu akibat serangan jantung. Pernikahan mereka dikaruniai satu anak. Nita menyanggupi tawaran pekerjaan dari Bambang, karena ia diperbolehkan membawa anaknya tinggal bersamanya di lantai 2 bagian depan RSIA.

Dulunya, sebelum gedung belakang RSIA dibangun, lantai 2 ini adalah tempat tinggal Bu Julia dan keluarganya. Akan tetapi, karena ada peraturan bahwa lantai 2 tidak boleh ditinggali, maka Bu Julia sempat mengontrak rumah bersama Bambang, anak ketiganya, dan keluarganya di tempat lain.

Baru beberapa bulan ini, lantai 2 RSIA itu mereka tempati kembali, sesuai kebutuhan akreditasi.

Nita ini juga kenal akrab dengan Usman, anak pertama Bu Julia. Bedanya, ia tidak pernah mau terlibat dalam konflik internal keluarga Bu Julia, karena itulah mungkin Bambang mempekerjakannya.

***

Nita mengatur napas di balik pintu dapur utama RSIA. Bau kopi, rendang, dan samba lado mendominasi ruangan. Makanan untuk Bu Julia dan Nita memang disiapkan di dapur ini, sebab Bu Julia sering main ke sana dan tidak memiliki dapur khusus.

Di sana, Bu Julia sudah duduk di tempat favoritnya, yaitu bangku kecil dari kayu. Ia nampak tersenyum cerah pada dua perempuan paruh baya di hadapannya: Juniarti dan Nidar. Keduanya adalah karyawan senior yang sudah bekerja sejak 1995.

“Saya sudah bilang ke Bapak, kalau mau rumah sakit maju, kita harus pastikan semua karyawan, khususnya yang perempuan, hidup nyaman,” ujar Bu Julia, nadanya penuh semangat, seolah ia sedang memberikan pidato motivasi tahunan. “Bagaimana kabar keluargamu, Nidar? Si Zal suamimu masih sering pulang atau tidur di tempat lain?”

Nidar mengangguk dengan senyum menyeringai, matanya berbinar jenaka. Ia sudah terbiasa dengan rutinitas ini. “Baik, Bu. Bapak memang selalu perhatian.” Diliriknya Juniarti, yang hanya tersenyum-senyum jenaka.

Bu Julia tertawa ringan. “Ah, dia memang begitu. Tapi jangan terlalu dimanjakan. Omong-omong, Nita mana? Saya butuh tahu hari ini saya akan ke mana saja? Saya tidak mau terlambat menjemput Bapak di bandara. Soalnya, Bapak hari ini baru datang dari kongres dokter di Jakarta.”

Nita pun melangkah masuk. Ia tahu setiap kata “Bapak” yang Bu Julia ucapkan adalah janji, janji dari tahun-tahun terbaik yang kini hilang. Tugasnya adalah menarik Bu Julia dari tahun 2003, pelan-pelan.

“Buk, kita keluar jalan pagi dulu yuk” sapa Nita, menghampiri. Juniarti dan Nidar dengan cepat kembali ke tumpukan piring dan panci. Kehadiran Nita di dapur berarti sesi pribadi telah usai. “Hari ini kita jalan pagi dulu, habis itu kita makan lontong di pasar.”

Nita mengambil jeda singkat, memikirkan cara paling halus untuk menolak permintaan ke bandara yang mustahil. “Tapi, untuk Bapak… Jadwal Bapak ada sedikit perubahan, Buk. Bapak tidak jadi pulang hari ini. Ada urusan mendesak yang harus diselesaikan di Yogyakarta bersama Kaka.”

Bu Julia mengernyitkan kening, “Kalau ke Jogja mengapa saya tidak diajak? Saya kan juga rindu dengan Usman anak saya itu. Dia kan di Jogja sama Kaka.” Tanya Bu Julia heran pada Nita, yang semakin bingung harus merespon apa.

Nita berusaha tetap tersenyum, menyembunyikan rasa getir di hatinya. Nanti Buk, kalau kita bisa telepon Bang Usman — Nita biasa memanggil Usman dengan sebutan Abang, mereka sudah kenal sejak Usman masih mahasiswa — Kita minta dia untuk jemput kita di Bandara Jogja. Nanti tiket dibelikan Bambang, Bu.

Nita lebih tua tiga tahun dari Bambang, karena itu dia terbiasa memanggil nama saja, tanpa sebutan Pak.

“Ayo Buk, kita jalan sekarang, nanti keburu siang, panas sekali soalnya.” ajak Nita pada Bu Julia.

Mereka pun keluar, meninggalkan aroma dapur dan kenangan 2003. Setelah berjalan kaki beberapa puluh meter, mereka mampir makan lontong di depan rumah Imran, teman Usman, sebentar. Tempat itu selalu ramai, dan Bu Julia selalu merasa nyaman di sana, seolah-olah ia bisa menangkap sisa-sisa jejak kaki anaknya yang paling ia rindukan.

Selepas dari pasar, mereka pulang. Bu Julia meminta Nita untuk menelepon dengan panggilan video kepada anaknya yang pertama, Usman di Yogyakarta.

Nita yang sudah terlanjur menjanjikan sebelumnya, akhirnya menelepon Usman. Untungnya Usman tidak sedang mengajar di kelas, sehingga bisa dengan cepat langsung mengangkat panggilan video dari Nita.

“Assalamualaikum, bagaimana kabar Ibu, aman?” tanya Usman kepada ibunya lewat panggilan video.

“Waalaikum salam, alhamdulillah Nak, sudah lama Ibu ingin bicara, baru kesampaian hari ini. Bagaimana Usman di sana? Sehat-sehat kah?” tanya Bu Julia balik pada anak sulungnya itu.

