Bisakah Neurosains Menjelaskan Tentang Hakikat Ruh?

Refleksi atas QS. Al-Isra’ [17]: 85 di Era Modern

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberikan pengetahuan kecuali sedikit.” (QS. al-Isra’ [17]: 85)

Misteri yang Tak Akan Pernah Usai

Hari ini, para ilmuwan dapat melihat bagaimana otak bekerja melalui mesin pemindai yang canggih. Mereka bisa membaca gelombang listrik otak di layar komputer, memprediksi sebuah keputusan sepersekian detik sebelum kita menyadari hal itu, bahkan mampu mengubah emosi lewat stimulasi listrik. Semuanya ini membuat sebagian orang meyakini bahwa kesadaran manusia hanyalah produk reaksi kimia dari otak.

Namun, apakah penjelasan saintifik seperti itu mampu untuk menjawab pertanyaan kuno (di masa Kanjeng Nabi Muhammad saw); apa itu ruh?

Di sisi lain, seorang pembaca Al-Qur’an menutup mushafnya sambil merenungkan ayat QS. al-Isrā’ [17]: 85. Sebuah ayat yang sejak 14 abad lalu sudah menjawab pertanyaan yang bahkan teknologi MRI (Magnetic Resonance Imaging) tercanggih pun belum bisa pecahkan.

Pertanyaan tentang ruh adalah salah satu misteri paling kuno sekaligus paling modern. Orang-orang di zaman Nabi Muhammad saw menanyakannya sebagai ujian kenabian. Para filsuf Yunani membahasnya dalam kerangka psyche (jiwa, atau sesuatu yang membuat tubuh hidup, berpikir, dan merasakan).  Dan hari ini, para ilmuwan otak menelitinya di bawah sinar mesin pemindai.

Namun, apakah kemajuan ilmu mampu mengungkap terkait apa yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai “urusan Tuhan”?

Tafsir Klasik: Ruh dalam Ruang Misteri Ilahi

Para mufassir klasik secara sepakat mengatakan bahwa hakikat ruh tetap berada di luar akses jangkauan manusia. Imam Al-Ṭabarī, dalam Jāmi‘ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān, menafsirkan bahwa pertanyaan tentang ruh diajukan kaum Yahudi untuk menguji kenabian Muhammad saw, dan Allah swt menjawab dengan menunjukkan keterbatasan sekaligus kekurangan pengetahuan manusia.

Imam Fakhr al-Dīn al-Rāzī, dalam Mafātīḥ al-Ġayb, menampilkan banyak pandangan. Ruh sebagai udara halus yang menghidupkan jasad, jiwa non-materi, Malaikat Jibril, bahkan wahyu. Setelah memaparkan semuanya, ia menutup dengan pernyataan bahwa kebenaran hakikat ruh tetap rahasia Ilahi.

Hal yang senada juga dikemukakan Imam Ibn Kaṯsīr dalam tafsirnya. Menurutnya, ruh merupakan ciptaan Allah swt yang secara hakikat hanya diketahui oleh-Nya. Ia mengutip pendapat Ibn ‘Abbas yang menyebut ruh sebagai salah satu rahasia Allah swt yang tidak digambarkan secara rinci kepada manusia secara umum.

Imam Al-Ġazālī dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn memberikan perspektif yang unik. Ia membedakan antara ruh secara biologis, yakni semacam uap halus yang bersumber dari jantung, sebagaimana dipahami dokter, dan ruh secara spiritual, yakni latifah ‘alimah mudrikah, entitas halus yang berpengetahuan dan memahami. Baginya, ayat QS. al-Isra’ [17]:85 menunjuk pada ruh dalam pengertian kedua. Amr rabbani (perkara Ilahi) yang hakikatnya menakjubkan dan jauh melampaui jangkauan akal manusia.

Neurosains dan Filsafat Pikiran: Kesadaran di Meja Bedah

Ilmu otak modern sudah bisa membongkar kesadaran manusia layaknya mesin. Dari bagian otak yang memunculkan rasa takut, hingga titik area yang menyimpan memori, hampir seluruh aspek manusia bisa dipetakan. Sehingga lahir pandangan bahwa “diri” hanyalah hasil kerja biologis otak.

Namun demikian, filsafat pikiran masih menyisakan ruang perdebatan. Pemikir materialis seperti Daniel Dennett atau Patricia Churchland berpendapat bahwa kesadaran tidak lebih dari proses fisik. Namun David Chalmers memperkenalkan istilah the hard problem of consciousness; mengapa aktivitas otak melahirkan pengalaman subjektif? Mengapa rasa sakit terasa “sakit”, dan warna merah terasa “merah”? Pertanyaan ini tetap tak terjawab oleh sains.

Apakah “ruang kosong” inilah tempat bersembunyinya ruh?

Dimensi Ruḥ dalam Epistemologi Islam

Dalam tradisi keilmuan Islam, ruh bukan hanya entitas metafisik, tetapi juga pusat dari kesadaran spiritual manusia. Konsep ruh mengandaikan eksistensi manusia bukan hanya sebagai makhluk fisik, tetapi sebagai makhluk rohani yang memiliki potensi ilahiyah. Hal ini ditegaskan dalam QS. Al-Hijr [15]:29 bahwa manusia diberi “ruḥ-Ku”, menandakan ruh sebagai sesuatu yang berasal langsung dari Tuhan. Oleh karena itu, tidak heran jika sains yang beroperasi dalam domain empiris tidak sanggup menjangkau hakikat ruh yang berada di luar ruang dan waktu. Dalam epistemologi Islam, ilmu diperoleh bukan hanya melalui indera dan akal, tetapi juga melalui qalb (hati spiritual), yang menjadi sarana kontak dengan alam ruhani (Nasr, 1997).

