The Junkification of Research [1]

Oleh: Carl Rhodes dan Martina K. Linnenluecke [2]

Abstrak

Artikel ini menyoroti fenomena baru yang disebut junkifikasi (junkification) dalam dunia penerbitan akademik. Istilah ini berasal dari dunia digital, yang menggambarkan membanjirnya produk dan konten berkualitas rendah di internet. Para penulis berpendapat bahwa proses komodifikasi penelitian, yakni menjadikan hasil karya ilmiah sebagai barang ekonomi, telah menyebabkan munculnya mekanisme yang sama dalam penerbitan ilmiah daring.

Tekanan dari budaya publish or perish (terbit atau punah) semakin memperburuk situasi ini, karena akademisi didorong untuk terus menerbitkan artikel tanpa memedulikan mutu. Dalam sistem ini, banyak peneliti akhirnya membayar untuk bisa menerbitkan karya mereka pada jurnal berbayar yang tidak selalu berkualitas tinggi.

Penulis menunjukkan bahwa fenomena ini menandakan penyimpangan serius dalam budaya akademik modern. Penulis menyoroti bagaimana pergeseran struktural dan kultural dalam dunia penerbitan ilmiah memungkinkan junkifikasi berkembang, serta menyerukan perlunya penilaian ulang terhadap nilai dan praktik komunikasi ilmiah untuk melawan tren ini.

Pendahuluan

Bagian ini menjelaskan bahwa junkifikasi awalnya merujuk pada turunnya kualitas konten di berbagai platform digital seperti Amazon, Etsy, dan Google, di mana pengguna dibanjiri produk tiruan dan iklan yang menutupi hasil asli. Fenomena serupa kini merambah dunia akademik.

Akademisi dituntut untuk terus menerbitkan karya demi bertahan hidup secara profesional. Akibatnya, muncul dua tingkatan penerbitan:

  1. Tingkat elit (Tier 1): jurnal bergengsi dengan seleksi ketat dan waktu publikasi lama.
  2. Pasar terbuka berbayar: jurnal open access (OA) dan jurnal predator yang menawarkan publikasi cepat dengan biaya tertentu.

Kedua sistem ini membentuk spiral menurun menuju junkifikasi, di mana kuantitas lebih diutamakan daripada kualitas.

Apa Itu Junkifikasi?

Penulis menguraikan istilah ini dengan contoh kasus dari artikel The Junkification of Amazon (Herrman, 2023), yang menunjukkan bagaimana Amazon secara sengaja menurunkan kualitas platformnya dengan menerima banyak penjual tanpa kontrol mutu.

Fenomena ini juga terjadi di platform lain seperti Etsy, Reddit, TikTok, dan YouTube. Penulis mengutip Cory Doctorow (2023) yang memperkenalkan istilah enshittification—proses di mana platform digital perlahan menjadi buruk karena mengeksploitasi penggunanya demi keuntungan.

Pengguna sulit keluar dari sistem ini karena adanya biaya berpindah (switching costs), seperti kehilangan jaringan sosial atau reputasi. Situasi yang sama juga dialami akademisi yang terjebak dalam sistem penerbitan komersial karena reputasi dan evaluasi kinerja masih sangat bergantung pada jurnal tertentu.

Faktor-Faktor Penopang Spiral Junkifikasi

Penulis menjelaskan bahwa fenomena junkifikasi tidak hanya terjadi di platform digital, tetapi juga dalam dunia akademik. Penerbitan ilmiah kini beroperasi seperti pasar digital yang berorientasi pada skala besar dan keuntungan tinggi.

Produksi artikel ilmiah meningkat pesat, dari 1,9 juta publikasi (2016) menjadi 2,8 juta (2022, dengan nilai ekonomi industri penerbitan mencapai lebih dari 19 miliar dolar AS. Model open access (OA) dan jurnal predator menjadi lahan subur bagi junkifikasi, karena volume publikasi tinggi sering kali mengorbankan mutu ilmiah.

Komodifikasi Penelitian

Penulis menelusuri asal-usul komodifikasi ilmu pengetahuan sejak Jean-François Lyotard (1984) yang menyatakan bahwa pengetahuan kini diproduksi untuk dijual, bukan karena nilainya sendiri.

Neoliberalisme dan budaya evaluasi berbasis metrik telah memperkuat tren ini. Penilaian akademik kini bergantung pada impact factor dan peringkat jurnal, yang menjadikan publikasi ilmiah seperti komoditas pasar.

