Bagian Pertama
Hidup yang terperangkap di masa kini, mengimpikan masa lalu yang mustahil untuk kembali terjadi.
“Inikah masa depan yang dulu kubayangkan?” begitu kata seorang suami sekaligus ayah satu anak.
Dahulu, ia seorang pertapa yang berjalan melintasi trotoar dan jalanan berpasir—mengembara dengan dua potong pakaian lusuh dan sepasang sandal jepit. Tak peduli terik matahari, hembusan angin, atau guyuran hujan.
Sebelumnya, ia hanyalah remaja tanggung yang mengayuh sepeda ke mana angin membawa. Ia mendaki bukit dan tanjakan curam, hidup sebebas burung. Hanya sesekali kedua orang tuanya mencarinya di berbagai sudut kota kecil tempat mereka tinggal.
Ia bisa terlelap di mana saja—di lantai batu atau dipan kayu. Kadang kala ia merindukan seorang teman hidup yang bisa mengerti dirinya, sesuatu yang tampak mustahil kala itu. Semua kekasihnya mengkhianatinya, bergandengan tangan dengan laki-laki lain. Hal itu membuatnya melarikan diri pada butiran debu dan dedaunan surga.
Otaknya hancur begitu rupa. Untung saja ia masih bisa berpikir dan bermimpi, walau mimpinya hanya dua warna: hitam dan kelam. Hal itu sering ditertawakan oleh temannya—seorang seniman perempuan tua yang menikah dengan laki-laki bijaksana, pengagum boneka kayu.
Begitulah, hidup tak lagi indah baginya. Karena itu, ia memutuskan menjadi pertapa, mencoba menikmati kehampaan hidup sebaik mungkin.
Suatu ketika, ia ingin kembali melihat gemerlap dunia. Dikendarainya sepeda tuanya—kereta angin ribut—namun karena lengah, sebuah mikrolet menyerempetnya. Ia jatuh berguling di bebatuan, kehilangan kesadaran, dan dirampok oleh berandalan yang hanya menemukan sepuluh ribu rupiah di kantong celananya.
Frustrasi mengantarkannya ke kota para raja di Pulau Jawa. Di sana ia kembali menjalani hidup sebagai pertapa, kadang ikut dalam barisan pemberontak. Namun ia tak pernah benar-benar konsisten di barisan itu—barisan gelandangan yang meninggalkan keluarga darah untuk mencari keluarga baru atas dasar perjuangan. Sayangnya, keluarga baru itu pun saling jegal. Ideologi hanya menjadi perhiasan, sebab di dalamnya lebih banyak kepentingan politik.
Mereka bermimpi tentang dunia tanpa penindasan—sesuatu yang teramat sulit diwujudkan. Pada kenyataannya, barisan pemberontak hanyalah batu loncatan bagi sebagian orang untuk menjadi penjilat penguasa baru.
Di suatu malam yang sepi dan hening, ia duduk merenung di pelataran sebuah masjid. Seorang pedagang asongan menghampirinya, menawarkan sebungkus tisu gratis kepadanya. Ia tersenyum dan menolak halus. “Aku beli saja daganganmu,” katanya lirih. “Aku hanya ingin tahu, apakah dunia tanpa penindasan itu mungkin?”
Pedagang asongan itu tak menjawab, hanya tersenyum dan berlalu. Malam kian larut, dan ia kembali menatap langit yang tak menjawab apa-apa.
Bagian Kedua
Kini, dua dekade telah berlalu sejak masa-masa itu. Ia tidak lagi melangkah tanpa tujuan. Rambutnya mulai memutih; tubuh yang dulu gemuk kini kurus. Pipinya kisut dan sedikit kempot.
Bayangan masa lalu dan nyala semangat yang tak padam masih tersimpan di matanya. Ia bekerja di sebuah toko kecil milik teman dekatnya, menjual benda-benda dan gagasan usang yang tak lagi diminati di era digital ini.
