Kedaulatan Pangan Tanpa Petani: Sebuah Ilusi?

Identitas Buku

  • Judul : Regenerasi Petani Padi Perdesaan
  • Penulis : Dr. Susi Wuri Ani, S.P., M.P.; Prof. Dr. Ir. Dwidjono Hadi Darwanto, S.U.; Dr. Ir. Lestari Rahayu Waluyati, M.P.; Prof. Dr. Ir. Masyhuri
  • Penerbit : CV Bravo Press Indonesia
  • ISBN : 978-634-7477-76-7
  • Tahun Terbit : Desember 2025 (Cetakan pertama)
  • Jumlah Halaman : 122 halaman

Buku dibuka dengan sebuah tesis utama bahwa pertanian dan pangan adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Pangan yang kita konsumsi dihasilkan lewat proses biologis (fotosintesis), sehingga keberlanjutan pangan nasional diwariskan dari kesehatan ekosistem pertanian itu sendiri. Dari sini para penulis menarik garis ke peran ganda pertanian, yakni sebagai pemasok bahan pangan sekaligus penyerap tenaga kerja, pendorong pertumbuhan, penghasil devisa, dan pengungkit sektor lain.

Itulah mengapa sektor pertanian diletakkan dalam kerangka SDGs (mengurangi kemiskinan, kelaparan, menjaga lingkungan, dan keadilan tata Kelola), dan sebagai konsekuensinya  menuntut sinkronisasi kebijakan dari pusat hingga kabupaten/kota agar target-target keberlanjutan tercapai. Di titik ini, problem nyata dijelaskan dengan jelas yaitu jumlah petani menurun, petani menua, dan minat generasi muda rendah, dan di sisi lain terjadi kenaikan konsumsi beras.

Pemerintah merespons lewat program seperti YESS untuk memantik wirausaha dan profesionalisasi pemuda tani. Tim penulis memperlihatkan bahwa problem tersebut saat ini telah menjadi isu global. Eropa membutuhkan petani muda untuk vitalitas pedesaan. Afrika mencari skema brain gain agar tenaga ahli kembali. Indonesia, terutama di Jawa, didominasi petani usia lanjut.

Dalam konteks Indonesia, menghadapi problem di atas, tim penulis buku ini merekomendasikan inovasi teknologi, digitalisasi, dan model bisnis yang kreatif untuk membuat pertanian kembali menarik kaum muda.  Selain itu, bagaimana agar pertanian semakin ramah lingkungan melalui praktik rotasi, pemupukan organik, dan PHT agar ekosistem sawah tetap produktif lintas generasi.

Buku ini ditutup dengan kesimpulan bahwa regenerasi petani adalah syarat utama bagi keberlanjutan pangan nasional. Peningkatan kesejahteraan, dukungan teknologi, dan sistem kelembagaan yang kuat akan menciptakan iklim pertanian yang menarik bagi generasi muda.

Untuk memulai usaha tani padi, para petani muda akan dihadapkan faktor-faktor produksi seperti upah tenaga kerja, benih, pupuk, pestisida, pajak, dan luas lahan. Tim penulis menjelaskan bahwa produktivitas padi sangat dipengaruhi oleh efisiensi penggunaan sumber daya dan pengelolaan biaya produksi.

Dalam kenyataannnya, saat ini petani mengalami ketergantungan pada pupuk kimia, fluktuasi harga input, dan distribusi subsidi yang belum merata. Di sisi lain, muncul praktik alternatif seperti penggunaan pupuk organik cair (POC) dan bio-saka, sebagai bentuk adaptasi petani terhadap keterbatasan subsidi. Semu aitu dieksplorasi di bab kedua.

Bab kedua ini  juga menyoroti peran mekanisasi pertanian (traktor, transplanter, combine harvester) yang meningkatkan efisiensi waktu tanam, sekaligus mengubah struktur biaya tenaga kerja. Nilai-nilai sosial seperti gotong royong dan sistem sambatan dipaparkan sebagai bentuk solidaritas ekonomi khas pedesaan yang menekan biaya dan memperkuat jaringan sosial antarpetani.

Di bab ketiga, yang merupakan inti dari buku, ditesiskan regenerasi petani dipandang sebagai proses sosial, ekonomi, dan kultural yang menentukan keberlanjutan pertanian. Kendala yang disodorkan tim penulis adalah rendahnya minat generasi muda terhadap pertanian akibat citra negatif dan rendahnya pendapatan.

Selain menjabarkan berbagai program regenerasi, bab ini menekankan pentingnya peran keluarga dalam mewariskan nilai-nilai pertanian dan menumbuhkan minat sejak dini. Konsep brain gain juga dijelaskan secara menarik sebagai strategi inovatif. Generasi muda yang menempuh pendidikan tinggi atau bekerja di kota didorong untuk kembali membangun pertanian di daerah asalnya dengan membawa ilmu, modal, dan jaringan baru. Dengan demikian, regenerasi juga menyentuh aspek peningkatan kualitas sumber daya manusia pertanian.

