Makkah tidak pernah tidur, namun di Pasar Seng, waktu adalah kain kafan yang robek. Aku melangkah di antara aroma wangi bukhur yang terbakar dan keringat para peziarah yang mencari Tuhan di balik tumpukan tasbih plastik. Aku adalah Sang Wali Kemesraan, sebuah gelar yang kuterima bukan dari kitab-kitab kuning yang berdebu, melainkan dari sisa-sisanya ciuman angin di dahi para fakir miskin dan yatim-piatu.
Di sini, di tengah hiruk-pikuk pedagang yang meneriakkan harga surga, realitas mulai melengkung. Kedai-kedai kopi bukan lagi menjual kopi berkafein, melainkan tegukan demi tegukan ketiadaan. Aku berjalan tanpa alas kaki, namun setiap langkahku tidak menyentuh aspal. Aku menginjak sayap-sayap malaikat yang sedang menyamar menjadi debu jalanan.
Di sebuah sudut yang tersembunyi di balik tumpukan karpet tua, aku melihat mereka. Para Wali Malamitiyyah. Mereka adalah kaum yang menyembunyikan cahaya di balik jubah yang kotor. Salah satu dari mereka sedang tertawa terbahak-bahak sambil memegang potongan roti kering yang sudah berjamur. Dunia melihatnya sebagai orang gila, namun mataku melihat galaksi yang sedang berputar di dalam pupil matanya.
“Kemari, Wahai Wali Kemesraan!” serunya tanpa menoleh. “Kau masih membawa beban namamu? Buanglah! Nama adalah berhala terakhir yang paling sulit dihancurkan.”
Aku duduk di sampingnya. Di sekeliling kami, para Wali Malamitiyyah lainnya sedang sibuk berdagang tanpa barang. Mereka menjual kerinduan dan membeli air mata. Salah satu dari mereka mendekatiku, ia tidak bicara dengan mulut, tapi dengan getaran yang merobek dadaku.
“Jika kau ingin melihat Wajah-Nya, kau harus menjadi cermin yang pecah. Jangan biarkan satu serpihan pun merasa utuh sebagai diri sendiri.”
Aku mulai merasakan kulitku menguap. Sejarahku, gelar-gelarku, dan kenangan-kenanganku mulai lepas seperti sisik ular yang berganti rupa. Di Pasar Seng ini, aku sedang dipreteli oleh keheningan yang bising.
Tiba-tiba, keramaian pasar membeku. Para pedagang menjadi patung garam, dan suara tawar-menawar berubah menjadi senandung zikir sirr yang menggetarkan fondasi bumi. Di tengah pasar yang kini sunyi secara magis, tujuh sosok berjubah cahaya berdiri melingkar. Mereka adalah Para Wali Kutub, pemegang pasak-pasak semesta.
“Sang Wali Kemesraan telah datang,” ujar sosok di tengah, yang auranya terasa seperti matahari yang ditutup kain sutra hitam. “Ia datang untuk meminta izin menjadi Bukan Siapa-Siapa.”
Seorang Wali Kutub dari ufuk Barat mendekatiku. Ia memegang sebuah cermin yang permukaannya adalah air raksa. “Lihatlah dirimu,” perintahnya.
Aku melihat ke dalam cermin itu, namun aku tidak melihat wajahku. Aku melihat ribuan wajah orang-orang yang sedang tawaf, aku melihat wajah pencopet yang sedang mengintai, aku melihat wajah bayi yang baru lahir di pelosok Nusantara. Aku adalah mereka, dan mereka adalah aku.
“Kemesraan sejati,” bisik sang Kutub, “adalah ketika kau tidak lagi menemukan dirimu di dalam dirimu, melainkan kau menemukan Tuhan di dalam segala sesuatu yang bukan dirimu.”
Pasar Seng mulai mencair. Tembok-temboknya berubah menjadi barisan huruf-huruf hijaiyah yang terbakar. Aku merasakan jantungku berhenti berdetak secara biologis, namun mulai berdenyut secara kosmis. Gelar ‘Wali Kemesraan’ yang kupakai mulai meleleh, berubah menjadi cairan cahaya yang membasahi bumi Makkah.
