AI Bermuka Manusia

“Deadline (tugas kuliah) masih kurang 7 menit lagi, santai dulu ga sih?”, kata konten kreator youtube yang memberikan rekomendasi fitur ai untuk pengerjaan tugas mahasiswa.

Artificial Intelligence ( AI) dianggap malapetaka bagi dosen. Dosen menganggap bahwa mahasiswa yang menggunakan ai menghilangkan aura akademis. Mereka (dosen) sepakat untuk menciptakan aturan pemberlakuan etika penulisan akademik bagi mahasiswa. Umumnya, sanksi yang diberikan kepada mahasiswa yang karya tulisannya  ketahuan menggunakan AI adalah penurunan nilai.

Ai sebagai model secara perlahan melakukan pendekatan kepada kalangan akademik untuk ‘berdamai’ . Misalnya, chat gpt-edu. Chat GPT sebagai model yang diciptakan oleh Perusahaan Open AI. Open AI  melakukan langkah lobi politik dengan bekerjasama dengan universitas Arizona State University (ASU) sebagai cara untuk memperkenalkan fitur yang bisa diandalkan untuk kalangan akademisi ( mahasiswa, dosen, peneliti) (Kompas.com 2024). Cara yang kompromis ini sebagai bentuk counter hegemony dari wacana dominan yang dipertentangkan  oleh kalangan akademisi.

Wacana yang digulirkan oleh Open AI dengan narasi “ new collaboration” antara open AI dan ASU untuk medekontruksi makna produk hasil ai tidak akademis. Perusahaan mencoba mempengaruhi publik dengan menggunakan wacana tandingan agar tidak dijadikan musuh bersama ( common enemy) dari kalangan akademis. Makna yang ditekankan dalam new collaboration disebut sebagai political jouissance.

Political jouissance menurut lacan dalam buku Left Lacanian yang ditulis oleh Yannis Stavrakakis, bahwa paradoks ‘enjoyment’ diciptakan oleh subjek untuk makna yang diberi objek. (Yannis Stavrakakis and Ebrary 2007, Hal 71). Enjoyment mungkin, barangkali sebagai makna rasa aman yang diciptakan oleh Perusahaan AI yang diperuntukkan untuk akademisi agar tidak mereduksi etika akademik.

Dalam artikel Naughton (2024) salah satu filsuf Oxford, Nick Bastrom mengungkapkan bahwa Ai merupakan proyek mega proyek seperti manhattan. Bila proyek manhattan sebagai bentuk untuk memperkenalkan senjata nuklir pertama yang sebagai bentuk hegemoni keperkasaan Negara super power Amerika. Menurut Bastrom AI sebagai proyek superintelligence yang akan sulit dikendalikan. Lalu pertanyaannya 1) Apakah open ai sebagai proyek manhattan selanjutnya yang menakutkan 2) Apakah AI adalah proyek dehumanisasi dan apa dampaknya 3) Bagaimana membangun Smart citizenship

Rekayasa AI menuju Next Manhattan

Ai secara bertahap menyempurnakan fiturnya dengan bahasa model yang dibutuhkan oleh setiap zaman. Perkembangan nya dimulai dari model chat gpt 2  sebagai kognisi yang dilabeli “anak pra sekolah”. Model chat Gpt 3 dilabeli “ anak sd”, berlanjut hingga tahap penyempurnaanya menjadi chat gpt 4. Rancangan hirarkis pada akhirnya akan purna dengan Chat gpt yang dilabeli setingkat “kepakaran”. (Naughton 2024).

Dalam bahasa bostrom “superintelligence” sebagai wajah evolusi AI dapat menimbulkan kegoncangan global yang tidak terkendalikan. Mesin-mesin AI digambarkan perkembangannya akan melampaui si pemberi perintah. AI akan menjadi mesin yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia. Perang layaknya film sci-fi transformer benar-benar akan berada di hadapan kita. Namun, ketakutan ini terkesan berlebihan.

