Global Economics Intelligence executive summary, July 2021 Summary
Diterjemahkan Oleh : Bagas Agil Sampurna – Santri PPM Aswaja Nusantara – Mahasiswa Semester 3 S1 Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada
Rangkuman Pendek
Varian delta menjadi varian baru Covid-19 yang menjadi penyebab bertambahnya kasus aktif belakangan ini. Sebelum menyebarnya varian baru ini perekonomian sedikit mengalami pemulihan karena kegiatan perekonomian berangsur-angsur mulai dibuka kembali. Hal ini dapat dilihat dari kembalinya permintaan konsumen dan naiknya pertumbuhan ekonomi, PMI (Global purchasing managers’ index) baik itu manufaktur maupun jasa, dan CPB.
Namun, terdapat poin lain seperti kebijakan ekonomi untuk mengembalikan keadaan sebelum pandemi punya pengaruh terhadap naiknya angka inflasi yang berdampak pada kebijakan moneter suatu negara. Selain itu naiknya angka inflasi juga menjadi rintangan beberapa negara dalam menangani pengangguran. Inflasi telah menyebabkan kesulitan tambahan. Namun di pasar keuangan, indeks saham goyah pada bulan Juli tetapi pada akhir bulan sebagian besar memulihkan keuntungan yang dibuat di bulan Juni. Selain itu perubahan iklim juga menjadi ancaman yang berpengaruh buruk pada perekonomian global.
Rangkuman Panjang
Pandemi Covid-19 dalam beberapa pekan terakhir diperparah dengan adanya varian baru yaitu varian delta. Dalam empat minggu terakhir kasus aktif meningkat dari yang biasa di angka 11.3 juta menjadi 14.1 juta. Selanjutnya, diikuti dengan kenaikan angka kematian yang mencapai 2/3 saat masa puncak gelombang sebelumnya (pada bulan april). Walaupun dengan adanya peningkatan ketersediaan vaksin tetapi dengan adanya varian delta ini tetap menjadi ancaman global karena karena kecepatan penyebaran virus begitu cepat, dan bagi yang belum atau tidak divaksin potensi strain pada vaksin akan meningkat sehingga akan tetap membahayakan.
Efek dari gelombang baru pandemi ini tetap perlu diukur. Pada bulan-bulan sebelumnya, performa perekonomian mengalami peningkatan karena ekonomi telah dibuka kembali. Dalam kuartal kedua perekonomian US kembali ke titik prapandemi dengan mengalami ekspansi sebesar 6.5% year on year. Sedangkan China meningkat sebesar 7.9%. Fenomena ini terjadi karena kembalinya permintaan konsumen setelah mengalami pandemi. Indikator Consumer confidence mengalami penguatan dapat dilihat dari peningkatan penjualan sebesar 0.6% di US pada Juni. Sedangkan untuk eurozone naik 4.6%. Hal ini juga terjadi di Brazil dan Rusia dan ini melampaui ekspektasi. Untuk China peningkatan penjual meningkat sebesar 12.1% pada Juni jika dibanding year on year, tetapi konsumen China masih berhati-hati.
Sektor manufaktur juga sedang mengalami pemulihan. PMI (Global purchasing managers’ index) untuk manufaktur mengalami peningkatan selama setahun. Demikian pula, PMI jasa global mencapai 59.6 di bulan mei dan 57.5 di bulan Juni. Ini adalah PMI global tertinggi yang terlihat dalam lebih dari satu dekade. PMI individu juga kebanyakan menunjukan tren naik seperti US, eurozone dan brazil. Namun, India tidak mendapatkan momentum kenaikan ini karena dilanda gelombang pandemi baru dibandingkan negara yang dijelaskan sebelumnya. Hal ini terlihat pada indikator dari OECD (Organization for Economic Co-operation and Development), dimana pertumbuhan di atas rata-rata untuk kebanyakan negara yang di survei dalam beberapa bulan kecuali India.
Momentum perdagangan masih berlanjut, terutama karena supply bottlenecks masih terbuka. CPB World Trade Monitor mengukur tingkat perdagangan yang sedikit lebih rendah pada bulan Mei -0.3 m-o-m dan tertinggi pada Maret. Container Throughput Index meningkat 2.3 poin menjadi 128.6 . Trade data perekonomian masing-masing negara secara bulanan turun tetapi masih meningkat dalam kurun tahunan.
Angka inflasi untuk saat ini meningkat karena dipicu oleh aktivitas ekonomi baru, stimulus pemerintah, dan dislokasi sisa pasokan dari pembatasan pandemi 2020. Di US inflasi konsumen naik menjadi 5.4% yang sebelumnya 5% pada bulan Juni. Hal ini didorong karena harga bahan bakar naik. Tingkat inflasi konsumen tinggi yang berada di atas target bank sentral di Brazil (8.4%), India (6.3%) dan Rusia (6.5%), kecuali eurozone dan china yang hanya 1.9% dan 1.1%.
Brazil dan Rusia merespons inflasi dengan menaikan suku bunga menjadi 4.25% dan 6.5% (sellic rate). Sedangkan US lebih menahan diri dan hanya menyarankan kemungkinan pengurangan program pembelian obligasi jika ekonomi terus menguat. Sedangkan China melonggarkan kebijakannya dengan menurunkan cadangan wajib untuk semua bank.
Inflasi telah menyebabkan kesulitan tambahan di Brazil di mana masih menyentuh angka tertinggi dalam sejarah yaitu 14.7%. Di tempat lain, tingkat pengangguran resmi menurun di Rusia dan eurozone seperti Belanda 3.2% pada Juni dan di Jerman 3.7% pada Mei. Sedangkan US angka pengangguran masih tinggi di angka 5.9% dibanding saat prapandemi yaitu 3.5%.
Di pasar keuangan, indeks saham goyah di bulan Juli tetapi pada akhir bulan sebagian besar memulihkan keuntungan yang dibuat di bulan Juni; indeks saham di US, Eropa, Brazil dan India terus mencatat rekor tinggi. Indeks volatilitas juga turun dalam beberapa pekan terakhir. Dollar US juga menguat terhadap mata uang lainya. Sedangkan Brazil sempat mengalami peningkatan sampai akhir Juni mulai mengalami kehilangan beberapa nilai.
Ancaman terhadap kehidupan manusia dan aktivitas juga ditimbulkan akibat perubahan iklim. Seperti pada bulan Juni dan Juli curah hujan yang ekstrim berdampak pada banjir yang merusak eropa barat dan cina tengah dan masih banyak lagi. Ini adalah peristiwa yang diperingatkan oleh ilmuwan iklim akan menjadi lebih sering dan parah dalam dekade mendatang.
Terjemahan :
- Teks Asli : https://www.mckinsey.com/business-functions/strategy-and-corporate-finance/our-insights/global-economics-intelligence-executive-summary-july-2021