Aku melihat para Wali Malamitiyyah tertawa semakin keras. Tawa mereka adalah palu yang menghancurkan sisa-sisa egoku. Aku bukan lagi subjek, aku bukan lagi objek. Aku adalah spasi di antara dua kata. Aku adalah keheningan di sela-sela adzan.
“Sekarang, pergilah,” ujar sang Wali Kutub pemimpin sidang. “Kembalilah ke pasar, tetaplah berdagang, tetaplah bicara, namun jangan pernah bawa kembali dirimu. Jadilah bayang-bayang yang tidak memiliki tubuh.”
Waktu berputar kembali. Suara klakson mobil dan teriakan “Khamsah riyal! Khamsah riyal!” kembali memenuhi udara. Aku berdiri di tengah Pasar Seng, memegang segelas teh panas yang diberikan oleh seorang pedagang tua.
Pedagang itu menatapku dan bertanya, “Siapa namamu, ya Syekh?”
Aku tersenyum. Teh itu terasa seperti madu dari surga yang paling bawah. Aku merasakan angin Makkah meniup pori-poriku, dan aku tidak menemukan siapa pun di sana.
“Aku?” jawabku pelan, sambil membiarkan diriku hilang dalam kerumunan. “Aku hanyalah debu yang kebetulan sedang bermimpi menjadi manusia. Aku bukan siapa-siapa.”
Di atas Pasar Seng, langit Makkah tampak begitu luas, menampung seluruh doa dari mereka yang masih merasa menjadi ‘seseorang’, sementara aku berjalan dengan ringan, menari dalam kemesraan yang tak bernama, dalam ketiadaan yang paling sempurna.
***
Di hadapanku, lorong-lorong Pasar Seng kini bertransformasi menjadi pembuluh darah raksasa yang memompa kesadaran dari jantung semesta. Aku, Sang Wali Kemesraan yang telah menanggalkan atribut, melihat para Wali Malamitiyyah mulai melakukan tarian yang mustahil: mereka melompat ke dalam butiran debu, menghilang, lalu muncul kembali di dalam pori-pori kulit para peziarah yang sedang kehausan.
“Jangan hanya berhenti di ambang ketiadaan!” teriak salah satu Malamitiyyah yang sedang pura-pura mengemis di depan toko jam. “Ketiadaan adalah penjara baru jika kau masih bangga memilikinya. Menjadi bukan siapa-siapa berarti kau harus rela menjadi keset bagi kaki-kaki dosa yang ingin masuk ke pintu ampunan!”
Aku terpaku. Getaran suaranya meruntuhkan sisa-sisa arsitektur batinku. Para Wali Kutub yang tadi melingkar, kini mulai memanjang menjadi pilar-pilar cahaya yang menyangga langit Makkah agar tidak runtuh karena beratnya beban duka manusia. Salah satu Wali Kutub menarik tanganku, membawaku menembus dinding kedai kopi menuju sebuah ruang yang tak memiliki dimensi atas, bawah, kiri, atau kanan.
Di ruang itu, berjuta-juta buku melayang tanpa rak. Buku-buku itu tidak memiliki tulisan, melainkan berisi aroma kehidupan. Ada buku yang berbau hujan di Tanah Jawa, ada yang berbau anyir darah di Palestina, dan ada yang berbau rindu seorang ibu di pedalaman Afrika.
“Pilihlah satu halaman untuk kau hapus,” perintah Sang Wali Kutub.
“Halaman yang mana?” tanyaku, meski suaraku kini hanya berupa frekuensi warna biru.
“Halaman tentang namamu yang pernah ditulis oleh takdir. Hapuslah, agar Tuhan bisa menuliskan Nama-Nya sendiri di sana tanpa terganggu oleh kehadiranmu.”