Teknologi open Ai telah masuk dalam relung wacana mindset dari akademisi. Dr. Eng. Ayu Purwarianti, S.T., M.T., sebagai dosen sekaligus Head of Artificial Intelligence Center di ITB mengungkap bahwa “ pada intinya Chat GPT sangat membantu dalam mempercepat pengerjaan sesuatu, sangat disayangkan bila kita tidak memanfaatkannya”. Potensi perkembangan Ai tak bisa disangkal. Mengejar kesempurnaan sebagai alat bantu akademisi untuk menganalisis data, ataupun menjadi robot layanan.

Paradoks “enjoyment” yang diungkapkan oleh lacan menjadi relevan. Sebab ‘enjoyment’ telah membentuk sikap identitas suatu kelompok/individu. Disinilah political jouissance menjadi artikulasi wacana yang ditanamkan perusahaan AI mengcounter hegemony atas hegemoni dominan yang berkembang. Wacana “kesempurnaan AI “ menjadi wajah besar proyek besar ini. Wacana pembaruan model ai dari awalnya chat gpt 2 hingga 4 sebagai wacana transformasi seperti kata gramsci.

Lantas data menjadi hal yang mereduksi pikiran manusia untuk bergantung pada produk AI. Ai sebagai sistem tak bisa hanya dimaknai penanda yang netral sebagai usaha perusahaan untuk menciptakan kecerdasan buatan untuk kebermanfaatan manusia. Namun, Ai adalah mengubur mimpi-mimpi indah manusia untuk melakukan ‘spiritualitas’.

Mengubur manusia menuju wajah kesempurnaan AI

Bersatulah pekerja di seluruh dunia. Ancaman pekerja manusia untuk digantikan oleh AI menjadi nyata. Gelombang besar pekerja techno alih pekerjaan karena gelombang PHK dari google (CNN Indonesia 2024). Manusia bukanlah robot algoritma yang bisa diatur, namun manusia menjadi objek teknologi–sehingga by sistem ,telah terhegemoni untuk selalu bergantung pada teknologi.

Penggunaan AI di ruang akademis menjadi suatu hal yang yang dilazimkan. Pasalnya rasionalitas algoritma AI dirasa memuaskan akademisi. Lebih parahnya lagi, akademisi yang tidak mencerna generalisasi yang dilakukan Ai. Alias “numpang jadi aja”. Akademisi ini biasanya rentan menjadi pelaku predatoris karya ilmiah abal-abal. Joki dalam Ai -pun sekarang dapat dimungkinkan.

Perusahaan Ai tak memedulikan berapa banyak pekerja yang akan terlindas oleh kebutuhan pasar. Semakin banyak pengguna AI dan permintaan akan pasar meningkat, maka asumsinya keuntungan semakin tak terhingga. Hal inilah yang dinamakan dehumanisasi.

Perusahaan Ai mengabaikan hak pekerja adalah suatu hal yang politis. Ketidakmautahuan dan visi peradaban futuristik yang hidup berdampingan dengan robot. Menjadikan hidup yang serba mudah dan cepat dengan makanisasi buatan yang telah disusun dengan algoritma.

Mengerti dan isi ruang kosong demokrasi

“Sing penting keluargaku tetep nyawiji, masio mentalku remuk”  keluh Jono ( red-milenialis)

Ucapan keluh kesah itu terjadi di kedai kopi pedesaan. Ainu Rizqi, penulis artikel di milenialis berjudul “Bagi Orang Desa, Lebih Baik Ngopi dan Ngerumpi Ketimbang ke Psikolog”, ia menceritakan kedai kopi sebagai sarana tukar cerita dan keluh kesah atas kehidupan. Demokrasi tak hanya dilihat dari pemilu saja, namun ngopi adalah demokrasi yang sebenarnya.

