Pengantar: Belajar dari Acemoglu dan Johnson
Acemoglu dan Johnson dalam buku terakhirnya, Powers and Progress, Our-1000 Year Over Technology and Prosperity, 2023, menelaah perjalanan panjang umat manusia dalam memanfaatkan teknologi untuk kemajuan dan kesejahteraan. Kajian mereka menjelaskan bagaimana terjadinya ketegangan antara perkembangan teknologi dan distribusi manfaatnya. Acemoglu dan Johnson berargumen bahwa teknologi tidak selalu menghasilkan kemajuan sosial dan ekonomi secara otomatis. Alih-alih, mereka menunjukkan bahwa arah perkembangan teknologi sangat bergantung pada dinamika kekuasaan dan institusi sosial yang berlaku. Salah satu Kesimpulan penting kedua penulis yang meraih hadiah nobel ekonomi 2024 itu adalah bahwa pilihan teknologi sebuah bangsa amat menentukan arah kemajuan; apakah pilihan itu berakhir pada pelayanan atas kebutuhan kelompok elit atau menjadi fondasi bagi kesejahteraan dan kepentingan bersama.
Acemoglu dan Johnson (2023, 18-44) mengulas bagaimana perkembangan teknologi sering kali tidak menguntungkan seluruh masyarakat, tetapi justru memperkuat kekuasaan kelompok elit yang dominan. Mereka menyoroti bahwa teknologi pada dasarnya dikendalikan oleh kelompok-kelompok yang memiliki sumber daya dan kekuatan untuk menentukan arah perkembangannya, termasuk perusahaan teknologi besar, pemerintah, dan elit ekonomi lainnya. Penulis berargumen bahwa kontrol atas teknologi memungkinkan kelompok ini untuk mengendalikan dampak sosial dan ekonomi dari teknologi baru yang dikembangkan, dan hal ini sering tidak diarahkan untuk kepentingan publik. Mereka menekankan perlunya pendekatan yang lebih demokratis dalam pengembangan teknologi, agar manfaatnya bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya oleh segelintir orang yang berada di puncak
Mereka mengeksplorasi dampak negatif teknologi digital modern, terutama yang berkaitan dengan peningkatan ketimpangan dan penurunan kualitas pekerjaan bagi pekerja yang tidak berpendidikan tinggi. Mereka menyoroti bagaimana teknologi digital, alih-alih meningkatkan kesejahteraan bersama, seringkali justru digunakan untuk memonitor pekerja, menambah kontrol perusahaan, dan memaksimalkan keuntungan tanpa memikirkan kesejahteraan pekerja. Mereka berpendapat bahwa perkembangan ini justru memperburuk ketimpangan ekonomi di berbagai negara maju, dan merampas otonomi para pekerja (Acemoglu dan Johnson, 2023, 238-276) .
Mereka (2023, 277-314) juga mengemukakan bahwa AI cenderung menguntungkan kelompok elit ekonomi dan memperburuk ketimpangan. Teknologi AI lebih banyak digunakan untuk mengotomatisasi pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia, yang mengurangi permintaan untuk pekerja berupah rendah. Keduanya mendorong pengalihan fokus dari “kecerdasan mesin” ke “kegunaan mesin” yang lebih mengutamakan kemampuan AI untuk mendukung dan melengkapi manusia, bukan untuk menggantikannya.
Dan, akhirnya, demokrasi-pun terancam. AI dan pengumpulan data besar-besaran berpotensi membahayakan demokrasi. Model bisnis berbasis iklan yang memanfaatkan AI telah mendorong penyebaran misinformasi dan disinformasi, yang merusak tatanan demokrasi dan seringkali meningkatkan ketegangan sosial. Para penulis memperingatkan bahwa arah perkembangan AI saat ini tidak hanya merugikan ekonomi, tetapi juga berdampak negatif pada institusi demokrasi yang sehat, dan menciptakan ketidakstabilan yang semakin meluas (Acemoglu dan Johnson, 2023, 315-353).
Bagaimana Pesantren Bersikap?
Pesantren menghadapi tantangan besar terkait perkembangan sains dan teknologi, kini dan ke depan. Akan tetapi, pesantren juga berpeluang untuk berkembang, berinovasi, dan ikut menentukan arah sejarah perkembangan sains dan teknologi. Untuk menjadi ngamil, subjek, disruptor, dan innovator ini pesantren membutuhkan rumusan strategi kebudayaan yang tepat dan strategis, agar pesantren tetap relevan sekaligus berperan aktif dalam perkembangan dunia kini dan ke depan.
