Menolak Board of Peace dan Mengecam Dukungan PBNU terhadapnya
Seruan ini merupakan pernyataan sikap warga Nahdlatul Ulama yang disampaikan sebagai bentuk keprihatinan, tanggung jawab moral, dan panggilan nurani atas perkembangan terbaru isu Palestina dan keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace. Seruan ini ditandatangani oleh ratusan nahdhiyyin yang berasal dari beragam latar belakang, mulai dari pengurus struktural dan kultural, para kiai, gus, ning, akademisi, cendekiawan, budayawan, hingga masyarakat nahdhiyyin akar rumput.
Kami, warga Nahdlatul Ulama, menyatakan keprihatinan mendalam sekaligus penolakan tegas terhadap keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace serta mengecam dukungan Ketua Umum PBNU, Gus Yahya Cholil Staquf, yang menyebut langkah Presiden Prabowo Subianto membawa Indonesia ke dalam inisiatif ini sebagai jalan yang tepat dalam memperjuangkan Palestina. Klaim tersebut terdengar mulia, tetapi mengabaikan kenyataan bahwa banyak intelektual Indonesia dan dunia telah lama mengingatkan bahwa perdamaian yang dibangun tanpa keadilan hanyalah kelanjutan imperialisme-kolonialisme dengan bahasa manipulatif, sementara darah tetap mengalir, tanah terus dirampas, dan kemerdekaan Palestina semakin menjadi ilusi.
Pernyataan bahwa keterlibatan diperlukan demi membuka akses memang terdengar masuk akal. Namun logika ini menjadi rapuh ketika dipaparkan seolah sejarah, relasi kuasa, dan struktur dominasi tidak pernah ada. Sejumlah pemikir ekonomi politik telah lama mengingatkan bahwa akses yang dibuka oleh pusat kekuasaan global seringkali bukan pintu dialog, namun justru instrumen pengendalian, tempat suara korban dibungkam agar tidak mengganggu arus kepentingan ekonomi dan geopolitik.
Forum-forum kekuasaan global seperti Board of Peace bukanlah ruang hampa nilai. Ia lahir dari sejarah panjang sejak pendudukan dan genosida atas warga Palestina, dari Nakba hingga Gaza hari ini. Forum-forum itu justru by design membangun dan memelihara ketimpangan struktural atas pendudukan dan genosida warga Palestina.
Board of Peace sejak kelahirannya lebih menyerupai perpanjangan tangan kepentingan Amerika Serikat ketimbang upaya perdamaian yang sah dan berkeadilan. Ia dirancang secara sepihak, bahkan tanpa satu pun wakil Palestina sebagai pihak yang paling terdampak di meja perundingan. “Perdamaian Tanpa Kemerdekaan Palestina” hanyalah gema kepentingan geopolitik dan ekonomi AS. Formula tersebut sama sekali bukan jawaban atas ketidakadilan struktural yang dialami rakyat Palestina. Bahkan oleh Board of Peace, Gaza lalu hanya direduksi menjadi proyek rekonstruksi dan rehabilitasi untuk menjadi ladang bisnis kepentingan negara penindas, bukan penyembuhan jeritan kemanusiaan dan luka sejarah yang menuntut keadilan mendalam.
Di sinilah kepemimpinan moral NU sedang diuji. Seorang pemimpin organisasi ulama, Kyai, dan pejuang tidak seharusnya menyederhanakan persoalan dengan seruan “harus terlibat” tanpa menimbang risiko etik dan politiknya. Para Muassis dan masyayikh NU telah mewariskan kehati-hatian terhadap kekuasaan dholim; yang mengingatkan bahwa agama akan kehilangan ruhnya ketika dijadikan legitimasi penindasan, penjajahan, dan tatanan yang menindas.
