Pada tahun 1993, riset antropolog UGM, Heddy Shri Ahimsa-Putra, dkk, diterbitkan menjadi buku berjudul Perubahan Pola Kehidupan Masyarakat Akibat Pertumbuhan Industri di Daerah Istimewa Yogyakarta, oleh Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
Buku ini merupakan hasil dari laporan penelitian proyek penelitian, pengkajian, dan pembinaan nilai-nilai budaya Yogyakarta yang berfokus pada masa peralihan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri pada awal tahun 1990. Pada masa peralihan ini masyarakat agraris yang pada awalnya bersifat homogen dan sebagian besar masyarakat petani dan peternak kini secara berangsur-angsur menjadi masyarakat yang lebih beraneka ragam pola pembagian kerja yang lebih beragam ketika pembanguna industri sudah masuk ke dalam pedesaan.
Pengaruh teknologi tersebut tidak lepas dari proses pertumbuhan industri yang mendatangkan banyak tenaga kerja dari daerah lain yang memiliki keterampilan dan keahlian yang berbeda-beda. Selain itu, teknologi masyarakat agraris yang cenderung lebih sederhana dan lebih teruji dan waktu ke waktu kini tergantikan oleh teknologi industri yang baru dan lebih kompleks. Pertumbuhan budaya industri di pedesaan merupakan upaya pemerintah dalam bingkai pembangunan untuk menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran baik secara material maupun spiritual.
Buku ini merupakan hasil penelitian etnografis mengenai pengaruh yang ditimbulkan dari pertemuan dua bentuk kebudayaan tersebut, yakni sistem teknologi yang lebih kompleks dan pembagian tenaga kerja yang lebih beragam. Tujuan diterbitkannya buku ini adalah untuk menyediakan informasi dan analisis yang relevan dalam upaya untuk membina dan mengembangkan masyarakat industri sehingga proses peralihan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri dapat berjalan dengan lancar. Buku ini memiliki empat ruang lingkup penelitian di antaranya bidang lapangan kerja, bidang pendidikan, bidang kehidupan keluarga, dan bidang peranan wanita yang ditulis dalam lima bab, bersama dengan bab pendahuluan dan satu bab kesimpulan.

Bab pertama berbicara mengenai latar belakang penelitian serta rumusan masalah seperti yang sudah dijabarkan di atas. Bab kedua mendeskripsikan tentang gambaran umum daerah penelitian yang terletak di kelurahan Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Pada bab ini penulis mendeskripsikan sarana dan prasarana desa, gambaran geografis kependudukan, luas wilayah dan pemanfaatan lahan, serta latar balakng sosial-budaya.
Bab ketiga mendiskusikan tentang pertumbuhan industri di kelurahan Kalasan. Disini penulis menjelaskan sejarah berdirinya pabrik genting PT. Sukamaju di kelurahan Purwomartani. Penulis mendiskusikan bagaimana reaksi warga sekitar ketika pabrik tersebut dibangun dan beroperasi selama satu tahun ketika penulis melakukan penelitian. Menariknya penulis dapat menceritakan konflik kecil yang terjadi antara pabrik dengan masyarakat karena pencemaran lingkungan serta permasalahan sosial-budaya yang ditimbulkannya. Selain itu terdapat konflik-konflik internal antara buruh pabrik dengan mandornya yang kemudian ikut mewarnai bagaimana relasi antara perusahaan dengan warga sekitar yang sebagian menjadi buruh pabrik. Dalam bab ini juga dijelaskan bagaimana perseteruan-perseteruan tersebut diatasi oleh perusahaan serta bagaimana solusi-solusi yang dilakukan mempengaruhi sistem kepegawaian pabrik yang lebih mengutamakan perekrutan karyawan berdasarkan relasi dekat dengan mandor dibandingkan riwayat pendidikan atau prestasi.
Bab keempat mendiskusikan tentang pandangan warga kelurahan Purwomartani terhadap pabrik genting PT. Sukamaju. Disini penulis memaparkan dua pandangan dari kelompok sosial yang berbeda yakni dari warga yang tinggal di dekat pabrik dan karyawan yang didatangkan dari luar kelurahan. Dalam hasil survey terkait dengan manfaat pabrik terhadap perkembangan pendidikan, kesehatan, mata pencaharian, dan kemajuan desa. Dari hasil survey tersebut penulis mengambil kesimpulan bahwa pabrik lebih merugikan bagi warga desa Purwomartani di bidang lingkungan dan sosial bagi masyarakat biasa, akan tetapi bagi pak Lurah lebih bermanfaat karena meningkatkan perekonomian warga dan membangun berbagai fasilitas desa. Selain itu terdapat berbagai drama sosial yang dikisahkan oleh penulis mengenai relasi antara warga desa dengan pegawai dari luar kelurahan terkait dengan norma-norma sosial, dan kegiatan-kegiatan sosial seperti selametan dan lain-lain yang dipertaruhkan ketika pabrik didirikan.
Bab kelima berisi penutup dan kesimpulan beserta saran-saran agar pembangunan industri di desa Purwomartani tetap memiliki dampak ekonomi yang baik namun memperhatikan nilai dan norma masyarakat setempat agar tidak terjadi konflik sosial yang menggelisahkan kedua belah pihak.
