Merawat Akidah, Menjaga Sanad: Khataman dan Ijazah Kitab Tauhid di PPM ASWAJA Nusantara Mlangi

Pada Jumat, 16 Januari 2026, bertepatan dengan 28 Rajab 1447 H, para santri kelas Imrithi PPM ASWAJA Nusantara Mlangi menuntaskan (khatam) pengajian materi akidah melalui dua kitab pokok Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah, yakni Risālah al-Tawḥīd karya Imam al-Bājūrī dan Muqaddimah al-Sanūsiyyah al-Ṣughrā (Umm al-Barāhīn) karya Imam al-Sanūsī. Kegiatan khataman ini menjadi penanda rampungnya satu fase penting dalam proses pembelajaran akidah, sekaligus momentum refleksi atas perjalanan panjang para santri dalam menapaki dasar-dasar keyakinan Islam secara sistematis.

Pengajian diasuh oleh salah satu staf pengajar PPM ASWAJA Nusantara yang secara rutin membimbing santri menelaah matan demi matan. Dengan metode pengajian yang menggabungkan pembacaan teks, penjelasan makna, serta diskusi ringan, para santri diharapkan tidak hanya mengenal rumusan-rumusan akidah secara teoritis, tetapi juga mampu memahami logika dan hikmah di baliknya, sehingga akidah tidak berhenti pada hafalan, melainkan benar-benar tertanam sebagai keyakinan yang hidup dalam keseharian mereka.

Kitab Ringkas, Makna yang Mendasar

Pemilihan kedua kitab ini bukan tanpa alasan. Meski tergolong ringkas, Risālah al-Tawḥīd dan Umm al-Barāhīn telah lama dikenal sebagai rujukan utama dalam pendidikan akidah di pesantren-pesantren Nusantara. Kedua kitab ini memuat pembahasan sistematis tentang tiga pilar utama ilmu tauhid, yaitu ilahiyyat (ketuhanan), nabawiyyat (kenabian), dan sam‘iyyat (perkara-perkara gaib yang bersumber dari wahyu).

Dalam proses pengajian, pemahaman santri terhadap Risālah al-Tawḥīd diperkuat dengan kitab syarah karya Maha Guru Ulama Nusantara, Syekh Nawawi al-Bantani, yaitu Tījān al-Darārī. Adapun untuk Umm al-Barāhīn, pengajian dibantu dengan ḥāsyiyah Imam al-Bājūrī atas kitab tersebut. Menariknya, secara sanad keilmuan, Syekh Nawawi al-Bantani memiliki hubungan erat dengan tradisi keilmuan Imam al-Bājūrī. Guru Syekh Nawawi, yaitu Syekh Ahmad al-Nahrawi, merupakan murid langsung Imam al-Bājūrī (Fadani 1401, 51). Bahkan, dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Syekh Nawawi juga pernah berguru langsung kepada Imam al-Bājūrī. Hal ini menunjukkan bahwa kitab-kitab yang dipelajari para santri tidak hanya kuat dari sisi isi, tetapi juga memiliki kesinambungan dalam jalur transmisi keilmuan.

Dalam pembahasan ilahiyyat, santri diperkenalkan pada sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah SWT, lengkap dengan argumentasi rasional yang dirumuskan para ulama untuk meneguhkan keyakinan. Pada bagian nabawiyyat, santri mempelajari sifat-sifat para nabi, sekaligus kemustahilan sifat-sifat tercela bagi mereka sebagai utusan Allah. Sementara itu, pada aspek sam‘iyyat, dibahas perkara-perkara gaib seperti malaikat, hari akhir, surga, dan neraka, yang diketahui melalui wahyu, baik Al-Qur’an maupun Hadis.

Struktur pembahasan yang ringkas, runtut, dan argumentatif inilah yang menjadikan kedua kitab tersebut sangat efektif sebagai fondasi awal pembelajaran akidah. Dengan bekal ini, santri diharapkan memiliki dasar keyakinan yang kuat sebelum melangkah ke kajian-kajian akidah yang lebih luas dan bersifat filosofis, sekaligus mampu memosisikan iman tidak hanya sebagai warisan, tetapi sebagai keyakinan yang dipahami secara sadar dan bertanggung jawab.