Bagi kami, Palestina bukan sekadar soal strategi diplomasi, bukan pula sekadar isu hubungan internasional yang bisa ditimbang untung-ruginya, apalagi hanya sekadar transaksi tarif perdagangan global. Palestina adalah benteng terakhir perjuangan moral dunia hari ini. Di sanalah pertarungan antara haqq dan bathil berlangsung tanpa tirai. Genosida yang terus terjadi saat ini merupakan imperialisme-kolonialisme yang dipertahankan dengan berbagai instrumen internasional. Ini adalah pengkhianatan terhadap amanah kemanusiaan. Kegagalan kita dalam menghentikannya adalah kegagalan politik mewujudkan tujuan nasional keempat, kegagalan nurani, dan kegagalan kemanusiaan kita. Karena itu, membicarakan Palestina hanya dengan bahasa “damai” dan “stabil” tanpa keadilan adalah upaya meredam perlawanan dan menormalkan pendudukan, genosida, dan ketidakadilan struktural.
Lebih jauh, narasi damai yang dilepaskan dari keadilan hanya akan mengulang sejarah lama. Menjadikan korban sebagai objek pengaturan, bukan subjek penentu nasibnya sendiri. Inilah yang berulang kali diperingatkan oleh para pemikir global bahwa imperialisme-kolonialisme paling licik justru bekerja ketika kekerasan diberi wajah prosedural, “dialogis,” “damai,” dan ketimpangan diberi label kompromi untuk kesejahteraan. Perdamaian semacam ini bukanlah cara baru untuk mengelolanya agar tetap dapat diterima oleh dunia yang enggan bercermin pada luka yang diciptakannya sendiri.
Kami menyerukan agar PBNU berani menjadi penyeru kejernihan moral dan tidak terperangkap dalam ilusi netralitas. Forum-forum damai yang mengabaikan keadilan adalah ruang paling rawan bagi normalisasi kezaliman. PBNU seharusnya berdiri sebagai penjaga nurani umat dan pembimbing moral bagi jutaan warganya mengenai mana yang haqq dan mana yang bathil. Sejarah NU justru kuat karena kemampuannya menjaga jarak kritis terhadap kekuasaan, kemampuannya menyuarakan kebenaran dan keadilan meskipun pahit, bukan karena kedekatannya dengan kekuasaan.
Dalam konteks inilah, PBNU dituntut untuk kembali memposisikan diri sebagai pembimbing moral bagi jutaan warganya. NU dituntut untuk menjernihkan mana yang haqq dan mana yang bathil, bukan mengaburkannya dengan bahasa kepentingan. Ketegasan moral merupakan bentuk kesetiaan pada prinsip yang diwariskan para ulama. Dunia boleh berubah, peta kekuasaan boleh bergeser, tetapi prinsip etik tidak boleh diputar agar sejalan dengan arah angin. NU seharusnya menjadi ruang kejernihan keberpihakan. Tempat di mana keberanian moral lebih utama daripada akses politik. Tempat di mana kebenaran tidak ditunda demi kenyamanan, dan keadilan tidak dinegosiasikan demi posisi.
Dalam dunia yang semakin kabur orientasinya, NU dituntut berbicara tidak hanya dengan bahasa yang bisa diterima oleh kekuasaan, tetapi dengan bahasa yang benar di hadapan sejarah dan, lebih dari itu, di hadapan Allah subhanahu wa ta‘ala. Di sanalah amanah keulamaan diuji: membela kebenaran, menegakkan keadilan, membela yang tertindas, dan melawan segala bentuk kezaliman, meski harus berdiri berseberangan dengan arus besar dunia.
