Ketika Revolusi Tak Lagi Percaya pada Revolusi: Membaca Asef Bayat di Zaman yang Kehilangan Imajinasi

Judul : Revolution without Revolutionaries (Making Sense of the Arab Spring)
Penulis : Asef Bayat
Penerbit : Stanford University Press, California
Tahun Terbit : 2017
Jumlah Hal. : 313 halaman
ISBN : 978-0-8047-9902-7
Seri : Stanford Studies in Middle Eastern and Islamic Societies and Cultures

Pengantar

Ada saat ketika kata revolusi menggetarkan dunia. Revolusi menyalakan keyakinan, menyalakan mimpi, menyalakan keberanian untuk membayangkan tatanan baru. Tapi kini, kata itu terdengar seperti gema di ruang kosong. Indah, tapi tanpa isi. Kita hidup di masa ketika “revolusi” bisa dimulai dari sebuah tweet, tapi juga bisa berakhir dalam trending topic.

Buku ini lahir dari kegelisahan seorang sosiolog yang pernah menjadi saksi dua zaman revolusi. Mungkin sebab itu Asef Bayat, sosiolog asal Iran yang pernah menjadi saksi dua zaman yang bergejolak, yaitu Revolusi Iran 1979 dan Arab Spring 2011,  menulis buku ini dengan nada getir.

Revolution without Revolutionaries merupakan studi politik,  plus elegi bagi sebuah era. Era ketika manusia tak lagi percaya pada revolusi yang sejati. Bayat tidak sedang menulis tentang Timur Tengah semata. Bayat menulis tentang zaman kita. Zaman yang penuh amarah tapi kehilangan arah, zaman yang cerewet di media sosial tapi hampir nihil di medan gagasan. Bayat menulis bukan untuk mengabarkan, tetapi untuk memahami, making sense, bukan making history.

Gagasan  Bayat

Bayat membuka bukunya dengan paradoks yang indah sekaligus mengerikan,  “People may or may not have ideas about revolution for it to happen. But having or not having ideas about revolution does have critical consequences for the outcome.” Bayat berbicara tentang Arab Spring, peristiwa yang mengguncang dunia dari Tunisia hingga Mesir. Sebuah kebangkitan rakyat tanpa ide revolusioner.

Revolusi itu, kata Bayat, terjadi di waktu yang salah, “revolutions of wrong times.” Revolusi datang di masa ketika ideologi sudah dianggap kotor, utopia sudah usang, dan solidaritas digantikan oleh individualisme neoliberal. Orang turun ke jalan bukan karena punya visi dunia baru, tetapi karena muak pada dunia lama.

Mereka menggulingkan penguasa, tapi tidak mengganti sistem. Mereka menyalakan api, tapi tak tahu ke mana nyalanya diarahkan. Dari situlah lahir istilah kuncinya,  “Revolution without revolutionaries.”

Sebuah revolusi tanpa pemimpin, tanpa arah, tanpa konsepsi sosial, hanya energi spontan yang kemudian direbut kembali oleh kekuasaan lama. Mesir menjelma lagi menjadi militeristik; Tunisia tersandung dalam transisi demokrasi yang lesu; Yaman jatuh ke perang saudara; Suriah ke kehancuran total. Revolusi tanpa revolusioner akhirnya melahirkan restorasi tanpa kemajuan apapun. Bahkan kemunduruan.

Refleksi Historis: Antara Iran dan Tahrir

Bayat membandingkan Arab Spring dengan Revolusi Iran 1979 yang ia alami sebagai aktivis muda. Iran, dengan segala tragedi yang menyusulnya, setidaknya memiliki imajinasi kolektif. Ada ide tentang “masyarakat adil”, tentang “Islam revolusioner”, tentang keadilan sosial. Ada Ali Shariati, ada Sayyid Qutb, ada Marx dan Fanon yang berdialog dengan teologi. Sementara di Kairo dan Tunis, kata Bayat, tak ada ide yang sepadan.

Para pemuda Arab abad ke-21 lebih mengenal Facebook daripada Manifesto Komunis. Mereka belajar mengorganisir massa dari media sosial, bukan dari diskusi-diskusi bawah tanah. Kemarahan mereka nyata, tapi bersifat moral, bukan politis. Mereka menuntut keadilan tanpa membayangkan ekonomi baru.

Mereka bicara tentang freedom dan rights, tapi bukan tentang redistribution atau ownership. Bayat menulis dengan nada getir, “The Arab revolutions lacked ideology, leadership, and vision. They were rich in tactics but poor in strategy.”

Itu sebabnya ia menyebut Arab Spring sebagai “refolution, ” gabungan antara reform dan revolution. Gerakan yang tampak radikal dalam mobilisasi, tapi reformis dalam hasil. Revolusi yang mengguncang, tapi tidak mengubah struktur kekuasaan; sebuah parade demokrasi tanpa demokratisasi sejati.

Neoliberalisme: Dewa Baru dalam Dunia Tanpa Tuhan

Di bab-bab tengah, Bayat membawa kita menatap wajah zaman. Revolusi gagal, katanya, karena musuh yang dihadapi bukan lagi diktator, tetapi sistem nilai yang jauh lebih halus dan kuat, neoliberalisme.