Dalam 20 tahun mendatang, pesantren dapat diharapkan menjadi pusat riset, pendidikan yang kontekstual, relevan dengan zaman, serta mampu mencetak ulama dan cendekiawan yang tidak hanya tafqquh fid-din (ngalim-ngallamah), tetapi juga mampu beradaptasi, mengembangkan, dan berinovasi dalam ilmu sosial, sains, dan teknologi global. Dengan demikian, pesantren akan terus menjadi salah satu pilar penting dalam membangun peradaban local, nasional, dan global, yang berakar pada nilai-nilai Islam dan responsif terhadap perubahan zaman.
Untuk menjadi bagian aktif perubahan tersebut, pesantren harus memahami konteks zamannya, akar-akar masalahnya, potensinya, dan merumuskan semua jawaban yang dibutuhkan. Saat ini, pesantren secara sains dan teknologi berada dalam apa yang biasa disebut dengan revolusi Industrial 4.0 yang berbasis teknologi digital dan revolusi industrial 5.0 yang ingin menggeser teknologi ke arah human-centered. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan sains dan teknologi telah membawa berbagai kemaslahatan bagi manusia di berbagai sektor. Ekonomi, pendidikan, sosial, Kesehatan hingga keagamaan mengalami transformasi besar-besaran yang digerakkan inovasi dan temuan sains teknologi.
Akan tetapi, perkembangan sains dan teknologi juga memiliki sisi lain, sisi suram dan gelap, yang berdampak negatif terhadap kehidupan alam, manusia, sosial, jika tidak dikelola dengan bijak. Teknologi telah membawa tantangan baru dalam aspek sosial, ekonomi, psikologis, lingkungan, keamanan, pendidikan, dan keagamaan. Secara sosial, nilai-nilai tradisi mengalami proses penggerusan dan terciptanya nilai-nilai yang tidak semuanya sesuai dengan ajaran agama dan kearifan local. Secara ekonomi, transformasi ekonomi diiringi kefaktaan kemiskinan dan kesenjangan ekonomi global, ketergantungan ekonomi terhadap teknologi, hingga hilangnya ribuan pekerjaan.
Secara psikologi, di tengah kemudahan akses informasi dan komunikasi, perkembangan sains dan teknologi melahirkan tekanan psikologis, memicu stres dan depresi (mental health) terutama di kalangan generasi muda, tiadanya jeda reflektif, berbagai bentuk kecanduan teknologi, buyllying, hingga kejahatan siber yang meraja lela. Secara lingkungan, sains dan teknologi melahirkan limbah elektronik yang berbahaya, ekspoitasi dan ekstraksi sumber daya alam yang kian eskalatif, meningkatnya emisi karbon, emisi gas rumah kaca, polusi udara air dan tanah, kerusakan hayati, hingga kerusakan parah ekosistem dan perubahan iklim.
Secara keamanan, sains dan teknologi menjadikan hampir semua informasi tentang individu dan masyarakat diketahui oleh system sementara kita tidak faham apa-apa tentang system yang beroperasi, berbagai pelanggaran terhadap data pribadi, peretasan, pencurian identitas, dan penyalahgunaan data, mengancam keamanan pribadi dan nasional, produksi dan penyebaran informasi palsu (hoaks), yang dapat memicu ketegangan, fitnah, konflik, kepanikan, bahkan kerusuhan.
Secara pendidikan, sains dan teknologi di samping telah memajukan sektor pendidikan dengan berbagai inovasi, seperti pembelajaran daring dan akses ke sumber pengetahuan nyaris tak terbatas, namun juga diikuti oleh sejumlah dampak negatif yang harus dimitigasi. Sains dan teknologi pendidikan telah mengurangi kuantitas dan kualitas interaksi langsung, kualitas pembelajaran daring yang masih rendah, ketergantungan berlebihan pada teknologi, kesenjangan akses, ketidaksiapan pendidik, tergerusnya nilai-nilai etika dan moral, hingga masalah kesehatan fisik serta mental.