Ijazah sebagai Peneguhan Tradisi Keilmuan

Salah satu momen paling bermakna dalam rangkaian kegiatan ini adalah pemberian ijazah kitab kepada para santri. Dalam tradisi pesantren, ijazah tidak hanya dimaknai sebagai simbol kelulusan atau penanda selesainya pengajian, tetapi merupakan pengakuan bahwa seorang santri telah mengikuti proses transmisi ilmu secara sah dari gurunya melalui jalur keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Melalui ijazah, tersambunglah mata rantai keilmuan (sanad) seorang santri kepada para ulama sebelumnya, hingga sampai kepada pengarang kitab, dan pada akhirnya bermuara kepada Rasulullah SAW sebagai sumber utama ajaran Islam. Dengan ijazah ini, santri memperoleh izin untuk menyampaikan kembali isi kitab yang telah dipelajarinya, baik dalam bentuk pengajaran maupun periwayatan, dengan tetap menjaga adab, kehati-hatian, dan tanggung jawab ilmiah.

Tradisi ini sejalan dengan semangat para ulama salaf yang sangat menaruh perhatian besar pada keabsahan jalur transmisi ilmu. Abdullah bin al-Mubarak pernah menegaskan,“Seandainya bukan karena sanad, niscaya siapa pun bebas berkata apa saja tentang agama.” (Al-Naysaburi 1955, 1:15) Pesan ini terasa semakin relevan di tengah era digital, ketika teks-teks keagamaan dapat diakses dengan mudah oleh siapa saja, namun tidak selalu disertai dengan bimbingan guru dan otoritas keilmuan yang jelas. Di sinilah pesantren dengan tradisi sanadnya hadir sebagai penjaga kesinambungan ilmu dan adab dalam belajar agama.

Sanad sebagai Benteng Keaslian Ajaran

Sanad bukan hanya soal siapa belajar kepada siapa, tetapi juga tentang verifikasi keilmuan. Melalui sanad, dapat diketahui apakah suatu kitab benar-benar dinisbatkan kepada pengarangnya, bagaimana cara kitab itu dipelajari, serta bagaimana pemahamannya ditransmisikan dari generasi ke generasi.

Dalam konteks pesantren, sanad menjadi salah satu benteng untuk menjaga keaslian ajaran dari distorsi, kesalahan tafsir, maupun penyusupan paham-paham yang tidak sejalan dengan manhaj Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah. Oleh karena itu, penguatan budaya ijazah dan sanad menjadi bagian penting dari upaya merawat identitas keilmuan pesantren di tengah perubahan zaman.

Rantai Sanad Kitab yang Diijazahkan

Perlu dicatat bahwa sanad yang diberikan dalam kesempatan ini tidak hanya mencakup satu atau dua kitab, melainkan meliputi empat jalur tradisi keilmuan sekaligus, yaitu sanad Risālah al-Tawḥīd karya Imam al-Bājūrī, sanad kitab syarahnya Tījān al-Darārī karya Syekh Nawawi al-Bantani, sanad Umm al-Barāhīn karya Imam al-Sanūsī, serta sanad Hāsyiyah al-Bājūrī atas Umm al-Barāhīn yang sejak lama menjadi rujukan penting dalam pengajaran akidah di lingkungan pesantren. Dengan demikian, para santri tidak hanya menerima legitimasi atas teks dasar, tetapi juga atas tradisi pensyarahan dan pendalaman makna yang menyertainya.

Adapun sanad kitab-kitab yang diijazahkan oleh staf pengajar PPM ASWAJA Nusantara kepada para santri kelas Imrithi adalah sebagai berikut:

(Al-Nadwi 2018) أنا أرويهما عن العلامة عبد الفتاح بركة عن العلامة محمد بن علوي بن عباس المالكي عن العلامة العقوري عن العلامة الباجوري 

ح كما أرويه عن العلامة مفتي العراق محمد رافع طه الرفاعي عن العلامة محمد ياسين الفاداني عن الكياهي جمعان بن مأمون التنقراني عن المعمر محمد نووي البنتني عن (Fadani 1401, 51) العلامة أحمد النحراوي عن البرهان إبراهيم الباجوري 

ويروي الباجوري عن العلامة الأمير الكبير عن العلامة نور الدين أبي الحسن علي بن محمد العربي السقاط عن سيدي محمد بن أحمد بن الحاج عن أبي البركات سيدي عبد القادر الفاسي عن والده سيدي علي عن الإمام العارف الكبير سيدي يوسف بن محمد الفاسي عن شيخ الجماعة أحمد بن علي المنجور والإمام محمد بن قاسم الغرناطي الشهير (Fadani 1401, 50) بالقصار عن أبي عبد الله محمد بن عبد الرحمن اليَسِّتيني عن أبي زكريا يحيى السوسي عن السنوسي 

