Dewasa ini perkembangan teknologi menjadi semakin pesat, banyak hal baru ditemukan, banyak ide-ide yang dulunya tidak terpikirkan dan dianggap mustahil, kini mulai menunjukkan tajinya. Kolaborasi antar disiplin ilmu semakin mendukung pesatnya perkembangan IPTEK. Dalam tulisan ini dipaparkan kolaborasi antara berbagai disiplin ilmu mulai dari disiplin ilmu saintek hingga ilmu sosial dan agama, beberapa diantaranya antara lain: teknologi informasi, pengolahan isyarat dan sistem, kedokteran, teknik material, hukum hingga fikih.
3D Printing
3D Printing merupakan proses pencetakan material menggunakan printer dan metode khusus yang mampu menghasilkan objek 3 dimensi. Sebenarnya pengembangan teknologi 3D printing sudah ada sejak lama. Namun, karena hasil yang rapuh dan mudah rusak, teknologi ini pun sempat redup. Kini 3D printing hadir kembali dengan hasil yang memuaskan dan banyak kita temukan di intenet. Banyak material bisa dicetak dengan teknologi ini dengan bahan yang beragam pula. Beberapa contoh produk yang sudah dicetak dengan 3D Printing adalah senapan, gitar akustik, alat penenun kain, kamera dan masih banyak lagi.
Ide ‘gila’ untuk 3D printing pun semakin berkembang, bahkan sekarang mulai banyak ilmuan meneliti tentang usaha untuk mencetak organ tubuh makhluk hidup dengan 3D printing. Konsepnya sama dengan mencetak material biasa, apabila kita mencetak dokumen pada kertas, maka bahan untuk mencetak nya adalah tinta, sedangkan untuk mencetak organ digunakan sel atau jaringan tubuh sebagai tinta nya. Dari segi konsep hal ini sangat dimungkinkan, dan sudah ada beberapa percobaan yang berhasil mencetak organ non-vital manusia dalam penanganan medis.
Computer Vision
Computer Vision adalah bagian dari bidang IT yang mencakup metode untuk memperoleh, mengolah, menganalisis, dan memahami data visual seperti gambar dan video. Singkatnya Computer Vision (CV) adalah sebuah mekanisme dimana computer dapat mengenali sebuah citra dengan baik. CV banyak dimanfaatkan untuk otomasi di berbagai bidang, misalnya otomasi mesin pabrik, pesawat tanpa awak hingga autonomous vehicle.
Pemanfaatan nya pun semakin meluas seiring tuntutan revolusi industri, CV pun kini merambah dunia medis. Sunu Wibirama, seorang dosen Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada misalnya: kini mengembangkan algoritma untuk mendeteksi penyakit vertigo dengan melihat pergerakan mata pasien dengan bantuan CV. Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine, kini telah dikembangkan sebuah teknologi untuk mendeteksi kelainan genetic langka pada wajah menggunakan identifikasi 3D Image Recognition, algotritma tersebut dikenal sebagai “DeepGestalt”. Algoritma ini pun sudah melalui tahap uji coba dan dapat mendeteksi “Sindrom Angelman”. Sindrom Angelman adalah kelainan genetik yang memengaruhi sistem saraf dan menyebabkan cacat fisik dan intelektual. Dalam uji coba tersebut, DeepGestalt mampu bekerja lebih akurat dan cepat daripada ahli klinis dalam memeriksa wajah pasien. Dalam setiap uji coba, DeepGestalt mengungkap daftar penyakit dalam tingkat akurasi mencapai 91%.

Algoritama ini merupakan pengembangan deep learning pada gambar wajah pasien yang tersedia kemudian memunculkan daftar syndrome yang mungkin dialami oleh pasien. Untuk membantu para peneliti, digunakan visualisasi heatmap. Uji coba dilakukan pada pasien yang sudah positif didiagnosa pada sebuah kondisi, sehingga algoritma ini tidak mendeteksi apakah setiap pasien mengidap sebuah sindrome atau tidak.