Secara keislaman, sains dan teknologi memicu massifnya penyebaran konten yang keliru tentang ajaran Islam melalui internet, termasuk radikalisme, ekstremisme, atau pemahaman yang tidak sesuai dengan nilai wasathiyah, bergesernya otoritas ulama ke otoritas tanpa kompetensi keilmuan, polarisasi umat seperti tercermin dalam kasus debat nasab, komodifikasi nilai-nilai keislaman, hingga lahirnya tantangan terhadap nilai-nilai utama keislaman seperti kebenaran dan keadilan.
Strategi Kebudayaan: Berpijak pada Realitas
Strategi kebudayaan tumbuh dari pengalaman, sejarah, perkembngan sains, teknologi, sosial-humaniora, dan nilai-nilai masyarakat. Strategi kebudayaan yang berpijak pada realitas akan lebih mudah diterima dan diterapkan karena selaras dengan identitas dan konteks sosial-budaya masyarakat. Strategi budaya yang dirancang berdasarkan realitas, baik sains, teknologi, agama, sosial, politik, ekonomi, maupun, stretegi tersebut akan menjadi lebih transformatif karena langsung menyasar kebutuhan dan tantangan nyata yang dihadapi masyarakat. Misalnya, strategi pelestarian budaya lokal lebih efektif jika memperhatikan perubahan sosial akibat urbanisasi atau pengaruh teknologi, sehingga program kebudayaan yang disusun dapat mengatasi perubahan ini dengan baik.
Budaya adalah sesuatu yang dinamis, dan strategi kebudayaan harus adaptif terhadap perubahan sains-teknologi, sosial, ekonomi, dan politik yang terjadi. Dengan berpijak pada realitas, strategi kebudayaan dapat merespons perubahan zaman, seperti digitalisasi atau globalisasi, yang mengubah cara orang berinteraksi, beragama, berpendidikan, bekerja, dan mengakses kebudayaan. Hal ini memungkinkan kebijakan budaya pesantren untuk tetap relevan dan tidak ketinggalan zaman.
Dengan berpijak pada perkembangan sains dan teknologi, strategi kebudayaan dapat menjadi lebih relevan, adaptif, direktif, dan berdaya guna dalam menghadapi tantangan zaman. Strategi ini juga memungkinkan kebudayaan pesantren untuk berkembang sejalan dengan perubahan yang ada, sehingga pesantren dapat tetap relevan dan dinamis tanpa kehilangan identitasnya. Dengan memahami dan mempertimbangkan realitas sebagai pijakan, strategi kebudayaan menjadi alat yang lebih kuat dan transformatif untuk melestarikan, mengembangkan, mengadaptasi, dan mengarahkan budaya pesantren dalam menghadapi tantangan zaman. Hal ini juga memungkinkan kebudayaan pesantren untuk tetap hidup, relevan, dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi sekarang dan masa depan.
Mengintip Perkembangan Sains-Teknologi Mutakhir
Perkembangan sains dan teknologi ke depan diperkirakan akan mengalami perubahan besar yang akan mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari kesehatan, transportasi, energi, hingga kehidupan sosial dan ekonomi. Kemajuan dalam kecerdasan buatan, bioteknologi, energi terbarukan, dan teknologi kuantum akan menciptakan perubahan signifikan yang akan mengubah cara kita beragama, bekerja, hidup, dan berinteraksi satu sama lain.
Kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi akan terus berkembang dan diterapkan di berbagai sektor. AI diperkirakan akan mencapai tingkat yang lebih canggih, dengan kemampuan yang lebih mirip dengan kecerdasan manusia dalam hal analisis data, pengambilan keputusan, dan kreativitas. AI akan digunakan untuk mendiagnosis penyakit secara lebih cepat dan akurat, membantu dalam pengembangan obat baru, serta menyediakan layanan kesehatan yang lebih personalisasi berdasarkan data genetika dan kesehatan individu. Robotika dan otomatisasi akan semakin menggantikan pekerjaan manual dalam industri, meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Kendaraan otonom (self-driving) juga akan lebih umum, baik untuk transportasi pribadi maupun angkutan umum.
Kemajuan dalam bioteknologi, terutama dalam pengeditan gen dan terapi gen, akan memungkinkan manusia mengatasi berbagai penyakit yang saat ini sulit diobati, seperti kanker, penyakit genetik, dan gangguan neurodegeneratif. Teknologi seperti CRISPR akan digunakan secara luas untuk mengedit DNA, memungkinkan kita untuk mengoreksi mutasi genetik dan mengubah sifat biologis manusia dan makhluk hidup lainnya. Terapi kesehatan berbasis genetika akan menciptakan obat-obatan dan perawatan yang disesuaikan dengan profil genetik individu, sehingga pengobatan menjadi lebih efektif.
