Hijrah dari Kerakusan

Pengantar
Banjir bandang dan tanah longsor yang meluluhlantakkan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah cermin besar yang memantulkan kegagalan pikir dan kelalaian kita sebagai manusia. Berapa banyak lagi rumah harus hanyut, berapa banyak lagi nyawa harus hilang, sebelum kita bertanya dengan jujur: apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan cara kita memperlakukan bumi Nusantara? Mengapa bencana yang dulu disebut “kejadian luar biasa” kini terasa seperti tamu bulanan yang terus mengetuk pintu?

Bencana ini seharusnya menjadi peringatan keras bahwa cara berpikir lama—yang membenarkan eksploitasi, pertumbuhan tanpa batas, dan kerakusan yang dibungkus dalih pembangunan—sudah waktunya dihentikan. Jika tidak, alam akan mengingatkan kita dengan cara yang semakin keras dan semakin tak terduga.

Luka dan Duka
Di Aceh, luapan air dari hulu merobek permukiman dan menyapu apa saja yang berdiri di hadapannya. Di Sumatera Utara, longsor menelan badan jalan sekaligus mereka yang melintas tanpa pernah membayangkan perjalanan itu akan menjadi akhir hidup. Di Sumatera Barat, air bah membawa longsoran material yang menutup kampung-kampung dan sawah, meninggalkan kesedihan yang membekas lama.

Bisakah kita mengatakan semua ini “sekadar” bencana alam? Bukankah banjir dan longsor membutuhkan sebab? Dan bukankah sebagian sebab itu berasal dari tangan manusia sendiri? Ketika tutupan hutan menyusut, tanah kehilangan pegangannya. Ketika lereng dipotong tanpa perhitungan, gravitasinya berubah rapuh. Ketika sungai diganggu jalannya, air mencari jalan baru dengan kekuatan yang jauh lebih besar. Pada akhirnya, alam hanya kembali pada logika dasarnya: ia memberi selama kita menjaga, dan ia memperingatkan ketika kita melampaui batas.

Akar Kerakusan
Kerakusan tak selalu hadir dalam bentuk yang vulgar. Ia sering menyamar sebagai kemajuan, investasi, atau pemanfaatan sumber daya. Namun saat tanah dirampas fungsinya, saat hutan ditebang tanpa memikirkan keseimbangan, saat sungai dikapling seperti halaman rumah, di situlah kerakusan mulai mengambil alih ruang-ruang hidup kita. Pertumbuhan ekonomi tanpa kendali akhirnya hanya tumbuh untuk sedikit orang dan jatuh menimpa banyak orang.

Mungkin ini saatnya kita bertanya sungguh-sungguh: apa gunanya pertumbuhan jika justru menghancurkan tempat kita tumbuh? Apa arti kesejahteraan bila harus dibayar dengan kehilangan tanah subur, kehilangan air bersih, bahkan kehilangan manusia-manusia tak berdosa yang tinggal di bantaran sungai dan lereng bukit?

Kerakusan selalu mengambil lebih banyak daripada yang mampu diberikan alam. Dan ketika alam terdesak, ia menagih dengan caranya sendiri. Ini bukan bencana alam. Ini bencana akibat kerakusan segelintir orang.

Hikmah Pengetahuan Lokal
Nusantara selalu memiliki warisan cara berpikir yang menempatkan manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasa yang berhak mengambil tanpa batas. Pengetahuan lokal—yang lahir dari pengalaman panjang hidup bersama hutan, air, dan tanah—menyimpan prinsip yang kini terasa semakin relevan: prinsip kecukupan, keseimbangan, dan hormat kepada ruang hidup.

Di banyak kampung adat, hutan tak ditebang sembarangan karena diyakini sebagai ibu yang menjaga air. Sungai tidak dirusak alirannya karena dianggap sebagai urat nadi yang menghubungkan kehidupan. Tanah tidak digali tanpa musyawarah karena ia adalah tempat manusia kembali. Apakah prinsip-prinsip ini kuno? Tidak. Justru di tengah krisis ekologis, cara berpikir seperti inilah yang paling modern, karena berbicara tentang keberlanjutan, tentang generasi depan, tentang harmoni yang kini hilang.

Pengetahuan lokal bukan sekadar romantisme. Ia adalah kerangka etika, sains ekologis yang tumbuh dari pengalaman panjang sebuah peradaban.

Hutan, Tanah dan Air
Bencana yang terjadi di tiga provinsi tersebut menunjukkan satu pesan yang sangat jelas: hutan, tanah, dan air bukan obyek yang bisa diperlakukan sesuka hati. Ketiganya adalah sistem kehidupan yang menopang keberadaan manusia. Ketika hutan gundul, air kehilangan kendalinya. Ketika tanah tercabik, lereng kehilangan kekuatannya. Ketika sungai dipersempit, ia membalas dengan meluap.

Merawat hutan bukan sekadar menanam kembali pohon, tetapi memulihkan lanskap yang selama ini dirobek. Merawat tanah berarti menghormati batasan ekologisnya. Merawat air berarti menjaga seluruh daerah tangkapan air, bukan hanya hilirnya. Setiap kebijakan pembangunan seharusnya dimulai dengan pertanyaan dasar: apakah ini membuat alam lebih sehat atau lebih rapuh?

Hijrah Cara Berpikir
Kini saatnya melakukan hijrah cara berpikir. Hijrah dari kerakusan menuju kecukupan. Dari eksploitasi menuju perawatan. Dari ambisi pertumbuhan tanpa batas menuju keseimbangan yang memungkinkan manusia dan alam saling menguatkan.

Pertanyaannya: beranikah kita berubah? Atau harus menunggu bencana berikutnya yang lebih dahsyat? Mengapa kita begitu sulit memahami bahwa keselamatan manusia berakar pada keselamatan alam? Bahwa ketahanan pangan bergantung pada tanah yang sehat? Bahwa sumber air bergantung pada hutan yang lestari? Bahwa hidup kita sendiri bergantung pada ekosistem yang mampu bernapas dengan lega?

Untoro Hariadi
Untoro Hariadi
Alumni Filsafat UGM, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Janabadra, saat ini menjalani aktivisme sosial dan pendidikan.

Related Articles

Artikel baru