Sanad yang Mewariskan Cinta: Hadis Musalsal bi al-Maḥabbah dalam Tradisi Pendidikan Pesantren

Dunia hari ini, kita sedang menghadapi paradoks besar. Di satu sisi, perkembangan teknologi memungkinkan manusia saling terhubung tanpa batas ruang dan waktu. Pengetahuan dapat diakses hanya dengan sentuhan jari, ribuan kitab tersedia dalam format digital, dan kajian keislaman dapat diikuti dari berbagai belahan dunia. Namun di sisi lain, kemajuan tersebut tidak selalu diikuti dengan meningkatnya kualitas kemanusiaan. Konflik bersenjata, polarisasi sosial, intoleransi, ujaran kebencian, hingga semakin pudarnya empati menjadi fenomena yang mudah dijumpai. Dunia mengalami kemajuan dalam transmisi informasi, tetapi pada saat yang sama menghadapi krisis dalam transmisi nilai.

Fenomena tersebut mengingatkan bahwa pendidikan tidak cukup dipahami sebagai proses memindahkan pengetahuan. Pendidikan sejatinya adalah proses membentuk manusia. Dalam tradisi Islam, ilmu (‘ilm) tidak pernah dipisahkan dari adab dan akhlak. Karena itu, para ulama sejak masa awal tidak hanya menjaga otentisitas teks, tetapi juga membangun mekanisme agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap hidup dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Salah satu mekanisme tersebut adalah sanad.

Di lingkungan pesantren, sanad dipahami sebagai mata rantai transmisi keilmuan yang menghubungkan seorang murid dengan guru-gurunya hingga kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Melalui sanad, seorang santri tidak hanya mengetahui dari mana sebuah ilmu berasal, tetapi juga belajar bagaimana ilmu tersebut dipahami, diamalkan, dan diwariskan. Dengan demikian, sanad tidak sekadar menjamin kesinambungan pengetahuan, tetapi juga menjaga kesinambungan budaya ilmiah yang dibangun di atas penghormatan kepada guru, ketekunan dalam belajar, serta tanggung jawab moral terhadap ilmu yang diterima.

Nilai tersebut tampak dalam Khataman Kitab Tījān al-Darārī yang diselenggarakan pada Jumat, 31 Juli 2026 M, bertepatan dengan 17 Safar 1448 H. Setelah para santri menyelesaikan pembelajaran kitab akidah tersebut, acara dilanjutkan dengan pemberian ijazah dan sanad sebagai simbol bahwa proses talaqqi telah berlangsung secara sempurna. Pada kesempatan yang sama, para santri juga menerima Hadis Musalsal bi al-Maḥabbah, salah satu hadis musalsal yang paling dikenal dalam tradisi para muhaddis.

Penyampaian hadis tersebut dilakukan oleh Pak Didik Harianto berdasarkan sanad yang beliau terima dari sejumlah masyayikh, di antaranya Syekh Abu Sulaiman Mustafa al-Nadwi, Syekh Muhammad Abd al-Ba’its al-Kattani, dan Syekh Yahya al-Ninowi. Seluruh jalur sanad tersebut bermuara kepada Musnid al-‘Ashr Syekh Muhammad Yasin al-Fadani, kemudian bersambung kepada para imam hadis hingga mencapai Sayyidina Mu’adz bin Jabal ra., sahabat yang menerima hadis tersebut secara langsung dari Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.

Hadis yang dibacakan berbunyi:

” يا معاذ، والله إني لأحبك، فلا تدعن في دبر كل صلاة أن تقول: اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. “

Artinya:

“Wahai Mu’adz, demi Allah, sungguh aku mencintaimu. Maka janganlah engkau tinggalkan setiap selesai salat untuk membaca: Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.”

Hadis ini dikenal dengan sebutan Hadis Musalsal bi al-Maḥabbah. Keistimewaannya tidak hanya terletak pada kandungan doanya, tetapi juga pada cara periwayatannya. Setiap guru yang meriwayatkan hadis ini kepada muridnya terlebih dahulu mengucapkan:

” …إني أحبك، فقل”

“Sesungguhnya aku mencintaimu, maka ucapkanlah….”