Dampaknya, hanya sebagian kecil akademisi, terutama dari universitas Barat ternama, yang memiliki akses ke “pasar” publikasi bergengsi. Sementara itu, peneliti dari Global South menghadapi hambatan biaya, bahasa, dan akses terhadap jurnal ternama.

Proliferasi Sistem Bayar untuk Menerbitkan

Awalnya, penerbitan open access dimaksudkan untuk mendemokratisasi akses ilmu pengetahuan melalui jurnal seperti PLoS dan BioMed Central. Namun, ketika model bisnis article processing charges (APC) diperkenalkan, OA berubah menjadi ladang keuntungan bagi penerbit besar.

Biaya publikasi yang tinggi, seperti €9500 per artikel di Nature, menciptakan ketimpangan baru antara akademisi kaya dan miskin. Penulis menilai bahwa sistem ini memperkuat eksklusivitas, bukan inklusivitas, dalam penyebaran ilmu pengetahuan.

Penurunan Kualitas dan Integritas

Kombinasi antara komodifikasi dan pertumbuhan cepat OA menyebabkan penurunan mutu dan pengawasan dalam proses publikasi. Beberapa jurnal besar seperti Hindawi dan MDPI bahkan sempat dihapus dari indeks Web of Science karena standar kualitas yang rendah.

Penulis memperingatkan bahwa model berbasis APC dapat memicu jurnal untuk memperlonggar seleksi agar lebih banyak artikel diterbitkan demi pendapatan. Akibatnya, pembaca kini harus menilai sendiri kualitas artikel yang mereka baca.

Peningkatan Publikasi Berkualitas Rendah

Jumlah publikasi meningkat tajam, tetapi kualitasnya menurun. Membedakan jurnal kredibel dari jurnal predator semakin sulit, bahkan bagi peneliti berpengalaman.

Selain itu, penggunaan kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT dalam penulisan akademik menimbulkan risiko baru: munculnya karya “otomatis” yang miskin orisinalitas. AI juga mulai digunakan dalam proses peer review, yang menimbulkan kekhawatiran tentang akurasi dan tanggung jawab etika.

Kesimpulan: Solusi untuk Junkifikasi?

Penulis menyimpulkan bahwa junkifikasi akademik adalah konsekuensi langsung dari sistem publish or perish dan komersialisasi ilmu pengetahuan. Para penerbit meraup keuntungan besar, sementara akademisi menanggung beban biaya dan tekanan publikasi.

Meskipun demikian, penulis menekankan bahwa tidak semua jurnal non-elit termasuk dalam junkifikasi; banyak yang tetap menjaga standar ilmiah tinggi. Masalah utama terletak pada sistem struktural yang menilai penelitian berdasarkan tempat publikasi, bukan kualitasnya.

Sebagai solusi, penulis menyarankan:

  1. Reformasi sistem penilaian akademik untuk mengurangi ketergantungan pada metrik jurnal.
  2. Pengembangan model penerbitan koperatif yang dikelola oleh komunitas ilmiah.
  3. Penguatan repositori institusional terbuka tanpa biaya komersial.
  4. Dukungan terhadap inisiatif seperti CoARA (Coalition for Advancing Research Assessment) agar penilaian riset lebih berfokus pada substansi dan dampak sosialnya.

Tujuan akhirnya adalah mengembalikan penerbitan ilmiah sebagai barang milik kolektif publik, bukan komoditas ekonomi.

Catatan Kaki:

  • [1] Artikel ini merupakan terjemah dan ringkasan bebas dari artikel berjudul The junkification of Research yang diterbitkan oleh jurnal Organization, yang berada di bawah naungan SAGE Publications, tahun 2025 (tercantum sebagai © The Author(s) 2025, dengan DOI: 10.1177/13505084251399576). Proses terjemah dibantu AI. Penulis menyatakan tidak menerima dukungan finansial apa pun untuk penelitian, penulisan, atau publikasi artikel ini.
  • [2] Carl Rhodes adalah Profesor Bisnis dan Masyarakat di UTS Business School. Penelitiannya berfokus pada hubungan antara demokrasi liberal dan kapitalisme modern, dengan tujuan mereformulasi peran bisnis agar kemakmuran dapat dinikmati secara merata oleh semua pihak. Martina K. Linnenluecke Profesor Keuangan Lingkungan dan Direktur Centre for Climate Risk and Resilience di UTS Business School. Penelitiannya menyoroti bagaimana perubahan iklim memengaruhi perusahaan, pasar keuangan, dan masyarakat, dengan fokus pada adaptasi, ketahanan, dan transisi menuju ekonomi berkelanjutan.

Related Articles

Artikel baru