Tiga Tuntutan Forum Pengawal Muktamar NU Yogyakarta, Memohon Ulama Sepuh Turun Gunung Memberikan Irsyad

Pengantar Redaksi

Senin, 20 Juli 2026, jam 12.30 sd 15.00 wib lebih, Redaksi diundang untuk menghadiri diskusi besar kalangan kyai, kyai muda, gus, ning, pengurus struktural, dan sekian aktivis muda yang berjumlah sekitar 50-an orang, tentang Muktamar dan Masa Depan NU. Forum diskusi yang digagas kalangan kyai muda Yogya, salah satunya Gus Fahmi Mlangi itu, berlangsung di sebuah warung kopi sekitar 300 meter sebelah timur UNU Yogyakarta. Diskusi berlangsung hangat, santai, namun tajam. Berbagai persoalan dikulik. Di akhir pertemuan, disepakati rilis pers terkait subtansi diskusi. Berikut ini adalah siaran pers yang merupakan pokok-pokok pikiran para tokoh nahdhiyyin tersebut.

YOGYAKARTA — Nahdlatul Ulama (NU) saat ini tengah memasuki fase krusial yang akan menentukan arah perjalanan jam’iyyah, marwah para ulama, serta kualitas khidmat bagi umat, bangsa, dan peradaban dunia. Muktamar sebagai ajang permusyawaratan tertinggi hendaknya tidak hanya menjadi momentum rutinitas organisasi, melainkan ruang refleksi mendalam untuk membaca tantangan zaman, mengevaluasi roda organisasi, memperbarui ikatan persaudaraan, serta menetapkan arah perjuangan yang berlandaskan kemaslahatan, hikmah, ilmu, dan tanggung jawab sejarah.

Dinamika Muktamar dan Risiko Kontestasi Tanpa Nilai

Munculnya berbagai kandidat calon pemimpin merupakan bagian dari dinamika organisasi yang sah dan demokratis. Namun, kontestasi yang berjalan tanpa pijakan nilai bersama berpotensi menajamkan perbedaan, menyuburkan prasangka, memicu hoaks, serta menyeret jamaah maupun struktur NU ke dalam spiral permusuhan.

Muktamar NU tidak boleh direduksi sekadar menjadi ajang perebutan kepemimpinan. Amanat utamanya adalah menjaga persatuan, memperkuat kelembagaan, serta melahirkan keputusan-keputusan strategis yang menjawab persoalan internal organisasi, penguatan ajaran Ahlussunnah wal-jama’ah (Aswaja), kehidupan berbangsa yang baldatun thoyyibatun wa-robbun ghofur, dan perubahan tata dunia yang berkeadilan.

Peran Sentral Ulama Sepuh

Dalam situasi ini, keberadaan para kiai sepuh memegang peranan sangat penting sebagai penuntun kebijaksanaan dan penjaga keseimbangan jam’iyyah. Rasulullah SAW bersabda, البركة مع أكابركم (“Keberkahan bersama orang-orang tua dan para pembesar kalian”), sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Hibban dan al-Hakim. Imam Al-Munawi menjelaskan bahwa kematangan ilmu dan pengalaman para kiai sepuh membuat pandangan serta petunjuk mereka sangat layak dijadikan pedoman.

Hal ini ditegaskan pula oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin:

فأدلة الطريق هم العلماء الذين هم ورثة الانبياء

(“Para penunjuk jalan adalah para ulama, pewaris para nabi”). Oleh sebab itu, kehadiran kiai sepuh dalam Muktamar bukanlah sekadar formalitas, melainkan sebagai sumber irsyad (petunjuk) untuk membantu para peserta membedakan kepentingan politik sesaat dari kemaslahatan hakiki jam’iyyah dan jamaah.

Tiga Tuntutan Pokok Forum Pengawal Muktamar NU Ke-35

Melihat kondisi tersebut, Forum Pengawal Muktamar NU Ke-35 menyerukan kepada seluruh elemen NU untuk menahan diri, menghentikan politik saling meniadakan, dan mengembalikan Muktamar kepada khittah permusyawaratan ulama. Muktamar harus menjadi wahana islah (perbaikan), penguatan kelembagaan, dan penyatuan langkah perjuangan. Forum menyampaikan tiga tuntutan utama:

1. Kiai Sepuh Nusantara Turun Gunung Memberikan Irsyad

Forum memohon dengan takzim agar para kiai sepuh dari berbagai penjuru Nusantara—Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua—berkenan hadir dan memberikan kearifan, irsyad, serta panduan moral sejak tahap persiapan, selama persidangan, hingga pasca-Muktamar. Keterlibatan aktif para kiai sepuh diharapkan mampu merumuskan pedoman etis, memediasi ketegangan, mengingatkan para kandidat, serta memastikan seluruh keputusan lahir dari akhlak, ilmu, dan hikmah.

