Tembok Theodosian adalah garis pelindung terakhir kota Konstantinopel dari arah daratan, yang dibangun awal abad ke-5 oleh Kaisar Theodosius II untuk menghadang serangan dari sisi barat. Memanjang kurang lebih 5,5 kilometer dari Laut Marmara di selatan hingga Golden Horn di utara, tembok ini terdiri dari tiga lapis perlindungan: parit besar di bagian luar, tembok rendah sebagai benteng pertama, dan tembok utama yang menjulang hingga dua belas meter, dengan ketebalan yang mampu menahan serangan berabad-abad. Inilah tembok yang membuat Konstantinopel dipercaya tak tertembus, bahkan ketika kekaisaran di dalamnya perlahan melemah. Kini, sebagian besar tembok ini masih berdiri di distrik Fatih, Istanbul—diapit jalan raya dan pemukiman modern, menyimpan bisu dentuman meriam dan teriakan zaman.
Pada tahun 1453, tembok pertahanan ini jebol. Sultan Mehmed II menempatkan meriam-meriamnya menghadap langsung ke gerbang utama tembok ini —Gerbang St. Romanus, atau sekarang Topkapi Gate.
Tulisan ini sepenggal kisah di atas tembok itu, pada hari ketika serangan terakhir mengguncang, setelah pengepungan 5o hari. Mehmed al-Fatih dan tentaranya memasuki kota, menutup tirai Kekaisaran Byzantium yang telah berdiri lebih dari seribu tahun.
—
Subuh turun tanpa suara. Kabut masih menggantung di dataran Lykos, membentuk bayang putih tipis yang menari pelan di atas tanah. Aku berdiri di atas tembok, bersama serombongan tentara dan warga kota yang sejak malam belum tidur. Di bawah, di balik tembok luar yang mulai retak, tanah yang dulu lapang kini berubah menjadi lautan kemah. Kemah musuh.
Bayang api tampak di kejauhan. Di balik keremangan fajar, aku melihat siluet raksasa. Itu dia, meriam Orban. Satu silinder logam sebesar sumur, lebih panjang dari kereta kuda. Diam, tapi mengancam. Serdadu Ottoman mengelilinginya seperti semut di batu besar. Mereka sibuk menyiapkan sesuatu. Tangga, peluru besi bulat, bubuk mesiu, dan sebagainya.
Orang di sampingku berkata lirih, “Hari ini mereka akan menembak lagi… Aku yakin tembok ini tak bisa lama.”
Aku menoleh, seorang pastur tua memeluk erat salibnya, matanya basah menatap Hagia Sophia di kejauhan. Lonceng gereja belum berbunyi. Tapi ayam jantan sudah menyambut cahaya pertama yang menerobos kabut.
Dari bawah, terdengar teriakan perintah. Tentara Mehmed mulai bergerak. Kuda berderap, lonceng tambur dipukul. Peluru meriam — bulat, gelap, tak bernyawa– diangkat lebih sepuluh orang. Aku melihatnya dimasukkan ke moncong besar itu, lalu api kecil dinyalakan di bawahnya. Semua orang di tembok diam.
Dan tiba-tiba…
Duar!
Langit menggema, dinding bergetar, merpati beterbangan panik dari menara. Aku menahan napas. Debu mengepul, batu beterbangan. Retakan baru muncul di dinding luar.
Anak muda di sampingku jatuh terduduk, bukan karena luka, tapi karena ngeri. “Kita sedang melihat akhir zaman,” bisiknya.
Aku tidak menjawab. Hanya berdiri, menggenggam tepi tembok, memandang dataran luas itu. Di sana ratusan ribu pasukan Ottoman siap memecah ribuan tahun sejarah hanya dalam hitungan hari.
—
Ledakan itu masih menggemakan kepalaku, meski tanah sudah berhenti bergetar. Batu-batu beterbangan kini diam, teronggok seperti tulang-tulang tua. Aku tak tahu apa yang lebih berat, suara dentuman itu atau sunyi yang mengikutinya.
Di belakangku, seseorang mengucap doa Yunani dengan suara kecil. Entah untuk Tuhan atau untuk kota ini. Di sampingnya, pemuda yang tadi terduduk masih menggenggam potongan tembok pecah. Jemarinya berdarah, tapi ia tidak sadar. Kami semua seperti itu, luka tanpa perasaan, takut tanpa suara.
Kota ini dulu keras kepala. Bahkan saat matahari menyengat, orang-orangnya tetap berdebat di pasar, di pelabuhan, di halaman gereja. Tapi kini semua orang berbisik. Kami sadar kota ini sudah tua. Batinnya sudah lama mengeriput, tapi temboknya masih berdiri. Dan sekarang… mulai runtuh.
Aku menoleh ke timur, ke balik kota. Di sana, menara Hagia Sophia menjulang seperti jari menunjuk langit. Sunyi, agung, dan asing. Seolah sedang bertanya pada langit: “Berapa lama lagi?”
Kabar tentang pasukan Mehmed menyebar seperti bau mesiu. Ada yang mengatakan jumlahnya ratusan ribu. Yang lain bilang seperti ombak hitam tak berujung. Tapi semua sepakat mereka datang bukan hanya untuk kota ini, tapi untuk apa yang kota ini wakili. Dan itu lebih menakutkan daripada meriam.
Kupejamkan mata. Di bawah sana, barisan musuh mulai bergerak. Bunyi tambur, suara kuda, gemeretak roda meriam, denting tukang kayu membangun jembatan. Semua terdengar seperti simfoni akhir zaman.
Tapi tembok ini belum menyerah. Dan selama aku masih berdiri di atasnya, kota ini belum benar-benar jatuh.
