Angpao dari 9 Naga

Klenteng Lasem malam itu seperti tidak berdiri di atas tanah, melainkan terapung di atas genangan teh krisan yang meluap dari cangkir-cangkir porselen dinasti yang sudah punah. Aroma gaharu bukan lagi asap, melainkan benang-benang sutra perak yang menjerat leher waktu. Aku, Sang Penyair, berdiri di depan altar Dewi Kwan Im dengan jubah yang dijahit dari sobekan-sobekan puisi gagal, sementara di belakangku, sembilan sosok raksasa duduk bersila di atas awan dupa.

Mereka adalah Para Taipan 9 Naga. Tubuh mereka tidak terbuat dari daging, melainkan dari tumpukan koin emas yang bergemerincing setiap kali mereka bernapas. Mata mereka adalah permata rubi yang mampu menghitung jumlah helai rambut di kepala setiap orang miskin dalam jarak seribu mil.

“Penyair,” suara naga pertama bergetar, suaranya terdengar seperti mesin penghitung uang yang sedang kepanasan. “Kami memiliki segalanya. Kami memiliki gedung-gedung yang mencakar langit, pelabuhan yang menelan samudera, dan satelit yang memata-matai mimpi para buruh. Tapi kami datang ke Lasem karena satu hal: kami kehilangan apa yang tak bisa kami beli.”

Aku menoleh, melihat Siaw Chie—perempuan mistis jelita dalam busana cheongsam merah darah—sedang membasuh wajah patung Kuda Api dengan air mata naga. Setiap tetes air matanya berubah menjadi angpao yang terbang seperti burung-burung pipit, hinggap di atap-atap rumah penduduk Lasem yang dindingnya mulai retak oleh jam-jam sibuk.

“Tuan-tuan Naga,” kataku sambil menyulut batang gaharu yang apinya berwarna ungu. “Cinta tidak bisa dibeli dengan kurs valuta asing. Di Klenteng ini, nilai tukar perasaan tidak ditentukan oleh indeks harga saham, melainkan oleh ketulusan menjura di depan altar.”

Naga kedua, yang tubuhnya dilapisi sisik perbankan global, tertawa absurd. Tawanya mengeluarkan ribuan kartu kredit yang jatuh ke lantai klenteng dan berubah menjadi kecoa-kecoa logam. “Kami ingin membeli senyum Siaw Chie. Kami ingin memasukkannya ke dalam deposito yang bunganya dibayar dengan kasih sayang abadi!”

Siaw Chie menoleh. Wajahnya adalah wajah Dewi Kwan Im yang sedang menyamar. Ia tersenyum, tapi senyumnya bukan untuk para taipan. Senyumnya tertuju pada sebatang gaharu yang dipegang oleh seorang bocah laki-laki, Thi Tie, yang berdiri di pojok klenteng sambil memegang angpao kosong yang hanya berisi doa-doa basah.

“Lihatlah,” bisikku pada para Naga. “Cinta itu tidak tertukar. Ia tahu ke mana harus pulang, meskipun ia tidak memiliki nomor rekening.”

Tiba-tiba, suasana menjadi surealis. Patung Kuda Api di altar mendadak meringkik, suaranya adalah melodi kecapi yang patah. Kuda itu melompat turun, namun kakinya tidak menyentuh lantai. Ia berlari di dinding-dinding klenteng, menginjak gambar-gambar dewa hingga mereka semua keluar dari bingkai kayu dan mulai berdansa tango bersama bayang-bayang para taipan.

Salah satu naga mencoba menangkap Siaw Chie dengan jaring yang terbuat dari obligasi negara. Namun, saat jaring itu menyentuh kulit cheongsam-nya, sutra merah itu berubah menjadi ribuan kelopak bunga mawar yang meledak, menutupi seluruh ruangan klenteng dengan warna merah yang menyilaukan.

“Absurd!” teriak Naga kesembilan, yang kepalanya berbentuk brankas raksasa. “Bagaimana mungkin sesuatu yang tak bernilai ekonomi bisa lebih kuat dari akumulasi modal kami?!”

“Karena di Lasem,” jawabku sambil menuliskan baris terakhir puisi di atas asap dupa, “kebaktian yang penuh puja tidak membutuhkan kuitansi. Wajah gagah Kuda Api hanya tersenyum pada mereka yang memberikan hati, bukan mereka yang memberikan investasi.”

Hujan imlek mulai turun di dalam ruangan klenteng. Airnya hangat, berbau melati. Para Taipan 9 Naga mulai mencair. Tubuh emas mereka luruh, berubah menjadi lumpur cokelat yang aromanya persis seperti tanah kuburan yang baru digali. Mereka meraung, namun suara raungan mereka segera ditelan oleh nyanyian Siaw Chie yang lembut.

Aku mendekat ke arah Siaw Chie. Ia menyerahkan sebuah angpao merah kepadaku. Ketika kubuka, di dalamnya tidak ada uang sepeser pun. Hanya ada sepotong cermin kecil. Saat aku melihat ke dalam cermin itu, aku tidak melihat wajahku. Aku melihat wajah seluruh kerabat yang menyampaikan cita cinta di sepanjang sejarah yang belum dibaca.

“Simpanlah,” bisik Siaw Chie, suaranya seperti desau angin di rumpun bambu. “Ini adalah berkah yang menyejukkan wajah Kuda Api di tengah cuaca imlek yang paling basah.”

Namun, Klenteng Lasem tidak membiarkan rahasianya terkubur begitu saja. Saat para Taipan 9 Naga mencair menjadi lumpur, lumpur itu tidak mengalir ke selokan, melainkan merayap naik ke dinding-dinding klenteng, membentuk relief baru yang menggambarkan sebuah Perjamuan Terakhir para Kapitalis.

