Pengantar Redaksi: Redaksi menerima undangan dari Ketua DGB UGM, Prof. Dr Baiquni untuk menghadiri dan meliput Seminar Pemikiran Bulaksumur #50. Redaksi mengirim dua santri yang kuliah di UGM dan melaporkan hasilnya dalam berita berikut ini.
YOGYAKARTA, Balai Senat Universitas Gadjah Mada kembali menjadi ruang pertemuan ilmu, ingatan sejarah, dan kegelisahan zaman. Pada Rabu, 24 Juni 2026, Dewan Guru Besar (DGB) UGM menggelar Seminar Pemikiran Bulaksumur #50 dengan tema meneladani visi Prof. Dr. Ir. Herman Johannes dalam penanganan krisis iklim, mitigasi bencana, dan inovasi teknologi ramah lingkungan. Forum ini mempertemukan guru besar, ilmuwan, sivitas akademika, dan publik kampus untuk menautkan warisan Rektor Kedua UGM itu dengan situasi planet yang makin panas, kota yang makin rentan, serta bangsa yang masih bergantung pada teknologi asing.
Acara dibuka oleh Ketua DGB UGM Prof. Muhammad Baiquni. Prof. Christiana Rini memandu diskusi sebagai moderator. Para pembicara berasal dari rumpun ilmu yang berbeda. Prof. Kuwat Triyana, Dekan FMIPA UGM, mengurai keteladanan Herman Johannes dari sudut sains dan pengelolaan sampah. Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, mantan Rektor UGM dan Kepala BMKG 2017-2025, membawa materi peta krisis iklim dan risiko bencana. Prof. Selo, Dekan Fakultas Teknik UGM, menautkan jejak teknologi Herman Johannes dengan inovasi masa depan. Gita Wirjawan hadir sebagai pembicara kunci menggeser diskusi ke medan geopolitik, energi, pendidikan, dan daya saing bangsa.

Mengapa forum ini digelar. Pertanyaan itu terasa menggantung sejak awal. Krisis iklim tidak lagi berada di kejauhan. Data Organisasi Meteorologi Dunia mencatat 2024 sebagai tahun terpanas dalam sejarah pengamatan modern, dengan suhu rata rata global sekitar 1,55 derajat Celsius di atas masa praindustri. Di lapangan, tanda pemanasan muncul lewat hujan yang tak menentu, gelombang panas, banjir, kekeringan, gangguan pangan, dan risiko kesehatan. Dalam konteks itu, Pemikiran Bulaksumur #50 bergerak sebagai ikhtiar akademik untuk menjawab satu soal besar. Bagaimana ilmu kampus turun dari mimbar, masuk ke bengkel, sawah, sungai, desa, kota, dan ruang hidup masyarakat .
Herman Johannes dipilih bukan sebagai nama yang dipajang di gedung kampus UGM. Dalam sejarah UGM, Herman Johannes dikenal sebagai ilmuwan, pendidik, pahlawan nasional, dan tokoh teknik yang menaruh ilmu di tengah kebutuhan rakyat. Fakultas Teknik UGM mencatat sosok ini sebagai tokoh yang pernah memimpin Fakultas Teknik, FMIPA, dan menjadi Rektor Kedua UGM. Warisannya bukan terutama benda, gedung, atau peralatan. Warisan itu berupa cara berpikir. Teknologi terbaik bukan yang paling mahal atau paling berkilau. Teknologi bernilai lahir ketika mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat dengan bahan lokal, biaya terjangkau, dan manfaat yang luas.
Di titik inilah narasi Prof. Kuwat Triyana menemukan pijakan. Persoalan sampah, menurut paparan yang diolah dari forum, tidak selesai karena selama ini terlalu sering diperlakukan sebagai urusan teknis. Seakan cukup dengan tempat pembuangan, armada angkut, atau mesin pengolah. Padahal sampah juga perkara perilaku, relasi sosial, tata kelola kota, dan moral kolektif. Di kampus, sains tidak cukup berdiri sebagai pengetahuan laboratorium. Sains bergerak turun menjadi cara menyusun persoalan, merancang proyek, menguji solusi, lalu mengukur dampaknya di tengah masyarakat .
