Dunia dengan limpahan informasi yang tiada tara, tetapi kadang menyesatkan, membawa kita ke era post-truth. Politisi di dunia membawa anugerah ini secara ironis dengan menggunakannya untuk kepentingan politik yang tidak masuk akal.
Naiknya Donald Trump di Amerika Serikat dan keputusan Brexit di Britania Raya adalah contoh penggunaan analisis algoritma untuk kepentingan tersebut. Efek yang ditimbulkan adalah ketidakpercayaan masyarakat dunia terhadap apa yang telah ditawarkan oleh dunia liberalisme dan sistem demokrasi.
Dalam konteks ini, Yuval Noah Harari, dalam bukunya Nexus: A Brief History of Information Networks from the Stone Age to AI, memberikan analisis mendalam tentang bagaimana jaringan informasi telah memengaruhi sejarah manusia. Informasi, baik dalam bentuk bahasa, tulisan, hingga internet, tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga alat kekuasaan yang efektif. Harari menyoroti bagaimana penguasa masa lalu menggunakan agama dan ideologi untuk mengontrol masyarakat, sementara di era modern, informasi digital dan algoritma menjadi senjata utama dalam memanipulasi publik.
Kita tahu, setelah runtuhnya Uni Soviet pada dekade awal tahun 1990-an, Amerika Serikat dan sekutunya menjadi pemenang. Mereka memaksakan nilai-nilai liberalisme, kapitalisme, dan demokrasi sebagai alternatif terbaik untuk mewujudkan tatanan dunia baru. Namun hal ini kemudian memunculkan paradoks baru karena ulah Amerika sendiri, seperti perang di Timur Tengah yang tidak berkesudahan, menguatnya radikalisme dan fundamentalisme yang mencapai klimaksnya dalam tragedi 9/11, dan munculnya kekuatan ekonomi baru di dunia yaitu Tiongkok.
Tiongkok memiliki kebijakan ekonomi luar negeri yang sangat liberal, meskipun mereka sangat membatasi gerak warga negaranya di dalam negeri. Kekuatan ekonomi dan pengaruh politik Tiongkok menjadi ancaman bagi Amerika, namun menjadi “berkah” bagi negara-negara yang membutuhkan alternatif lain.
Harari juga menggarisbawahi bagaimana informasi menjadi instrumen disrupsi global, terutama dalam kaitannya dengan Revolusi Industri 4.0, di mana AI, big data, dan rekayasa biologi mengambil peran sentral. Ia memperingatkan bahwa AI dapat membawa ancaman serius bagi pasar kerja global, di mana jutaan pekerjaan manusia mungkin tergantikan oleh otomatisasi. Tidak ada ideologi, termasuk liberalisme, yang menurut Harari dapat mengatasi krisis pekerjaan ini
Dalam konteks inilah kemudian perkembangan teknologi informasi dan bioteknologi memainkan perannya sebagai agen disrupsi. Di seluruh dunia kini sedang membicarakan mengenai Revolusi Industri 4.0, kendati dengan optimisme yang masih dibayangi ketakutan.
Kecerdasan buatan (artificial intellegence/AI), big data, dan rekayasa biologis (bioengineering) menghantui kita karena masalah yang krusial yaitu menyangkut kesempatan kerja. Revolusi industri kemungkinan akan menyebabkan jutaan manusia kehilangan pekerjaan dan memicu pengangguran massal. Dalam kondisi ini, menurut Yuval Noah Harari, tidak ada satupun ideologi, termasuk liberalisme, yang dapat mengatasinya.
Kita tidak tahu bagaimana kebutuhan dan karakter pasar dunia kerja di tahun 2050. Banyak orang memprediksi bahwa machine learning dan robotika akan mengubah hampir sebagian besar setiap bidang pekerjaan di tahun tersebut, dari produksi yoghurt sampai pengajaran teknik yoga. Namun ada yang meyakini bahwa perubahan di bidang otomasi akan melahirkan jenis pekerjaan baru dan kesejahteraan.
Kini, AI mulai menyaingi kemampuan manusia pada berbagai aspek kompetensi. Revolusi AI tidak hanya mengenai komputer yang semakin cepat dan cerdas. Ia juga dilumasi oleh penemuan di bidang biologi dan ilmu sosial. Semakin kita memahami mekanisme biokimiawi yang mempengaruhi emosi, hasrat, dan pilihan manusia, membuat AI memiliki potensi untuk ikut memecahkannnya secara akurat. Komputer yang cerdas bisa ikut menganalis kebiasaan manusia, memprediksi keputusan manusia, bahkan mengganti sopir, banker, dan pengacara.