“Alhamdulillah Bu, berkat doa Ibu, yang sulit jadi mudah rasanya.”

“Oya, Ayah mana Nak? Tadi kata Nita, Ayah sedang ada urusan dengan Kaka di Jogja.” tanya Bu Julia tiba-tiba. Pertanyaan yang membuat Usman bingung.

Nita yang mendengar pertanyaan itu, kemudian menimpali di panggilan video itu. “Iya Bang, tadi saya bilang ke Ibu, kalau Ayah Abang lagi di Jogja sama Kaka.” ucap Nita sembari mengedipkan mata memberi kode ke Usman.

“Oh begitu, iya Bu, Ayah lagi keluar rumah tadi sama Kaka, kayaknya ke toko buku Gramedia yang di Jalan Jenderal Sudirman.” ucap Usman mencoba memberikan penjelasan.

“Wah gak ngajak-ngajak Ayahmu itu, Ibu kan juga ingin jalan-jalan di Jogja.” ucap Bu Julia dengan nada sedikit kesal.

Usman dan Nita hanya bisa tersenyum miris melihat ekspresi Bu Julia. Mereka berdua sebenarnya bingung, bagaimana lagi menjelaskan kenyataan kepada yang bersangkutan.

Sudah berkali-kali sebenarnya anak-anak Bu Julia dan para karyawan lama seperti Nidar dan Juniarti, menjelaskan bahwa suami Bu Julia, Pak Salim sudah meninggal tahun 2016. Namun, setelah bangun pagi, esok harinya, biasanya Bu Julia sudah lupa semua penjelasan mereka.

Baginya, suaminya yang ganteng, Pak Salim, yang membuat teman-temannya dulu sesama perawat iri, masih hidup adanya. Ia biasanya selalu berkata, ketika ditanya anak-anaknya, “Ayah di mana Bu?”.

“Ayah di kamar”, atau “Ayah lagi praktek di Rumah Sakit Umum.”

Terkadang ketika sedang berkunjung ke tempat Usman di Jogja, ia selalu minta pulang ke Kampuang. Ketika ditanya oleh Usman, “Kenapa pulang cepat-cepat Bu?”

“Kasihan ayahmu sendirian, tidak ada yang menemani di Kampuang.”

***

Malam hari, setelah semua karyawan pulang, Bu Julia akan mematikan lampu kamarnya, untuk beristirahat. Akan tetapi, diurungkannya, karena ia ingin membaca majalah wanita dulu sebelum tidur.

Diambilnya kacamata baca kepunyaannya. Dibacanya sebuah artikel, yang berjudul “Pentingnya Menjaga Ingatan bagi Perempuan”. Isinya kurang lebih adalah bahwa kaum perempuan, jangan sampai menderita lemah ingatan dan hilang ingatan.

Cara mencegah lupa ingatan, menurut artikel itu adalah bahwa, pertama, kaum perempuan harus sering melatih ingatannya. Kedua, mencoba mengingat segala sesuatu, walaupun sulit. Ketiga, adalah menerima kenyataan bahwa kenyataan sudah berubah drastis. Keempat, biasakan membaca beberapa halaman dalam sehari.

Setelah selesai membaca, jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Dipanggilnya Nita, yang langsung tergopoh-gopoh mendatangi kamar Bu Julia. “Nita, saya minta kamu telepon Usman sekarang, panggilan video.” pinta Bu Julia tiba-tiba.

“B… baik Bu, ada apa ya? Ini kan sudah malam, mudah-mudahan Bang Usman belum tidur.” ucap Nita gugup.

Usman langsung menjawab, ternyata ia masih sibuk bekerja dan belum tidur.

“Iya, ada apa Nita? Kenapa Bu?” tanya Usman heran, malam-malam ditelepon Nita dan Ibunya.

“Ibu mau tanya Man, Ayahmu masih hidup atau sudah tiada? Jawab yang jujur ya” tanya Bu Julia tegas, yang mengagetkan Usman dan Nita.

Mereka berdua hening beberapa saat. Hingga, Usman memecah keheningan dengan berkata, “Ayah sudah meninggal tahun 2016, Bu. Kami sudah berkali-kali bilang ke Ibu soal ini, tapi esok harinya Ibu pasti sudah lupa lagi.”

“Baiklah, Ibu dalam hati memang belum bisa menerima kepergian Ayahmu, selain itu, otak sudah tidak bisa dipakai. Makanya besoknya pasti lupa. Kalau kau ke Padang, Ibu ingin kau ajak ke kuburan Ayahmu, ya Man. Bambang sibuk sekali, jadi tidak bisa mengantarkan Ibu ke sana.” pinta Bu Julia pasrah.

Sesuai dengan artikel yang dibacanya tadi, Bu Julia telah berhasil memenangkan pertempuran kecil melawan lupanya. Namun, hanya Tuhan, dan mentari esok hari, yang tahu apakah ia akan memenangkan perang itu.

Nita yang sangat mengantuk, kemudian pamit pada Bu Julia, untuk pergi ke kamarnya, setelah sebelumnya mematikan panggilan video ke Usman.

Sebelum tidur, Bu Julia berdoa kepada Tuhan, supaya almarhum suaminya dilancarkan jalannya di akhirat sana. Ia juga meminta pada Tuhan supaya diberikan kekuatan untuk menerima kenyataan bahwa suaminya telah tiada.

Dimatikannya lampu kamar, Bu Julia tertidur di bawah sinar purnama dari balik gorden jendela kamarnya.

Harsa Permata
Harsa Permata
Alumni Filsafat UGM, Dosen di berbagai universitas di Yogyakarta.

Related Articles

Artikel baru