Pukul satu lewat tiga puluh lima dini hari.
Usman baru saja mengangkat Ali ke tempat tidur—anak sulungnya yang kini duduk di kelas tiga SMA. Karena kelainan saraf yang disandangnya, Ali tak bisa berdiri atau berjalan. Sehari-hari, kursi roda menjadi kakinya. Usman memandangi wajah anaknya itu sejenak, memastikan napasnya teratur, lalu menarik selimut perlahan agar tidak mengganggu tidurnya. Ali selalu butuh waktu lebih lama untuk benar-benar terlelap.
Setengah jam sebelumnya, ketika duduk di depan televisi yang menyala tanpa suara, pikirannya melayang pada almarhum ayahnya—seorang dokter kandungan yang berdedikasi tinggi, luar biasa rajin, yang seumur hidupnya seperti hanya mengenal dua dunia: pasien dan keluarga. Mungkin karena itulah, pikir Usman, ayahnya pergi pada usia yang tak terlalu tua—enam puluh delapan tahun. Tubuhnya pelan-pelan digerus oleh kewajiban yang tak pernah berhenti.
Ingatan itu membawa Usman pada Lebaran tahun 2010. Saat itu, setahun setelah Lebaran terakhir mereka jalani bersama dalam keadaan sehat, giliran berlebaran di rumah keluarga istrinya, Annie, di Yogyakarta. Usman tidak bisa pulang ke Kampuang. Selain karena aturan giliran, ia sudah berjanji membantu keluarga mertuanya yang tahun itu menjadi tuan rumah untuk saudara-saudara jauh.
Ia hanya bisa mengirimkan paket: sehelai baju koko lengan pendek berwarna gading untuk ayahnya, dan sepasang gamis sederhana untuk ibunya. Ia memilihnya dengan sungguh-sungguh di sebuah toko kecil tak jauh dari kampus tempatnya bekerja. Dalam hati ia merasa, meski Lebaran jauh, setidaknya ada sesuatu yang ia kirimkan—semacam bukti bahwa ia tetap ingat pada mereka.
Setelah paket itu dikirim, ia menulis pesan singkat:
“Bagaimana, Yah? Apakah baju koko yang Usman kirim sudah sampai?”
Beberapa jam kemudian, balasan datang:
“Alhamdulillah, Nak. Baju kirimanmu sudah sampai. Bagus sekali. Terima kasih, ya, Nak.”
Usman ingat betul betapa lega ia membaca pesan itu. Ada rasa puas, rasa telah menjalankan kewajiban. Ia tidak tahu—tidak pernah tahu—bahwa beberapa kata sederhana itu menyimpan sesuatu yang tak ia tangkap waktu itu.
Setelah ayahnya wafat pada tahun 2016, barulah Usman mengetahui kenyataan yang menunggu di lemari orang tuanya. Pada suatu sore yang lembap di Kampuang, ketika ia membuka lemari jati berwarna cokelat itu—lemari yang sama yang sudah ada sejak masa remajanya—ia menemukan baju koko itu masih terlipat rapi. Terbungkus plastik toko, beraroma wangi kamper. Nyaris sama persis seperti saat ia mengirimkannya enam tahun sebelumnya. Seolah tak pernah tersentuh waktu.
Usman menatapnya lama. Ada desir perih yang merambat tanpa ia undang. Mengapa Ayah tidak pernah memakainya? Apakah ukurannya salah? Kurang cocokkah warna yang ia pilih? Atau Ayah melupakan keberadaan baju itu?
Kebingungan itu mendorongnya bertanya pada ibunya.
“Bu,” katanya pelan, “mengapa baju koko yang Usman belikan dulu masih dibungkus plastik?”
Ibunya—Bu Julia—yang sedang duduk di tepi tempat tidur, terlihat diam seribu bahasa. Ia sejujurnya bingung mau menjawab apa. Kalau mengatakan yang sebenarnya, ia takut anaknya tersinggung. Pada akhirnya, ia memilih jalan aman.