Prof. Kuwat mendorong perubahan pola pembelajaran menuju project based learning. Mahasiswa tidak hanya menerima teori, lalu pulang dengan catatan kuliah. Mereka diajak menyentuh masalah nyata, menyusun hipotesis, bekerja lintas disiplin, dan melahirkan solusi yang dapat diuji. Dari gagasan itu, UGM memperkenalkan biosiklus.id, gerakan pengelolaan sampah skala kawasan yang disebut telah menjangkau wilayah Demak. Sampah organik tidak lagi berakhir sebagai tumpukan bau di sudut permukiman. Dalam pendekatan siklus, limbah dapat masuk kembali ke ekosistem ekonomi masyarakat , menjadi pupuk, energi, atau bahan baru.
Pandangan itu memperlihatkan satu ciri penting jurnalisme ilmu. Masalah besar sering tinggal di tempat kecil. Krisis iklim tampak global, namun gejalanya mampir di dapur rumah, di selokan kampung, di bak sampah pasar, di kebun yang gagal panen. Di tempat semacam itu, ilmu diuji. Apakah pengetahuan dapat mengubah kebiasaan. Apakah kampus dapat menjadi sahabat masyarakat . Apakah inovasi dapat bergerak dari abstraksi menjadi kerja harian.
Dari sisi mitigasi bencana, Prof. Dwikorita Karnawati membawa bahasa yang tajam. Dunia bukan lagi berada dalam fase global warming. Dunia masuk ke fase global boiling. Ungkapan itu menggambarkan planet yang tidak hanya memanas, namun mengalami lonjakan risiko. Perubahan iklim memperbesar peluang cuaca ekstrem, memperumit musim, menggeser pola angin, dan menekan daya dukung air. Dalam paparan yang disarikan dari dokumen, badai siklon tropis bahkan mulai menampakkan perilaku yang tidak lazim, termasuk peluang menembus garis ekuator. Gejala itu memberi pesan bahwa sistem alam sedang bergerak keluar dari pola yang lama dikenal manusia.
Ancaman lain datang dari air. Ketika suhu naik, siklus hidrologi ikut berubah. Sebagian tempat menghadapi hujan ekstrem, sebagian lain kekeringan panjang. Krisis air dapat meluas menjadi krisis pangan. Di titik itu, mitigasi bencana bukan hanya sirene, peta evakuasi, atau posko darurat. Mitigasi bermula dari cara manusia memandang alam, membatasi emisi, menjaga ruang resapan, memperkuat peringatan dini, dan menata kota agar tidak menjebak masyarakat nya dalam bahaya.
UGM punya pengalaman panjang di medan kebencanaan. Namun forum ini memberi tekanan baru. Bencana iklim menuntut imajinasi lintas ilmu. Ahli meteorologi, ahli geologi, insinyur, dokter, ekonom, sosiolog, arsitek kota, ahli pangan, dan komunitas lokal berada dalam satu bentang kerja. Tidak ada disiplin tunggal yang dapat menanggung seluruh beban. Ilmu bergerak sebagai jaringan, seperti akar hutan yang saling mengirim tanda saat tanah mulai retak.
Prof. Selo membawa ingatan pada Herman Johannes sebagai figur yang memadukan daya cipta, patriotisme, dan kecerdikan teknis. Pada masa perang, Herman Johannes dikenal mampu menggunakan barang bekas dan bahan lokal untuk merakit perangkat yang menunjang perjuangan. Narasi ini penting karena teknologi tidak lahir di ruang steril. Teknologi muncul dari tekanan sejarah, kebutuhan sosial, dan keberanian mengambil jalan alternatif.
Dalam paparan Fakultas Teknik UGM, nilai yang diambil dari Herman Johannes bergerak melalui tiga jalur. Pertama, pemanfaatan sumber daya lokal. Kedua, kemandirian bangsa. Ketiga, keberlanjutan. Dari sana, Fakultas Teknik mengembangkan berbagai inovasi, mulai dari penguat struktur tanah gamahumat, pemanfaatan pewarna alami, rumah bale bambu, drone jarak jauh, hingga kerja riset yang didorong agar lebih dekat dengan praktik masyarakat . Inovasi semacam itu menolak pandangan bahwa kemajuan hanya berasal dari impor peralatan mahal. Kemajuan juga dapat tumbuh dari bambu, tanah, limbah, air, tenaga muda, dan laboratorium yang mau membuka pintunya.
