Beijing, 4 September 2025 – Selama satu minggu penuh, China menyelenggarakan dua peristiwa besar yang menjadi simbol ambisinya dalam diplomasi global: KTT Shanghai Cooperation Organisation (SCO) dan parade militer grandios di Beijing. Keduanya menjadi wujud nyata strategi Beijing merangkul kekuatan non-Barat dan memperluas pengaruh regionalnya.
KTT SCO digelar di Tianjin pada 31 Agustus–1 September, dihadiri oleh lebih dari 20 pemimpin negara, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri India Narendra Modi. Xi Jinping mengajak anggota SCO untuk memperkokoh perdamaian dan stabilitas wilayah, serta memperkuat posisi organisasi sebagai penyeimbang terhadap dominasi Barat.
Tak lama setelah diplomasi tingkat tinggi ini, parade militer ambisius digelar pada 3 September di Tiananmen Square. Acara memperingati 80 tahun kemenangan melawan Agresi Jepang ini menyuguhkan display persenjataan terbaru—rudal hypersonik, drone otonom, kendaraan tempur AI, dan sistem laser—semua buatan dalam negeri dan telah terbukti dalam pelayanan aktif militer.
Pemimpin SCO, termasuk Putin dan Kim Jong Un, menyaksikan parade tersebut sebagai gambaran jelas hubungan strategis yang semakin kokoh di luar lingkar kekuatan Barat. Kehadiran Xi bersama Putin dan Kim dapat dibaca sebagai aliansi simbolik—menegur pendekatan kepemimpinan Barat sekaligus menyuarakan narasi tatanan dunia multipolar.
Dua event besar ini, digelar berdekatan, menegaskan ambisi China untuk memainkan peran dominan dalam penataan ulang geopolitik global. Diplomasi klasik lewat konferensi di Tianjin disandingkan dengan display kekuatan militer spektakuler di Beijing—kombinasi simbol operasi kekuatan keras dan lunak untuk memperkuat posisi global.