“Kata ayahmu,” ujarnya hati-hati, “model dan motifnya anak muda sekali. Ia merasa tidak cocok dengan usianya yang sudah tua.”
Usman mengangguk. Penjelasan itu cukup masuk akal, setidaknya terlihat begitu. Namun ada sesuatu yang janggal dalam cara ibunya berkata-kata; rasanya seperti ada yang ditahan. Ada kalimat yang tidak terucapkan.
Hari itu, ketika ibunya sedang pergi ke pasar bersama salah seorang pegawainya, Usman kembali membuka lemari. Diambilnya baju koko itu dan dipegangnya lebih lama. Saat itulah ingatan lain muncul: tatapan ayahnya pada libur akhir tahun, setahun setelah Lebaran terakhir, ketika Usman datang berkunjung bersama keluarganya.
Saat itu ayahnya berkata pelan, “Lebaran tahun depan, kamu di Yogya, ya, Man?”
“Iya, Yah. Gantian. Soalnya tahun ini kami Lebaran di Kampuang,” jawab Usman.
“Ya sudah, Man… tidak apa-apa. Salam untuk Bapak dan Ibu Annie di sana,” tutur ayahnya pelan.
Kini semuanya buyar di kepalanya seperti potongan-potongan puzzle kecil. Pelan tetapi pasti, ia coba merangkai sendiri makna yang tersembunyi. Mungkin ayahnya memang merasa baju itu tidak cocok dan tidak ingin mengenakannya—karena bukan baju itu yang ia harapkan.
Mungkin yang ia tunggu adalah anaknya.
Baju koko yang terbungkus rapi dan tidak berubah semenjak dikirim itulah yang menjadi tanda kecil, seolah mengatakan bahwa ayahnya selalu menantikan dirinya setiap Lebaran.
Dipandanginya baju itu lagi. Tangannya gemetar. Ada kesadaran yang pelan-pelan merasukinya: bahwa pilihannya mengirimkan baju koko—dan tidak pulang saat Lebaran karena ongkos mahal—ternyata bukan sesuatu yang diinginkan ayahnya. Kedatangannya jauh lebih utama dibanding baju yang ia kirim.
Kini, setelah sembilan tahun ayahnya pergi, di dini hari yang sepi, Usman berdiri di samping tempat tidur Ali. Dengkuran anaknya yang pelan dan teratur mengingatkannya pada sesuatu—pada sebuah tuntutan yang, jika tak kunjung terpenuhi, akan menjadi penantian. Ia paham betul ada sisi rapuh dalam dirinya yang tak pernah ia perlihatkan kepada Ali.
Dan tanpa disangkanya, baju koko itu kembali tergambar dalam pikirannya dengan sangat jelas: bentuknya, lipatannya, plastiknya, aroma kampernya.
Di kamar yang sepi itu, Usman merasakan sesuatu yang menusuk hatinya perlahan. Ia seolah tengah memandangi kembali semua tahun ketika ia tidak pulang ke Kampuang pada Lebaran. Dari baju koko yang tak terpakai itu, ia jadi paham bahwa orang tua sering kali mengasihi anaknya dalam bentuk yang sangat sederhana—bisa berupa diam, atau penantian yang tak terucapkan.
Kini, boleh dikata semuanya sudah terlambat. Baru kini ia memahami bahwa ayahnya ternyata mengharapkan kehadiran dirinya dan keluarga kecilnya, meskipun sebentar. Dari aroma kamper yang masih menempel dalam ingatannya, ia seolah menerima pesan terakhir dari ayahnya: bahwa kerinduan akan keberadaan anak yang disayanginya di sisinya pada setiap Lebaran tak pernah terpenuhi hingga akhir hayatnya.
Usman hanya bisa menerawang dengan air mata berlinang.