Aku merogoh ke dalam dadaku, mengambil lembaran tipis yang berisi narasi hidupku: masa kecilku di Yogyakarta, esei-eseiku tentang filsafat, dan orang-orang memberi gelar ‘Gus’ yang sempat melekat. Aku mengambil segenggam debu Pasar Seng dan mengusapkannya ke halaman itu. Seketika, kertas itu menjadi putih bersih, bersinar lebih terang dari matahari, lalu meledak menjadi ribuan kunang-kunang yang terbang menuju Ka’bah.
Kini, aku benar-benar lenyap. Tidak ada lagi ‘Aku’. Yang tersisa hanyalah sebuah Kemesraan Murni. Aku merasakan sensasi menjadi tetesan air zamzam yang meluncur di kerongkongan orang yang berpuasa. Aku merasakan menjadi benang-benang kain Kiswah yang disentuh oleh jutaan tangan yang gemetar.
Para Wali Malamitiyyah datang mendekat, kini mereka tidak lagi tertawa. Mereka sujud di sekeliling ketiadaanku. Mereka merayakan keberhasilanku untuk tidak menjadi apa-apa. Di antara mereka, aku melihat diriku sendiri yang dulu—Lelaki Tanpa Nama yang pernah berpesta di Monaco, di Pattaya, di Las Vegas—kini ia juga hadir di Pasar Seng, tertunduk lesu di depan gerobak buah, menyadari bahwa berlian di Monaco hanyalah kerikil yang gagal berzikir.
“Selamat datang di rumah, Wahai Ketiadaan,” bisik para Wali Kutub serempak.
Ledakan cahaya terakhir mengembalikanku ke aspal Pasar Seng yang panas. Namun, pandanganku telah berubah secara permanen. Aku melihat seorang pedagang kurma sedang menimbang keadilan, bukan hanya buah. Aku melihat seorang tentara sedang menjaga keheningan, bukan hanya keamanan.
Aku berjalan menyusuri jalanan menuju Masjidil Haram. Seseorang menyenggol bahuku dengan keras hingga aku hampir terjatuh, namun aku tidak merasakan amarah. Bagaimana mungkin bayang-bayang bisa marah pada cahaya yang menabraknya?
Aku berhenti di depan cermin sebuah toko emas. Di sana, aku melihat kerumunan orang yang lewat, namun di posisi tempat aku berdiri, cermin itu kosong. Tidak ada pantulan. Aku telah menjadi ‘Invisible Personalization’ dalam skenario agung ini.
“Syekh, kau menjatuhkan tasbihmu,” ujar seorang bocah kecil cantik jelita laksana bidadari berkulit glowing sambil menyerahkan seuntai tasbih kayu kokka. Aku menatapnya sembari dada terguncang, wajah yang sangat kukenal dulu. “Namaku Aura Jannati Alfafa” ucapnya lembut. Mataku berkaca-kaca!
Aku menerima tasbih itu, menyentuh tangannya yang mungil. Pada saat itu, aku merasakan seluruh alam semesta bersalaman denganku. Aku tidak menjawab. Aku hanya tersenyum dengan senyuman yang bukan milikku, melainkan senyuman kemesraan yang dipinjamkan Tuhan untuk menghiasi wajah debu yang kini bernama: Bukan Siapa-Siapa!
Makkah tetaplah Makkah, bising dan suci. Dan aku, yang kini tiada, berjalan masuk ke dalam pelukan kerumunan, menjadi rahasia yang tersimpan di saku baju setiap musafir yang rindu pulang.
***
Langkahku kini tak lagi memiliki berat. Di antara karung-karung gandum dan tumpukan sajadah impor di Pasar Seng, aku menyaksikan realitas yang terbelah. Para Wali Malamitiyyah mulai menampakkan kegilaan yang lebih dalam: mereka mengambil kotoran dari jalanan dan mengubahnya menjadi butiran misik yang harum, lalu memberikannya kepada para peziarah yang sombong agar hati mereka luluh oleh keindahan yang tak masuk akal.
“Jangan hanya jadi penonton, Wahai Ketiadaan!” teriak seorang wali yang sedang duduk di atas tumpukan kardus bekas. “Jadilah udara yang masuk ke paru-paru orang yang sedang mengumpat, agar amarah mereka berubah menjadi tasbih tanpa mereka sadari!”
