Dalam kehidupan modern yang penuh dengan perencanaan, target, dan kecemasan akan hari esok, pikiran kita kerap terjebak dalam sebuah aktivitas mental yang dalam istilah tasawuf disebut at-tadbîr. Secara harfiah, tadbîr berarti mengatur, merencanakan, atau memikirkan akibat dari suatu urusan untuk masa depan. Namun, dalam perjalanan spiritual, tadbîr yang berlebihan justru menjadi penyakit hati yang melelahkan.
Imam Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari dalam Al-Hikam-nya memberikan nasihat yang singkat namun sarat makna yang mendalam:
أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ ,فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِك
“Legakan (istirahatkan) dirimu dari tadbîr (mengatur segala sesuatu). Sebab, apa yang sudah diurus oleh Yang Lain (Allah) untukmu, tidak perlu engkau urus lagi.”
Apa Sebenarnya Tadbîr yang Tercela Ini?
Menurut penjelasan Syaikh Ahmad Zaruq dalam Syarh al-Hikam, tadbîr yang tercela adalah kesibukan hati untuk mengatur dan mencemaskan kebutuhan duniawi di masa depan, baik yang dikhawatirkan maupun yang diharapkan, dengan hanya mengandalkan pertimbangan akal manusiawi (bil-hukmi), bukan dengan sikap pasrah dan penyerahan diri (bit-tafwîd).
Tadbîr model ini memiliki tiga karakter buruk:
1.Meyakini sepenuhnya bahwa rencananyalah yang akan menghasilkan sesuatu (jazm). Keyakinan ini meniadakan kuasa Allah sebagai Sang Penentu yang Hakiki.
2.Merupakan bentuk sû’ul adab (buruknya adab) kepada Allah. Ia ibarat seorang pembantu yang tidak percaya pada tuannya, sehingga mengurus ulang sesuatu yang sudah diatur oleh tuannya dengan baik.
3.Menyebabkan kelelahan tanpa faedah, menghabiskan waktu, dan menjadi penghalang (hijab) untuk mengingat Allah.
Syaikh Sahal bin ‘Abdillah at-Tustari (w. 283 H) berpesan lugas: “Tinggalkan tadbîr dan ikhtiyar (usaha yang disertai kehendak diri), karena keduanya akan mengeruhkan kehidupan manusia.”
Tiga Pendorong Utama Perilaku Tadbîr
Mengapa kita sulit melepas tadbîr? Syaikh Zarûq mengidentifikasi tiga pendorongnya:
1.Perasaan memiliki kebebasan berusaha secara mutlak. Lupa bahwa kemampuan untuk berusaha itu sendiri adalah anugerah Allah.
2.Kelalaian dari hakikat tauhid. Lupa bahwa Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki dan Pengatur alam semesta adalah Allah semata.
3.Bersandar pada diri sendiri (i’timâd ‘alal kasb). Hanya memandang usaha dan rekayasa diri sendiri sebagai sumber pencapaian.
Tiga Jenis Tadbîr: Tercela, Terpuji, dan Diperbolehkan
Perlu diketahui (agar tidak salah paham), bahwa tidak semua tadbîr dilarang. Para ulama membaginya menjadi tiga:
1.At-Tadbîr al-Madzmum (yang tercela): Inilah yang dijelaskan di atas. Ia adalah tadbîr yang disertai dengan ketergantungan hati pada rencana sendiri dan mengabaikan kuasa Allah. Ia bisa berupa lamunan duniawi (umniyyah) atau mengikuti hawa nafsu (syahwat).
2.At-Tadbîr al-Mathlub (yang dianjurkan): Yaitu tadbîr untuk urusan akhirat (ad-dîniyy), seperti merencanakan waktu untuk menuntut ilmu, beribadah, atau berbuat baik. Ini disebut sebagai niyat al-khoir (niat yang baik) sebagaimana dalam hadis Nabi (niyatul mu’min khirun min ‘amalihi) dan sangat terpuji.
3.At-Tadbîr al-Mubâh (yang diperbolehkan): Yaitu tadbîr untuk urusan duniawi atau kebiasaan (ath-thabî’iy), seperti merencanakan bisnis atau jadwal sehari-hari, tetapi dilakukan dengan sikap tafwîd (pasrah). Hatinya tetap bergantung pada Allah, seraya berkata, “Aku merencanakan, tetapi ketetapan-Mu yang berlaku.” Rasulullah SAW bersabda:
التَّدْبِيرُ نِصْفُ الْمَعِيشَةِ
“At-Tadbîr (perencanaan yang baik) adalah separuh kehidupan.” (HR. Ad-Dailami). Hal ini merupakan tadbîr lahiriyah, sementara hatinya tetap tenang dan tawakkal.