— Warga Nahdlatul Ulama
- M. Mustafid (wakil sekretaris PWNU DIY)
- Heru Prasetia (sekretaris Lakpesdam PWNU DIY)
- Hasan Basri ( anggota lesbumi NU)
- Nur Khalik Ridwan
- Roy Murtadho (pengajar pesantren Ekologi Misykat al Anwar)
- Abdurrohman Azzuhdi (dept. Keagamaan dan Ideologi Ansor Pajangan Bantul)
- Citra Orwela (Akademisi)
- Lutfi Makhasin (Akademisi)
- Ahmad Hasby (LTN PCNU TEGAL)
- Dedik Priyanto (Aktivis Media NU)
- Machmud Nasrudin Arsyad (Aktivis Sosial)
- Mahbub Junaidi (Profesional)
- Azzah Nilawaty (Akademisi)
- Wakhit Hasim ( Dosen UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon)
- Kalis Mardiasih (Aktivis Perempuan)
- Muhammad Alvin Nur Choironi (Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pegiat Media NU)
- Aziez Zamzami (Pengusaha)
- M. Rendra Setiawan (Social Worker)
- Azmil Husna N (Pegawai)
- Angga Palsewa Putra (Guru)
- Antok Suryaden (Warga)
- Achmed Roy, SH (Advocate)
- Alfin Rizal (Seniman)
- Wibisono ahmad (Aktivis lingkungan)
- Moh Yasir Alimi, PhD (akademisi)
- Bosman Batubara (peneliti di Yayasan Amerta Air Indonesia)
- Muhammad Azmi Hafizha Rahman, (ketua Propinsi D.K.I. Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia)
- Faqihuddin Abdul Kodir (Akademisi dan Aktivis hak-hak Perempuan dalam Islam)
- Budi Santoso (takmir masjid)
- Rika Iffati Farihah (Wakil Ketua Fatayat NU DIY)
- Listia (Pegiat Pendidikan )
- Masruchah (Pegiat HAM Perempuan)
- Ahmad Munjid (akademisi)
- Adi Nugroho (akademisi)
- Marzuki Wahid (ISIF Cirebon)
- Nur Rofiah (akademisi)
- Ninid Al Fatih (Jombang)
- Imam Baehaqi (PP MIS Sarang)
- Taufik CH (Advokat)
- AR Waluyo Wasis Nugroho
- Syukron MD ( Forum Kader Nu se- Dunia)
- Ahmad Samsul Rijal ( Sekretaris GPSI-Ketua ICDHRE/ Islamic Center for Democracy and Human Rights Empowerment)
- Fahmi Basya ( Wakil Rois Syuriah PCNU Sleman)
- Ainur Rohim (Pengusaha)
- Abdul Quddus Salam (akademisi)
- A.Rosikh Rohibi
- M. Syarbani haira (Peneliti Rabithah Melayu Banjar)
- Dr. Tumenggung Mayang (Akademisi, Wakil Tanfidziyah PWNU Papuaa)
- Imroatul Azizah (Akademisi)
- Arifah Alfi Maziyya (Warga)
- Emqi Arif Harisul Ilmi (Gusdurian)
- Muthtaruddin, SH., M.H., LBH Fahmina
- Rosidin (Ketua Lakpesdam Cirebon)
- Nur Afni Khafsoh (Dosen)
- Akhiriyati Sundari (Guru)
- Rastra Arif Pradana (Profesional)
- Zaimatus Sa’diyah (Akademisi)
- Dr. Din Alfina, Sp.A
- Sari Oktaviana (Peneliti)
- Hidayatut Thoyyibah (warga NU/)
- Wasingatu Zakia (Caksana Institut)
- Rindang Farihah (Lakpesdam PWNU DIY)
- Hijroatul Maghfiroh (mahasiswa)
- Sahal Sabilil Muttaqin (Mahasiswa)
- Mazdan Maftukha (Peneliti)
- Nuriyatul Lailiyah Suhail (Akademisi, Ibu Rumah Tangga, Aktivis)
- SK Dewi (Ibu Rumah Tangga, Akademisi)
