Tradisi Ngabdul Qodiran di Era Modern

Pelestarian Nilai-nilai Spiritual dan Simbolisme oleh Generasi Muda Mlangi

Abstrak Penelitian

Ngabdul Qodiran Mlangi mengadopsi dari amalan Syaikh ‘Abd al-Qadir al-Jaylani. Sejarah amalan ngabdul qodiran ini dimulai dari guru ke guru, guru ke murid–murid, jadi sampai pada saat sekarang ini, jadi dari murid dapat ijazah dari gurunya kemudian di turunkan lagi, diturunkan lagi sampai sekarang ini, ilmu yang turun-temurun silsilahnya keilmuan. Di acara Ngabdul Qodiran, yang dibaca adalah surat- surat pilihan serta zikir sebagai asmaul husna, sholawat, dan doa. Di penghujung acara terdapat suguhan hidangan yang khas yang tidak dapat dipisahkan dalam rangkaian tradisi Ngabdul Qodiran, yang semuanya mempunyai makna sendiri dan mengandung harapan besar. Penerimaan dan pelestarian tradisi Ngabdul Qodiran di Mlangi diterima dan dipertahankan oleh generasi muda.  Pentingnya pendidikan tentang sejarah, makna, dan nilai-nilai tradisi Ngabdul Qodiran perlu melibatkan generasi muda dalam persiapan dan pelaksanaan acara. Dengan merasa bagian dari sebuah komunitas yang menghargai tradisi ini, generasi muda akan merasa turut menjaga minatnya pada tradisi ini.

Kata   Kunci:   Syaikh Abdul Qodir Al-jailani, Ngabdul qodiran, sejarah, generasi muda

Latar Belakang Penelitian

Kampung santri Mlangi merupakan pedusunan kecil yang terletak di sebelah barat daya kota Yogyakarta. Kampung santri Mlangi, untuk selanjutnya disebut Mlangi, merupakan salah satu daerah “istimewa” di Yogyakarta. Mlangi disebut-sebut sebagai “Serambi Mekahnya” provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, karena berbagai hal yang melatarinya. Pertama, banyaknya pesantren sebagai pusat pendidikan Islam tradisional di kampung tersebut. Paling tidak hingga kini terdapat lebih dari 14 pesantren di Mlangi dengan jumlah santri masing-masing pesantren kisaran antara 50 hingga 300 santri tiap pesantren. Hampir kesemuanya pesantren tersebut bercorak Islam tradisional yang sangat menjunjung tinggi budaya lokal, khususnya budaya Islam keraton.

Kedua, kehidupan keseharian masyarakat yang sangat agamis dan dinamis. Kenyataan ini ditunjang dengan pemahamaan keagamaan masyarakat, tradisi kehidupan yang berkembang ala santri, dan beberapa perkumpulan tarekat  yang ada.

Ketiga, di Mlangi terdapat salah satu cagar budaya berupa masjid Jami Mlangi yang didirikan keraton Yogyakarta pada tahun 1760-an. Posisi ini pula yang menjadikan Mlangi sebagai salah satu Pathok Nagari, yakni benteng penjaga spiritualitas dan moralitas agama keraton Yogyakarta.

Dimensi kesejarahan dan sosiokultural Mlangi menjadikan ia menarik untuk diteliti dari berbagai sudut pandang termasuk salah satunya sudut pandang agama dan kebudayaan. Titik menariknya dalam kerangka agama dan budaya adalah tradisi, ritual, seni, dan religi yang diwarisi dari keraton dan Islam tradisional masih langgeng hingga kini. Budaya yang ada mencerminkan harmoninya integrasi Islam dan budaya Jawa-keraton ini dapat kita saksikan dalam berbagai bentuk kebudayaan yang masih dilesatarikan masyarakat di Mlangi. Tradisi, ritual, seni, dan berbagai ekspresi kebudayaan lain yang ada di Mlangi tidak lepas dari sosok Kyai Nur Iman yang dikenal sebagai pendiri kampung Mlangi. Kyai Nur Iman menjadi aktor kebudayaan sekaligus memainkan peran sebagai transmitter pengetahuan agama Islam bagi masyarakat Mlangi. Sehingga budaya yang berkembang, baik dalam ranah material maupun immaterial, menjadi unik atau berbeda dari kebudayaan besar (great tradition) yang ada.