Ekosistem yang membentuk perilaku petani dibahas di bab ketiga. Keluarga, masyarakat, komunitas local, gotong royong menjadi bagian dari sistem sosial yang menopang keberlanjutan usaha tani. Ekosistem ini juga dibentuk oleh factor eksternal yang meliputi dukungan pasar input-output, kebijakan subsidi pupuk dan benih, peran lembaga keuangan, serta pajak lahan.  Petani membutuhkan akses modal dan jaminan harga yang adil agar tetap termotivasi untuk menanam. Tanpa dukungan ekonomi dan kelembagaan yang kuat, regenerasi sulit terjadi karena petani muda tidak melihat pertanian sebagai pilihan hidup yang menjanjikan.

Bab keempat memaparkan profil sosio-ekonomi petani yang menjadi dasar pemahaman terhadap perilaku usaha tani. Faktor-faktor seperti usia, tingkat pendidikan, pengalaman, dan jaringan sosial sangat menentukan produktivitas.
Tim penulis menegaskan bahwa manajemen usaha tani modern harus berbasis perencanaan, efisiensi, serta pencatatan biaya dan pendapatan yang transparan. Regenerasi petani diharapkan melahirkan generasi baru petani yang kompeten secara teknis pertanian dan profesional secara bisnis.

Bagian terakhir menyajikan hasil studi lapangan di Jawa Tengah. Data menunjukkan bahwa kinerja petani dan keberhasilan regenerasi sangat bergantung pada akses terhadap modal, pendidikan, teknologi, dan kebijakan pemerintah. Petani muda yang memperoleh dukungan permodalan, pelatihan, dan akses pasar menunjukkan produktivitas lebih tinggi dibanding yang tidak. Namun demikian, regenerasi masih menghadapi kendala seperti keterbatasan lahan dan rendahnya kepastian harga.

Keunggulan Buku

Buku ini memiliki keunggulan karena mampu menggabungkan pendekatan akademis dan pengalaman empiris praktis. Tim penulis menawarkan teori, disertai contoh nyata dari lapangan, sejarah kebijakan, dan praktik terbaik dari berbagai negara.
Gaya bahasa yang mudah dipahami namun tetap ilmiah menjadikannya relevan untuk mahasiswa, peneliti, maupun pembuat kebijakan. Buku ini juga memiliki nilai komparatif internasional, menghubungkan pengalaman Indonesia dengan konteks global, sekaligus menegaskan pentingnya identitas lokal dalam pertanian.

Kelemahan Buku

Namun, buku ini juga keterbatasan paling tidak dalam 3 hal: 1) metodologi penelitian yang belum dijabarkan secara detail, terutama dalam studi kasus empiris, 2) cakupan komoditas masih terbatas pada padi, padahal isu regenerasi juga penting di sektor lain, 3) analisis kebijakan masih bersifat deskriptif, belum mengevaluasi efektivitas implementasi program secara mendalam.

Meskipun demikian, kelemahan ini tidak mengurangi nilai akademis buku sebagai rujukan penting di bidang regenerasi petani.

Kontribusi Buku ini terhadap Kedaulatan Pangan

Buku ini memiliki kontribusi strategis dalam upaya menegakkan kedaulatan pangan nasional, karena:

  1. Memberikan dasar konseptual bagi kebijakan pertanian berkelanjutan.
    Penulis menyusun kerangka yang menghubungkan regenerasi petani dengan pembangunan ekonomi pedesaan, pendidikan, dan kebijakan publik. Mendorong modernisasi dan profesionalisasi pertanian. Buku ini mengubah pandangan bahwa bertani bukan sekadar aktivitas tradisional, tetapi bidang karier modern berbasis teknologi dan inovasi.
  2. Menumbuhkan kembali nilai sosial agraris. Dengan menekankan pentingnya gotong royong, solidaritas desa, dan transmisi nilai keluarga, buku ini mengembalikan pertanian ke akar budaya bangsa.
  3. Menggugah kesadaran generasi muda. Buku ini menjadi inspirasi agar anak muda melihat pertanian bukan sebagai “pekerjaan kelas bawah”, tetapi sebagai profesi strategis bagi kedaulatan bangsa.

Regenerasi Petani Padi Perdesaan merupakan karya yang menghadirkan pandangan komprehensif tentang bagaimana Indonesia dapat menjaga keberlanjutan pangan melalui peremajaan sektor pertanian. Buku ini menegaskan bahwa kedaulatan pangan tidak mungkin terwujud tanpa regenerasi petani.

Dengan memadukan analisis sosial, ekonomi, dan kebijakan, tim penulis berhasil menunjukkan bahwa masa depan pangan Indonesia bergantung pada sejauh mana kita mampu mencetak generasi petani muda yang produktif, inovatif, dan berdaya saing.

Related Articles

Artikel baru