Setiap sore, setelah toko ditutup, ia duduk di depan rak belakang, membuka buku-buku lama yang pernah ia bawa selama perjalanan pertapaannya. Di halaman-halaman berdebu itu, ia menemukan kembali suara yang dulu hilang. Ia membaca perlahan, lalu menulis di buku catatan kecil—bukan lagi tentang dunia tanpa penindasan, tetapi tentang dirinya yang telah berdamai dengan keadaan.
Sekarang, ia memiliki dua anak. Anak pertama berumur tujuh belas tahun, pendiam dan pintar, lebih suka menatap layar laptop daripada berbicara panjang. Anak bungsunya berusia empat tahun, sangat aktif dan banyak bicara. Setiap kali ia pulang, si kecil berlari menerjang kakinya sambil berteriak, “Ayah! Ayah beli cokelat, ya?”
Suatu malam, saat ia merapikan tumpukan buku di lantai, si bungsu duduk di pangkuannya.
“Ayah dulu pertapa, ya?” tanyanya polos, seolah mendengar cerita itu dari suatu tempat.
Ia tersenyum tipis. “Iya, tapi bukan pertapa di gunung. Ayah hanyalah seseorang yang dulu terlalu sibuk mencari makna hidup di luar dirinya.”
“Sekarang sudah ketemu?” tanya anak itu lagi.
Ia terdiam lama, lalu menatap wajah kecil itu—seolah melihat dirinya di cermin masa lalu yang bersih dari luka. “Sudah,” jawabnya akhirnya. “Ternyata arti hidup itu bukan di masa lalu, bukan juga di masa depan. Tapi di sini, di antara kamu, masmu, dan bundamu. Di masa kini.”
Anak kecil itu tertawa. Dari kamar terdengar suara sang istri memanggil si sulung untuk makan malam. Ia menatap keluar jendela: langit berwarna ungu tua, suara azan magrib menggema dari surau kecil di ujung gang.
Terkadang, saat istrinya menyeduh teh melati di malam hari, mereka berbincang pelan sambil bernostalgia tentang masa lalu. “Dulu Ayah sering pergi begitu saja,” kata istrinya. Ia tersenyum. “Waktu itu aku hanya paham hidup yang di luar rumah. Ternyata justru bersama Bunda di dalam rumah aku menemukan arti kehidupan.”
Ia menutup toko perlahan, menggendong si kecil yang tertidur di bahunya. Dalam langkah yang pelan namun mantap, ia sadar—hidupnya tak lagi terperangkap di masa kini. Ia telah menjadi bagian dari masa kini itu sendiri.
Bagian Ketiga
Masa depan takkan ada jika masa lalu dan masa kini tiada.
Tak terbayangkan olehnya, sebuah masa depan yang membuka paksa semua borok dan luka masa lalu, lalu menjadikannya sesuatu yang layak dipuja.
Sebagian dari barisan pemberontak, kawan-kawannya dulu, kini bergabung dengan penguasa. Mereka menikmati hidup selayaknya keluarga raja: berpakaian necis, berbicara di forum-forum, dan sesekali mengutip kalimat dari buku-buku yang dulu mereka tertawakan.
Ia hanya bisa menatap dari kejauhan, memandangi mereka dari balik kaca toko, sementara tangannya menulis catatan harga di kertas kecil.
Penguasa zaman dahulu kala—yang banyak menimbulkan luka—bahkan diangkat menjadi dewa, diabadikan dalam bentuk arca. Ia hanya bisa tertawa getir.
Bukan karena iri, melainkan karena paham bahwa dunia tak pernah benar-benar berubah. Hanya wajah penindas yang silih berganti. Dan para pemuja, yang melihat penindas-penindas itu sebagai sosok tanpa cela bak dewa.
Apa mau dikata, kekuasaan bukan miliknya. Ia kembali menjadi pertapa yang tak punya apa-apa, namun harus menghidupi anak dan istrinya.
Hidup jauh di bawah kata sederhana, berbalik arah sedemikian rupa, sampai-sampai ia frustrasi dibuatnya. Terkadang ia protes pada Yang Kuasa.