Dalam aspek kemanusiaan, manfaat AI malah lebih besar lagi. Dokter berbasis AI dapat menyediakan kesehatan yang jauh lebih baik dan murah untuk jutaan orang, khususnya bagi kelompok masyarakat yang mengalami kesulitan akses pelayanan kesehatan yang layak. Rakyat dari negara-negara berkembang akan mudah mendapatkan akses kesehatan melalui smartphone mereka dengan machine learning dan sensor biometrik.
Dalam aspek transportasi, peran AI pada kendaraan self-driving memberikan layanan transporasi yang jauh lebih baik terutama untuk mengurangi kematian akibat kecelakaan yang ditimbulkan kecerobohan manusia (human error).
Uniknya, pemerintah Jepang tidak panik menanggapi perkembangan ini baik dari segi efek yang ditimbulkan dan prediksi kehilangan mata pencaharian, maupun potensi pekerjaan baru. Jepang merencanakan apa yang disebut Society 5.0 untuk menyongsong revolusi industri 4.0. Society 5.0 berusaha mengintegrasikan perubahan di bidang teknologi informasi dan bioteknologi dengan budaya dan kebutuhan masyarakat Jepang.
Bagi masyarakat yang kehilangan pekerjaan tersebut di atas, Harari mengajukan gagasan menarik melalui skema yang disebut universal basic support. Eksperimentasi gagasan ini sudah diterapkan di beberapa negara Utara. Pada Januari 2017, Finlandia memulai eksperimen selama 2 tahun. Finlandia menyediakan 560 euro tiap bulan kepada dua ribu pengangguran, baik mereka sedang mencari pekerjaan atau tidak. Eksperimen yang sama juga dilakukan oleh salah satu provinsi di Kanada yaitu Ontario, kota Livorno di Italia, dan beberapa kota di Belanda. Selain itu, alternatif lain ialah mfenyediakan basic needs kepada warga negara seperti akses kesehatan, pendidikan, dan tempat tinggal.
Sekilas gagasan tersebut terdengar menentramkan, tetapi orang akan memandangnya tidak adil karena dalam kenyataanya tetap ada kesenjangan antara orang superkaya dengan warga negara biasa terutama dalam banyak privilege-nya. Kesenjangan tersebut diperparah tidak hanya secara ekonomi tetapi bisa juga secara biologis. Bagaimana hal ini terjadi?
Dalam buku ini, Harari memprediksi bahwa di masa depan merekayasa makhluk hidup, terutama manusia, bukan hal yang tidak mungkin. Kecenderungan ini setidaknya sudah dimulai di China. Selain jor-jorandalam pengembangan kecerdasan buatan dan perang teknologi algoritma dengan Amerika, mereka juga melakukannya di bidang bioteknologi. Riset genome editing memakai perangkat molekuler, seperti CRISPR-Cas9, telah gencar dilakukan di negeri Tirai Bambu sejak perangkat ini ditemukan tahun 2012. Obyek riset genome editing di Tiongkok tidak hanya bakteri atau yeast tetapi primata dan manusia. Pada November 2018, He Jiankui seorang biofisikawan asal China mengedit embrio yang orang tuanya adalah pengidap HIV, menonaktifkan gen yang mengkode reseptor HIV yaitu CCR5. Hasilnya, bayi kembar yang sehat bernama Lulu dan Nana. Menariknya, Alcino Silva, ahli neurobiologi di University of California, Los Angeles, dalam publikasi makalah di Cell menemukan fakta yang mencengangkan. Jika terjadi mutasi secara alami pada CCR5 dapat meningkatkan pemulihan dari stroke dan kognisi yang lebih baik pada mencit. Hal ini menimbulkan hipotesis bahwa mutasi CCR5 itu dapat meningkatkan kecerdasan pada bayi-bayi CRISPR.
Perkembangan bioteknologi ini mendekatkan manusia pada kemungkinan membentuk ras baru, seperti superhuman. Terlebih riset tentang Human Genome Project-Write, dan Metabolic Engineering yang notabene bisa diarahkan untuk merekayasa biokimiawi manusia, membuat hidung berkedut.