Sanad ini memperlihatkan betapa panjang dan luasnya jaringan ulama yang menjaga transmisi ilmu tauhid dari generasi ke generasi. Rantai keilmuan tersebut melintasi berbagai pusat peradaban Islam, mulai dari Hijaz dan Mesir, Afrika Utara, hingga Andalusia. Jaringan ini kemudian tersambung pula dengan tradisi keilmuan ulama Nusantara melalui tokoh-tokoh besar seperti Syekh Muhammad Yasin al-Fadani, Kiai Jam’an bin Ma’mun (Tangerang), serta Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, penulis Tījān al-Darārī. Selain itu, sanad ini juga melalui para ulama kontemporer terkemuka seperti Prof. Dr. ‘Abd al-Fattah Barakah (anggota Hai’ah Kibar al-‘Ulama’ al-Azhar), Prof. Dr. Rafi‘ Taha al-Rifa‘i (Mufti Irak), dan Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki. Seluruh jalur keilmuan tersebut pada akhirnya bermuara kepada Imam al-Bājūrī sebagai penyusun Risālah al-Tawḥīd dan kepada Imam al-Sanūsī sebagai penyusun Umm al-Barāhīn, dua karya fundamental dalam tradisi teologi Asy‘ariyah yang menjadi rujukan utama pendidikan akidah di pesantren.

Dengan dimasukkannya sanad Tījān al-Darārī dan Hāsyiyah al-Bājūrī atas Umm al-Barāhīn, pengajian ini tidak hanya menegaskan pembacaan terhadap teks matan, tetapi juga terhadap lapisan-lapisan penjelasan yang memperkaya pemahaman santri terhadap argumentasi tauhid. Hal ini mencerminkan karakter khas tradisi pesantren yang tidak berhenti pada teks dasar, tetapi menumbuhkan budaya membaca syarah dan hasyiyah sebagai sarana pendalaman dan penguatan nalar keilmuan.

Bagi para santri, panjangnya sanad ini bukan sekadar deretan nama, melainkan pengingat bahwa ilmu yang mereka pelajari hari ini adalah amanah yang diwariskan melalui perjuangan intelektual dan spiritual para ulama selama berabad-abad. Dengan menerima ijazah sanad ini, para santri tidak hanya mewarisi teks, tetapi juga mewarisi tanggung jawab untuk menjaga kemurnian akidah, keluhuran adab, serta kesungguhan dalam menuntut dan mengajarkan ilmu, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para ulama dalam mata rantai keilmuan tersebut.

Dari Khataman Menuju Pengamalan

Khataman bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan pintu masuk menuju tahap pengamalan dan pendalaman. Dengan bekal dasar akidah yang kuat, para santri diharapkan mampu membentengi diri dari keraguan, sekaligus siap melanjutkan kajian ke tingkat yang lebih tinggi, baik dalam bidang akidah, fikih, maupun ilmu-ilmu keislaman lainnya.

Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa belajar di pesantren bukan semata-mata soal mengejar kelulusan, tetapi tentang menapaki jalan panjang warisan keilmuan para ulama, dengan penuh adab, kesabaran, dan rasa tanggung jawab.

Semoga tradisi khataman dan ijazah kitab ini terus terjaga, menjadi mata air keberkahan yang mengalirkan ilmu, adab, dan keteguhan iman bagi generasi santri hari ini dan masa depan.

Referensi

  • Al-Nadwi, Muhammad Akram. 2018. “رابطة العلماء السوريين | ركن العلماء والمناشط الإسلامية | رحلة الحج (14).” 2018. https://www.islamsyria.com/ar/رحلة-الحج-14/المقالات.
  • Al-Naysaburi, Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj. 1955. Sahih Muslim. Edited by Muhammad Fu’ad Abd Al-Baqi. Vol. 1. Kairo: Matba’ah Isa al-Babi al-Halabi.
  • Fadani, Muhammad Yasin bin ’Isa Al-. 1401. Al-Iqd Al-Farid Min Jawahir Al-Asanid. Surabaya: Dar al-Seggaf li al-Tiba’ah wa al-Nashr wa al-Tawzi’.

Related Articles

Artikel baru