- Iklilah Muzayyanah DIni Fajriyah (peneliti, akademisi, & aktivis hak perempuan dan anak)
- Imam Malik (peneliti)
- Ali Usman (dosen)
- Maya Fitria (dosen)
- Siti Munawaroh (Wakil Ketua PW Fatayat NU DIY)
- Achmad Fadloli (akademisi)
- Arif Maftuhin (dosen)
- Rose Merry (LKP3A PW Fatayat NU DIY)
- Khotimatul Husna (Lakpesdam PWNU DIY dan PW Muslimat NU DIY)
- Mart Widarto (Wakil Ketua LPBI PWNU DIY)
- Ahmad Murtajib (Syarikat Indonesia)
- Rumekso Setiadi (pengusaha)
- Nasih Luthfi (Lakpesdam PWNU DIY)
- Moh. Najikh Suhail (Ketua Gerakan Pikir dan Dzikir JAMAN)
- Taufiqurrahman (Dosen)
- Dr. AS Hikam (pengamat politik)
- Ahmad Ghozi. NI (LKK PWNU DIY)
- Asman Aziz (pegiat NU)
- Ahmad Husain Fahasbu (Penulis, Inisiator Forum Sabtu Wage)
- Tri Noviana (Yayasan LKIS)
- Ahmad Rifki Harianto (Warga NU & anggota forum Sabtu wage)
- Fatmi Asri (alumni Seroja TimTim)
- Mutimmatur Rahmah Suhail (Warga NU Surabaya)
- Dr. Alvira Nailatul Izza (Warga NU Malang)
- M.Kafil Faiz (Warga NU Surabaya)
- Dr. Savero Mizan Jahidi (Warga NU Malang)
- Lautri Ramadhiana (Warga NU Sidoarjo)
- Endah Musfiroh (Anggota Fatayat Surabaya)
- Nevisra Viviani ( Warga NU , pengamat sosial)
- Yuyun Sri Wahyuni
- Ahmad Rahma Wardhana (LPP PWNU DIY, Akademisi UGM)
- AZQ. Haqiqi Rizqi Fauzi (Anggota Forum Sabtu Wage)
- Afif Thohir Furqoni (Anggota Forum Sabtu Wage)
- Ahmad Rusli H (Anggota Forum SAbtu Wage )
- Ahmad kafin billah ( Anggota Forum
- Imam Syaifuddin (Warga NU Sidoarjo)
- Sarjoko (mahasiswa KBM UGM)
- Sumargi Rahardjo – tp bukan warga NU (takasitau.com)
- Yuni Ma’rufah (PW Muslimat NU DIY)
- Ema Rahmawati (PW Fatayat NU Jawa Timur)
- Syamsurijal Ad’han (Warga NU Sulawesi Selatan)
- Ummi Hamidah (Warga NU Blora)
- Lailatuz Zahro’ (Warga NU Tanggulangin Sidoarjo)
- Dina Fitri Eka Sari (Warga NU Kediri)
- Abimanyu A (Warga NU Kota Semarang)
- Airlangga A (Warga NU Kota Semarang)
- Suraji (Warga NU)
- Rumail Abbas (Nahdliyin, Historian, GUSDURian)
- Rifqi Fairuz (Dosen)
- Mochamad Fadholy (Warga NU Jakarta)
- Rizky Zulkarnain, S.H, MA (Warga NU Jakarta)
- M Maftuhul Fahmi (warga NU Malang)
- Sugeng Prabowo (Warga Nu Ponorogo)
- Amrul Mufid (Warga NU Banyumas)
- Ahmad Umam Aufi (Warga NU kota Semarang)
- shifah cirebon
- Ismahfudi (Waga NU Jogja)
- Ahmad Wildan Thobibi Bahja (Akademisi Bojonegoro)
- Afwan Hilmi Muttaqin (Warga NU)
- Afrizal (Warga NU Sidoarjo)
- Atho’ (warga nu madiun
- Trimulyo (Warga NU Brebes)
- Dr. Muhammad Rizqi Romdhon (Anggota RMI PBNU, Wakil Katib Syuriah PC NU Kab. 1Tasikmalaya, PP Cipasung)
- Aira R. (netizen yang masih punya sedikit harapan terhadap pemerintah, Yogyakarta)
- Ahmad Komaini (Netizen dan warga biasa Jakarta).