Pernyataan Harari bahwa di masa depan kematian hanyalah masalah teknis bukanlah prediksi yang tidak memiliki landasan. Google membuat Calicolabs yang merupakan perusahaan penelitian dan pengembangan yang memiliki misi untuk memanfaatkan teknologi canggih untuk meningkatkan pemahaman biologi yang mengendalikan masa hidup. Mereka menggunakan pengetahuan itu untuk merancang intervensi yang memungkinkan orang untuk hidup lebih lama dan lebih sehat. Eksekusi pada misi ini akan membutuhkan tingkat upaya interdisipliner yang belum pernah terjadi sebelumnya dan fokus jangka panjang yang sudah ada pendanaannya.
Hal ini membuat kita membayangkan bahwa kesenjangan di masa depan yang merupakan kesenjangan secara biologis semakin dekat. Orang superkaya dan elite bisa menggunakan teknologi dan sains untuk melahirkan generasi-generasi baru mereka dengan tingkat kecerdasan luar biasa jauh di atas rata-rata, cantik dan tampan, hidup lebih lama serta potensi biologis lain yang berbeda dari warga biasa. Jika itu terjadi, manusia pada umumnya akan menganggap dirinya sudah tidak relevan.
Abad 20 melahirkan ide-ide kesetaraan baik dari segi hak politik, ras dan gender. Tetapi faktanya manusia sejak revolusi pertanian dan dilanjutkan dengan revolusi industri tetap saja terbagi-bagi menjadi kelas dan kasta. Secara bersamaan perkembangan kecerdasan buatan dan bioteknologi di atas akan mengantarkan manusia pada pembagian kelas dan kasta yang susah dibayangkan sebelumnya.
Sayangnya, semua ini bukan satu-satunya yang mendebarkan. Munculnya big data dan perkembangan media sosial membuat potensi pada monopoli data dan diktator digital. Negara, elite, dan korporat bisa saja memonopoli informasi yang masuk pada masyarakat, mana yang harus disensor mana yang perlu di publikasi sekaligus menambang informasi dari setiap pribadi warga negara yang terakses dengan media sosial apapun bentuk platform-nya. Praktik memanfaatkan informasi pribadi sudah pernah dilakukan, setidaknya oleh Cambridge Analytica yang memetakan dan menganalisis data pribadi pengguna Facebook untuk kemenangan Donald Trump. Selain itu, jual beli data genetik sudah mulai dilakukan, baik untuk kepentingan perusahaan farmasi maupun untuk mengontrol populasi dan warga negara. Sehingga, bisa diasumsikan bahwa yang mengontrol data adalah yang mengontrol dunia.
Dalam 21lessons of the 21st century, Yuval Noah Harari mengatakan bahwa ancaman gabungan dari teknologi informasi dan bioteknologi terhadap pusat nilai-nilai modern seperti kebebasan dan kesetaraan hanya bisa diselesaikan oleh kerjasama secara global umat manusia. Tetapi nasionalisme, agama, dan kebudayaan, membelah kemanusiaan menjadi kamp dan membuatnya sangat susah untuk kerja sama dalam level global. Masalah global membutuhkan jawaban global bukan jawaban yang ditafsirkan antara setiap negara. Masalah perang nuklir dan kerusakan ekologis tidak bisa diselesaikan oleh satu negara tetapi membutuhkan kerja sama global.
Oleh karena itu, agama mendapatkan tantangan yang sangat kuat dan berat. Di tengah perubahan kekuatan global dan perkembangan teknologi informasi dan bioteknologi, agama akan dipaksa menjadi lebih adaptif dan luwes, alih-alih menjadi lebih konservatif mempertahankan nilai-nilainya. Jika tidak, ia semakin tidak relevan ketika dihadapkan pada pelbagai permasalahan sosial, alih-alih menawarkan solusi.
Salah satu contoh terbaik adalah Jepang yang memakai perangkat universal dan struktur modernitas meskipun mengandalkan agama tradisional untuk menjaga keunikan identitas nasional. Peran dari kepercayaan Shinto di Jepang sama kuat derajatnya dengan Kristen ortodoks di Rusia, Katolik di Polandia, Islam Syiah di Iran, Wahabisme di Saudi Arabia dan Yahudi di Israel. Agama tradisional meskipun akan melakukan adaptasi dengan imajinasi dan reinterpretasi akan mengintegrasikan diri terhadap teknologi dan jauh lebih lanjut struktur modern untuk bertahan.