Tradisi Ngabdul Qodiranan merupakan salah satu tradisi keagamaan yang masih sangat dihormati oleh masyarakat Yogyakarta. Tradisi ini berasal dari ajaran tasawuf yang diperkenalkan oleh Syekh Abdul Qodiran al-Jailani, seorang ulama besar yang berasal dari wilayah Baghdad pada abad ke-12. Tradisi ini di Indonesia telah berkembang menjadi berbagai macam varian, salah satunya di Mlangi, Yogyakarta. Tradisi Ngabdul Qodiran di Mlangi Yogyakarta telah ada sejak masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I dan hingga saat ini masih tetap dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat. Oleh karena itu, penelitian tentang tradisi Ngabdul Qodiran di Mlangi Yogyakarta sangat penting dilakukan untuk mengungkap lebih lanjut mengenai bagaimana tradisi ini terbentuk, berkembang, dan dilestarikan oleh masyarakat setempat.

Perumusan Masalah

Rumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana asal usul tradisi Ngabdul Qodiran di Mlangi Yogyakarta?
  2. Bagaimana tradisi Ngabdul Qodiran di Mlangi Yogyakarta dipraktikkan oleh masyarakat setempat?
  3. Bagaimana tradisi Ngabdul Qodiran di Mlangi Yogyakarta diterima dan dipertahankan oleh generasi muda?

Studi Pustaka

Ngabdul Qodiran

Istilah Ngabdul Qodiranan diambil dari kata ‘Abd al-Qadir yang dinisbatkan kepada nama Syaikh Abd al-Qadir al-Jaylani. Asal-usulnya amalan ini berawal dari Syaikh ‘Abd al-Qadir al-Jaylani sendiri yang mengamalkannya ketika mempunyai hajat. Ia melakukannya dengan berdoa bersama–sama dengan jamaahnya. Sebelum acara doa berlangsung Syaikh ‘Abd al-Qadir al-Jaylani biasa menjamu jamaahnya dengan jamuan hidangan yang lezat dan nikmat agar hati para jamaah senang dan ikhlas. Dengan begitu Syaikh ‘Abd al-Qadir al-Jaylani berharap akan dikabulkannya doa yang dipanjatkan dikarenakan ikhlasnya hati orang yang berdoa (Basir, 2019).

Basir (2019) telah meneliti tradisi ngabdul qodiranan yang ada di pesantren Al Luqmaniyyah Yogyakarta dengan meneliti simbolisasi tradisi ngabdul qodiranan tersebut.

Metodologi Penelitian

  • Waktu dan Tempat Penelitian: Waktu: Juli-Agustus 2023. Tempat: Dusun Mlangi, Kalurahan Nogotirto, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
  • Metode yang Digunakan: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian ini menggunakan teori antropologi sosial dan sejarah untuk membahas mengenai asal usul, perkembangan, dan pengaruh tradisi Ngabdul Qodiranan di Mlangi Yogyakarta. Dalam konteks antropologi sosial, penelitian ini akan menggunakan teori tentang kebudayaan, ritual, dan simbol-simbol keagamaan. Dalam konteks sejarah, penelitian ini akan menggunakan teori tentang sejarah lisan, pengaruh agama dan kebudayaan pada masyarakat, serta teori tentang sejarah lokal dan nasional.

Subjek dan Objek Penelitian

Subjek penelitian adalah tokoh-tokoh masyarakat yang terlibat aktif dalam tradisi Ngabdul Qodiran di Mlangi Yogyakarta. Objek penelitian adalah praktik tradisi Ngabdul Qodiran di Mlangi Yogyakarta.

Teknik dan Alat Pengumpul Data

  • Wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh masyarakat.
  • Observasi berupa partispasi atau pun menyimak dan mengamati praktik tradisi Ngabdul Qodiran
  • Studi dokumentasi berupa foto, video kegiatan aktivitas pelaksanaan dan data setempat .

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis tematik.

  • Analisis deskriptif untuk mendeskripsikan praktik tradisi Ngabdul Qodiran di Mlangi Yogyakarta.
  • Analisis tematik untuk mengidentifikasi pola-pola yang terdapat dalam praktik tradisi Ngabdul Qodiran di Mlangi Yogyakarta.