Komputasi kuantum akan merevolusi kemampuan komputasi kita, memungkinkan pemrosesan informasi dalam skala yang jauh lebih besar dan lebih kompleks dibandingkan dengan komputer klasik. Dengan komputasi kuantum, kita akan mampu memecahkan masalah yang terlalu rumit untuk komputer saat ini, seperti simulasi molekuler untuk pengembangan obat baru, pengoptimalan proses industri, dan perhitungan prediktif yang lebih akurat. Teknologi ini juga akan berdampak besar pada keamanan data, dengan kriptografi kuantum yang menawarkan sistem komunikasi yang hampir tidak bisa diretas.
Jaringan Internet of Things (IoT) akan semakin berkembang dengan dukungan jaringan 5G dan generasi berikutnya, memungkinkan interkoneksi perangkat yang lebih cepat dan lebih efisien. Kota pintar yang terhubung dengan IoT akan menjadi lebih umum, dengan infrastruktur seperti transportasi, energi, dan layanan publik yang diatur secara otomatis untuk meningkatkan efisiensi dan kenyamanan. IoT juga akan diterapkan secara lebih luas di rumah dan tempat kerja, dengan perangkat yang dapat berkomunikasi dan bekerja secara sinkron untuk meningkatkan produktivitas.
Eksplorasi ruang angkasa akan mencapai tahap baru dengan adanya misi ke Mars dan rencana kolonisasi ruang angkasa. Pengembangan teknologi roket dan pesawat luar angkasa akan terus berkembang. Manusia kemungkinan akan mulai mendarat di Mars, dan eksplorasi lebih lanjut akan dilakukan untuk memungkinkan kehidupan manusia di planet lain. Sumber daya dari luar angkasa, seperti logam mulia dari asteroid, mungkin mulai dieksploitasi untuk digunakan di bumi atau dalam pembangunan struktur luar angkasa.
Teknologi realitas virtual (VR) dan augmented reality (AR) akan mengubah cara manusia berinteraksi dengan dunia digital, baik untuk hiburan, pendidikan, maupun pekerjaan. VR dan AR akan digunakan secara luas dalam pendidikan untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan imersif. Dalam bidang pelatihan, simulasi VR akan digunakan untuk melatih dokter, insinyur, dan profesional lainnya.
Teknologi ini juga akan merevolusi industri hiburan dan media sosial, dengan dunia virtual yang lebih realistis dan pengalaman sosial yang lebih mendalam.
Teknologi yang terkait dengan peningkatan kapabilitas manusia, seperti antarmuka otak-komputer dan prostetik yang canggih, akan berkembang pesat.
Teknologi ini akan memungkinkan manusia berkomunikasi langsung dengan komputer atau mesin hanya dengan pikiran mereka, membuka peluang baru dalam bidang kesehatan dan produktivitas(brain-computer interface). Prostetik yang semakin canggih dan terintegrasi dengan sistem saraf manusia akan memberikan kemampuan kepada orang-orang dengan cacat fisik untuk mendapatkan fungsi yang hampir sama dengan manusia normal.
Dengan semakin terhubungnya dunia digital, masalah keamanan siber dan privasi akan menjadi semakin penting. Teknologi baru akan dikembangkan untuk melindungi data dan privasi pengguna. Teknologi blockchain akan semakin banyak digunakan di berbagai sektor, mulai dari keuangan hingga logistik, untuk memastikan keamanan, transparansi, dan desentralisasi data. Teknologi enkripsi yang lebih canggih akan dibutuhkan untuk melindungi privasi pengguna di tengah meningkatnya ancaman dari peretasan dan pengawasan digital.
Pendek kata, katakanlah dalam tahun-tahun ke depan, kita akan melihat banyak kemajuan teknologi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Banyak di antaranya akan mengubah cara kita beragama, hidup, bekerja, dan berinteraksi satu sama lain. Namun, tantangan besar seperti etika penggunaan teknologi, dampak sosial, dan masalah lingkungan juga akan muncul, dan pesantren perlu mempersiapkan diri untuk menghadapinya dengan kebijakan yang bijak dan inovasi yang bertanggung jawab. [] Tim Redaksi
*Artikel ini sebelumnya telah dimuat di Jurnal Aswaja Nusantara (Volume V, Oktober 2024).