Menilik pemikiran mazhab frankfurt kritiknya terhadap modernitas adalah bahwa penindasan bersifat samar, halus, dan menjadikannya sebagai sesuatu yang normal (Fajarni 2022). Apa yang diungkapkan oleh Jono, sebagai bentuk keluh kesah atas tuntutan modernitas. Fakta lapangan ini justru menunjukkan terciptanya smart digital citizenship

Pemerintah kerapkali, membangun ruang diskusi smart digital citizenship dengan webinar atau seminar. Namun, banjirnya konten digital dan datafikasi pekerjaan, membuat manusia kehilangan esensi demokratisnya. hak  demokratis menurut Kristian Stokke (2017) salah satunya adalah sebagai hak kewarganegaraan. Makna besarnya sebagai warga negara yang dimanusiakan oleh negara.

Negara tak banyak membuka ruang untuk berinteraksi dengan warga negaranya. Demokrasi dibuka dengan cara yang kaku dan sangat formalistik. Format negara sebagai subjek dan warga negara sebagai objek masih dilanggengkan oleh negara. Warga negara seringkali mendapatkan program yang didapatkan secara top down seperti tapera, kebijakan PTN BH, ataupun proyek IKN. Semua dilakukan dari corong menara gading yang tidak berasal dari usulan akar rumput. Objektifikasi warga negara membuat demokrasi hanyalah remang-remang dalam bisikan malam. [ ]

Dhony Alfian Nurhidayat

Referensi

  • “AI Ini Bisa Ngerjain Tugas Kuliah.” n.d. Www.youtube.com. Accessed June 24, 2024. https://www.youtube.com/shorts/NbdIoo2rcYU.
  • “ASU and OpenAI Announce New Collaboration | Artificial Intelligence.” n.d. Ai.asu.edu. https://ai.asu.edu/openAI.
  • CNN Indonesia. 2024. “Fokus Pada AI, Google PHK Ratusan Karyawan.” Ekonomi. cnnindonesia.com. January 11, 2024. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20240112011823-92-1048407/fokus-pada-ai-google-phk-ratusan-karyawan.
  • Fajarni, Suci. 2022. “Teori Kritis Mazhab Frankfurt: Varian Pemikiran 3 (Tiga) Generasi Serta Kritik Terhadap Positivisme, Sosiologi, Dan Masyarakat Modern.” Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin 24 (1): 72. https://doi.org/10.22373/substantia.v24i1.13045.
  • Guess, Robin. 2024. “AI Generates Debate over Newsroom Ethics.” Voice of America. January 22, 2024. https://www.voanews.com/a/ai-generates-debate-over-newsroom-ethics-/7450743.html.
  • KANSONG, USMAN. 2023. “Kecerdasan Buatan Dan Kecemasan Dehumanisasi.” Kompas.id. July 4, 2023. https://www.kompas.id/baca/opini/2023/07/04/kecerdasan-buatan-dan-kecemasan-dehumanisas.
  • Kompas.com. 2024. “ChatGPT Edu? Apaan Lagi Nih? OpenAI Ngembangin AI Terbaru?” YouTube. June 14, 2024. https://www.youtube.com/watch?v=K3mOXEFxUho.
  • Naughton, John. 2024. “How’s This for a Bombshell – the US Must Make AI Its next Manhattan Project.” The Observer, June 15, 2024, sec. Opinion. https://www.theguardian.com/commentisfree/article/2024/jun/15/hows-this-for-a-bombshell-the-us-must-make-ai-its-next-manhattan-project.
  • Rizqi, Moh Ainu. 2023. “Bagi Orang Desa, Lebih Baik Ngopi Dan Ngerumpi Ketimbang Ke Psikolog.” Milenialis.id. September 30, 2023. https://milenialis.id/bagi-orang-desa-lebih-baik-ngopi-dan-ngerumpi-ketimbang-ke-psikolog/.
  • Stokke, Kristian. 2017. “Politics of Citizenship: Towards an Analytical Framework.” Norsk Geografisk Tidsskrift – Norwegian Journal of Geography 71 (4): 193–207. https://doi.org/10.1080/00291951.2017.1369454.
  • Yannis Stavrakakis, and Inc Ebrary. 2007. The Lacanian Left : Psychoanalysis, Theory, Politics. Edinburgh: Edinburgh University Press.

*Artikel ini sebelumnya telah dimuat di Jurnal Aswaja Nusantara (Volume V, Oktober 2024).

Related Articles

Artikel baru