Sejak kecil aku sangat mengagumi ayahku, meskipun sosok yang sering kulihat berbaju loreng dengan tanda pangkat sebenarnya adalah omku. Entah mengapa, dalam imajinasi masa kecilku, kekagumanku pada Om Ahmad seakan melebur dengan kekaguman pada ayah sendiri.
Ayahku bernama Mursal. Menjelang kelulusan SMA, barulah beliau menambahkan nama belakang “Salvina,” sehingga lengkaplah namanya menjadi Mursal Salvina. Nama “Salvina” sendiri memiliki cerita tersendiri. Ayah mengatakan bahwa ia mengambilnya dari tanaman Salvinia, tanaman air yang bisa tumbuh di mana pun, meskipun kondisinya sulit. Baginya, Salvinia adalah simbol ketekunan dan kemampuan bertahan hidup—sebuah harapan bahwa dirinya bisa menjadi kuat dan memberi kehidupan bagi orang lain, tidak peduli kondisi sekeliling. Nama itu kemudian menjadi pengingat bagiku, bahwa kepahlawanan bukan hanya soal keberanian di medan perang, tetapi juga tentang bertahan, memberi, dan membahagiakan orang-orang yang kita cintai.
Ayahku adalah sosok yang mempersembahkan jiwa dan raganya untuk keluarga. Ia bekerja sebagai dokter kandungan, sebuah profesi yang menuntut kesiapsiagaan tanpa batas—siang maupun malam. Telepon bisa berdering kapan saja, memanggilnya kembali ke rumah sakit atau ruang bersalin. Ada masa ketika beliau hanya tidur satu jam sehari. Bukan karena terpaksa, tetapi karena ia meyakini bahwa menyelamatkan kehidupan orang lain adalah bagian dari tanggung jawabnya. Ayahku adalah satu dari sedikit dokter yang memegang teguh Sumpah Dokter, sebagaimana prajurit TNI memegang teguh Sapta Marga.
Di tengah kesibukannya, ayah selalu dekat dengan anak-anaknya. Beliau selalu hadir ketika kami sarapan bersama, menyantap makanan yang telah disiapkan ibu. Menu andalan ibu sederhana: Indomie goreng yang benar-benar digoreng hingga kering, atau nasi goreng dengan telur dadar yang dipotong memanjang. Entah bagaimana, beliau tak pernah tampak mengantuk; matanya selalu cerah dan nyalang saat kami duduk di meja makan.
Pagi adalah waktu diskusi kami. Biasanya ayah bertanya tentang sekolah, lalu obrolan melebar ke hal-hal lain—politik dan sepak bola, dua hal yang sangat ia gemari. Dulu, sewaktu kuliah di Fakultas Kedokteran salah satu universitas negeri di Padang, ayah adalah kiper tim sepak bolanya. Jari telunjuk kanannya bahkan bengkok permanen karena menahan bola agar tidak menjebol gawangnya.
Selain sepak bola, ayah selalu membawa kami jalan pagi mengelilingi Kampuang setiap Minggu pagi. Ia ingin anak-anaknya bergerak, merasakan udara pagi, dan belajar disiplin dari olahraga. Kadang, aku dan adik-adikku mengeluh capek, tapi ayah selalu tertawa dan mampu membuat kami yang kelelahan menjadi bersemangat kembali. Rute jalan pagi biasanya berakhir di warung lontong pical milik Ibu Ketua, dengan rasa manis dan gurih yang selalu membuatku ingin menambah porsi.
Ayah juga menjadi teman diskusi terbaik bagi anak-anaknya, terutama bagiku, si sulung yang sering memberontak. Kami sering membahas soal bola, politik dalam dan luar negeri, hingga filsafat. Lucunya, jauh sebelum aku mengenal anak-anak PBG (Partai Bintang Gerigi), ayah sudah lebih dulu mengenal Sudiman Budjatmiko, Ketua PBG pertama. Ayah mengira Sudiman adalah alumnus Filsafat UGM, padahal ia sebenarnya—kalau tidak salah—adalah protolan FE UGM.
Setelah ayah terkena stroke pada 2015 dan kehilangan kemampuan bicaranya, aku pun kehilangan teman diskusiku. Hari-harinya diisi dengan rasa marah yang meledak-ledak, karena salah satu saraf pengendali emosi di otaknya tampaknya rusak akibat serangan stroke. Stroke itu sendiri dipicu oleh asma kronis—paru-parunya tak mampu lagi memompa oksigen cukup, membuat otaknya kekurangan oksigen dan merusak sistem sarafnya.
Satu hal yang selalu kuingat tentang kepahlawanan ayahku terjadi ketika aku ngotot menyetir mobil dari Kampuang menuju Padang. Saat itu aku sedang rutin mengonsumsi obat saraf dari seorang psikiater—teman ayah—karena depresi saat kuliah. Obat itu membuat reflex-ku berkurang dan tidurku tidak nyenyak, sehingga aku mudah mengantuk.
