‎Jantung dan Anggur‎‎

Ada dua jenis Iran yang sampai kepada saya. Yang pertama datang melalui sebuah cerita tentang jantung. Yang kedua melalui sebuah kata: anggur.

‎Dan anehnya, keduanya membawa saya kepada pertanyaan yang sama: seberapa jauh sebenarnya jarak antara manusia dengan manusia?
‎
‎Nama orang dalam cerita pertama itu Hamid Reza Rajabzadeh.
‎
‎Ia dikenal sebagai pelantun syair-syair religius. Suaranya hidup di antara majelis, doa, dan ingatan kepada orang-orang suci. Tetapi kemudian hidupnya berakhir dalam sebuah tragedi yang sulit diterima oleh akal sehat.
‎
‎Dalam berbagai kabar yang sampai kepada saya, Hamid Reza disebut diculik dan disiksa selama beberapa hari oleh orang-orang yang dikaitkan dengan kelompok anti-Revolusi Iran. Kisah tentang kematiannya bahkan lebih mengerikan: tubuhnya dilukai, dadanya disayat, dan jantungnya disebut diambil ketika ia masih hidup. Perisitiwanya direkam
‎
‎Saya tidak tahu bagaimana seseorang bisa sampai pada titik itu.
‎
‎Sebab membunuh pun sebenarnya sudah terlalu jauh.
‎
‎Tetapi kebencian kadang-kadang tidak puas dengan kematian. Ia ingin tubuh. Ia ingin penghinaan. Ia ingin sebuah pertunjukan.
‎
‎Pada saat itulah saya teringat Karbala.
‎
‎Bukan karena setiap tragedi adalah Karbala. Dan tentu tidak ada tragedi yang dengan mudah dapat disamakan dengan apa yang terjadi pada Husain bin Ali.
‎
‎Tetapi Karbala meninggalkan sebuah pertanyaan yang terus hidup dalam sejarah manusia: apa yang terjadi ketika lawan politik tidak lagi kita lihat sebagai manusia?
‎
‎Husain dibunuh.
‎
‎Tubuhnya ditinggalkan.
‎
‎Kepalanya dipisahkan.
‎
‎Kuda-kuda melintas di atas jasad.
‎
‎Seakan-akan membunuh belum cukup.
‎
‎Barangkali kekejaman memang selalu membutuhkan satu tahap tambahan: menghapus kemanusiaan korban.
‎
‎Hamid Reza membawa ingatan saya ke sana.
‎
‎Tetapi kemudian saya mengenal Iran yang lain.
‎
‎Namanya Mohsen Maghrebi.
‎
‎Mohsen bukan penyair. Ia seorang intelektual. Seorang ahli pemodelan lingkungan. Ia hidup di Mashhad dan, karena keahliannya, dia terlibat sebagai konsultan teknik dalam lingkungan kompleks makam Imam Ali al-Ridha.
‎
‎Saya mengenalnya bukan melalui buku tentang geopolitik.
‎
‎Bukan pula melalui televisi.
‎
‎Saya mengenalnya melalui perjalanan seminar internasional dan ziarah.
‎
‎Dan perjalanan sering kali lebih jujur daripada berita.
‎
‎Ketika saya berada di Iran, Mohsen memperlakukan saya bukan seperti seorang tamu yang datang dari negeri yang berjarak ribuan kilometer. Dalam perspektif saya, dia memperlakukan saya seperti raja. Dia mengurus perjalanan saya. Akomodasi. Transportasi. Banyak kebutuhan saya selama berada di sana.
‎
‎Mungkin sebagian dibiayai universitas tempat ia bekerja.
‎
‎Saya tidak pernah benar-benar mempersoalkannya.
‎
‎Sebab keramahan mempunyai bahasa yang tidak membutuhkan kuitansi.
‎
‎Suatu hari kami berbicara tentang Indonesia.
‎
‎Saya mengatakan kepadanya bahwa hubungan Persia dengan Nusantara jauh lebih tua daripada Republik Islam Iran, bahkan jauh lebih tua daripada Republik Indonesia.
‎
‎Mohsen tampaknya tidak menduga itu.
‎
‎Saya bercerita tentang jejak orang-orang Persia di Nusantara. Tentang pesisir utara Jawa. Tentang Gresik. Tentang makam-makam tua dan komunitas Muslim yang selama berabad-abad bergerak bersama kapal, perdagangan, ilmu, dan agama yang semuanya dari Persia.
‎
‎Lalu percakapan sejarah itu tiba-tiba berhenti pada sesuatu yang sangat kecil.
‎
‎Buah.
‎
‎Saya bertanya:
‎
‎“How do you say grape in Persian?”
‎
‎Mohsen menjawab:
‎
‎“Angur.”
‎
‎Saya tersenyum.
‎
‎“Di Indonesia,” kata saya, “kami juga menyebutnya anggur.”
‎
‎Mohsen terdiam.
‎
‎Kemudian wajahnya berubah.
‎
‎Ia takjub.
‎
‎Saya justru melihat sesuatu yang lebih besar daripada ketakjuban itu.
‎
‎Sebab sebuah kata ternyata dapat menjadi fosil peradaban.
‎
‎Kata tidak mempunyai kaki. Tetapi ia dapat menyeberangi samudra.
‎
‎Ia menumpang kapal pedagang. Masuk ke pelabuhan. Duduk di pasar. Mengikuti seorang ulama. Menginap di sebuah pesantren. Menjadi percakapan di rumah-rumah. Kemudian, beberapa abad setelah orang yang membawanya meninggal, kata itu masih tinggal.
‎
‎Anggur.
‎
‎Kita mengucapkannya hari ini tanpa merasa sedang mengucapkan sepotong kosa kata Persia.