Masalah global lain adalah imigrasi besar-besaran di berbagai negara-negara Eropa dan Amerika yang memicu sentimen rasial dan acapkali berujung pada kekerasan seperti yang belakangan terjadi di Christchurch, Selandia Baru. Terorisme yang mengatasnamakan baik agama dan supremasi ras menjadi bayangan kegelapan dunia, jika ia juga dilengkapi perangkat teknologi yang mematikan. Mereka menyebarkan ketakutan melalui media sosial ke seluruh dunia, tujuan yang sejak awal diharapkan.
Kemampuan memilih dan memilah informasi dan berpikir kritis menjadi sangat penting sekaligus mutlak untuk tahu diri terhadap setiap batasan yang ada. Era post-truth dan kegoncangan dunia pendidikan yang tidak menentu dengan matinya kepakaran membuat situasi menjadi tidak mudah ditangani. Kita harus menjaga ketenangan diri dan berfikir secara jernih.
Indonesia memiliki potensi dengan sumber daya manusia terutama untuk mendongkrak jumlah kepakaran yang dibutuhkan di abad 21. Banyak pekerjaan rumah di negeri ini yang perlu diselesaikan, terutama dalam pengembangan sains dan mempublikasikannya ke masyakarat. Namun hal ini membutuhkan pembentukan budaya ilmiah, baik di lingkungan akademis maupun masyarakat.
Kita tahu, negeri Cina menjadi super power baru karena berhasil memadukan kekuatan ekonomi dan ilmu pengetahuan. Di beberapa perguruan tingginya saat ini, seperti Tsinghua University, Peking University, University of Science and Technology China (USTC), Chinese Academy of Sciences, sedang digarap proyek-proyek bidang IT dan biologi yang melampaui Amerika serikat. Dengan kecerdasan buatan dan rekayasa gen, Cina menjadi terdepan. Apakah Indonesia tidak bisa menyusul? Kita tetap harus optimis dengan potensi kita dan berupaya mengatasi berbagai kekurangan.
Dengan dibukanya peluang akses pendidikan tinggi di perguruan tinggi negeri, kini banyak santri menempuh bidang studi STEM (Science, Technology, Engieering, Mathematics), suatu bidang yang sama sekali tidak begitu familiar di pondok pesantren tempat sebelumnya mereka menempuh pendidikan agama islam. Di samping itu, dengan adanya beasiswa LPDP Santri dan berbagai program kerjasama PBNU dengan beberapa negara sahabat, membuka peluang santri untuk menempuh program pendidikan, baik mulai tingkat sarjana hingga doktoral di perguruan tinggi di luar negeri. Peluang ini menjadi signifikan untuk mempercepat transfer pengetahuan sekaligus menerapkannya pada konteks Indonesia.
Peran santri yang selama ini hanya terlokalisasi pada diskursus keagamaan dan politik, bisa membuka diskursus baru di bidang sains yang selama ini belum tergarap. Situasi ini sangat menjanjikan ketika KH. Abdurrahman Wahid membuat turning point sejak menjadi ketua PBNU, menyediakan jalan bagi anak-anak muda nahdliyyin untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang akademik. Maka lahirlah para ilmuwan sosial dari rahim Nahdlatul Ulama yang bisa kita nikmati ide-ide besar mereka. Namun tantangan kebangsaan ke depan tidak hanya dapat diselesaikan dengan pendekatan monodisiplin, baik ilmu sosial maupun ilmu eksakta, tetapi interdisipliner. Terlebih sejak era reformasi, geliat pengembangan sainstek tidak begitu terasa di Indonesia, kecuali hanya menjadi konsumen.
Tipikal generasi muda NU yang lebih terbuka pada dunia gagasan dan ide-ide menjadi potensi besar. Di masa depan, mereka memiliki peluang untuk menawarkan gagasan menarik pada titik masalah yang timbul dengan lahirnya rekayasa gen dan kecerdasan buatan. Di sinilah poin paling menarik. Dalam peradaban barat, sains pada umumnya dan agama sudah tidak bisa dijembatani, karena sudah renggang berabad-abad lalu. Apakah bisa seorang santri dari pinggiran Tebuireng, Lirboyo, atau Krapyak, serta pondok-pondok lain mendiskusikan, menelaah, menggali bahkan menjembatani jurang yang dalam yang memisahkan ilmu tersebut. Sains dan agama seperti yin dan yang dalam tradisi Tiongkok, dan dalam istilah fisikawan terkemuka Richard Feynman, sains adalah tradisi keraguan sedangkan agama adalah tradisi keyakinan.