Ungkapan tersebut diwariskan secara konsisten sejak Sayyidina Mu’adz bin Jabal ra., kemudian diteruskan kepada al-Ṣunābihī, para tabi’in, para muhaddis, hingga para guru hadis pada masa kini. Dengan demikian, kesinambungan yang dijaga bukan hanya lafaz hadis, tetapi juga ekspresi kasih sayang yang mengiringi proses transmisinya.

Dalam disiplin ilmu hadis, sanad pada mulanya merupakan instrumen epistemologis untuk menilai autentisitas sebuah riwayat. Para muhaddis mengembangkan metodologi yang sangat ketat dengan meneliti kesinambungan sanad (ittiṣāl al-sanad), integritas para perawi (‘adālah), ketelitian hafalan (ḍabṭ), serta kemungkinan adanya cacat (‘illah) atau kejanggalan (syużūż). Melalui metodologi tersebut, sanad menjadi fondasi utama dalam membangun otoritas hadis.

Namun, dalam perjalanan sejarah Islam, fungsi sanad berkembang semakin luas. Sanad tidak lagi dipahami hanya sebagai instrumen untuk menguji autentisitas hadis, tetapi juga sebagai media transmisi ilmu, adab, dan budaya keilmuan. Tradisi pemberian ijazah di pesantren merupakan salah satu wujud nyata dari perkembangan tersebut. Sanad menghubungkan generasi sekarang dengan para ulama terdahulu, sekaligus menjaga kesinambungan etika belajar yang menjadi ciri khas pendidikan Islam.

Hadis Musalsal bi al-Maḥabbah menjadi contoh yang sangat indah. Sebelum mengajarkan doa kepada Sayyidina Mu’adz bin Jabal ra., Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam terlebih dahulu berkata, “Sesungguhnya aku mencintaimu.” Kalimat sederhana ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam dibangun di atas kasih sayang. Ilmu tidak diajarkan dengan rasa takut atau jarak yang kaku, tetapi melalui hubungan yang dipenuhi cinta, penghormatan, dan doa.

Yang menarik, pola tersebut tidak berhenti pada Rasulullah. Setiap mata rantai sanad mempertahankan cara penyampaian yang sama. Para guru mengucapkan kalimat “Inni Uhibbuka” kepada muridnya sebelum meriwayatkan hadis. Dengan demikian, yang diwariskan bukan hanya isi hadis, tetapi juga metode pendidikan Rasulullah. Inilah yang menjadikan sanad bukan sekadar transmisi teks, akan tetapi juga transmisi nilai.

Pesan ini terasa semakin relevan di tengah kondisi dunia saat ini. Berbagai konflik, polarisasi, dehumanisasi, dan lunturnya rasa saling percaya menunjukkan bahwa persoalan manusia bukan hanya kekurangan informasi, tetapi juga melemahnya nilai-nilai kemanusiaan. Teknologi mampu mempercepat penyebaran ilmu, tetapi tidak otomatis melahirkan empati. Di sinilah pesantren menawarkan perspektif yang berbeda.

Melalui tradisi sanad, ilmu diwariskan bersama adab, keteladanan, tanggung jawab, dan mahabbah. Hubungan guru dan murid tidak dibangun semata-mata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagai ikatan moral yang membentuk karakter. Seorang santri tidak hanya belajar memahami isi kitab, tetapi juga belajar menghormati guru, menjaga amanah ilmu, serta menebarkan manfaat kepada masyarakat.

Karena itu, penyampaian Hadis Musalsal bi al-Maḥabbah pada penutupan Khataman Kitab Tījān al-Darārī bukan sekadar pelengkap rangkaian acara. Tradisi tersebut menjadi penegasan bahwa pesantren terus menjaga model pendidikan Islam yang memadukan ilmu dengan akhlak, otoritas dengan keteladanan, serta pengetahuan dengan kasih sayang.

Pada akhirnya, sanad bukan hanya jembatan yang menghubungkan para santri dengan Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam melalui mata rantai para ulama. Sanad juga menjadi media yang mewariskan nilai-nilai Islam dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Ketika setiap mata rantai sanad diawali dengan ungkapan “Inni Uhibbuka”, yang diteruskan sesungguhnya bukan hanya sebuah hadis, tetapi juga sebuah pesan peradaban: bahwa ilmu harus melahirkan mahabbah, dan mahabbah itulah yang akan melahirkan manusia yang berakhlak, masyarakat yang damai, serta peradaban yang bermartabat.

Related Articles

Artikel baru