Neoliberalisme, bagi Bayat, bukan sekadar kebijakan ekonomi, namun juga “rasionalitas hidup” yang menembus pikiran, perilaku, bahkan cara kita mencintai. Ia menggantikan solidaritas dengan kompetisi, mengganti komunitas dengan individu, mengganti mimpi bersama dengan ambisi pribadi.

Manusia neoliberal, tulis Bayat, tak lagi berpikir dalam bahasa “kita”, melainkan “saya”. Maka ketika revolusi datang, yang muncul bukan kelas revolusioner,  namun justru “individu revolusioner,” yang lebih ingin viral daripada mengubah sejarah. Media sosial, yang semula tampak sebagai alat pembebasan, akhirnya menjadi penjara dalam bentuk baru, kebebasan tanpa arah.

Bayat tidak menolak teknologi, tapi ia menelanjangi romantisme “aktivisme digital” yang seringkali menggantikan kerja ideologis dengan performa moral. Di dunia seperti ini, katanya, revolusi menjadi ekspresi, bukan transformasi.

Kota dan Revolusi Sehari-hari

Salah satu sumbangan terpenting Bayat bagi teori sosial adalah konsep “revolusi dalam keseharian” (revolution in the everyday). Bayat menolak pandangan klasik bahwa politik hanya terjadi di parlemen, partai, atau jalan raya.

Bagi Bayat, politik justru lahir dari ruang-ruang kecil, dari trotoar tempat pedagang kaki lima menolak digusur, dari perempuan miskin yang menegosiasikan ruang di kota, dari komunitas yang menciptakan tatanan alternatif tanpa harus menunggu negara.

Inilah yang oleh Bayat disebut “non-movements,” gerakan sosial tanpa organisasi, tapi berdaya ubah tinggi karena tumbuh dari kehidupan sehari-hari. Bayat menemukan makna politik di tempat yang paling sunyi: di antara orang-orang yang “tidak pernah dianggap politis”.

Di sini, buku ini menemukan sisi paling humanisnya. Bahwa mungkin revolusi masa kini tidak akan datang dari benteng partai atau markas mahasiswa, tapi dari dapur, pasar, dan gang-gang kota. Revolusi yang lambat, tersembunyi, tapi lebih tulus dari orasi megafon.

Krisis Imajinasi dan Kematian Utopia

Bagi Bayat, kebuntuan terbesar dunia hari ini bukan pada politik, tapi pada imajinasi. Kita hidup dalam zaman yang terlalu realistis. Terlalu percaya pada “apa yang ada” untuk berani membayangkan “apa yang mungkin.” Bayat menulis,: “The idea of revolution disappeared not because the world became just, but because imagination became timid.”

Inilah inti pesannya. Revolusi telah kehilangan daya bayang. Dan di situlah kematian sejati politik terjadi. Bukan ketika kekuasaan menindas, tapi ketika manusia berhenti bermimpi. Bayat mengakhiri bukunya dengan sebuah epigraf dari Raymond Williams: “To be truly radical is to make hope possible rather than despair convincing.”

Harapan, bagi Bayat, bukan lagi keyakinan metafisik, melainkan tugas intelektual. Menjadi radikal di abad ini bukan memegang senjata, tapi berani mempertahankan imajinasi ketika dunia memujanya sebagai ilusi.

Relevansi: Dari Tahrir ke Jakarta

Jika dibaca dengan kacamata Indonesia hari ini, Bayat terdengar seperti cermin.
Kita pun hidup dalam demokrasi yang penuh perayaan simbolik, tapi miskin gagasan; penuh aktivisme moral, tapi dangkal dalam strategi.

Gerakan sosial kita sering berakhir di slogan dan unggahan, bukan di pengorganisasian atau perubahan struktur kekuasaan. Seperti Arab Spring, kita marah, tapi tidak tahu kepada siapa kemarahan itu diarahkan.

Kita ingin perubahan, tapi takut berdebat tentang ideologi. Kita ingin keadilan, tapi tak berani menggugat sistem yang menindasnya. Mungkin inilah yang dimaksud Bayat. Revolusi tanpa sang revolusioner telah menjadi penyakit global.

Menghidupkan Kembali Harapan

Asef Bayat tidak sedang mengajarkan pesimisme. Ia hanya mengingatkan bahwa harapan butuh bentuk. Bahwa imajinasi sosial adalah satu-satunya senjata yang tersisa di dunia yang dikuasai pasar. Bahwa mungkin revolusi tidak akan lagi datang dari seruan besar, melainkan dari keberanian untuk membangun solidaritas kecil, di ruang-ruang yang tak terlihat.

Asef Bayat sadar bahwa revolusi tidak mati, hanya tertidur di bawah reruntuhan ideologi. Buku ini mengingatkan kita untuk membangunkannya, bukan dengan amarah, tapi dengan imajinasi.

Jika saja Bayat menulis esai di website aswajanusantara.com, mungkin akan menutup esainya begini:

“Di antara reruntuhan sejarah, manusia tetap bisa menanam harapan. Tapi harapan pun memerlukan disiplin dan teguh berpegang prinsip, agar tak berubah jadi nostalgia.”

Related Articles

Artikel baru