‎
‎Mungkin begitulah peradaban bekerja.
‎
‎Ia tidak selalu datang bersama pasukan.
‎
‎Kadang ia datang sebagai kata.
‎
‎Mohsen kemudian semakin terkejut ketika saya menceritakan tentang orang-orang Indonesia yang belajar di Qom, Mashhad, dan kota-kota lain di Iran. Ada yang mempelajari filsafat. Fikih. Irfan. Tafsir. Ada yang mendalami tradisi Ahlul Bait ada yang mendalami madrasah sahabat.
‎
‎Iran ternyata tidak sejauh yang dibayangkannya.
‎
‎Bahkan lebih mengejutkan baginya ketika mengetahui bahwa di sebuah negeri yang ribuan kilometer jauhnya dari Teheran terdapat komunitas Muslim yang memperingati Asyura, mengenang Arbain, membaca doa-doa yang juga dibaca di Iran, dan menaruh cinta yang mendalam kepada keluarga Nabi.
‎
‎Mohsen menceritakan saya kepada teman-temannya.
‎
‎Tentang Indonesia.
‎
‎Tentang komunitas pecinta Ahlul Bait.
‎
‎Tentang bagaimana sebuah tradisi yang mereka kira sangat dekat dengan pengalaman Iran ternyata hidup juga di sebuah kepulauan jauh di sebelah timur.
‎
‎Mereka ingin mengetahui lebih banyak.
‎
‎Bahkan ada keinginan memperkenalkan kisah itu lebih luas di Iran. Dia memviralkannya.
‎
‎Saya melihat ketakjuban mereka dan tiba-tiba memahami sesuatu.
‎
‎Mungkin embargo tidak hanya bekerja pada minyak.
‎
‎Tidak hanya pada bank.
‎
‎Tidak hanya pada pesawat, teknologi, perdagangan, dan dolar.
‎
‎Embargo yang berlangsung puluhan tahun mungkin juga menciptakan sebuah pulau psikologis.
‎
‎Manusia yang terlalu lama dikucilkan akhirnya dapat merasa dunia berada sangat jauh darinya.
‎
‎Maka ketika seorang Iran mengetahui bahwa di Makassar, Jakarta, Jawa, atau kota-kota lain di Indonesia ada manusia yang menangis ketika mendengar nama Husain, ia seperti menemukan saudara yang selama ini tidak diketahui alamatnya.
‎
‎“Oh, ternyata kalian juga mengenalnya.”
‎
‎Mungkin kalimat itu sederhana.
‎
‎Tetapi kesepian peradaban sering kali baru terasa ketika seseorang tiba-tiba menemukan kerabat.
‎
‎Dan di titik itulah saya kembali mengingat Hamid Reza.
‎
‎Ada dua pengalaman tentang Iran yang tinggal dalam ingatan saya.
‎
‎Pada satu sisi, sebuah kisah tentang seorang manusia yang disiksa dengan kebencian yang hampir tidak masuk akal.
‎
‎Pada sisi lain, seorang Mohsen yang bahkan tidak membiarkan tamunya memikirkan biaya perjalanan.
‎
‎Yang satu mengambil.
‎
‎Yang lain memberi.
‎
‎Yang satu membuat tubuh manusia menjadi tempat pelampiasan kebencian.
‎
‎Yang lain menjadikan rumah, waktu, dan hartanya sebagai tempat persahabatan.
‎
‎Tetapi barangkali persoalannya bukan Iran.
‎
‎Sebab kekejaman tidak mempunyai paspor.
‎
‎Begitu pula kebaikan.
‎
‎Karbala sendiri mengajarkan itu.
‎
‎Di sana ada orang-orang yang membunuh Husain.
‎
‎Tetapi di tanah yang sama ada Abbas.
‎
‎Ada Habib ibn Mazahir.
‎
‎Ada Zuhair ibn Qain.
‎
‎Ada manusia yang mengambil kepala.
‎
‎Ada manusia yang memberikan kepala.
‎
‎Sejarah manusia mungkin memang selalu bergerak di antara dua kemungkinan itu.
‎
‎Kita memilih salah satunya.
‎
‎Karena itu, ketika saya mengingat Iran, saya tidak hanya mengingat Teheran, Qom atau Mashhad.
‎
‎Saya mengingat sebuah jantung yang direnggut.
‎
‎Dan saya mengingat sebuah kata yang menyeberangi samudra.
‎
‎Anggur.
‎
‎Yang satu mengatakan kepada kita betapa jauh manusia dapat tersesat ketika kebencian menguasainya.
‎
‎Yang lain mengatakan betapa jauh manusia dapat saling menemukan ketika kebudayaan mempertemukannya.
‎
‎Dan mungkin Persia dan Nusantara sesungguhnya tidak pernah benar-benar berjauhan.
‎
‎Sebab jarak ribuan kilometer ternyata dapat dikalahkan oleh satu kata.
‎
‎Sebuah kata yang telah berjalan berabad-abad, melewati laut, kerajaan, kolonialisme, revolusi, perang, dan embargo.
‎
‎Lalu suatu hari, di Iran, kata itu mempertemukan dua orang.
‎
‎Seorang Iran mengucapkannya.
‎
‎Seorang Indonesia mengenalinya.
‎
‎Anggur.
‎
‎Dan untuk beberapa saat, ribuan kilometer itu hilang.
‎
‎Suatu saat nanti kita akan pertemukan safron Persian (Crocus sativus) dan Kasumba Ogi atau Kasumba Turatea (Carthamus tinctorius) dalam jalinan peradaban yang intensif, mulai dari stem cell embrio Oryzias celebensis hingga ke teknologi yang belum terjangkau oleh pikiran manusia hari ini.

Related Articles

Artikel baru