“Belum selesai, Tuan Penyair!” teriak naga terakhir yang kini kepalanya menyerupai jam dinding raksasa dengan jarum yang berputar melawan arah penciptaan. “Cinta mungkin tak tertukar, tapi kami telah membeli waktu! Lihatlah, jam-jam sibuk di luar sana adalah milik kami!”

Tiba-tiba, dari dalam stupa dupa yang paling besar, muncul Franz Kafka. Ia membawa setumpuk formulir berwarna merah angpao. “Maaf mengganggu ritual Anda,” ujar Kafka datar, “tapi menurut peraturan birokrasi langit Pasal 13 Januari, setiap senyum Siaw Chie yang diberikan kepada penyair harus dikenakan pajak kerinduan sebesar empat puluh persen.”

Aku tertegun. Di dunia absurd ini, bahkan cinta harus melewati meja stempel. Pramoedya muncul dari balik tirai sutra merah, ia membawa mesin tik tua yang suaranya terdengar seperti rentetan tembakan di tengah malam. “Jangan isi formulir itu!” seru Pram. “Kebebasan adalah ketika kau berani mencintai tanpa meminta izin dari birokrat manapun!”

Siaw Chie mendekat ke arahku. Busana cheongsam-nya kini tampak transparan, memperlihatkan bahwa di balik kulitnya mengalir cahaya merah yang senada dengan lampion. Ia mengambil batang gaharu terakhir dari tangan Thi Tie.

“Tuan Penyair,” bisiknya, suaranya kini seperti gemericik air di sumur Lasem yang tua. “Angpao kosong yang kau pegang tadi sebenarnya berisi Kehadiran. Para Naga itu menangis karena mereka hanya punya isi, tapi tak punya wadah.”

Tiba-tiba, ruang Klenteng Lasem melipat dirinya sendiri, berubah menjadi sebuah gang sempit di pojokan Sosrowijayan, Yogyakarta. Di sana, wajah Dewi Kwan Im menyatu dengan wajah para penjual gudeg yang tetap tersenyum meski imlek basah melanda lapak mereka.

Matsuo Bashō muncul, duduk di atas becak yang ditarik oleh seekor Naga yang sudah tobat. Ia menyerahkan sebuah haiku pendek yang tertulis di atas lapisan angpao:

Lampion merah—
Di pipi Siaw Chie,
Hujan menjadi teh.

Saat jarum jam di dinding Klenteng Lasem beradu pada angka tiga belas yang mustahil, Siaw Chie melangkah maju. Di tangannya, ia menggenggam Angpao Ketujuh—amplop merah bulat seperti lubang hitam yang menelan seluruh cahaya kesombongan.

“Buka ini, Tuan Penyair,” bisik Siaw Chie. “Di dalamnya tersimpan rahasia mengapa Kuda Api tidak pernah berhenti berlari.”

Aku merobek segel angpao itu. Namun, bukannya lembaran uang, yang keluar adalah suara paduan suara dari ribuan nenek moyang yang bermigrasi melintasi samudera, bercampur dengan tawa anak-anak di pecinan Yogyakarta. Begitu rahasia itu terbuka, patung Kuda Api di altar meledak menjadi ribuan partikel cahaya emas. Di tengah ledakan itu, berdirilah sesosok pria tua dengan wajah yang sangat akrab.

“Aku bukan binatang mitologi,” suara Kuda Api bergema, “Aku adalah Semangat yang Menolak Menjadi Benda. Para Taipan itu mencariku dalam investasi, padahal aku hanya tinggal dalam doa yang paling sunyi.”

Salah satu gumpalan lumpur yang dulunya adalah Taipan Naga mencoba bicara. “Jika kau adalah api, biarkan kami membeli satu percikan saja untuk menghangatkan neraka kami!”

Oscar Wilde yang tiba-tiba muncul sambil membawa payung kertas sutra, tertawa terpingkal-pingkal. “Aduh, Tuan Naga, di sini harga satu percikan api adalah Seluruh Ego-mu. Apakah kau punya kembaliannya?”

Para Naga itu terdiam. Menjadi ‘Tiada’ adalah horor yang lebih besar daripada kebangkrutan saham bagi mereka. Mereka pun perlahan mengeras menjadi patung-patung batu yang menjaga pintu masuk klenteng, menjadi saksi bisu bagi cinta yang tak tertukar.

Siaw Chie menjura padaku. “Tugasmu telah usai, Sang Penyair. Kau telah menuliskan apa yang tak bisa dihitung.”

Klenteng Lasem perlahan melenyap, tertutup oleh gorden merah di kamar. Aku terbangun sepenuhnya. Di luar, suara petasan terdengar bersahutan, mengusir bala dan menyambut harapan. Aku melihat ke cermin. Di pantulannya, aku melihat bayangan Kuda Api berlari di dalam mataku. Aku melihat Siaw Chie tersenyum di balik lipatan baju cheongsam merah yang tergantung di lemari.

Ternyata, perjalanan surealis ini bukanlah mimpi, melainkan sebuah Bangun yang Sejati. Angpao di tangan mamah mencerahkan dinding rumah. Gaharu di pedupaan menenangkan wajah Kuda Api. Dan cinta? Cinta tetap menjadi satu-satunya mata uang yang akan kita bawa saat kita melintasi jembatan menuju keabadian.

Gong Xi Fa Cai.
Semoga berkah menyucikan ribuan kasih, di imlek yang basah, di hati yang senantiasa menjura.

TAMAT

Gus Nas Jogja
Yogyakarta, 17 Februari 2026.

Related Articles

Artikel baru