Bedah Robotik
Bedah robotik memungkinkan dokter untuk melakukan berbagai prosedur kompleks dengan tingkat ketelitian, fleksibilitas, dan pengendalian yang lebih tinggi dibandingkan metode tradisional. Biasanya, teknik ini dilakukan melalui sayatan kecil, meskipun dalam beberapa kasus, bedah robotik juga diterapkan dalam operasi terbuka. Singkatnya, Bedah robotik adalah proses bedah yang dilakukan oleh ahli bedah dan dibantu oleh robot.
Sistem yang digunakan dalam bedah robotik sering terdiri dari lengan kamera dan lengan mekanis yang dilengkapi instrumen bedah. Dokter bedah mengoperasikan lengan-lengan ini dari sebuah konsol yang berada di dekat meja operasi, di mana mereka dapat melihat citra 3D yang diperbesar dan berkualitas tinggi dari area yang sedang ditangani.
Dokter bedah menemukan bahwa sistem robotik dapat meningkatkan ketelitian, fleksibilitas, dan kontrol saat melakukan prosedur. Selain itu, sistem ini memungkinkan pandangan yang lebih baik tentang area operasi dibandingkan dengan teknik bedah konvensional. Dengan menggunakan bedah robotik, dokter dapat melakukan prosedur yang kompleks dan berisiko, yang mungkin sulit dilakukan dengan cara konvensional. Manfaat dari metode ini mencakup:
- Risiko komplikasi, seperti infeksi, yang lebih rendah.
- Rasa sakit dan kehilangan darah yang lebih sedikit.
- Durasi tinggal di rumah sakit yang lebih singkat dan proses pemulihan yang lebih cepat.
- Bekas luka yang lebih kecil dan kurang mencolok.
Implan 3D
Implan 3D merupakan pembuatan organ atau jaringan tubuh makhluk hidup yang bertujuan untuk menggantikan bagian tubuh yang rusak dengan teknologi 3D Printing. Melanjutkan topik pembahasan tentang 3D printing pada bagian sebelumnya, Sudah ada beberapa percobaan yang berhasil mencetak organ non-vital manusia dalam penanganan medis.
Pada Juni 2022, seorang wanita berusia 20 tahun asal Amerika Serikat yang lahir dengan telinga kanan yang tidak sempurna menerima implan telinga yang dibuat dengan sel nya sendiri. 3D Bio Therapeutics yang berbasis di New York menyebutkan bahwa telinga yang dicetak dalam bentuk yang sama persis dengan telinga kiri pasien. 3D Bio Therapeutics berhasil sampai pada tahap ini setelah melakukan penelitian kurang lebih tujuh tahun. Keberhasilan ini tentunya menjadi sebuah gebrakan besar pada dunia medis, sebuah kemajuan besar yang meskipun belum bisa diimplementasikan secara penuh karena harus menempuh uji klinis berlapis dan penyusunan regulasi sebagai payung hukum nya. Langkah yang ditempuh tentu masih panjang, kolaborasi multi disipliner mutlak diperlukan.
Masih dalam topik yang serupa, muncul ide untuk dapat mengkombinasikan antara computer vision, robotic surgey dan 3D printing, nantinya kita dapat menemui seorang dokter melakukan operasi kanker tulang dengan cepat dan hanya memerlukan satu operasi saja pada tulang pasien, sehingga mengurangi resiko pada pasien tersebut dan diharapkan sembuh dengan lebih cepat. Pada penderita kanker tulang, dilakukan pembentukan citra dari tulang pasien yang didiagnosa menderita kanker tulang, kemudian dokter memutuskan, seberapa bagian yang akan dioperasi, kemudian, bagian yang akan dipotong tersebut dicitrakan kembali untuk dicetak pada mesin 3D Printing. Sehingga hanya diperlukan sekali operasi, bahkan direncanakan, proses pemotongan bagian yang terkena kanker pun akan dilakukan oleh robot yang dikendalikan oleh ahli bedah untuk memastikan akurasinya. Proyek penelitian dengan konsep ini pun akhirnya dilaksanakan oleh pemerintah Australia, Rumah sakit St. Vincent Melbourne, University of Technology Sydney dan RMIT University dalam proyek “Just in time implants”.