“Mengapa Engkau jadikan dunia begini, ya Tuhan?” ratapnya dalam kesendirian.
Tuhan tentu tak menjawab. Ia bukan nabi, bukan siapa-siapa, yang pertanyaannya layak dijawab oleh Tuhan.
Suatu malam, ia pergi ke pinggir jurang. Di sana ia berteriak sekuat-kuatnya—marah, luka, kecewa.
“Berdamai? Perdamaian? Berdamai dengan masa lalu? Memangnya aku dapat apa dari semua itu? Aku tetap jadi pertapa biasa, yang sulit mendapat apa-apa!”
Para pemuja penguasa baru kembali melihat sang penguasa bak dewa penunggang naga. Ia hanya tertawa diam-diam. Sebab jika tertawa terang-terangan, hanya akan memancing amarah mereka.
“Sudahlah,” gumamnya lirih, “kebenaran cukup kusimpan sendiri. Tampilkan saja apa yang orang banyak suka.”
Dipandanginya langit sehabis hujan—cerah, berkilau, dan dipenuhi jutaan bintang. Tanpa suara, hanya rasa yang bergetar di dada.
Bagian Keempat
Hampir tengah malam. Si mantan pertapa masih merenungkan kehampaan dan ketidakbahagiaan yang dirasakannya. Ia luar biasa bingung, namun tak tahu harus bertanya pada siapa. Tak ada yang bisa diajaknya berbicara dari hati ke hati.
Suara cekikikan seperti tawa makhluk astral menyadarkannya. Ia bangkit, menuju kamar mandi, membasuh wajah dengan air wudhu.
Dicobanya salat, membaca doa, berbicara dengan Sang Pencipta melalui kekuatan yang tersisa—yang kian melemah seiring usia dan nutrisi yang minim.
Matanya mengantuk sekali. Beberapa kali ia menguap, namun tak juga terpejam. Banyak pikiran berseliweran di kepala, baru akan hilang jika kesadarannya turut hilang.
“Dunia tanpa penindasan memang masih jauh dari harapan,” batinnya. “Tapi bukan berarti hal itu tak mungkin.”
Segala sesuatu kembali kepada manusianya—apakah mereka sungguh menginginkan dunia itu, atau sudah cukup bahagia dengan dunia ini?
Ia sadar, geraknya kini terbatas. Dengan adanya keluarga, istri, dan dua anaknya, ia tak mungkin lagi turun ke jalan, menyadarkan dan mengajak orang lain untuk berjuang.
Yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah berbagi cerita dan gagasan dengan siapa saja yang ia temui: para pengunjung toko, pemilik dan pelanggan warung angkringan, tukang sate, tukang mi ayam, lotek, pecel, hingga bakso langganannya. Mereka sering diajak berdialog ringan olehnya.
Ia tak tahu apakah mereka memahami apa yang disampaikannya. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak menggurui atau merasa lebih tahu. Biasanya, ia memosisikan diri sebagai orang yang ingin tahu dan sedang mencari pengetahuan.
Setelah percakapan terbangun, tanya berbalas jawab, ia perlahan mengenalkan gagasan tentang dunia tanpa penindasan.
Suatu sore, setelah berbincang lama dengan tukang angkringan langganannya, istrinya menelepon, memintanya pulang untuk memandikan putra sulungnya yang duduk di kursi roda.
Ia pulang dengan wajah cerah dan bersemangat. Ditatapnya langit cerah berawan yang berwarna jingga. Dihirupnya udara segar sepanjang jalan menuju rumah.
“Terima kasih, Tuhan,” ucapnya pelan. “Engkau hadirkan rasa ini di dalam dadaku.”
Malam itu, ketika semua telah terlelap di peraduan, ia duduk di beranda rumah. Dari jendela, ia melihat pantulan cahaya lampu berkilau di genangan air sisa hujan. Pantulan itu, selayaknya cermin, menampilkan bayangan wajahnya sendiri—tenang, tak lagi resah dan khawatir, seolah batu di dasar sungai yang membiarkan arus mengalir begitu saja.