Peran Wahyu sebagai Panduan Ontologis

Modernitas telah mempersempit cara pandang manusia hanya pada hal-hal yang terukur, dan dalam proses ini, ruh direduksi menjadi gejala neurologis belaka. Padahal, wahyu menawarkan kerangka ontologis yang menempatkan manusia sebagai makhluk dua dimensi, jasmani dan ruhani. Imam Ibn Sina, dalam karyanya Al-Nafs, memandang ruh sebagai substansi non-materi yang mandiri dari tubuh, meskipun keduanya saling berinteraksi. Pemahaman ini mengoreksi reduksionisme saintifik dan membuka ruang bahwa kesadaran tidak bisa direduksi hanya pada aktivitas otak. Wahyu menegaskan bahwa ruh adalah amr Rabbani, perintah atau ciptaan yang secara esensial bersifat ilahiah dan tidak tunduk pada hukum-hukum materi.

Sains: Cahaya yang Terbatas di Tengah Kegelapan yang Luas

Kendati sains memberi cahaya terang dalam menjelaskan fenomena dunia, ia tetap ibarat lilin di tengah gelapnya semesta pengetahuan Ilahi. QS. Al-Kahfi [18]:109 menyatakan bahwa jika lautan dijadikan tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhan, niscaya lautan itu akan habis sebelum kalimat-kalimat-Nya selesai ditulis. Ayat ini menjadi pengingat bahwa pencarian ilmiah adalah usaha luhur, namun tetap harus dibingkai dengan kesadaran akan keterbatasan manusia. Ruh adalah salah satu dari wilayah keghaiban (‘alam al-ghaib) yang hanya bisa dikenali melalui perenungan, spiritualitas, dan petunjuk wahyu, bukan sekadar observasi laboratorium.

Pertemuan Dua Dunia: Sains Sebagai Cermin

QS. al-Isra’ [17]:85 tidak menutup pintu terhadap sains, namun ia justru memberi batas epistemologis. Ilmu pengetahuan bisa menjelaskan “bagaimana” kesadaran bekerja, tetapi bukan “apa” hakikat terdalamnya.

Pemikir Muslim kontemporer seperti Seyyed Hossein Nasr mengkritik sains modern yang tercerabut dari dimensi metafisik, sehingga kehilangan pandangan vertikal tentang manusia. Mulyadhi Kartanegara menegaskan perlunya menyatukan kedua hal ini. Neurosains mengungkap mekanisme otak, sementara wahyu samawi memberi makna terdalam bagi manusia.

Dalam tradisi tasawuf, ruh justru dipahami sebagai jembatan menuju Yang Transenden dan memasrahkannya kepada-Nya. Kesadaran spiritual ini tidak terikat pada syaraf atau sinapsis, tetapi berakar pada keterhubungan manusia dengan Tuhan.

Ruh dan Krisis Makna di Era Modern

Di tengah era pascamodern, manusia mengalami disorientasi makna karena tercerabut dari akar transendentalnya. Sains yang kehilangan nilai spiritual menjadikan manusia hanya sebagai objek eksperimen biologis. Padahal, tanpa pemahaman tentang ruh, manusia tak ubahnya mesin organik yang kehilangan arah. Ini sesuai dengan kritik Charles Taylor dalam The Secular Age bahwa masyarakat modern kehilangan “ruang sakral” yang dulu mengisi hidup dengan makna. QS. Al-Isra’ [17]:85 mengajak manusia untuk menyadari dimensi spiritual ini, bahwa di balik kesadaran terdapat ruh yang bukan milik otak, namun berasal dari Tuhan.

Ruang untuk Rendah Hati

Perkembangan neurosains menjadikan kita lebih paham bagaimana cara otak bekerja dibandingkan seratus tahun lalu. Namun QS. al-Isra’ [17]:85 memberikan “alarm” bahwa ada wilayah yang sama sekali tidak bisa ditembus mikroskop atau algoritma.

Mungkin rahasia ruh bukan untuk dijelaskan secara rinci dan gamblang. Sebaliknya, untuk menumbuhkan rasa tawadhu’ dan kerendahan hati. Bahwa betapapun luasnya ilmu, pengetahuan manusia tetap tak lebih setetes dari samudra Ilahi. Wallohu  a’lam bis-showwab.

Referensi

  1. Al-Qur’anul Karim.
  2. Al-Ghazālī. Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn. Beirut: Dar al-Fikr.
  3. Nasr, Seyyed Hossein. Knowledge and the Sacred. SUNY Press, 1997.
  4. Ibn Sina. Kitab al-Nafs, dalam Al-Shifa’.
  5. Chalmers, David. The Conscious Mind: In Search of a Fundamental Theory. Oxford University Press, 1996.
  6. Taylor, Charles. The Secular Age. Harvard University Press, 2007.

Muhammad Rusidi
Muhammad Rusidi
Dewan Asatidz PPM Aswaja Nusantara

Related Articles

Artikel baru