Buku ini merupakan hasil penelitian empiris yang mendalam terkait dengan studi masyarakat agraris yang mulai mengalami transisi menuju masyarakat industri. Meskipun hanya dilakukan dalam waktu satu bulan tetapi penelitian ini dapat memberikan informasi yang komprehensif terkait perkembangan masyarakat tersebut dari waktu ke waktu. Mungkin akan sangat menarik jika perkembangan tersebut kita lihat di masa sekarang -yang mana digitalisasi sudah berkembang di desa-desa sekarang- sehingga kita dapat melihat perkembangan industri tersebut selama 30 tahun terakhir semenjak buku ini diterbitkan.
Bagaimana perbandingan dengan situasi saat ini? Pada tahun 2025, masyarakat Yogyakarta menunjukkan karakter perubahan sosial yang berbeda dibandingkan masa awal pertumbuhan industri pada awal 1990-an. Industrialisasi tidak lagi ditandai oleh berdirinya pabrik-pabrik di wilayah pedesaan, namun oleh berkembangnya sektor jasa, pariwisata, pendidikan, ekonomi kreatif, serta pemanfaatan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari. Industri hadir secara lebih menyebar dan tidak selalu berwujud fisik, namun berpengaruh langsung terhadap pola hidup masyarakat.
Perubahan paling nyata terlihat pada pola mata pencaharian. Masyarakat tidak lagi bergantung pada satu jenis pekerjaan utama. Banyak warga menjalani pekerjaan ganda atau berpindah-pindah sektor, seperti bekerja di pariwisata, menjalankan usaha kecil berbasis daring, menjadi pekerja lepas, atau bergabung dalam layanan transportasi dan jasa berbasis aplikasi. Pola kerja ini memberikan fleksibilitas waktu, namun di sisi lain menciptakan ketidakpastian pendapatan dan minimnya jaminan kerja jangka panjang. Hubungan kerja menjadi lebih individual dan tidak lagi terikat kuat pada institusi atau komunitas lokal.
Perubahan ekonomi tersebut berpengaruh terhadap relasi sosial masyarakat. Aktivitas kolektif seperti gotong royong, pertemuan rutin warga, dan kegiatan sosial tradisional mulai berkurang intensitasnya. Perbedaan jam kerja, tuntutan pekerjaan, serta ketergantungan pada teknologi komunikasi menyebabkan interaksi sosial lebih banyak dilakukan melalui media digital daripada pertemuan langsung. Konflik sosial tidak banyak muncul dalam bentuk pertentangan terbuka, tetapi lebih terlihat sebagai persaingan ekonomi, kecemburuan sosial, dan melemahnya solidaritas antarwarga.
Dalam bidang pendidikan, Yogyakarta tetap mempertahankan identitasnya sebagai kota pelajar dengan banyak institusi pendidikan. Akses masyarakat terhadap pendidikan menengah dan tinggi relatif luas. Namun, pendidikan tidak selalu menjamin peningkatan kesejahteraan. Banyak lulusan perguruan tinggi bekerja di sektor informal atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Pendidikan lebih dipahami sebagai syarat dasar untuk memasuki dunia kerja, bukan lagi sebagai jaminan mobilitas sosial yang signifikan.
Perubahan juga terlihat pada peran perempuan dalam masyarakat industri. Perempuan semakin aktif terlibat dalam kegiatan ekonomi, khususnya di sektor UMKM, pariwisata, kuliner, dan ekonomi kreatif. Keterlibatan ini meningkatkan kontribusi ekonomi keluarga, namun tidak sepenuhnya mengurangi peran domestik perempuan. Akibatnya, banyak perempuan mengalami beban kerja ganda antara aktivitas ekonomi dan tanggung jawab rumah tangga.
Teknologi digital menjadi faktor penting dalam membentuk pola perubahan sosial tahun 2025. Penggunaan smart-phone, media sosial, dan platform daring telah mengubah cara masyarakat bekerja, berkomunikasi, dan mengelola usaha. Banyak kegiatan ekonomi dilakukan secara online, mulai dari promosi produk, transaksi, hingga layanan jasa. Teknologi mempermudah akses pasar dan informasi, tetapi sekaligus mengurangi intensitas interaksi sosial secara langsung dan meningkatkan ketergantungan pada sistem digital.
Secara umum, perubahan sosial masyarakat Yogyakarta pada tahun 2025 menunjukkan bahwa masyarakat telah memasuki tahap masyarakat industri lanjut. Industrialisasi membawa peluang ekonomi dan kemudahan akses teknologi, namun juga menghadirkan tantangan baru berupa ketidakpastian kerja, melemahnya ikatan sosial, dan meningkatnya individualisasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa industrialisasi tidak hanya mengubah struktur ekonomi masyarakat, tetapi juga memengaruhi pola relasi sosial dan cara hidup masyarakat secara menyeluruh. Tantangan yang lebih subtansial adalah, transformasi ekonomi ini ternyata meninggalkan data yang ironis, yakni Yogyakarta masih menjadi deretan propinsi yang termiskin nasional. Apa yang salah?
(Narasi Perubahan Sosial 2025 Diolah dari Berbagai Media)