Hasil dan Pembahasan

Tradisi Ngabdul Qodiran di Dusun Mlangi Nogotirto Yogyakarta

Dusun Mlangi Nogotirto Yogyakarta atau disebut kampung santri Mlangi merupakan pedusunan kecil yang terletak yang memiliki banyak pesantren sebagai pusat pendidikan Islam tradisional di kampung tersebut. Hampir kesemuanya pesantren tersebut bercorak Islam tradisional yang sangat menjunjung tinggi budaya lokal, khususnya budaya Islam keraton. Ada berbagai macam kegiatan, baik itu acara tahunan seperti acara Harlah al-Tashakur lil Ikhtitam dan Haul Kyai Nur Iman, khataman, tedak siten, malam songolikuran, maulidan, dan Ngabdul Qodiran, acara mingguan seperti seperti manaqiban al barzanji di pondok pesantren. Namun di sini penulis akan lebih memfokuskan pembahasan pada tradisi Ngabdul Qodiran.

Istilah Ngabdul Qodiran diambil dari kata ‘Abd al-Qadir yang dinisbatkan kepada nama Syaikh Abd al-Qadir al-Jaylani. Asal-usulnya amalan ini berawal dari Syaikh ‘Abd al-Qadir al-Jaylani sendiri yang mengamalkannya ketika mempunyai hajat. Ia melakukannya dengan berdoa bersama–sama dengan jamaahnya. Sebelum acara doa berlangsung Syaikh ‘Abd al-Qadir al-Jaylani biasa menjamu jamaahnya dengan jamuan hidangan yang lezat dan nikmat agar hati para jamaah senang dan ikhlas. Dengan begitu Syaikh ‘Abd al-Qadir al-Jaylani berharap akan dikabulkannya doa yang dipanjatkan dikarenakan ikhlasnya hati orang yang berdoa.

Ngabdul Qodiran yang dilaksanakan di Dusun Mlangi Nogotirto Yogyakartaini mengadopsi dari amalan Syaikh ‘Abd al-Qadir al-Jaylani.  Amalan ini tidak terlepas dari pengaruh ulama’-ulama yang ada di Mlangi. Dengan banyaknya pesantren yang berdiri dengan mengajarkan ke murid-murid di ponpes dan masyarakat sekitar yang melestarikan amalan ini membuat tradisi terus terjaga.

Pembacan bacaannya tidak sembarang orang, mereka adalah bapak-bapak yang telah memiliki ijazah seperti Kyai Handan dan Kyai Ahsan Zuhri untuk membaca ngabdul qodiran atau yang berpengalaman, dan pesertanya adalah bapak-bapak tetangga yang diundang si pengada acara. Tujuannya adalah sama, memohon sesuatu kepada Allah dengan melakukan wasilah kepada Syaikh ‘Abd al-Qadir al-Jaylani. Ngabdul Qodiran dilaksanakan dengan membaca surat al-Waqi’ah, al-‘Alaq, dan surat al-Zalzalah. Bacaan ditambah dengan surat al-Dhuha jika pagi hari, jika dilakukan malam hari maka ditambah surat al-Layl. Setelah itu dilanjutkan dengan membaca sebagian asma al-husna yakni (Ya alim, Ya Mubin, Ya Hadi, dan Ya Khobir) sebanyak 100 kali. Dilanjutkan dengan membaca shalawat sebanyak-banyaknya sambil menunggu jamaah lain selesai membaca surat-surat tadi.

Uniknya dari hidangan dalam acara Ngabdul Qodiran ini, ada menu spesial yang selalu sama setiap kegiatan ini dilakukan. Di antaranya adalah ayam kampung jago  putih opor dan ingkung dan tujuh macam sayur yang terdiri dari ayam santan, ayam goreng, sayur bakmi, sayur capcay, tempe bacem, telur ceplok, sayur kothok.

Gambar 1. Menu Opor Ayam untuk Jamaah Ngabdul Qodiran

Selain tujuh jenis sayur tersebut, berbagai jajanan pasar dan buah-buahan juga sudah tersaji di tengah majelis. Penggunaan buah-buahan terutama apel dan anggur adalah buah kesukaan Syaikh ‘Abd al-Qadir al-Jaylani seperti yang tertera pada kitab manaqib Nurul Burhani.

