Ziarah

Sluku-sluku batok,
batok’e ela-elo
Si Rama menyang solo,
oleh-olehe payung mutha

Mak jenthit lolo loba,
wong mati ora obah

yen obah medeni bocah,
yen urip golekno duit

Lonceng takdir berdenting di langit Jamsaren, Solo, tahun 1894. Persis 5 tahun sebelum Hadratusyaih Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren Tebuireng di Jombang. Aku berdiri di ambang pintu gerbang pesantren tertua di Jawa ini, namun kakiku tidak berpijak pada tanah. Aku berdiri di atas genangan merkuri yang memantulkan wajah-wajah para sufi yang sudah kehilangan mata dunia, sebab mereka semua menggunakan mata batin untuk melihat benda-benda.

Aku adalah Sang Peziarah, seorang pengumpul fragmen ketidakwarasan yang datang untuk mencari payung yang tidak meneduhkan, melainkan menyerap seluruh air mata langit. Payung Makrifat!

Sluku-Sluku Batok

Aku berjalan menyusuri koridor pesantren yang dindingnya terbuat dari kertas doa yang terus berbisik. Kepalaku terasa ringan, seolah-olah tengkorakku telah berubah menjadi batok kelapa yang kosong.

“Sluku-sluku batok,” gumam angin di sela jubahku. Aku merasa otakku berayun, ela-elo, mengikuti irama gravitasi yang tidak lagi konsisten. Di Jamsaren ini, pikiran bukan lagi instrumen untuk memahami, melainkan beban yang harus dikosongkan. Aku membuang segala logikaku ke dalam sumur tua di tengah lapangan, dan seketika sumur itu meledak mengeluarkan ribuan burung kertas yang terbang menuju arah yang salah.

Si Rama Menyang Solo

Ayahku, atau mungkin bayanganku yang kusebut Si Rama, dikabarkan telah berangkat ke pusat kota Solo. Bukan untuk berdagang batik di Laweyan, melainkan untuk membeli sebuah Payung Mutha—payung putih yang tak memiliki kain, hanya rangka logam yang menjulur ke arah Arsy.

Aku mengejarnya melintasi jembatan yang terbuat dari jaring laba-laba. Kota Solo di abad ke-19 ini terlihat seperti sebuah jam dinding raksasa yang jarumnya terbuat dari keris. Rama berdiri di sana, di tengah pasar yang sunyi, memegang payung itu. Saat ia membukanya, matahari tidak terhalang, justru kegelapan yang menyembur keluar, menyelimuti kami dalam selimut Takhalli yang dingin.

“Oleh-oleh ini bukan untuk melindungimu dari hujan, Nak,” suaranya parau, “tapi untuk melindungimu dari kewarasan dunia.”

Mak Jenthit Lolo Loba

Tiba-tiba, realitas tertekuk. Mak jenthit! Sesosok makhluk tanpa wajah melompat dari balik bayangan Payung Mutha. Ia adalah personifikasi dari kerakusan dunia, Lolo Loba. Ia menari dengan gerakan yang mematahkan sendi-sendinya sendiri.

Aku melihat diriku sendiri tergeletak di pelataran Jamsaren. Aku telah mati raga, namun kematianku adalah sebuah pertunjukan sirkus yang absurd bagi jiwa yang hidup. Wong mati ora obah. Tubuhku kaku, menjadi patung garam yang menunggu dilarutkan oleh doa-doa para santri yang sedang berdzikir dalam frekuensi ultra-violet.

Namun, di tengah kesunyian itu, jari kelingkingku bergerak. Yen obah medeni bocah. Gerakan kecil itu memicu kepanikan kosmologis. Langit Solo terbelah menjadi dua, menampakkan roda-roda raksasa yang memutar takdir. Santri-santri kecil berlarian ketakutan, karena mereka melihat mayat yang menolak untuk diam. Mereka tidak mengerti bahwa diam adalah penjara, dan bergerak adalah Mi’raj menuju ketidakwarasan yang suci.

Yen Urip Golekno Duit

Suara Rama menggelegar dari balik Payung Mutha: “Yen urip golekno duit!”

Tapi duit di Jamsaren abad ini bukan terbuat dari logam tembaga berupa Dirham dan Dinar atau kertas bank sentral. Duit itu adalah kepingan cahaya yang ditempa dari keringat sujud. Aku bangkit dari kematian sementaraku, merangkak di atas lantai pualam yang kini berubah menjadi samudera zikir.