Sebuah teknologi printing kulit pun tengah dikembangkan, sehingga memungkinkan pasien dapat menutup luka besar maupun kecil bahkan luka bakar sekalipun. Dengan teknologi bioprinting ini dimungkinkan mencetak 2 layer kulit sekaligus di atas luka. Mekanisme nya sama seperti 3D printing biasa, namun ini menggunakan sel pasien tersebut sebagai tintanya. Berbeda dengan cangkok kulit yang memiliki resiko ketidakcocokan implant, 3D printing kulit ini dinilai akan memiliki angka kecocokan yang lebih tinggi karena menggunakan sel pasien sendiri. Namun, konsep ini masih dalam tahap uji klinis, sehingga belum bisa dilihat secara langsung wujudnya. Penulis berpendapat bahwa konsep pencetakan kulit ini bisa go public jika didukung secara multidisipliner, mengingat banyak nya tantangan dalam mewujudkannya. Penulis juga yakin bahwa alat pencetak kulit ini pun dapat dibuat sebagai device yang portable sehingga dapat dibawa kemanapun dan proses printing kulit pun dapat dilakukan oleh pasien secara mandiri, dimanapun dan kapanpun, mengingat perkembangan nano teknologi yang juga semakin maju.
Penulis berpendapat bahwa, pengembangan teknologi 3D printing pada organ tubuh makhluk hidup akan terus berkembang, bahkan dapat dimungkinkan bahwa organ-organ vital pun dapat dicetak dengan 3D printing.
Pengaruh Computer Vision dan 3D Organs Printing pada aspek kehidupan yang lain
Perkembangan teknologi-teknologi di atas tentunya memberikan kabar positif dalam dunia medis dan IPTEK. Namun, dalam aspek lain pun memiliki pengaruh, baik positif maupun negatif. Beberapa manfaat dari pengembangan teknologi-teknologi tersebut antara lain:
- Mampu mencukupi kebutuhan donor organ pada pasien yang membutuhkan
- Mampu membuka industri baru di bidang Bioinformatika dan material yang tentunya memungkinkan untuk terbukanya lapangan kerja baru, khususnya bagi para peneliti
- Apabila organ tubuh mampu untuk dicetak dengan 3D printing, diharapkan jual beli organ illegal maupun jual beli manusia dapat berkurang
- Memungkinkan penyelamatan satwa di alam, khususnya satwa langka yang kehilangan bagian tubuhnya dengan mencetakkan organ baru untuk nya, misal badak yang diambil cula nya.
- Mampu mendeteksi dini penyakit-penyakit tertentu
- Mampu mengurangi proses operasi, sehingga penyembuhan lebih cepat dan masih banyak lagi manfaatnya.
Sedangkan Dampak negatif dan penghambat yang mungkin antara lain:
- Dari sisi hukum, akan mengalami kesulitan untuk pembuatan legalitasnya, karena apabila alat seperti pencetak kulit ini dijual di pasaran secara bebas, maka ada kemungkinan terjadinya perubahan identitas yang bersifat unik seperti wajah dan sidik jari.
- Akan ada penentangan dari beberapa orang, karena dianggap menyalahi ketetapan Tuhan
- Akan ada penyalahgunaan alat yang mengarah pada kriminalitas, seperti pemalsuan wajah menyerupai orang lain untuk kepentingan perampokan ataupun pencemaran nama baik orang lain, dan masih banyak lagi permasalahan yang mungkin muncul dan patut untuk didiskusikan.
