Sudah tiga semester terakhir saya mengajak mahasiswa di kelas-kelas yang saya ampu, untuk menonton dan menganalisis film Gie (2005). Film yang disutradarai Riri Riza dan diproduseri Mira Lesmana ini mengisahkan tentang kehidupan Soe Hok Gie—seorang aktivis mahasiswa dari Universitas Indonesia yang dikenal karena kecerdasannya, moralitasnya yang tinggi, dan keberaniannya dalam bersikap kritis di tengah rezim yang penuh tekanan.
Gie masuk ke Fakultas Sastra UI pada tahun 1961. Ia aktif menulis di berbagai surat kabar dan menjadi anggota penting dari Mapala UI. Film Gie merupakan adaptasi dari buku hariannya, yang kemudian diterbitkan, dengan judul “Catatan Seorang Demonstran”. Catatan harian tersebut ditulis dengan gaya yang reflektif dan jujur.
Dalam film tersebut, Nicholas Saputra memerankan Gie sebagai sosok introvert yang sangat suka membaca, peka pada ketidakadilan, tetapi juga rapuh secara batin. Dia dikelilingi oleh sahabat-sahabat dekat seperti Herman Lantang (Lukman Sardi), Ira (Sita Nursanti), dan Denny Mamoto (Indra Birowo). Mereka bersama-sama berdiskusi, mendaki gunung, dan mencari makna hidup di tengah turbulensi politik pada tahun 1960-an.
Salah satu aspek paling menarik dari film ini adalah bagaimana ia memperlihatkan sikap kritis Gie terhadap berbagai bentuk kekuasaan—baik terhadap rezim Demokrasi Terpimpin maupun terhadap Orde Baru yang baru tumbuh. Bahkan ketika tokoh Partai Sosialis Indonesia seperti Sumitro Djojohadikusumo merapat ke rezim militer—setelah sebelumnya bersama Gie pada era Demokrasi Terpimpin, menggalang gerakan bawah tanah, yang bernama Gerakan Pembaruan Indonesia untuk menggulingkan Soekarno—Gie tetap menjaga jarak dan terus mengkritik dominasi militer. Ia juga termasuk segelintir intelektual muda yang berani menentang pembantaian massal terhadap ratusan ribu kader dan simpatisan PKI pada 1965–1966.
Jalan yang dipilih Gie ini memang tidak populer. Ia tidak berpihak pada kekuatan politik mana pun, yang menjadikannya sering kali dianggap “sulit untuk diajak berkompromi. ” Namun, baginya, integritas jauh lebih berharga dibandingkan kedekatan dengan kekuasaan.
Apa Relevansinya untuk Generasi Hari Ini?
Menonton kembali Gie di saat demokrasi Indonesia telah jauh lebih terbuka justru memunculkan pertanyaan menarik: sejauh mana kita sudah bergerak dari kegelisahan yang ditulis oleh Gie enam puluh tahun yang lalu?
Di satu sisi, ruang berekspresi kini lebih luas. Mahasiswa bebas membuat forum diskusi, mengkritik pemerintah, atau menulis opini tanpa takut sensor fisik seperti pada masa Demokrasi Terpimpin, maupun pada masa Orde Baru. Namun di sisi lain, banyak keluhan Gie tetap terasa aktual: budaya “asal bapak senang”, korupsi, kemunafikan publik, dan sikap alergi terhadap kritik masih sangat kuat.
Dalam dunia kampus, aktivisme mahasiswa kini sering terjebak dalam urusan administratif, pencitraan media sosial, dan kekhawatiran terhadap penyebaran identitas oleh oknum yang tidak bertanggung jawab (doxing), perundungan digital, serta ancaman UU ITE. Kebebasan berekspresi ada, tetapi tidak selalu membuat orang merasa aman dan berani untuk berkata jujur di media sosial. Di sinilah sosok Gie menjadi penting: ia mengajarkan bahwa kebebasan tidak ada artinya, jika tidak digunakan untuk memperjuangkan kebenaran.
Jalan Sepi Gie dan Spirit Keislaman Kultural
Walaupun Gie bukan seorang pemikir agama (ia memang tidak pernah secara eksplisit menyatakan keyakinan atau agama yang dianutnya), pilihan hidupnya—jujur, sederhana, menolak kemunafikan—sangat dekat dengan nilai-nilai spiritualitas dalam khazanah tasawuf, yaitu shiddiq (kejujuran total) dan istiqomah (keteguhan moral/konsistensi) sebagai amalan yang berat, tidak mencari sanjungan atau pujian, dan keuntunagan duniawi.
Gie memilih jalan itu tanpa pernah menyatakannya secara religius. Walaupun demikian, jalan sepi itulah yang membuatnya selalu dikenang: berani untuk tidak ikut arus, saat arus itu menyesatkan, atau menyimpang dari kebenaran.
Dekat dengan Alam, Dekat dengan Diri Sendiri
Aspek lain yang penting dicermati bagi kaum muda saat ini adalah kecintaan Gie terhadap alam. Aktivitas mendaki gunung bukan hanya sekadar hobi, melainkan juga cara untuk menenangkan pikiran dan berdialog dengan diri sendiri. Di tengah kehidupan yang serba cepat, dengan banyak tekanan mental, persaingan sosial, dan kebisingan digital, berinteraksi dengan alam layaknya yang dilakukan Gie dapat menjadi ruang refleksi yang menyehatkan jiwa.
Akhir Kata
Gie mengingatkan kita bahwa idealisme tidak hanya milik masa lalu. Ia adalah hak bagi siapa saja yang ingin menjalani hidup dengan jujur dan bermartabat. Jalan integritas tidak menjanjikan kenyamanan, tidak selalu mendapat sanjungan, dan kadang mengharuskan kita untuk berdiri sendiri. Namun, justru dari situlah makna sejatinya muncul.
Soe Hok Gie tidak memberi jawaban yang mudah dan sederhana. Namun kehidupan singkatnya menunjukkan bahwa keberanian moral akan selalu relevan—baik pada masa pergolakan 1960-an maupun di Indonesia hari ini. Dan itulah sebabnya mengapa Gie tetap penting untuk ditonton, direnungkan, dan dipelajari oleh generasi muda sekarang.

