Pergeseran Geopolitik-Geoekonomi Global: Pentingnya Otonomi-Strategis bagi Indonesia

Ketika Kanada mulai menyebut kedekatannya dengan Amerika Serikat sebagai kelemahan, dunia semakin paham saat ini sedang terjadi pergeseran geopolitik-geoekonomi global.  Pergeseran itu ditandai mulai runtuhnya persekutuan dagang dan hancurnya mitos lama tentang keamanan di bawah bayang-bayang Washington.

Ada kalimat Mark Carney yang patut dicatat dengan tinta tebal. Perdana Menteri Kanada itu mengatakan hubungan ekonomi yang sangat dekat dengan Amerika Serikat, yang dulu dianggap kekuatan, kini telah menjadi kelemahan. Dia mengatakannya pada 19 April 2026, di tengah tarif Amerika atas produk-produk Kanada dan retorika Donald Trump yang bahkan sempat menyinggung aneksasi. Ungkapan PM Kanada itu bukan semata keluhan seorang politisi yang tersinggung. Namun alarm dari sekutu lama Washington sendiri.

Yang retak, karena itu, bukan cuma Ottawa dan Washington. Yang retak adalah mitos lama bahwa makin dekat dengan Amerika, makin aman sebuah negara. Dulu, kedekatan dijual sebagai jaminan pasar, investasi, dan perlindungan geopolitik. Kini, kedekatan yang sama justru menghadirkan ketidakpastian, tarif, dan ancaman yang datang sewaktu-waktu dari perubahan mood politik di Gedung Putih. Amerika tak lagi tampak sebagai jangkar. As justru kini mulai menyerupai sumber guncangan.

Media-media kritis sudah lama membaca gejala ini lebih lugas. The Guardian menilai gelombang tarif Trump pada 2025 tidak masuk akal secara ekonomi, sementara setahun sesudahnya ia masih mencatat bagaimana “liberation day” versi Trump menambah kekacauan perdagangan global. Yang dipersoalkan bukan cuma angka tarif, tetapi watak kekuasaan yang semakin sembrono menggunakan ekonomi sebagai senjata. Ketika sekutu dipukul dengan instrumen yang sama seperti lawan, maka yang bekerja bukan lagi kemitraan, namun disiplin imperial.

Karena itu, yang kini tampak di berbagai kawasan melampaui pemberontakan ideologis terhadap Amerika. Yang nampak justru lebih mendasar, yakni soal naluri bertahan hidup. Uni Eropa, misalnya, secara terbuka membahas cara agar tidak terlalu bergantung pada Amerika Serikat dan China, supaya tak mudah terkena pemaksaan ekonomi. Banyak media mencatat para pemimpin Eropa ingin memperkuat industri strategis, teknologi digital, pertahanan, dan pasar internal mereka sendiri. Bila Eropa mulai bicara tentang pengurangan ketergantungan, itu berarti masalahnya sudah naik Tingkat dari sengketa dagang menjadi soal kedaulatan.

India membaca sinyal yang sama. Kesepakatan dagang besar India-Uni Eropa pada Januari 2026 memang soal pemangkasan tarif. Tapi konteks politiknya, perjanjian itu lahir ketika kedua pihak ingin meredam dampak hubungan yang menegang dengan Amerika Serikat. Dengan kata lain, diversifikasi kini bukan jargon birokratik. Diversifikasi kini menjadi teknik bertahan di dunia yang satu porosnya tak lagi dapat dipercaya sepenuhnya. Terlalu banyak menaruh telur di keranjang Washington bukan cuma membikin malas, namun juga mahal.

BRICS bergerak dari sisi moneter. Brasil memang tidak mendorong mata uang bersama BRICS, tetapi media melaporkan agenda presidensinya tetap menuju pengurangan ketergantungan pada dolar Amerika dalam perdagangan internasional. Dominasi selama ini bekerja lewat mata uang, sistem pembayaran, dan akses pembiayaan. Ketika banyak negara berbicara tentang jalur pembayaran alternatif, sesungguhnya mereka sedang mencari ruang bernapas di luar bayang-bayang hegemoni dolar.

Indonesia tak boleh membaca semua ini sebagai tontonan dari jarak jauh. Kita memang belum setergantung Kanada pada pasar Amerika. Tapi logika bahayanya sama. Siapa pun yang terlalu lama bersandar pada satu pusat kuasa akan kehilangan keluwesan ketika pusat itu berubah perangai. Langkah Indonesia menjadi anggota penuh BRICS, masuk ke New Development Bank, dan menandatangani perjanjian dagang dengan Eurasian Economic Union menunjukkan adanya dorongan untuk memperluas orbit ekonomi-politik. Pada saat yang sama, Jakarta seharusnya juga tetap membuka peluang memperbesar perdagangan dengan Amerika. Itu arah yang masuk akal, asal dipahami sebagai upaya memperbanyak pilihan, bukan sekadar berpindah ketergantungan. Akan menjadi blunder jika Jakarta lebih mendekat, misalnya, ke AS.

Di sinilah “bebas aktif” seharusnya berhenti menjadi slogan upacara. Prinsip bebas aktif harus turun menjadi strategi anti-ketergantungan. Keputusan sadar untuk tidak menggantungkan ekspor, pembiayaan, teknologi, dan ruang gerak diplomatik pada satu poros yang makin gemar memakai tarif dan ketidakpastian sebagai bahasa politik. Kanada baru sekarang menyadari bahwa kedekatannya ke AS  berubah menjadi kelemahan. Indonesia sebaiknya belajar lebih cepat. Dalam dunia yang makin keras, kedaulatan bukan berarti berdiri sendirian. Kedaulatan berarti selalu punya pintu lain ketika satu pintu ditutup dari luar. Indonesi seharusnya menuju otonomi-strategis.

Related Articles

Artikel baru