Aku memejamkan mata, dan seketika aku merasakan diriku terurai. Aku bukan lagi pengamat, bukan penyair, bukan budayawan; aku adalah molekul oksigen yang berebutan masuk ke dalam dada-dada yang sesak. Aku adalah rasa dingin dari es yang mencair di gelas plastik seorang kuli panggul. Di Pasar Seng ini, aku belajar bahwa menjadi Bukan Siapa-Siapa adalah puncak dari segala kekuasaan, karena kau bisa masuk ke mana saja tanpa perlu mengetuk pintu ego siapapun.
Tiba-tiba, pusat pasar itu tersedot ke dalam satu titik sunyi. Di sana, duduk seorang lelaki tua yang tampak sangat biasa, namun seluruh atom di Makkah seolah-olah sujud ke arahnya. Dialah Sang Kutub al-Waqt, poros waktu yang diam di tengah putaran nasib.
“Kemesraanmu telah sampai pada batasnya,” suaranya tak terdengar oleh telinga, namun bergema di setiap sumsum tulangku. “Kau telah menghapus namamu, tapi apakah kau siap menghapus ‘rasa’ bahwa kau telah menghapus namamu? Itu adalah sisa terakhir dari kebanggaan batin.”
Ia mengulurkan sebuah mangkuk kosong yang terbuat dari potongan langit malam. Aku menyerahkan ‘kesadaranku akan ketiadaan’ ke dalam mangkuk itu. Seketika, ruang dan waktu di Pasar Seng runtuh. Aku melihat masa lalu dan masa depan beradu: aku melihat diriku di masa kecil sedang mengeja alif-ba-ta, dan aku melihat nisan tanpa namaku di masa depan yang telah lumutan. Semuanya terjadi secara serempak dalam satu kedipan mata.
Dunia kembali menjadi bising, namun getarannya telah berbeda. Para Wali Kutub kini berdiri di atap-atap toko, memegang jala yang terbuat dari benang-benang cahaya. Mereka sedang menjala doa-doa yang tulus dari tengah riuh tawar-menawar harga.
Seorang perempuan tua yang sedang menangis karena kehilangan dompetnya tiba-tiba menemukan selembar uang di dalam sakunya—uang yang tadi kutitipkan melalui hembusan angin. Ia tersenyum, dan senyumannya itu adalah upahku: sebuah koin kemesraan yang tak bisa ditukar di bank mana pun di dunia.
“Di sini, di Pasar Seng,” bisik seorang Wali Malamitiyyah yang kini menyamar menjadi kucing jalanan, “kita belajar bahwa Tuhan lebih sering ditemukan di antara peluh buruh panggul daripada di dalam perdebatan para ahli logika yang kaku.”
Aku berjalan menjauh dari pasar, menuju arah Masjidil Haram. Sosok ‘Aku’ telah benar-benar kadaluwarsa. Aku melihat ribuan orang berpakaian ihram, dan aku merasa aku adalah setiap helai benang di pakaian mereka. Aku adalah debu yang menempel di sandal mereka. Aku adalah kerinduan yang membuat kaki mereka melangkah.
Aku berhenti sejenak, melihat ke langit Makkah yang biru pekat. Tak ada lagi wali, tak ada lagi pasar, tak ada lagi kemesraan. Yang ada hanyalah Dia. Dan anehnya, dalam hilangnya diriku, aku menemukan kemesraan yang paling purba: kemesraan sebuah titik yang akhirnya sadar bahwa ia hanyalah bagian dari satu garis panjang asma-Nya.
Aku melangkah masuk ke dalam pintu masjid, menghilang di antara jutaan kepala, menjadi rahasia yang tak perlu lagi diceritakan, menjadi sebuah lagu tanpa suara yang selamanya akan bernyanyi di lorong-lorong sunyi Pasar Seng.
“Aku telah pulang, dengan tidak membawa siapa-siapa ke hadapan-Mu. Hanya kehampaan yang penuh, hanya kemesraan yang membisu.”