Setibanya di Sukarami, seorang bapak tua yang mengendarai motor tiba-tiba berbelok kanan tanpa lampu sen. Aku tak mampu menginjak rem tepat waktu. Mobil sedan yang kukendarai menabraknya.
Kami segera berhenti. Ayah dengan sigap menyetop sebuah angkot menuju Kampuang dan mendorongku masuk ke dalamnya. Dari balik kaca angkot, aku melihat seorang anak dari bapak tua itu memukul ayahku. Aku hanya bisa marah, geram, dan sedih.
Beberapa hari kemudian, kami datang ke rumah bapak tua itu. Anaknya yang telah memukul ayah langsung meminta maaf berulang-ulang. Bagaimana tidak? Ayahkulah yang mengobati dan menjahit luka bapak itu—di Rumah Sakit Tentara di Kampuang.
Namun, kepahlawanan ayahku tidak hanya terlihat di momen heroik itu. Aku teringat malam-malam sebelum ia pergi dinas malam pada malam minggu, ayah akan menidurkan kami dulu, membacakan cerita, atau sekadar menemani hingga kami tertidur. Biasanya, ketika kami terbangun Minggu siang, ayah sudah pulang ke rumah, jadi boleh dikata, kami tidak merasakan ayah pergi, karena dalam kondisi tertidur.
Cerita ayah selalu berkesan, sehingga terkadang aku sampai terbawa perasaan, bahkan pernah menangis dibuatnya, dan meminta ayah mengubah cerita supaya jadi happy ending, atau berakhir bahagia.
Aku sering menyesali sikapku yang kadang melukai hatinya. Tapi mau bagaimana lagi? Aku manusia yang banyak berbuat salah. Sejak kecil orang tuaku bercerita bahwa aku selalu melakukan kebalikan dari apa yang mereka perintahkan. Entahlah. Apakah karena golongan darahku B, atau otakku yang terbalik?
Hampir sepuluh tahun sudah sejak ayah pergi, pada sebuah dini hari yang tenang dan sendu. Saat itu aku sedang berada di kereta menuju Jakarta, berniat mengikuti tes staf ahli di sebuah lembaga legislatif. Tes itu gagal, dan ayah berpulang sebelum aku sempat kembali. Aku menangis meraung-raung di sebuah hotel jam-jam-an di stasiun Gambir. Tidak menyangka dan tidak rela beliau pergi, karena aku masih merasa belum berbuat apa-apa untuk beliau dan ibu.
Kini, hampir sepuluh tahun setelah kepergian ayah, aku baru memahami makna kalimat yang dulu sering ia ucapkan:
“Hidup itu bukan soal berhasil atau tidak, akan tetapi adalah pada apakah kita mendapatkan apa yang kita senangi, ataukah kamu menyenangi apa yang kamu dapatkan. Jika tidak bisa mendapatkan apa yang disenangi, maka senangilah apa yang telah kamu dapatkan. Begitu cara kita bersyukur atas pemberian Tuhan kepada kita.”
Aku paham bahwa kepahlawanan ayahku bukan lahir karena beliau ikut berjuang merebut kemerdekaan atau perang membela tanah air, melainkan pada perjuangannya untuk membahagiakan kami, keluarganya, anak-anaknya, dan istrinya.
Warisan terbesar ayahku bukanlah rumah sakit yang kini dikuasai adikku, melainkan cara menjadi manusia yang baik pada sesama, pada keluarga, istri, dan anak-anakku. Aku memang tidak sekaya adikku, tetapi aku tak pernah menelantarkan kedua anakku—Ali, yang sehari-harinya menggunakan kursi roda, dan Fatimah, yang belum bisa bicara.
Hari ini, aku masih berdiri di tengah terpaan badai kehidupan. Itu karena darah ayahku yang mengalir dalam nadiku. Kepahlawanan ayahku nyata, bukan sekadar kata.
Aku selalu mencoba meneladani beliau, meski kadang kesabaran masih harus kupelajari. Aku ajarkan anak-anakku cinta, perhatian, dan ketekunan, sama seperti ayahku mengajarkan aku. Meskipun tidak mewarisi rumah sakit atau profesi dokter, aku mewarisi ajaran hidup yang sesungguhnya—kepahlawanan dalam keluarga, dalam kasih, dan dalam kebaikan sehari-hari.
Untuk ayahku, Mursal Salvina, lelaki yang tak pernah menuntut apa pun dari hidup, tetapi selalu memberi, aku berdoa: semoga Allah SWT mengampuni seluruh dosanya, menerima pengorbanannya, dan menjadikan kebaikannya cahaya penerang bagi jalan anak-anaknya.
Bagiku, itulah kepahlawanan yang paling sejati. Bukan sekadar gelar, rumah sakit, atau prestasi, tetapi cara hidupnya, ketekunannya, dan cinta yang ia tinggalkan untuk anak-anaknya. Seperti tanaman Salvinia, kepahlawanan ayah tumbuh dan bertahan di segala kondisi, menyebarkan kehidupan dan kebaikan di mana pun ia berada.