Lalu datanglah fajar yang tak membawa terang. Tembok yang sejak subuh diguncang dan dihantam kini menganga di beberapa titik. Sorakan asing mulai terdengar mendekat, lebih dekat dari biasanya. Tangga-tangga kayu mulai menyentuh dinding, dan dari balik asap yang menggulung, aku melihat bayangan pertama mereka memanjat. Seperti laba-laba merayap di pagi buta.
Pasukan Konstantinopel bertahan sekuat tenaga. Di sisi tangga dan celah tembok, kami melontar batu, menumpahkan minyak panas, dan melemparkan kayu terbakar dari atas. Di antara kami ada tentara bayaran dari Genoa. Adalah Giovanni Giustiniani, nama yang disebut-sebut sebagai dinding kedua setelah tembok ini. Ia datang membawa ratusan prajurit berzirah baja, bertempur dengan pedang dan tombak dalam formasi yang rapi dan teguh. Aku melihatnya memimpin langsung di atas gerbang, mengayunkan pedang, berteriak dalam bahasa yang tidak kami mengerti, tapi semangatnya membakar.
Namun jumlah kami tak sebanding. Kabar menyebar cepat dari satu sisi ke sisi lain tembok. Giustiniani terluka. Ada yang mengatakan peluru menghantam dadanya, ada yang bilang hanya goresan kecil. Tapi ia tak bisa berdiri lagi. Dan begitu ia ditandu turun dari atas benteng, semangat kami mulai merosot perlahan seperti air surut dari bejana retak.
Beberapa prajurit mulai bimbang, dan pertahanan di titik-titik genting menipis. Anak panah kami melesat dari atas, tetapi prajurit Ottoman datang terlalu banyak. Meski beberapa jatuh, yang naik tetap naik. Aku melihat salah satu dari mereka mengibarkan bendera bulan sabit di atas menara pengawas. Beberapa prajurit di sisiku mundur, beberapa lagi jatuh, tidak semua karena luka.
Pintu kecil dekat gerbang utama pecah. Lonceng-lonceng dibunyikan. Bukan panggilan doa, tapi isyarat bahwa tembok telah jebol.
Di kejauhan, asap membubung dari arah pasar. Api merambat ke rumah-rumah. Jeritan terdengar riuh kalut dari dalam kota. Aku menoleh ke timur sekali lagi. Hagia Sophia masih berdiri, tapi langit di belakangnya merah. Burung-burung tak lagi melingkarinya.
Konstantinopel telah terbuka. Dan kami yang di atas tembok ini bisa mendengar kaki zaman memasuki tubuh kota. Tak ada lagi yang menghalanginya.
Aku berlari menuruni undakan batu, meninggalkan tembok Teodosian. Jalanan dipenuhi bayangan. Sebagian penduduk melarikan diri ke gereja-gereja, berharap tembok doa bisa menggantikan dinding yang runtuh. Di lorong sempit dekat pasar, kulihat seorang perempuan tua memeluk patung Yesus sambil menangis, terkulai di depan pintu rumah yang hangus separuh.
Pasukan Ottoman menyebar cepat. Mereka memasuki celah-celah tembok yang hancur, sebagian membawa panji, sebagian menjarah, sebagian mencari musuh yang belum mati. Gema perintah, jerit, dan derap kaki menyatu gaduh sekali. Kota ini bukan lagi kota.
Aku berbelok menuju Hagia Sophia. Beberapa warga — para biarawan, para perempuan, anak-anak– telah berkerumun di halamannya. Mereka masuk perlahan, berharap basilika agung itu menjadi tabut Nuh terakhir. Ada yang berlutut, ada yang berdoa merintih.
Tapi aku tidak masuk. Aku berdiri di luar, memandang lengkung pintunya, dan tahu tempat ini tidak akan lagi menjadi milik kami.
Langit kini memerah. Dari arah barat kota, pasukan utama Mehmed memasuki Konstantinopel. Sultan muda itu menunggang kuda hitam. Dikelilingi pengawalnya yang berderet rapi, mereka melewati Topkapi Gate yang kini terbuka lebar dan penuh puing. Dari sana, ia menuruni jalur tua Mese (sekarang Grand Bazaar dan Beyazıt -Red.) yang penuh asap, reruntuhan, dan tubuh berserakan.
Mehmed tak berhenti. Ia tidak menoleh pada bangunan yang terbakar, tidak juga pada tentara yang bersorak di jalan. Ia berkuda lurus menuju reruntuhan istana lama dekat Hagia Sophia, ke bekas kediaman para kaisar yang sejak penjarahan tahun 1204 tak dibangun lagi. Ia hanya melewatinya, pelan, dan berhenti di halaman terbuka di sisi barat Hagia Sophia.
Dari sana, ia memandang basilika itu dengan hening. Dan yang kami dengar kemudian adalah perintahnya: “Jangan sentuh tempat ini.” Tak satu pun pasukan berani mendekat. Ia tahu apa itu Hagia Sophia, dan meski ia datang sebagai penakluk, ia ingin dikenang sebagai penguasa yang memilih menahan diri.
Di sekitarnya, ribuan mayat belum dikubur. Jeritan masih terdengar dari gang-gang sempit. Kaisar Konstantinus gugur di dekat gerbang, tubuhnya tak dikenali. Tapi kota ini telah patah. Aku, yang menyaksikan semua dari lorong kecil di bawah tangga Hagia Sophia, tahu bahwa hari itu dunia berganti wajah, dan langit tidak akan lagi menatap kami dengan cahaya yang sama.
Konstantinopel telah jatuh. Bukan hanya pada dinding dan batu, tapi pada ingatan dan takdir. Bagi kami yang menyaksikannya, dunia setelahnya bukan lagi kelanjutan dari kemarin, tapi sesuatu yang sama sekali berbeda.