Hal ini diharapkan ketika jamaah melihat makanan begitu banyak maka sebagai manusia akan tumbuh rasa keikhlasan dalam diri jamaah. Sedang dalam bahasa jawa, tujuh itu pitu. Pitu menunjukkan arti pitulungan atau pertolongan.

Angka 7 seringkali disebut sebagai  simbolisme spiritualitas dalam berbagai agama dan kepercayaan.  Dalam Islam, angka 7 memiliki makna penting seperti 7 lapis langit dan tujuh lapis bumi, dan sering disebut dalam hadist. Angka 7 juga sering dikaitkan dengan keberkahan dan kelimpahan. Dalam budaya banyak negara, tujuh adalah angka yang melambangkan kelimpahan dan keberuntungan. Oleh karena itu, menghadirkan makanan tujuh macam dan tujuh orang yang membaca doa mungkin dimaksudkan untuk mengundang keberkahan (Maulana, 2022).

Semua menu tersebut dimasak dan disiapkan oleh para abdi ndalem, contoh pada kasus ini adalah di PPM Aswaja Nusantara Mlangi Pusat dan didampingi oleh ibu-ibu lanjut usia yang sering laden masak di Mlangi.

Menu unik lainnya adalah nasi yang dimerahkan, yaitu nasi merah khas Mlangi atau nasi kebuli Mlangi. Kebuli diambil dari kata qobul yang dalam bahasa Arab artinya diterima apa yang didoakan. Nasi kebuli adalah nasi yang cara masaknya dibumbui dengan santan dan garam sehingga rasanya gurih. Serta tak lupa ditambah dengan kecap sehingga warna nasinya menjadi kehitam-hitaman.

Pelaksanan Ngabdul Qodiran

Ngabdul Qodiran di Dusun Mlangi Nogotirto Yogyakarta ini tidak ada ketentuan waktu tertentu, hanya mengikuti jadwal hari si penyelenggara, yang penting sebelum acara besar dilaksanakan. Contoh lain pada waktu sesuai permintaan shohibul hajat seperti haji, umroh dan tujuh bulanan. Pesertanya adalah tamu undangan warga sekitar. Jamaah duduk melingkar di tepi ruangan aula atau ruang tamu. Pembaca Ngabdul Qodiran berada diposisi depan dan dihapannya ada hidanga serba 7 tadi. Semua hidangan diletakkan di tengah-tengah para jamaah dengan posisi terbuka tanpa tutup agar ada doa yang dipanjatkan bisa meresap ke dalam hidangan tersebut. Jadi sering dikatakan dengan makanan yang mengandung doa.

Gambar 2. Pelaksanaan Ngabdul Qodiran

Acara baru akan di mulai ketika semua pembaca sudah hadir dalam majelis. Diawali dengan pembagian pembacaan surat yang diwakilkan oleh beberapa orang yang sudah ditunjuk. Kemudian bertawasul kepada Nabi, Syaikh Abdul Qodir, alim ulama, dan kepada semua umat muslim dan muslimat. Jamaah membaca bagian surat yang sudah di bagi sementara lainnya membaca sholawat sebanyak-banyaknya sampai yang mendapat bagian membaca surat sudah selesai. Acara di akhiri dengan doa penutup. Setelah itu dilanjutkan dengan acara menyantap hidangan yang sudah mengandung doa tadi. Semua hidangan dikeluarkan dari ndalem lalu diracik menjadi sajian piringan siap saji (Gambar 3).

