KH. R. Ma’Ruf SM, Ulama Pejuang NU dan Pendiri Yayasan Miftahul Huda Ki Ageng Tarub Grobogan, Wafat

GROBOGAN – Dunia pesantren, Nahdlatul Ulama, dan masyarakat Tarub, Grobogan berduka. Ulama NU sekaligus pendiri Yayasan Miftahul Huda Ki Ageng Tarub, KH. R. Ma’ruf Shomo Dzikro Hadiningrat, wafat pada Senin (1/6/2026) di RS Islam Purwodadi. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, para santri, murid, sahabat, dan masyarakat yang selama ini mengenalnya sebagai sosok alim, sederhana, istiqamah, dan penuh pengabdian.

Semasa hidupnya, KH. R. Ma’ruf Shomo Dzikro dikenal sebagai ulama yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menuntut ilmu, mengajar, berdakwah, memimpin jamaah, serta membimbing masyarakat. Beliau merupakan salah satu tokoh Nahdlatul Ulama yang aktif berkhidmah di bidang pendidikan dan dakwah, khususnya melalui Lembaga Pendidikan Ma’arif NU.

Perjalanan intelektualnya ditempa melalui proses panjang di berbagai pesantren. Beliau tercatat pernah belajar di Pondok Bandungsari, Pondok Al Mansur Popongan, Pondok Pesantren dibawah asuhan Syekh Abdul Wahab Sya’roni, serta sejumlah pesantren lainnya. Dari proses tersebut lahir sosok ulama yang menguasai berbagai disiplin ilmu keislaman, khususnya ilmu syariat, kitab kuning, fiqih, tafsir, hadis, dan tasawuf.

Tidak hanya dikenal sebagai ahli ilmu syariat, KH. R. Ma’ruf Shomo Dzikro juga dikenal mendalami khazanah keilmuan hikmah Islam. Beberapa kitab yang beliau kaji dan amalkan di antaranya Syamsul Ma’arif Al-Kubra, Sirrul Jalil, Mamba’u Usul Hikmah, Jawahirul Khams, dan berbagai literatur hikmah lainnya. Di kalangan masyarakat, beliau juga dikenal sebagai sosok yang istiqamah menjalani berbagai riyadhoh, tirakat dan amalan spiritual.

Salah satu warisan terbesar yang ditinggalkan almarhum adalah berdirinya Yayasan Miftahul Huda Ki Ageng Tarub. Melalui yayasan tersebut, beliau berupaya menjaga tradisi pendidikan Islam berbasis pesantren dengan tetap mempertahankan kajian kitab-kitab salaf sebagai fondasi pembentukan karakter dan keilmuan generasi muda.

“Beliau bukan hanya mendirikan lembaga pendidikan, tetapi juga membangun tradisi keilmuan yang kuat. Banyak santri dan masyarakat yang merasakan manfaat dari perjuangan beliau,” Kata KH. Imam Abdul Hamid putra almarhum.

Menurut cucunya, KH. Ahmad Muhammad Mustain Nasoha, keteguhan almarhum dalam mengabdi kepada pendidikan dan masyarakat merupakan salah satu karakter yang paling membekas dalam ingatan keluarga dan para santrinya.

“Almarhum sangat istiqamah mengajar dan memimpin jamaah. Beliau tidak kerso diajak bepergian apabila harus meninggalkan kegiatan madrasah atau ketika ada kepentingan masyarakat yang harus beliau layani. Bagi beliau, mengajar santri dan melayani umat adalah amanah yang harus didahulukan,” ujar KH. Mustain Nasoha yang saat ini berkhidmah di LBM NU dan LPBH PWNU Jawa Tengah.

Selain dikenal sebagai ulama dan pendidik, KH. R. Ma’ruf Shomo Dzikro juga memiliki latar belakang nasab yang kuat dalam sejarah Nusantara. Berdasarkan dokumen Tepas Darah Ndalem Keraton Surakarta dan Yogyakarta tertanggal 11 Desember 2018, beliau tercatat sebagai keturunan ke-13 Sultan Agung, keturunan ke-21 Ki Ageng Joko Tarub, keturunan ke-18 Ki Ageng Selo, keturunan ke-21 Prabu Brawijaya V, keturunan ke-16 Joko Tingkir, serta keturunan ke-18 Raden Fatah.

Namun bagi masyarakat yang mengenalnya, kemuliaan beliau tidak terletak pada garis keturunan semata. Sosoknya lebih dikenal karena keluasan ilmu, kesederhanaan hidup, ketekunan beribadah, dan pengabdiannya yang tidak pernah surut kepada agama, organisasi, dan masyarakat.

Sepanjang hidupnya, almarhum juga dikenal memiliki satu pesan yang terus diulang kepada keluarga, santri, dan masyarakat. Beliau selalu menekankan pentingnya berkhidmah kepada Nahdlatul Ulama, istiqamah mempelajari ilmu syariat, serta tidak meninggalkan pendidikan umum sebagai bekal menghadapi perkembangan zaman.

“Jangan tinggalkan khidmah ke NU, jangan tinggalkan ilmu agama, tetapi jangan pula meninggalkan sekolah umum. Keduanya harus berjalan bersama agar lahir generasi yang mampu menjaga agama sekaligus membangun peradaban,” demikian salah satu nasihat yang sering disampaikan almarhum kepada para santrinya, kata KH. Munasir Nur Nasoha menantu almarhum.

Wafatnya KH. R. Ma’ruf Shomo Dzikro menjadi kehilangan besar bagi masyarakat, para santri, alumni, serta keluarga besar Nahdlatul Ulama. Namun demikian, jejak perjuangan dan pengabdian beliau diyakini tidak akan pernah berhenti bersama kepergiannya. Warisan tersebut akan terus hidup melalui Yayasan Miftahul Huda Ki Ageng Tarub yang beliau dirikan, para santri yang pernah menimba ilmu darinya, serta generasi penerus yang melanjutkan nilai-nilai perjuangan, keilmuan, dan pengabdian yang telah beliau tanamkan selama hidupnya.

Sejak kabar wafatnya tersebar, doa dan ungkapan belasungkawa mengalir dari berbagai kalangan. Tokoh agama, santri, alumni, masyarakat, hingga para sahabat mengenang almarhum sebagai sosok ulama yang sederhana, istiqamah, dan sepenuhnya mengabdikan hidupnya untuk pendidikan, dakwah, serta pelayanan kepada umat.

Bagi mereka yang pernah mengenalnya, KH. R. Ma’ruf Shomo Dzikro bukan sekadar seorang kiai. Beliau adalah guru kehidupan yang memberikan teladan bahwa ilmu harus diamalkan, perjuangan harus diwariskan, dan pengabdian kepada agama serta masyarakat tidak mengenal batas usia maupun keadaan.

Sebagai bentuk penghormatan terakhir atas jasa-jasa dan pengabdiannya, almarhum dimakamkan di kompleks Yayasan Miftahul Huda Ki Ageng Tarub, lembaga pendidikan yang menjadi salah satu karya dan warisan perjuangan beliau. Di tempat itulah beliau akan beristirahat, di tengah lingkungan yang selama puluhan tahun menjadi saksi dedikasi, pengorbanan, dan cintanya terhadap ilmu, santri, serta perjuangan Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Kepergian beliau meninggalkan duka, namun juga meninggalkan teladan yang akan terus dikenang dan menjadi inspirasi bagi generasi yang akan datang. Selamat jalan, Kiai. Ilmu, doa, dan perjuanganmu akan terus hidup dalam hati umat.

Related Articles

Artikel baru