Syaikh Ibn ‘Atha’illah dalam At-Tanwîr memberikan kunci pembedanya: “Segala sesuatu itu tercela atau terpuji dilihat dari dampaknya. Jika tadbîr itu menggangumu dalam mengingat Allah, maka ia tercela. Jika ia mendekatkanmu kepada ridha Allah, maka ia terpuji.”
Jalan Keluar: Dari Tadbîr Menuju Tafwîd
Lalu, bagaimana melepaskan diri dari belenggu tadbîr yang tercela? Para arifin memberikan solusi:
1.Memperbaiki Aqidah dan Tauhid: Meyakini sepenuhnya bahwa Allah-lah yang menciptakan dan memilihkan yang terbaik untuk hamba-Nya. Allah berfirman: “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-Qashash: 68)
2.Bersikap Pasrah (tafwid) setelah Berikhtiar: Seperti pesan Syaikh Ibrahim al-Khawwash: “Ilmu itu seluruhnya terkandung dalam dua hal: (1) Jangan memaksakan dirimu untuk memperoleh sesuatu yang sudah dijamin untukmu, (2) Jangan menyia-nyiakan sesuatu yang menjadi kewajibanmu.”
3.Bergantung Hanya kepada Allah: Syaikh Dzun Nun al-Mishri menasihati: “Jika engkau mengurus kewajibanmu dan tidak ikut campur dalam urusan yang sudah ditetapkan Allah untukmu, maka engkau adalah orang yang sempurna akal. Jika engkau bergantung pada Allah dalam segala keadaanmu, bukan pada amalmu, maka engkau telah mencapai ma’rifatullah.”
Penutup: Kedamaian dalam Keheningan Pasrah
Sabda Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk menemukan ketenangan sejati: “Sesungguhnya Allah menjadikan rasa lapang dan lega dalam al-yaqîn (keyakinan yang kuat).”
Ketenangan itu hadir ketika kita berhenti menjadi “direktur” yang cemas yang mencoba mengendalikan segala skenario hidup, dan beralih menjadi “karyawan” atau “wakil” (khalifah) yang aktif, tekun, dan tawakkal kepada Sang Pemilik Kehidupan.
Poin kritis yang harus ditekankan adalah: konsep melegakan diri dari tadbîr yang tercela ini sama sekali bukan mendorong kita untuk berhenti berusaha (jumud), bersikap pasif, atau melemahkan cita-cita. Justru sebaliknya, ajaran ini ingin menyelamatkan semangat dan cita-cita luhur kita dari kehancuran akibat kecemasan dan kekecewaan. Ia membersihkan usaha kita dari racun ketergantungan pada diri sendiri, sehingga usaha itu menjadi lebih ikhlas, fokus, dan berkualitas.
Perbedaan utamanya terletak pada locus of control (pusat kendali) hati kita:
Usaha yang diliputi Tadbîr Tercela: Hati bergantung pada kecerdikan rencananya sendiri. Kegagalan membuatnya hancur, keberhasilan membuatnya sombong.
Usaha yang disertai Tafwîd (Pasrah): Hati bergantung pada Allah. Ia berusaha maksimal seolah-olah segalanya tergantung pada usahanya, tetapi ia berserah diri sepenuhnya seolah-olah segalanya tergantung pada Allah. Inilah makna sebenarnya dari ikhtiar. Rasulullah SAW bersabda, “Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.” (HR. Muslim).
Oleh karena itu, bercita-citalah setinggi langit, berencanalah dengan matang, dan bekerjalah dengan keras. Namun, sambil melakukan semua itu, legakan hatimu. Serahkan hasil akhirnya kepada keputusan Allah yang Maha Bijaksana. Dengan melegakan diri dari tadbîr yang melelahkan, kita bukan melemahkan cita-cita, tetapi justru menguatkan pondasi spiritualnya, sehingga ketika hasil tidak sesuai rencana, kita tidak patah arang, karena yakin bahwa skenario Allah pasti lebih indah dan penuh hikmah. Inilah keseimbangan yang menjadikan seorang muslim pemberani dalam berusaha, sekaligus tenang dalam menjalani takdir.
Referensi:
- Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari, Al-Hikam.
- Ahmad Zarûq al-Fâsî, Syarh al-Hikam al-‘Athâ’iyyah.
- Ahmad bin Muhammad ‘Ajibah, Iqdhu al-Himam fî Syarh al-Hikam.