- Muhammad Nafarin ( warga NU & seorang cleaning service yang punya hati & empati )
- Muhammad Mukhtar (akademisi)
- M. Fahruddin Al Mustofa (Guru MI)
- Abdul Hakim (Dosen)
- Kamal ( warga NU swasta 😁 )
- Djoko SS (Surabaya)
- Moh Hasan Naufal Maulana (santri NU)
- Abdul Latief Sahal (@latiefsahal23 WNI NU)
- Muhammad Taufik
- Emha Saifuddin ( Santri Desa)
- Drh. Hafidz Maulana Zulkarnain (Mantan Ketua KAMMI Universitas Airlangga)
- Ahmadi (Muhibbien NU Kalimantan Selatan)
- Zaenal arifin (santri kalong)
- Muhammad ‘avivuddin (santri ortodoks)
- Agus sulaeman (pengurus mwc , Kab bandung)
- Dr. Lailatul Fitriyah (Akademisi, PCI-NU AS-Kanada)
- Athoir Rohman (Pengurus MWCNU Jatirogo Tuban Jawa Timur)
- Nur Ulfah Mariana (Santri Kalong)
- Fatkhurohman ( Syuriah Ranting)
- Rojauna Zalfatthoriq (Nahdliyin Tulungagung)
- Ahmad Irfani Syaba (Warga NU Handil, Muara Jawa, Kalimantan Timur)
- Syamsul Ma’arif (Alumni Lirboyo)
- Ahmad Sahidah (Pergunu, Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur)
- M.Makki ( warga NU Jabar)
- Muhammad Zainul Muttaqi (Electrical Engineer, ISNU SURABAYA)
- Achmad Muzakky Cholily (Aktivis Budaya, Lakpesdam PCNU Surabaya
- Ahmad Baiquini (Penulis & Editor)
- Yusuf Amrozi (ADP Jatim)
- Sofiyulloh (Warga Nu pamekasan madura)
- Rudy Wiratama (akademisi, seniman)
- Saiful A (Tuban)
- Ruslan Haitami (Nahdliyin Bekasi, pecinta Gus Dur)
- Muh Mujib (NU KulturalNasrudin (Aktivis & Sekretaris LBM NU Lampung tengah)
- Ahmad Maulana Albarizi (Warga NU/ Mantan Ketua Tanfidziyah dan Wakil Rais Syuriah PCINU Lebanon)
- M Idrus F (NU kultural)
- Althof Madani (mantan Rais Syuriah PCINU Sudan)
- Murdianto (Akademisi/Warga NU)
- Helmi Yogantara
- Mitrof Mubarok (Warga NU
- Pamekasan)
- Wahdan Achmad Syaehuddin (Warga NU)
- Andri N. Nugraha (santri kalong, Bandung)
- Muhammad Salim Kholili (Anggota Aswaja Center PWNU JATIM, Sekretaris PC LBM NU Gresik)
- Muhammad Rosihan Anwar (WAKA 4 PC IPNU Kota Kediri)
- Muhammad Putut Solichin Martawija (sekretaris MWC NU Boyolali Kota)
- Moh Khoiruman (Lesbumi ranting banjardowo genu
- Fazal himam (konten kreator)
- Ahmad Jamhuri (Dosen ISIF Cirebon)
- M Afif Fakhrudin (Mualaf NU)
- Rahma Nur Aulia (Warga NU)
- Zulfahmi Ardiansah (Warga NU Jakarta)
- Muhamad Yusup ‘Cupi’ (Warga NU dan Founder majelis.info groups)
- Bayixs (Warga NU Pegiat Alam)
- Nana Cahana (Dosen ISIF Cirebon)
- Faisal (Alumni IAIASA/STAISA Jakarta)
- M. Fahmi Aziz (Warga NU dan santri)
- Rossihan Anwar Shidiq (Mahasiswa Universitas Sains Alqur’an Wonosobo, Alumni PP. Darul Falah Amtsilati Jepara)
- Alif Raung Firdaus (warga NU Bondowoso, pegiat budaya, aktivis lingkungan)
- Chenia M Sepita Sofyan (PW Ansor Jabar – Wk. Bendahara)
- Kharisma mahardika (tumbuh besar di lingkungan NU)
- Ahmad Fawaid Fadlan (Masyarakat NU sejak lahir)
- Alifti Riskiyah (Anggota Ranting Muslimat NU)
- Muhammad Muslih ( warga NU dan Santri Pondok Pesantren Cikalama -Sumedang Jawa Barat )
- Khairil Anam (Gerakan Situbondo Membaca)
- Makrus Ali (ICIR)
- Syumailah (manusia, jember).
- NURJAMAN (Guru Di Kepulauan Riau, Alumni PP Mathlaul Huda, Ibun, Kab. Bandung)
- Ahmad Abdi Manaf .(kader ansor banser Banjarnegara)
- Nanang
- Saifullah (Sekretaris PR Banjar Kedungdung Sampang)
- Maulina Tri Handayani (Warga NU/Guru MI)
- Muhammad Haidar Sabid A (Mahasiswa Universitas Brawijaya, Warga NU Malang)
- Hibatin Wafiroh (Warga NU,
- Jawa Timur)
- Hamdi [ warga NU Jakarta-Timur ]
- Sugeng Atmadjuli (Wong NU asli Singosari)
- Muhammad Kholid Afiff (Rakyat, Warga NU Cirebon)