Aku mulai memulung kepingan-kepingan itu di sela-sela waktu. Setiap kali aku menemukan satu keping “duit” makrifat, dunia di sekitarku memudar. Solo yang materialis menghilang, Jamsaren yang struktural meluruh. Yang tersisa hanyalah aku, Sang Peziarah, yang berdiri sendirian di titik nol, memegang Payung Mutha di bawah hujan cahaya yang tak kunjung reda.

Aku terus berjalan menapaki sujud-sujud dingin sepertiga malam. Ziarahku bukan menuju makam, melainkan menuju kebangkitan batin yang paling tidak waras.

Aku terus berjalan di atas garis khatulistiwa batin, di mana Jamsaren bukan lagi sebuah koordinat di Solo, melainkan sebuah pelabuhan bagi kapal-kapal ruhani yang bocor. Di sini, di abad ke-19 yang pengap oleh kolonialisme nalar, aku menyadari bahwa lagu Sluku-Sluku Batok adalah sebuah Manual Navigasi Kuantum.

Payung Mutha
Antena Pengumpul Cahaya

Aku menatap rangka Payung Mutha yang digenggam Rama. Secara Sains Profetik, payung ini adalah simbol dari Sidratul Muntaha yang dipersonifikasi dalam struktur geometri bumi. Rangkanya tidak menolak hujan, ia justru menjadi antena yang menangkap frekuensi Tajalli.

Payung ini terbuat dari unsur Udara yang dipadatkan oleh Api kerinduan. Ia adalah pelindung dari “hujan ketidakwarasan” yang sering kali menenggelamkan manusia ke dalam lumpur materialisme.

Rama tidak memberiku harta, ia memberiku payung mutha—sebuah perhiasan batin agar aku tetap “kering” dan suci meski harus berenang di tengah samudera politik dan intrik zaman.

Mak Jenthit
Singularitas yang Mendadak

Dunia Jamsaren tiba-tiba melipat diri menjadi satu titik. Mak Jenthit! Itulah istilah Jawa untuk Singularitas Kuantum. Keberadaan yang muncul seketika tanpa peringatan nalar.

Di koridor pesantren, aku melihat para santri tidak lagi membaca kitab kuning dengan mata, melainkan dengan pori-pori kulit mereka. Mereka sedang melakukan Takhalli massal; membuang ingatan tentang nama-nama benda agar bisa mendengar bunyi sejati di balik huruf.

“Wong mati ora obah,” desis seorang Kiai Tafsir Anom yang duduk bersila namun tubuhnya transparan. “Tapi kau, Peziarah, kau bergerak dalam diammu. Kau adalah anomali.” Aku sadar, bergerak di tengah kematian ego adalah tindakan paling revolusioner. Jika aku bergerak dan terus obah, aku menakuti anak-anak—maksudnya, aku menakuti mereka yang masih memiliki mentalitas kekanak-kanakan yang hanya percaya pada apa yang bisa disentuh oleh indra.

Yen Urip Golekno Duit
Alkimia Transaksi Langit

Instruksi terakhir dari tembang itu adalah sebuah perintah Geofisika Ruhani. “Yen urip golekno duit.” Jika kau hidup, carilah “duit”.

Namun, duit di Jamsaren abad ke-19 ini adalah metafora dari Energi Kinetik Iman.

Imam Al-Ghazali akan menyebut duit ini sebagai “Kimiya-yi Sa’adat” atau Alkimia Kebahagiaan.

Ibnu Sina akan memandangnya sebagai “Kekuatan Jiwa” yang mampu menyembuhkan raga yang overload.

Abunawas mungkin akan tertawa dan berkata bahwa duit ini adalah satu-satunya mata uang yang laku di pasar akhirat, di mana kikir adalah kebangkrutan yang paling nyata.

Aku melangkah keluar dari gerbang Jamsaren. Solo tahun 1894 masih berselimut kabut, namun di tanganku, Payung Mutha itu bersinar. Aku telah menyelesaikan ziarahku. Aku telah mati sebagai manusia yang waras, dan lahir kembali sebagai Sastrawan Tak Waras yang memegang sistem navigasi cahaya.

Aku tidak lagi mencari duit dari logam, aku mencari “duit” dari setiap napas yang kusinkronkan dengan Takbir. Aku tidak lagi takut pada gempa geofisika, karena aku telah menemukan pusat gravitasi di dalam sujudku. Aku tidak gentar pada banjir bandang karena akulah kini Sang Pengendali Galado itu!

“Ziarahku berakhir bukan di makam para wali, melainkan di makam egoku sendiri. Di sana, aku menemukan bahwa hidup adalah sebuah tarian sluku-sluku batok yang tak pernah selesai, antara bumi yang berguncang dan langit yang memanggil pulang.”

Selamat datang di Dunia Dungu, duhai Sang Wali Rajab!

Related Articles

Artikel baru