Kedaulatan teknologi menjadi tema yang mengalir kuat. Indonesia, sebagaimana ditafsirkan dalam forum, masih rentan karena bergantung pada komponen impor, terutama dalam teknologi cip, jaringan komunikasi, dan perangkat digital. Di masa depan, ketergantungan ini dapat menjelma sebagai ketergantungan politik dan ekonomi. Bangsa yang tidak menguasai teknologi dasar akan menjadi pasar luas, pengguna setia, dan penanggung risiko dari keputusan yang dibuat di tempat lain.
Di sisi lain, lonjakan teknologi baru membawa masalah baru. Mobil listrik, perangkat digital, dan baterai membuka harapan pengurangan emisi. Namun semua itu juga membawa bayangan limbah elektronik. Ekonomi sirkular menjadi gagasan penting. Produk dirancang bukan untuk cepat dibuang, tetapi untuk dipakai lebih lama, diperbaiki, dipilah, dan masuk kembali ke rantai produksi. Di sana, ilmu teknik bertemu dengan etika lingkungan dan kebijakan industri.
Gita Wirjawan mengajak forum menatap horizon yang lebih luas. Persaingan bangsa hari ini tidak hanya berada di ladang mineral, pelabuhan, atau kawasan industri. Persaingan berlangsung di ruang talenta, energi, data, pendidikan, dan kecerdasan buatan. Dunia bergerak menuju agentic AI, teknologi kecerdasan buatan yang dapat bekerja lebih otonom dan menelan energi sangat besar. Jika Indonesia ingin masuk ke arus modernitas, konsumsi listrik per kapita mesti naik jauh dari sekitar 1.300 kWh menuju 10.000 kWh. Tantangannya, pasokan itu tidak boleh dibangun dengan cara yang merusak masa depan.
Gita menempatkan energi surya sebagai salah satu jalan besar. Dalam bahan seminar disebut kebutuhan pembangunan energi surya sampai 30.000 megawatt per tahun dengan biaya sekitar 45 miliar dollar AS. Angka itu memperlihatkan luasnya pekerjaan rumah. Transisi energi bukan proyek kecil. Transisi ini menuntut kepastian hukum, pembiayaan, daya tarik investasi, infrastruktur, tata kelola, serta sumber daya manusia yang sanggup mengawal teknologi dari desain sampai operasi.
Di sini, pendidikan menjadi simpul utama. Gita menilai daya saing Indonesia tertahan oleh investasi pendidikan yang belum memadai, infrastruktur yang belum merata, serta belum kuatnya pertemuan antara talenta berbasis meritokrasi dengan struktur kekuasaan. Rumusnya terdengar lugas. Guru mesti disejahterakan. Lulusan bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika mesti diperbanyak. Kampus tidak boleh hanya menghasilkan ijazah. Kampus dituntut melahirkan manusia yang mampu mengolah ketidakpastian menjadi risiko terukur, lalu mengubah risiko menjadi keputusan publik.
Seminar ini akhirnya tidak hanya bicara tentang Herman Johannes. Forum ini juga bicara tentang Indonesia yang berdiri di simpang jalan. Di satu sisi, ada krisis iklim yang menyapa rumah masyarakat melalui panas, banjir, air yang makin sulit, dan pangan yang rentan. Di sisi lain, ada peluang teknologi, riset kampus, energi bersih, ekonomi sirkular, serta generasi muda yang dapat dididik untuk menjadi pemecah masalah. Karena bumi memanas, bencana makin kompleks, teknologi asing makin dominan, dan pendidikan tinggi diminta menghadirkan jawaban publik. Bagaimana jalan yang ditawarkan. Melalui pembelajaran berbasis proyek, riset terapan, inovasi lokal, ekonomi sirkular, transisi energi bersih, kepastian hukum, dan penguatan talenta STEM.
