Kami lahir di zaman serba cepat,
tapi langkah terasa berat.
Katanya Indonesia tanah harapan,
namun yang sering kami temui
adalah pintu yang tak pernah benar-benar terbuka.
Kami tumbuh dengan mimpi,
lalu belajar memotongnya sendiri
agar muat di realita.
Kerja keras sering kalah oleh koneksi,
jujur terasa mahal,
dan suara kami tenggelam
di antara janji yang diulang-ulang.
Kami mencintai negeri ini,
tapi cinta yang terus diuji
lama-lama menjadi letih.
Melihat berita setiap hari
seperti menelan pil pahit tanpa air..
korupsi, ketidakadilan,
dan masa depan yang terasa kabur.
Ada malam-malam
di mana kami bertanya dalam diam:
Jika hidup seberat ini,
mengapa harus di sini?
Bukan ingin mati,
hanya lelah hidup
di tempat yang sering tak memberi ruang bernapas.
Kadang terlintas pikiran paling jujur:
andaikan kami tidak dilahirkan di Indonesia,
mungkin bermimpi tak terasa sebodoh ini.
Namun kami tetap bangun esok hari,
dengan harapan yang tersisa tipis,
berjalan pelan,
di negeri yang kami kritik
karena diam-diam masih kami sayangi.

