Solo, Rabu, 24 Desember 2025 — Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah, Surakarta, kembali menggelar kegiatan ilmiah berskala internasional melalui Dauroh Ilmu Qira’at dengan menghadirkan ulama dan pakar Al-Qur’an terkemuka asal Mesir, Prof. Dr. Jamal Faruq Jibril Mahmud Ad-Daqqaq, Guru Besar Universitas Al-Azhar Kairo.
Kegiatan yang berlangsung ba’da Magrib hingga malam hari itu dihadiri para kiai, asatidz, serta santri dari Ponpes Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah maupun dari sejumlah pesantren di wilayah Solo Raya dan sekitarnya. Sejak awal hingga akhir, dauroh berlangsung dalam suasana khidmat, tertib, dan penuh antusiasme, mencerminkan besarnya minat para santri terhadap kajian qira’at Al-Qur’an berbasis sanad.
Ketua Pondok, Ustadz Hadziq Maftuh, dalam sambutan pembuka menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas kehadiran ulama Al-Azhar Mesir di tengah-tengah keluarga besar pesantren. Ia menegaskan bahwa dauroh ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi merupakan momentum strategis untuk menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an serta memperdalam pemahaman ilmiah tentang sanad dan metodologi qira’at di kalangan santri.
“Melalui dauroh ini, kami berharap para santri semakin mencintai Al-Qur’an, sekaligus memahami bahwa bacaan yang mereka pelajari memiliki mata rantai sanad yang bersambung hingga Rasulullah ﷺ,” ujar Ustadz Hadziq Maftuh.
Sambutan berikutnya disampaikan Ketua Yayasan, Ustadz Wassim Ahmad Fahruddin, yang menegaskan komitmen yayasan dalam mengembangkan Ponpes Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah sebagai pusat pembinaan generasi Qur’ani. Menurutnya, pesantren tidak hanya bertugas mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk karakter, akhlak, dan semangat perjuangan dakwah santri agar siap berkhidmah di tengah masyarakat.
“Pesantren harus menjadi tempat lahirnya generasi yang kuat dalam ilmu, lurus dalam akhlak, dan siap mengabdi untuk umat,” tegasnya.
Pengasuh Pondok Pesantren, KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, dalam sambutannya menegaskan bahwa penyelenggaraan Dauroh Ilmu Qira’at ini merupakan bagian dari ikhtiar kelembagaan pesantren untuk memperkuat tradisi transmisi ilmu Al-Qur’an berbasis sanad serta menjaga kesinambungan qira’at mutawatirah.
Ia menekankan bahwa kaderisasi ahli Al-Qur’an tidak cukup berhenti pada penguasaan aspek teknis bacaan semata, tetapi harus dibarengi pemahaman sanad, metodologi qira’at, serta adab dalam menuntut ilmu agar Al-Qur’an benar-benar membentuk kepribadian santri.
“Kami ingin para santri tidak hanya mahir membaca, tetapi juga memahami dari mana bacaan itu berasal dan bagaimana adab membawanya, sehingga mereka mampu menyambung mata rantai keilmuan hingga Rasulullah ﷺ,” tutur KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha.
Ia juga mengajak para santri untuk mengikuti dauroh dengan penuh kesungguhan dan kedisiplinan, serta menyampaikan terima kasih kepada Prof. Dr. Jamal Faruq atas kesediaannya berbagi ilmu di pesantren.
Dalam sesi utama, Prof. Dr. Jamal Faruq Jibril Mahmud Ad-Daqqaq menyampaikan materi komprehensif tentang Qira’at Sab’ah dan Qira’at ‘Asyarah sebagai cabang penting dalam disiplin ‘Ulūm al-Qur’ān. Ia menjelaskan bahwa qira’at memiliki legitimasi ilmiah yang kuat karena ditopang oleh sanad mutawatir dan konsensus para ulama sepanjang sejarah.
Dalam pemaparannya, Prof. Jamal Faruq menelusuri sejarah transmisi qira’at sejak masa para sahabat, tabi‘in, hingga proses kodifikasi ilmiah melalui karya-karya klasik seperti al-Taysir karya Imam al-Dani dan al-Nashr fi al-Qira’at al-‘Ashr karya Imam Ibn al-Jazari. Menurutnya, karya-karya tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga standar bacaan Al-Qur’an yang otentik hingga hari ini.
Ia juga menjelaskan bahwa perbedaan riwayat qira’at mencakup aspek makhraj dan sifat huruf, bentuk kata, susunan gramatikal, hingga perbedaan makna yang tetap berada dalam satu kesatuan pesan wahyu. Keragaman tersebut, lanjutnya, merupakan kekayaan bacaan Al-Qur’an yang bersifat saling melengkapi, bukan bertentangan.
“Perbedaan qira’at bukanlah kontradiksi, tetapi variasi ibadah yang semuanya bersumber dari Rasulullah ﷺ,” jelasnya di hadapan para santri.
Lebih jauh, Prof. Jamal Faruq menegaskan bahwa ilmu qira’at memiliki peran strategis dalam menjaga kemurnian teks Al-Qur’an. Karena itu, penguasaan qira’at harus mencakup aspek teknis bacaan, pemahaman sanad, serta adab dalam belajar dan membaca Al-Qur’an.
Ia juga mengingatkan bahwa tujuan akhir mempelajari qira’at bukan hanya kemampuan membaca dengan baik, tetapi menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan berakhlak.
Di sela-sela penyampaian materi, Prof. Jamal Faruq menyampaikan apresiasi atas perkembangan Ponpes Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah. Ia memuji semangat ilmiah yang tampak dari para santri dan para asatidz, serta mendoakan agar pesantren ini tumbuh menjadi pusat lahirnya para pakar Al-Qur’an dan syariat yang memberi manfaat luas bagi umat Islam, khususnya di Indonesia.
Di akhir pemaparannya, Prof. Jamal Faruq mengajak para santri untuk menjadikan pembelajaran qira’at sebagai sarana membentuk kepribadian Qur’ani, sehingga lahir generasi yang tidak hanya kuat secara keilmuan, tetapi juga matang dalam akhlak dan tanggung jawab sosial.
Ia juga mengaku terkesan dengan kedisiplinan dan kesungguhan para santri selama mengikuti dauroh. Menurutnya, hal tersebut merupakan tanda bahwa para santri memiliki potensi besar dan masa depan keilmuan yang cerah untuk menjadi ulama dan da’i yang berperan di tengah umat.