2. Pertemuan Kandidat untuk Ittihadul-Qulub dan Platform Bersama

Forum mendesak seluruh kandidat pimpinan yang muncul untuk segera bertemu secara terbuka, setara, dan penuh kekeluargaan guna membangun ittihadul-qulub (kesatuan hati), ittihadul-afham wal-afkar (kesatuan pemahaman dan gagasan), serta ittihadul-harakah (kesatuan gerak). Pertemuan ini ditargetkan melahirkan platform bersama mengenai pembenahan tata kelola organisasi, supremasi ulama, kemandirian ekonomi, integrasi pendidikan NU, kaderisasi, pelayanan jamaah, advokasi kebijakan publik, penguatan masyarakat sipil, hingga diplomasi keadilan global seperti pembelaan terhadap Palestina. Siapa pun yang terpilih nantinya berkewajiban menjalankan akad moral ini, sementara kandidat lain tetap menjadi bagian dari kekuatan kolektif NU tanpa ada politik balas dendam.

3. Meneguhkan Kemandirian dan Kedaulatan Muktamar

Muktamar Ke-35 harus menegaskan kemandirian penuh NU dalam menentukan arah organisasi berdasarkan ideologi Aswaja, Qonun Asasi, Khittah, dan pengalaman sejarahnya. Forum menolak keras segala bentuk intervensi dari otoritas struktural di luar ketentuan, kekuatan politik praktis, politik uang (money politics), maupun jaringan kekuasaan luar yang mencoba memengaruhi pencalonan dan keputusan sidang. Relasi NU dengan negara dan kekuatan politik harus tetap terjaga secara kritis, konstruktif, bermartabat, dan dalam jarak yang sehat.

Forum Pengawal Muktamar NU Ke-35

Koordinator: Nur Choliq Ridwan

Daftar Nama Peserta yang Hadir

Berikut adalah daftar nama-nama kyai, gus, ning, dan aktivis yang hadir serta menandatangani kesepakatan Forum Pengawal Muktamar NU Ke-35:

  1. KH Muhaimin
  2. KH Aguk Irawan
  3. KH Fahmi Basya
  4. KH Baihaqi
  5. Kyai Nur Kholiq Ridwan
  6. Kyai Mustafied
  7. KH Muh Yusuf
  8. KH Beni
  9. Gus Syaifullah
  10. Gus Faqih
  11. KH Faishol
  12. Kyai Handanuddin
  13. KH Sukron Amin
  14. Gus Hendra
  15. K Hasan Barir
  16. Kyai Salim
  17. KH Muh Husnul Fahmi
  18. Kyai Aminullah
  19. KH Kharis
  20. Bp Zuhdi
  21. Bp Mahmud
  22. Bp Nurul Huda
  23. Bp Agus Riyadi
  24. Bp Mudai
  25. Bp Ghufron
  26. Bp Ahmad Lutfi Aziz
  27. Bp Sukron M
  28. Bp Said
  29. Bp Arifudin
  30. Bp Toriq
  31. Bp Angga P
  32. Bp Ainur
  33. Bp Imam Nawawi
  34. Bp Fikri
  35. Bp Afifuddin
  36. Bp Taufiq Ashari
  37. Titi Patiha
  38. Riyadlul Athwari
  39. Kyai Nur Wakhid
  40. Ahsanu Rosidi
  41. Radinaf Nurul Umah
  42. M Muqroul Faiz
  43. Khusnan
  44. Wafi
  45. Endang Hayati
  46. Siti Zubaidah
  47. April Dhian P
  48. A Taufiqurrahman
  49. M Aqib
  50. M Luthfi Azizan
  51. Ismahfuadi
  52. Wibi
  53. Ashari
  54. Djanur Aditya A
  55. Kyai Bukhori Al Zahrowi

Related Articles

Artikel baru