Beijing, 3 September 2025 – China memperlihatkan citra kekuatan militer dan diplomasi yang kuat melalui parade militer terbesar dalam sejarahnya, yang diadakan di Lapangan Tiananmen. Acara ini digelar untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II, sekaligus menjadi ajang propaganda strategis yang menampilkan persenjataan tercanggih dan pemimpin dunia penting.
Presiden Xi Jinping menyampaikan pidato singkat namun padat pesan geopolitik, meneguhkan bahwa dunia kini berada di persimpangan antara “perdamaian atau perang, dialog atau konfrontasi, menang-menang atau zero-sum.” Di hadapan lebih dari 50.000 penonton dan pasukan militer modern, ia menegaskan bahwa rakyat Tiongkok berdiri di “sisi sejarah yang benar”.
Parade menggelar pameran teknologi baru seperti rudal hipersonik (termasuk YJ-21 dan YJ-17), misil antikapal YJ-19, sistem laser anti-drone (LY-1), kendaraan bawah air otonom, dan robot berbentuk “serigala tempur.” Tak hanya simbol kekuatan — ini menunjukkan kemampuan militer Tiongkok dalam perang modern berbasis sistem.
Tokoh internasional—Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un—hadir sebagai tamu kehormatan, merupakan penampilan publik pertama mereka bersama-sama. Kehadiran mereka mencerminkan solidaritas strategis yang jelas terhadap Barat. Banyak pemimpin Barat tidak hadir, menggarisbawahi ketegangan politik global yang memuncak.
Momen ini bukan sekadar bendera militer, melainkan sinyal diplomatik: China menunjukkan otoritasnya dan memainkan peran sebagai kekuatan pusat dalam tatanan dunia multipolar. Parade juga menjadi panggung narasi nasionalisme, meneguhkan kembali tujuan “rejuvenasi bangsa” sebagai pilar masa depan negara.