Di masa depan, bukan tidak mungkin para sarjana bidang STEM yang berlatar belakang santri berkolaborasi dengan para ulama, kiai, dan pemuka agama lainnya yang mumpuni, dalam menyusun rumusan fiqih sosial untuk menawarkan solusi terhadap problematika abad 21. Hal ini akan menjadi kolaborasi positif yang tidak hanya berdampak bagi Indonesia, sebagai negeri dengan penduduk mayoritas muslim terbesar, tetapi seperti pernyataan KH. Moqsith Ghozali bahwa tantangan umat Islam sekarang adalah membuktikan bahwa Islam adalah rahmat dan berkah bagi semua (rahmatan lil alamin).
Dengan memanfaatkan peluang kolaborasi tersebut, para santri dapat mengembangkan lab-lab di perguruan tinggi, lembaga riset, dan bahkan berkarya di luar sebagai masyarakat sains dunia dan beradaptasi sebagai bagian tunggal dari warga dunia. Sehingga, lulusan pesantren tidak hanya melek literasi keagamaan seperti kitab kuning, tetapi juga pemain utama di sektor STEM. Dengan meningkatnya animo santri untuk berkarya di bidang STEM dan menjadi penggerak pembangunan, maka dapat memperluas cakupan kontribusi santri dalam sejarah nasional. Dengan berpijak pada pengetahuan lokal dan paradigma Islam Nusantara, dan dibekali skill dan sumber daya alam yang melimpah, sesungguhnya capaian apa yang tidak dapat kita raih di masa depan? Inovasi dan penemuan tinggal menunggu waktu.
Di sisi lain geliat jenis perusahaan dan “aristokrasi baru” dengan embel-embel start-up unicorn seperti Gojek, Traveloka, Tokopedia, BukaLapak yang merupakan arus pertama sekaligus perintis bisnis berbasis IT di Indonesia, membuka mata para santri bahwa peluang-peluang itu bisa diciptakan. Dengan menggeliatnya bisnis berbasis biotek di Amerika dan Eropa, tidak menepis kemungkinan terdapat arus baru bisnis masa depan yang tumbuh di Indonesia yaitu berbasis bioteknologi. Hal ini menarik karena mereka akan menyediakan kit-kit yang lebih murah, karena diproduksi di Indonesia sehingga dapat menekan biaya produksi dan distribusi. Selain itu, dengan upaya tersebut juga dapat mewujudkan kemandirian sains, memajukan ekonomi, menyediakan produk kesehatan, dan mendorong terwujudnya kemandirian energi dan pangan berbasis sumber daya hayati lokal, sehingga dapat penyakit dan kelaparan. Pada akhirnya, kegiatan riset pun tidak hanya menjadi monopoli lembaga riset pemerintah tetapi didukung oleh sektor swasta yang produktif. Inilah peluang bebas bagi para santri untuk ikut andil ketimbang menjadi menjadi penonton pasif atau sekedar konsumen dari produk-produk kebudayaan zaman kiwari.
Pada akhirnya STEM yang dikembangkan santri tidak hanya memuat nilai dan semangat keindonesiaan, tetapi juga sebagai upaya mewujudkan masyarakat yang secara substansial sejalan dengan semangat dan nilai-nilai keislaman. Setidaknya kemunculan peluang di atas dapat jadikan momentum untuk mengejar ketertinggalan bangsa ini dan mempersiapkan diri guna merespon tantangan global sebagaimana yang dipapa dipaparkan oleh Yuval Noah Harari. [ ]
Sahal Sabil
Alumni PPM Aswaia Nusantara, Magister Prodi Sinthetic Biology, Edinburgh University, lnggris
Daftar Pustaka
- Harari, Yuval Noah. 2018. 21 Lessons for the 21st Century. New York: Spiegel & Grau
- Antonio Regalado. 2018. Exclusive: Chinese scientists are creating CRISPR babies. MIT Technology Review. https://www.technologyreview.com/s/612458/exclusive-chinese-scientists-are-creating-crispr-babies/. Akses : 29 November 2018
- Antonio Regalado. 2019. China’s CRISPR twins might have had their brains inadvertently enhanced. MIT Technology Review. https://www.technologyreview.com/s/612997/the-crispr-twins-had-their-brains-altered/. Akses : 1 Maret 2019
- Nexus: A Brief History of Information Networks from the Stone Age to AI, Yuval Noah Harari
*Artikel ini sebelumnya telah dimuat di Jurnal Aswaja Nusantara (Volume V, Oktober 2024).