Gaya kepemimpinan akademik yang diwariskan Herman Johannes terasa relevan karena berpijak pada keberanian mengubah keterbatasan menjadi daya cipta. Di masa perang, keterbatasan bahan tidak mematikan akal. Di masa krisis iklim, keterbatasan anggaran, teknologi, dan tata kelola semestinya tidak menahan gerak. Dari Balai Senat UGM, pesan itu kembali terdengar. Ilmu yang baik tidak berhenti pada pidato. Ilmu berjalan menuju masyarakat , menyalakan bengkel kecil, menghidupkan laboratorium, membersihkan sampah, menafsirkan langit, menjaga air, merancang energi, dan memulihkan hubungan manusia dengan bumi yang terus menghangat.
Di balik paparan akademik, forum ini menyimpan ketegangan konkret. Kampus diminta memilih posisi. Menjadi ruang produksi pengetahuan yang berhenti di jurnal, atau menjadi simpul perubahan yang bergerak bersama masyarakat . Dalam bahasa lain, ilmu ditantang keluar dari kebiasaan lama yang memisahkan ruang kuliah dari persoalan publik. Sampah kota, krisis air, pangan, energi, bencana, dan limbah elektronik tidak menunggu seminar berikutnya. Semua bergerak dengan tempo yang lebih cepat daripada birokrasi.
Lapisan pertama dari krisis itu bersifat ekologis. Bumi tidak hanya menghangat. Bumi berubah perilaku. Musim tidak lagi mudah ditebak. Air datang dalam volume yang berlebihan, lalu pergi dalam waktu yang panjang. Lahan pertanian berada di bawah tekanan. Kota menyimpan panas. Kampung pesisir menanggung risiko abrasi dan cuaca ekstrem. Di tengah perubahan itu, mitigasi tidak bisa dipahami sebagai kerja darurat sesudah bencana. Mitigasi adalah cara hidup, cara membangun, cara mengonsumsi, dan cara merancang kebijakan.
Lapisan kedua menyangkut pendidikan. Project based learning yang diangkat Prof. Kuwat bukan jargon kurikulum. Model ini memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk merasakan denyut masalah. Dari titik itu, kampus dapat melahirkan ilmuwan yang cakap mengolah data, menyusun desain, berdialog dengan masyarakat , dan menanggung akibat sosial dari rekomendasi ilmiah. Pendidikan semacam ini lebih dekat dengan visi Herman Johannes. Ilmu tidak berhenti sebagai kecerdasan personal. Ilmu tumbuh menjadi kebermanfaatan publik.
Lapisan ketiga berada pada kedaulatan teknologi. Ketergantungan pada komponen asing membuat bangsa selalu berjalan dengan peta yang digambar orang lain. Dalam krisis iklim, ketergantungan itu makin berisiko. Energi bersih, cip, sensor, baterai, jaringan komunikasi, dan perangkat kecerdasan buatan akan menentukan siapa yang menjadi perancang masa depan dan siapa yang tinggal menjadi konsumen. Forum Bulaksumur memberi pesan bahwa kemandirian teknologi bukan sikap menutup diri. Kemandirian adalah kemampuan memilih, menguasai, mengembangkan, dan menempatkan teknologi untuk keselamatan manusia serta bumi.

Pemikiran Bulaksumur #50 menjadi pengingat bahwa kampus bukan menara gading yang memandang jauh realitas dari balik kaca. Kampus adalah optic pengamatan, laboratorium sosial, dan simpul keberanian publik. Di tengah bumi yang mendidih, warisan Herman Johannes bergerak sebagai ajakan untuk menciptakan pengetahuan dari yang dekat, berpikir melampaui hari ini, dan menempatkan teknologi sebagai jalan pengabdian.
Laporan lapangan dalam seminar yang diperkaya dengan data dari laman Fakultas Teknik UGM tentang kepemimpinan Herman Johannes dan krisis iklim, laman agenda UGM tentang Seminar Nasional Pemikiran Bulaksumur 50, World Meteorological Organization tentang suhu global 2024, dan Profil Herman Johannes dari Fakultas Teknik UGM dan berbagai Arsip UGM.

