Muqaddimah: Genealogi Modernitas dan Pergeseran Pandangan Dunia
Peradaban modern hari ini berdiri di atas pilar pencapaian sains dan teknologi yang sangat mengagumkan. Namun, di balik kemegahan material tersebut, tersimpan kerapuhan mendasar yang mengancam eksistensi manusia dan keberlangsungan alam. Untuk memahami akar krisis ini, kita harus merunut sejarah genealogis pandangan dunia (worldview) Barat modern.
Secara historis, lahirnya sains modern dipicu oleh trauma intelektual akibat konflik antara dogmatisme Gereja Barat dengan penemuan ilmiah (seperti kasus heliosentrisme Galileo). Doktrin keagamaan yang terdistorsi saat itu mencoba menghakimi realitas empiris, yang pada akhirnya memicu reaksi ekstrem berupa sekularisme: sebuah gagasan bahwa aktivitas keilmuan harus steril dari campur tangan agama.
Semangat kebebasan ini melahirkan era Modernisme yang menempatkan akal (rasionalisme) dan indera (empirisme) sebagai tolak ukur tunggal kebenaran. Paham ini menjanjikan kesejahteraan universal melalui janji kemajuan (idea of progress). Akan tetapi, modernisme yang positivistik dan materialistik justru terdistorsi menjadi instrumen ekspansi kapitalisme dan kolonialisme.
Ketika Posmodernisme lahir untuk meruntuhkan narasi besar (grand narrative) modernisme demi kebebasan manusia, ia justru jatuh ke lubang ekstrem baru: relativisme moral dan epistemis. Jika modernisme mendewakan akal sekuler, posmodernisme membunuh gagasan tentang kebenaran mutlak itu sendiri. Akibatnya, pandangan dunia Barat terperangkap dalam humanisme sekuler—sebuah paham yang menjadikan manusia sebagai satu-satunya ukuran nilai tanpa lagi melibatkan hukum dan keberadaan Tuhan.
Anatomi Krisis Multidimensional Sains Modern
Tercabutnya fondasi keagamaan dari tradisi keilmuan modern memicu krisis multidimensional yang dapat diurai melalui tiga pilar filosofis utama:
1. Krisis Ontologis dan Metafisis
Sains modern mengadopsi pandangan materialistis yang memisahkan status manusia dari Penciptanya. Manusia tidak lagi dipandang sebagai hamba Allah (‘Abdullah), melainkan sekadar Homo Mensura (manusia adalah pembuat ukuran nilai). Pada saat yang sama, terjadi desakralisasi alam (desacralization of nature). Alam semesta tidak lagi dipandang sebagai tanda-tanda kebesaran Tuhan (ayatullah), melainkan sekadar materi mati yang bebas dieksploitasi.
2. Krisis Epistemologis
Ketika wahyu (Khabar Sodiq) dibuang dari struktur keilmuan, sumber kebenaran direduksi secara drastis hanya pada data inderawi dan penalaran rasional-empiris semata. Positivisme membuang ranah gaib, metafisika, dan intuisi keagamaan dari domain ilmu formal, lalu mengategorikannya sebagai mitos atau kepercayaan belaka.
3. Krisis Aksiologis, Teleologis, dan Antropologis
Akibat terpisah dari wahyu sebagai sumber nilai Ilahi, sains modern mengklaim dirinya bebas nilai (value-free). Ketiadaan hukum Tuhan membuat etika sains diserahkan pada paham utilitarianisme dan pragmatisme—apa yang menguntungkan dan secara teknis bisa dilakukan, itulah yang dijalankan. Dampaknya meliputi:
- Krisis Teleologis: Hilangnya orientasi akhirat dan pertimbangan transendental dalam penggunaan ilmu.
- Krisis Kosmis: Eksploitasi alam tanpa batas yang berujung pada kerusakan ekologi global.
- Krisis Antropologis: Manusia direndahkan derajatnya sekadar sebagai animal rationale tanpa beban amanah dan fungsi Khilafah di bumi.
Dialektika dan Evaluasi Kritis terhadap Proyek Islamisasi Ilmu
Melihat krisis tersebut, gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang dipelopori oleh para pemikir seperti Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi hadir sebagai gerakan dekonstruksi dan rekonstruksi epistemologis. Proyek ini bertujuan mengisolasi elemen-elemen sekuler dari ilmu modern dan menginfusikan konsep-konsep kunci Islam—seperti Tauhid, Adab, dan Khilafah—ke dalam struktur keilmuan.
Kendati demikian, tinjauan akademis yang matang menuntut kita untuk tidak menerima proyek Islamisasi Ilmu secara apologetis atau dogmatis. Diskursus ini memiliki beberapa catatan dan kritik substantif mendasar yang harus dicermati:
- Tantangan Metodologis dan Risiko Pseudo-Sains: Kritik dari ilmuwan seperti Ziauddin Sardar dan Abdus Salam mengingatkan bahwa Islamisasi ilmu sering kali berhenti di tataran filsafat tinggi dan belum melahirkan metodologi operasional yang jelas bagi riset empiris harian. Tanpa kerangka metodologis yang presisi, proyek ini berisiko terjebak pada “Islamisasi instan”—sekadar menempelkan stempel ayat-ayat Al-Qur’an pada teori ilmiah Barat tanpa rekonstruksi yang mendalam.
- Netralitas Sains vs. Etika Penerapan: Pemikir neo-modernis seperti Fazlur Rahman berargumen bahwa sains alam pada dasarnya bersifat netral dan universal seperti pisau bermata dua. Hukum fisika atau matematika tidak beragama. Oleh karena itu, yang bermasalah bukanlah “ilmunya”, melainkan etika manusia yang menggunakannya. Solusi utamanya terletak pada pembinaan moral ilmuwan, bukan mendisrupsi struktur objektif sains itu sendiri.
- Krisis Internal Peradaban Islam: Mengritik positivisme Barat tanpa membenahi krisis internal di dunia Islam—seperti budaya taqlid, stagnasi pemikiran, serta minimnya infrastruktur dan dukungan terhadap riset mendasar (basic science)—akan membuat gagasan Islamisasi Ilmu terancam sekadar menjadi wacana retoris tanpa dampak nyata pada peradaban.
Kesimpulan: Menuju Sintesis Keilmuan yang Integratif
Islamisasi atau integrasi ilmu pengetahuan merupakan sebuah keniscayaan sejarah untuk menyelamatkan peradaban dari ancaman krisis moral dan ekologis yang diwariskan oleh materialisme modern. Namun, proyek besar ini tidak boleh dijalankan dengan sikap anti-Barat yang sempit, chauvinisme keagamaan, ataupun pendekatan yang mengabaikan kaidah-kaidah empiris yang objektif.
Integrasi keilmuan masa depan harus berdiri di atas tiga pijakan utama:
- Pijakan Ontologis: Mengembalikan Tauhid sebagai asas kebenaran, di mana alam semesta dipandang sebagai ciptaan yang penuh dengan tanda-tanda Ilahi.
- Pijakan Epistemologis yang Hierarkis: Menempatkan indera, akal, dan wahyu dalam satu kesatuan struktur keilmuan yang harmonis, tanpa saling meniadakan.
- Pijakan Aksiologis yang Maslahat: Memastikan bahwa perkembangan sains dan teknologi diabdikan sepenuhnya untuk mengemban amanah Khilafah dan mewujudkan kemaslahatan bagi seluruh alam (Rahmatan lil ‘Alamin).
Wallahu a’lam bish-shawab
Walhamdulillah Rabb al-‘alamin
Unida Gontor Putri, 18 Rabi’ul Akhir 1448/
30 September 2026