Gambar 3. Hidangan Khas Ngabdul Qodiran Dibagikan ke Jamaah

Memaknai Tradisi Ngabdul Qodiran

Bagi Clifford Greettz selain merupakan fenomena budaya suatu masyarakat, tugas antropolog adalah menemukan makna dalam yang ada di dalam fenomena tersebut, berdasarkan apa yang diketahui, dirasakan, dan dialami oleh pelaku budaya. Inilah yang disebut Greettz sebagai from the native’s ponit of view, yang merupaka hakikat dari pemahaman antropologis. Proses menemukan makna di balik simbol-simbol kehidupan yang diekspresikan oleh masyarakat dan memahaminya dari sudut pandang mereka merupakan konsep dari antropologi interpretatif. Melalui simbol, ide dan adat istiadat Greetts menemukan pengaruh agama berada di setiap sudut kehidupan masyarakat. Greettz mengemukakan teorinya bahwa Agama sebagai satu sistem kebudayaan, mendefinisikan bahwa agama merupakan (1) satu sistem simbol yang bertujuan untuk (2) menciptakan perasaan dan motivasi yang kuat, mudah menyebar dan tidak mudah hilang dalam diri seseorang (3) dengan cara membentuk konsepsi tentang sebuah tatanan umum eksistensi dan (4) melekatkanakan konsepsi ini kepada pancaran–pancaran faktual, (5) dan pada akhirnya perasaan dan motivasi ini akan terlihat sebagai suatu realitas yang unik.

1) Memuliakan Ulama

Hampir semua amalan–amalan yang menjadi tradisi yang dilakukan oleh santri pondok pesantren atau jamaah pengajian adalah tradisi yang dibawa dan diajarkan oleh guru-guru atau Kiai terdahulu. Dari generasi ke generasi, para Kiai menganjurkan dan mengajak santri dan jamaah pengajian untuk melakukan tradisi, termasuk Ngabdul Qodiran. Dengan peran Kiai tersebut, santri dan para jamaah selalu berusaha untuk melestarikan tradisi yang telah diajarkan.

Bagi santri pondok pesantren dan jamaah, Kiai mempunyai otoritas yang tinggi dalam hal keagamaan. Karena otoritas itulah, santri dan jamaah merasa perlu memuliakan para Kiai dengan mengamalkan tradisi yang telah diajarkan dan meminta doa atau “ngalap barokah” kepada para Kiai. Di sinilah terlihat bagaimana peran sentral seorang Kiai dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat secara umum, tidak hanya sebatas dalam lingkungan pesantren. Bahkan peran tersebut tidak hanya menyangkut urusan keagamaan, tetapi juga dalam hal sosial, ekonomi, budaya, maupun politik. Peran sentral inilah yang oleh Greettz kemudian memberikan istilah Kiai sebagai “Cultural Broker” bagi masyarakat Indonesia. Terdapat hadis yang artinya: “Nabi Saw bersabda: “Barang siapa memuliakan orang ‘alim, berarti ia telah memuliakan aku. Barang siapa yang memuliakan aku berarti memuliakan Allah. Barang siapa memuliakan Allah, maka tempat kembalinya adalah surga.”

Hadis di atas menjelaskan bahwa barang siapa yang memuliakan ulama maka akan masuk surga, sebagai tempat kembali. Sementara santri dan jamaah memahaminya sebagai cara untuk mendapatkan keselamatan, kebaikan, dan keberkahan. Di sini telihat suatu ultimate meaning, yaitu memperoleh keselamatan, kebaikan dan keberkahan.

2) Aura Faktualitas

Greettz mengatakan bahwa agama atau perspektif religius memperdalam pemusatan perhatinnya kepada fakta dan berusaha menciptakan aura faktualitas (mengandung kenyataan atau kebenaran).

Konsep agama tentang memuliakan ulama yang sudah ada di Pondok Pesantren memunculkan aura faktualitas sehingga akan tampak sebagai konsep yang dipercaya mengandung kebenaran. Konsep tentang otoritas atau kemuliaan ulama, memiliki landasan dari hadis Nabi yang menyatakan bahwa orang yang memuliakan ulama akan mendapatkan surga sebagai tempat kembali. Landasan inilah yang membuat konsep tersebut memunculkan aura faktualitas, sehingga dipercaya sebagai konsep yang benar dan nyata.

Penerimaan dan Pelestarian Tradisi Ngabdul Qodiran Di Mlangi Oleh Generasi Muda

Penerimaan dan pelestarian tradisi Ngabdul Qodiran di Mlangi, Yogyakarta, oleh generasi muda dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, budaya, dan lingkungan.

Pendidikan dan Kesadaran Budaya: Kesadaran budaya dan pengetahuan tentang warisan leluhur dapat membantu menjaga minat mereka dalam melanjutkan tradisi ini.

Partisipasi Aktif: Melibatkan generasi muda dalam persiapan dan pelaksanaan tradisi bisa menjadi cara efektif untuk memastikan keterlibatan mereka.