Perspektif santri dalam menyikapi perkembangan teknologi
Sebagai seorang santri, sudah saaatnya tidak ragu lagi untuk melangkah. Santri pada generasi sekarang harus mengenal dan bahkan perlu untuk menguasai bidang-bidang lain selain ilmu agama. Ngaji nya para santri sekarang sebaiknya tidak berhenti pada ngaji nahwu, shorof, balaghah, fiqih dan ilmu agama saja, tapi juga perlu untuk ngaji teknologi, ngaji ekonomi, ngaji industri, ngaji biologi serta ilmu-ilmu iptek lainnya.
Bahkan ketua umum PBNU pun sering menyampaikan pada ceramah Beliau di pesantren-pesantren agar santri jangan lagi menjadi kaum yang memiliki citra terbelakang, kudet dan kurang peka terhadap perkembangan zaman. Santri harus mampu untuk mendakwahkan ajaran islam ini dengan hikmah (dalam hal ini beliau mengartikan hikmah sebagai memberi contoh) yang berarti santri harus mengambil peran dan mencontohkan nya, atau dengan mauidhoh khasanah (dalam hal ini beliau mengartikan nya sebagai menyampaikan nasehat melalui media modern yaitu internet khususnya sosial media).
Apabila santri tidak paham dengan perkembangan teknologi yang sekarang, maka akan sulit pula bagi santri untuk menentukan hukum fikih dari sebuah permasalahan kontemporer yang baru muncul. Misalnya, bagaimanakan hukum implan kulit dari hasil 3D printing, bagaimana hukumnya dari perspektif Thaharah nya?, bagaimana hukum dari perspektif muamalah penjualan alat-alat nya? Mustahil santri akan mampu merumuskan nya dalam bahtsul masa’il apabila tidak paham dengan teknologinya. Maka dari itu, santri harus wajib untuk paham dan melek teknologi dan ilmu pengetahuan umum.
Tidak sebatas tahu, tapi santri pun ada baik nya ambil bagian dalam perkembangan nya, kini sudah banyak pesantren yang tidak hanya ngaji ilmu agama saja, namun juga sudah menyediakan sekolah dan pendidikan formal seperti Yayasan Ali Ma’sum Krapyak, Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta dan masih banyak lagi. Diharapkan dalam kurikulum dan proses pembelajaran nya, santri dibekali dan dimotivasi untuk melek dan mengambil bagian dalam perkembangan teknologi dan disiplin ilmu lain yang berkaitan dengan nya. Agar santri, sebagai orang yang dinilai paham akan hukum agama dapat ikut berkontribusi dalam proses perkembangan dan pergerakan dunia ini, dalam rangka Dakwah dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. [ ]
Yusron Aminuloh
Alumni PPM Aswaja Nusantara, Alumni Departemen Teknik Elektro dan Informasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Daftar Pustaka
- Gurovich, Yaron et al. “DeepGestalt – Identifying Rare Genetic Syndromes Using Deep Learning.” CoRR abs/1801.07637 (2018).
- Olivier Faugeras, “Three-dimensional computer vision, a geometric viewpoint”, Cambridge, England: MIT Press, 1993.
- RMIT University (2019, February). Australia’s first 3D printed spine implant [Online]. Available: https://www.rmit.edu.au/about/our-locations-and-facilities/facilities/research-facilities/advanced-manufacturing-precinct/research/australias-first-3d-printed-spine-implant
- Soroosh Derakhshanfar, Rene Mbeleck, Kaige Xu, Xingying Zhang, Wen Zhong, Malcolm Xing, “3D bioprinting for biomedical devices and tissue engineering: A review of recent trends and advances”, Winnipeg, Canada: University of Manitoba, February 2018.
- Anthony Atala, MD (2019, February). WFIRM Directors Welcome [Online]. Available: https://school.wakehealth.edu/Research/Institutes-and-Centers/Wake-Forest-Institute-for-Regenerative-Medicine
- UCLA Health (2024). About Robotic Surgery at UCLA [Online]. Available: https://www.uclahealth.org/medical-services/robotic-surgery/what-robotic-surgery
*Artikel ini sebelumnya telah dimuat di Jurnal Aswaja Nusantara (Volume V, Oktober 2024).