Relevansi dalam Kehidupan Modern: Ngabdul Qodiran juga merupakan bentuk syukuran dan dzikir dan doa bersama, dan sarana silaturahim oleh berbagai kalangan masyarakat serta media sedekah dan mempererat persaudaraan antar tetangga.

Kreativitas dan Inovasi: pendekatan kreatif dan inovatif dapat menjaga minat generasi muda terhadap tradisi ini termasuk penggunaan media sosial, teknologi, atau penggabungan elemen-elemen modern ke dalam acara tradisional. Karena belum banyak dokumentasi mengenai ngabdul qodiran ini.

Keterlibatan Komunitas: Tradisi yang memiliki dukungan luas dari komunitas lokal dapat membantu menjaga minat generasi muda.

Warisan Keluarga: Jika tradisi ini diwariskan dari generasi sebelumnya, keluarga dapat memainkan peran penting dalam melestarikan tradisi ini.

Simbolisasi Tradisi Ngabdul Qodiran

Pertama, yang dimaksud Greettz dengan “sebuah sistem simbol” adalah segala sesuatu yang memberi seseorang ide–ide. Dalam konteks ini tradisi Ngabdul Qodiran yang secara rutinitas dilakukan oleh jamaah Dusun Mlangi Nogotirto YogyakartaYogyakarta adalah sebuah ide yang datang atas fenomena amalan rutin dari syaikh Abdul Qodir bagaimana ia menjamu tamunya untuk mencari keikhlasan mereka agar doa bisa terkabul.

Kedua, saat dikatakan bahwa simbol–simbol tersebut “menciptakan perasaan dan motivasi” yang kuat dan mudah menyebar dan tidak mudah hilang dalam diri seseorang, kita dapat meringkaskannya dengan mengatakan bahwa agama menyebabkan seseorang merasakan atau melakukan sesuatu. Motivasi tentu memiliki tujuan–tujuan tertentu dan orang yang termotivasi tersebut akan dibimbing oleh seperangkat nilai tentang apa yang penting, yang baik dan buruk, yang benar dan salah bagi dirinya. Dalam konteks ini, jamaah Ngabdul Qodiran mengenal konsep keutamaan membaca Alquran. Konsep–konsep ini memunculkan aura faktualitas dan dirumuskan ke dalam simbol–simbol . Simbol–simbol yang dirumuskan itu, disampaikan secara persuasif oleh para Kiai. Mereka mengajarkan, mengajak, dan memberikan ijazah kepada generasi penerus. Agar menjalankan tradisi Ngabdul Qodiran tersebut. Penyampaian simbol- simbol itu, kemudian memotivasi seseorang untuk ikut melaksanakan tradisi tersebut.

Suatu sistem simbol adalah segala sesuatu yang memberikan ide-ide kepada seseorang. Dalam konteks ini ide-ide itu bersumber dari konsep-konsep agama. Konsep-konsep agama yang mengandung ultimate meaning, kemudian memunculkan aura fuktualitas pada tahap selanjutkan dirumuskan dalam bentuk simbol. Simbol ini kemudian disampaikan oleh otoritas dengan gaya persuasif, yang menyarankan suatu gaya hidup atau gaya tindakan tertentu. Adapun simbol-simbol yang terdapat dalam Ngabdul Qodiran adalah sebagai berikut:

  1. Simbol Surat Al – Qur’an. Makna surat – surat yang dibaca Ketika tradisi Ngabdul Qodiran dapat dilihat dari para tokoh dan menurut masyarakat umum. Menurut tokoh: Kiai Handan menjelaskan bahwa makna pembacaan surat – surat al quran dalam tradisi Ngabdul Qodiran adalah ta’abbudd li amrillah– ibadah yang dilakukan hanya semata mata karena allah. Menurut masyarakat: Jamaah memaknai surat–surat yang dibaca dalam pelaksanaan tradisi ngabdul qodiran sebagai sarana doa.
  2. Simbol tawasul kepada syaikh’ Abd al qodir al jaylani. Cara yang dilakukan untuk memuliakan ulama yang di lakukan dengan patuh,mengikuti para kiai dan ngalap berkah kepada mereka. Tawassul didefinisikan sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah dengan menggunakan wasilah. Tawassul ini bentuknya bermacam macam, ada yang dilakukan dengan melakukan amal amal shaleh, menyebut nama orang – orang yang dekat dengan allah baik dengan yang masih hidup maupun kepada yang telah meninggal dunia. Maka dibunuhlah sifat gumede tersebut dengan menyembelih ayam jago.
  3. Simbol nasi kebuli merah 2,5kg. Maknanya nasi kebuli adalah “qobuli”. Artinya diterima apa yang menjadi hajat kita , apa yang menjadi keinginan kita oleh Allah SWT.
  4. Simbol telur bebek. Telur seringkali dianggap sebagai kehidupan dan pembaruan. Bebek dikenal memiliki telur yang lebih kecil dan bewarna lebih gelap dibandingkan dengan telur ungags lainya seperti ayam. Telur bebek bisa diartikan sebagai symbol ketidaksempurnaan dan kesederhanaan dalam kehidupan.
  5. Jumlah serba 7 dari Bahasa jawa “pitu” dikaitkan dengan “ pitulung”. Tempenya 7, telurnya 7, orang yang membacakan amaliyahnya juga 7. dengan maksud untuk mendapat pertolongandari Allah.

Kesimpulan

  • Ngabdul Qodiran yang dilaksanakan di Dusun Mlangi Nogotirto Yogyakarta ini mengadopsi dari amalan Syaikh ‘Abd al-Qadir al-Jaylani.  Amalan ini tidak terlepas dari pengaruh ulama’-ulama yang ada di Mlangi. Dengan banyaknya pesantren yang berdiri dengan mengajarkan ke murid-murid di ponpes dan masyarakat sekitar.
  • Praktik ngabdul qodiran di mlangi Tujuan dari pelaksanaan ngabdul qodiran adalah agar si punya hajat besar bisa berhasil apapun hajatnya. Yang dibaca adalah surat surat pilihan serta dzikir asmaul husna, sedangkan jamaah membaca shalawat, kemudian ditutup doa. Terdapat beberapa hidamgan khas menu ngabdul qodiran yang serba 7.
  • Jika generasi muda diberikan pendidikan tentang sejarah, makna dan nilai-nilai tradisi ngabdu qodiran, maka tradisi akan terus terjaga. [ ]

Irkhas Aliyah
Santri PPM Aswaja Nusantara

Khirania Abellia Putri
Pendamping Akademik MTsN 4 Bantul

Azka Nurul Husna
Pendamping Akademik MTsN 4 Bantul.

Daftar Pustaka

  • Basir, Q.A. (2019). Simbolisasi Tradisi Ngabdul Qodiranan Di Pondok Pesantren Al Luqmaniyyah Yogyakarta: Kajian Living Qur’an. Diya’ al-Afkar: Jurnal Studi Al-Qur’an dan Al-Hadis. Vol 7, No. 02, Desember 2019, 342-352.
  • Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures: Selected essays. Basic Books.
  • Maulana, L. (2022). Angka 7, Misteri dan Simbol Kesempurnaan. Pojok Bahasa dan Filsafat.
  • Moleong, L.J. (2014). Metodologi penelitian kualitatif. Remaja Rosdakarya.
  • Nasr, S. H. (2007). The garden of truth: The vision and promise of sufism, Islam’s mystical tradition. HarperOne.
  • Pemerintah DIY. (2021). Wisata Religi Ngabdul Qodiran Mlangi. Retrieved from https://yogyakarta.go.id/v2/destination/wisata-religi-ngabdul-qodiran-mlangi.
  • Shihab, Q. (2006). Wawasan Alquran tentang Dzikir dan Doa. Jakarta: Lentera Hati, 2006.
  • Syafiq, A. (2020). Tradisi Ngabdul Qodiran di Mlangi Yogyakarta: Sejarah, Perkembangan, dan Dampaknya bagi Masyarakat. Jurnal Sosiologi, 1(1), 25-34.
  • Syam, N. (2011). Madzhab–Madzhab Antropologis. Yogyakarta: LKLIS.

*Artikel ini sebelumnya telah dimuat di Jurnal Aswaja Nusantara (Volume V, Oktober 2024).

Related Articles

Artikel baru